Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Minggu, 08 Desember 2013

Surat Gembala KWI - 2013: Jadilah Pembela Kehidupan! Lawanlah Penyalahgunaan Narkoba!

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan,

1. Setelah mengadakan studi mengenai narkoba dengan tema "Komitmen dan Peran Nyata Gereja Katolik Indonesia dalam Menyikapi Masalah Narkoba", kami para Uskup yang tergabung dalam Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak seluruh umat untuk membela dan mencintai kehidupan dengan memerangi narkoba. Hari studi tersebut kami adakan karena keprihatinan kami yang mendalam atas semakin luasnya penyalahgunaan narkoba di negeri kita ini. Penyalahgunaan narkoba merupakan kejahatan dan masalah sosial yang merusak sendi-sendi kehidupan baik bagi pengguna, keluarga maupun masyarakat. Terhadap kejahatan dan masalah sosial ini Gereja tidak boleh diam. Diteguhkan oleh sabda Tuhan, "Aku datang, agar mereka semua mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan" (Yoh 10:10b), kami mengajak seluruh umat melawan kejahatan sosial tersebut.
Penyalahgunaan Narkoba

2. Istilah "narkoba" merupakan kependekan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Psikotropika adalah zat atau obat baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan syarat pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Sedangkan bahan adiktif lainnya adalah bahan lain bukan narkotika atau psikotropika yang penggunaannya dapat menimbulkan ketergantungan. (Catatan: pada saatnya akan diuraikan secara lebih lengkap dalam Nota Pastoral yang akan terbit kemudian).

3. Pada saat ini ancaman penyalahgunaan narkoba sudah sampai taraf yang sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan peningkatan yang serius, bahkan telah berkembang menjadi kejahatan yang terkait dengan kejahatan lainnya. Juga karena penyebarannya yang hampir merata di seluruh Indonesia dengan tidak mengenal status, golongan, profesi, latar belakang, agama, suku, ras, penduduk desa maupun kota dan lain-lain. Semua orang bisa menjadi sasaran kejahatan penyalahgunaan narkoba.

4. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba adalah produsen, pengedar dan korban. Peranan mereka berbeda-beda, maka sikap kita dalam menghadapinya pun harus berbeda. Memproduksi narkoba secara tidak sah adalah kejahatan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Mengedarkan narkoba secara illegal juga merupakan kejahatan karena pengedar menebarkan bahaya bagi kehidupan sesama manusia. Korban adalah pihak yang harus diberi empati dan pertolongan, agar mampu keluar dari situasinya.

Akibat
5. Penyalahgunaan narkoba dapat mengakibatkan gangguan perilaku, emosi dan cara berpikir karena yang diserang oleh narkoba adalah susunan syaraf pusat. Kerusakan ini permanen atau bersifat tetap, tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dipulihkan. Karena itu, pengguna akan mengalami kerusakan fisik, psikis dan spiritual. Kerusakan fisik yang ditimbulkan oleh narkoba menjadikan pengguna rentan terhadap banyak penyakit dan kelemahan fisik lainnya, yang tidak bisa dipulihkan seperti semula. Kerusakan psikis menjadikan pengguna tidak mampu bernalar secara baik dan bertingkah laku secara wajar. Kerusakan spiritual menjadikan pengguna tidak mempunyai pegangan hidup, tidak otonom dalam menentukan pilihan moral, dan mudah dipermainkan oleh keinginan-keinginan untuk mengkonsumsi narkoba.

6. Narkoba merusak relasi antaranggota keluarga, kerukunan dan kebahagiaannya serta merusak ekonomi keluarga. Bila keluarga rusak, rusak pula masyarakat. Dalam masyarakat yang rusak itu tindak kejahatan meningkat, kekerasan dan kerusakan moral serta gangguan keamanan merajalela. Biaya penanggulangan dan rehabilitasi korban yang diperlukan sangat besar sehingga menggerogoti anggaran negara.

7. Penyalahgunaan narkoba adalah pelanggaran serius terhadap harkat dan martabat manusia. Narkoba merusak pribadi manusia yang diciptakan Allah menurut citra-Nya, "menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka" (Kej. 1:27). Kita menyadari, bahwa manusia itu mempunyai hak dan kewajiban untuk memelihara, mengembangkan, mencintai, dan membela kehidupan yang adalah anugerah Allah.

Pencegahan
8. Berhadapan dengan penyalahgunaan narkoba ini, kita tidak bisa tinggal diam. Kita harus pro-aktif bergerak bersama warga masyarakat lainnya untuk mengatasi masalah ini. Sekuat mungkin kita harus mencegah penyalahgunaan narkoba, jangan sampai seorang pun jatuh menjadi korban narkoba. Dalam keluarga, para orangtua hendaknya sungguh-sungguh mencintai, mengenal dan memperhatikan anak secara cermat. Jangan sampai anak merasa tidak diperhatikan dan tidak dicintai oleh orangtuanya yang sibuk dengan urusan sendiri. Pengalaman tidak diperhatikan, kesepian karena kurang cintakasih dapat menjadi pintu masuk narkoba dalam hati dan pikiran anak, untuk mencoba obat-obat berbahaya itu. Di sekolah-sekolah (Kelompok Belajar, SD, SMP, SMA/SMK, dan Perguruan Tinggi) para guru dan dosen hendaknya memperhatikan secara teliti para peserta didik dan teman-teman pergaulan mereka, sehingga terlindung dari bahaya penyalahgunaan narkoba. Kerjasama terpadu antara orangtua dan guru sangat penting bagi kehidupan generasi muda agar terhindar dari bahaya narkoba. Di samping keluarga dan sekolah, lingkungan kerja dan komunitas-komunitas pergaulan harus memperhatikan bahaya narkoba ini.

Rehabilitasi
9. Terhadap korban penyalahgunaan narkoba harus kita usahakan, agar mereka dirawat sehingga pulih dan sehat kembali. Menjebloskan para korban narkoba ke dalam penjara bukan penyelesaian masalah narkoba. Pada umumnya mereka adalah korban dari para produsen dan pengedar narkoba. Sedangkan di dalam penjara, keadaan mereka semakin diperparah. Ada baiknya agar para korban narkoba tidak dihukum penjara melainkan diwajibkan menjalani terapi rehabilitasi. Mereka yang berada dalam penjara perlu mendapat perhatian dan kunjungan yang menyembuhkan. Sedangkan para produsen dan pengedar narkoba seharusnya dihukum berat. Untuk memulihkan korban perlu diadakan rumah rehabilitasi yang dikelola secara benar dan bertanggungjawab dengan pendampingan medis, psikologis dan rohani. Untuk itu Rumah Sakit Katolik hendaknya secara pro-aktif ambil bagian dalam menolong korban penyalahgunaan narkoba.

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan,
Marilah kita bergerak bersama menjadi pembela dan pencinta kehidupan dengan melawan penyalahgunaan narkoba melalui kerjasama terpadu. Gerakan anti narkoba harus kita mulai dari dalam Gereja sendiri dengan melibatkan pribadi-pribadi, keluarga, sekolah, kelompok, tim kerja serta komisi-komisi pada tingkat paroki, keuskupan maupun nasional menurut tugas dan tanggungjawabnya masing-masing. Kerjasama terpadu dengan pihak-pihak mana pun, baik
pemerintah (misalnya dengan Badan Narkotika Nasional) maupun swasta, harus kita lakukan untuk memperkuat gerakan anti narkoba. Korban penyalahgunaan narkoba adalah pribadi-pribadi yang telah kehilangan masa lalu dan masa kini maka jangan sampai mereka juga kehilangan masa depannya. Selamatkan korban dan pulihkan kembali martabatnya. Seraya memohon bantuan Bunda Maria, ibu kehidupan, semoga tekad kita menjadi pembela kehidupan dengan memerangi penyalahgunaan narkoba dilindungi dan diberkati oleh Allah yang mahakuasa dan mahapenyayang. Amin.

 Jakarta, 15 November 2013
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,
Mgr. Ignatius Suharyo K e t u a
Mgr. Johannes Pujasumarta Sekretaris


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 27 November 2013

Gereja Harus Fokus Perangi Kemiskinan

Paus Fransiskus, Selasa (26/11), menyerukan reformasi dan pembaruan peran Gereja Katolik dengan mengimbau para pemimpin global dan umat untuk lebih fokus memerangi kemiskinan. Paus juga mengecam kapitalisme yang disebutnya sebagai "tirani baru".

Dalam dokumen "Imbauan Apostolik" sebanyak 84 halaman yang ditulisnya sendiri, Paus Fransiskus juga mengatakan,
dia terbuka untuk saran untuk perubahan kekuasaan kepausan.

"Ini adalah tugas saya sebagai Uskup Roma, menjadi lebih terbuka terhadap saran, yang akan membantu dalam tugas pelayanan dan kesetiaan yang sesuai dengan apa yang ingin diberikan Yesus Kristus," tulis Paus.

Lebih jauh Paus Fransiskus menulis, sudah waktunya untuk adanya "konversi kepausan", dan menambahkan, sentralisasi
yang berlebihan di Vatikan, ketimbang pembuktian dalam karya, telah mempersulit kehidupan Gereja.

Apa yang diungkapkan Paus Fransiskus, dalam dokumen resmi pertamanya sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Maret lalu, tidak jauh berbeda dengan khotbah-khotbahnya sebelum ini.

Kecam berhala uang
Populer sebagai pengkritik paling gencar sistem ekonomi global yang cenderung mengabaikan kaum papa, Paus Fransiskus lebih jauh mengecam "penyembahan berhala uang". Paus juga meminta para politisi agar menjamin setiap warga negara mendapatkan pekerjaan bermartabat, pendidikan, dan kesehatan.

Fransiskus, paus non-Eropa pertama dalam 1.300 tahun sejarah kepausan, juga meminta orang-orang kaya untuk berbagi kekayaan mereka.

"Sama seperti perintah 'jangan membunuh', hari ini kami juga harus mengatakan 'kamu tidak boleh membiarkan ekonomi menuju ketidakadilan. Ekonomi semacam itu membunuh!'" tulis Paus Fransiskus.

"Bagaimana mungkin, ketika seorang tunawisma tua meninggal bukanlah sebuah berita, tetapi saat pasar saham kehilangan dua poin adalah sebuah berita besar?" papar Paus.

Tentang "konversi kepausan" dan revitalisasi peran Gereja, Paus mengatakan, "Saya lebih suka Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan. Bukan Gereja yang sehat dan sibuk dengan keamanannya sendiri," tulis Paus.

Paus juga menekankan pandangannya terhadap kesenjangan dan ketidakadilan akibat sistem ekonomi global. Paus berusia 76 tahun ini juga mendesak pentingnya perbaikan sistem keuangan global dan memperingatkan bahwa ketimpangan distribusi kekayaan pasti akan mengarah pada kekerasan.

"Selama masalah kemiskinan tidak secara radikal diselesaikan, dengan cara menolak otonomi pasar absolut dan spekulasi keuangan dengan cara menghancurkan institusi penyebab ketidakadilan, tidak akan pernah ada pemecahan masalah kemiskinan," tulis Paus.

Sejak terpilih sebagai paus, Fransiskus memberi contoh nyata penghematan dan hidup sederhana dan memilih tinggal di guest house Vatikan ketimbang tinggal di Istana Kerasulan yang mewah. Dia juga bepergian dengan mobil sederhana.(Reuters/AFP/joy)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003395482
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 25 November 2013

PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2013

"Datanglah, ya Raja Damai"
(Bdk. Yes. 9:5)

Saudara-saudari terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

1. Kita kembali merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat dunia. Perayaan kedatangan-Nya selalu menghadirkan kehangatan dan pengharapan Natal bagi segenap umat manusia, khususnya bagi umat Kristiani di Indonesia. Dalam peringatan ini kita menghayati kembali peristiwa kelahiran Yesus Kristus yang diwartakan oleh para Malaikat dengan gegap gempita kepada para gembala di padang Efrata, komunitas sederhana dan terpinggirkan pada jamannya (bdk. Luk. 2:8-12). Selayaknya, penyampaian kabar gembira itu tetap menggema dalam kehidupan kita sampai saat ini, dalam keadaan apapun dan dalam situasi bagaimanapun.

Tema Natal bersama PGI dan KWI kali ini diilhami suatu ayat dalam Kitab Nabi Yesaya 9:5 "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita; seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang; Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai". Kekuatan pesan sang nabi tentang kedatangan Mesias dibuktikan dari empat gelar yang dijabarkan dalam nubuat tersebut, yaitu: 1). Mesias disebut "Penasihat ajaib", karena Dia sendiri akan menjadi keajaiban adikodrati yang membawakan hikmat sempurna dan karenanya, menyingkapkan rencana keselamatan yang sempurna. 2). Dia digelari "Allah yang perkasa", karena dalam DiriNya seluruh kepenuhan ke-Allah-an akan berdiam secara jasmaniah (bdk. Kol. 2:9, bdk. Yoh. 1:1.14). 3). Disebut "Bapa yang kekal" karena Mesias datang bukan hanya memperkenalkan Bapa Sorgawi, tetapi Ia sendiri akan bertindak terhadap umat-Nya secara kekal bagaikan seorang Bapa yang penuh dengan belas kasihan, melindungi dan memenuhi kebutuhan anak-anak-Nya (Bdk. Mzm. 103:3). 4). Raja Damai, karena pemerintahan-Nya akan membawa damai bagi umat manusia melalui pembebasan dari dosa dan kematian (bdk. Rm. 5:1; 8:2).

2. Seiring dengan semangat dan tema Natal tahun ini, kita menyadari bahwa Natal kali ini tetap masih kita rayakan dalam suasana keprihatinan untuk beberapa situasi dan kondisi bangsa kita. Kita bersyukur bahwa Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama. Namun, dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara, kita masih merasakan adanya tindakan-tindakan intoleran yang mengancam kerukunan, dengan dihembuskannya isu mayoritas dan minoritas di tengah-tengah masyarakat oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan kekuasaan. Tindakan intoleran ini secara sistematis hadir dalam berbagai bentuknya. Selain itu, di depan mata kita juga tampak perusakan alam melalui cara-cara hidup keseharian yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan seperti kurang peduli terhadap sampah, polusi, dan lingkungan hijau, maupun dalam bentuk eksploitasi besar-besaran terhadap alam melalui proyek-proyek yang merusak lingkungan.

Hal yang juga masih terus mencemaskan kita adalah kejahatan korupsi yang semakin menggurita. Usaha pemberantasan sudah dilakukan dengan tegas dan tak pandang bulu, tetapi tindakan korupsi yang meliputi perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar masih terus terjadi. Hal lain yang juga memprihatinkan adalah lemahnya integritas para pemimpin bangsa. Bahkan dapat dikatakan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot. Disiplin, kinerja, komitmen dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Namun demikian, kita bersyukur karena Tuhan masih menghadirkan beberapa figur pemimpin yang patut dijadikan teladan. Kenyataan ini memberi secercah kesegaran di tengah dahaga dan kecewa rakyat atas realitas kepemimpinan yang ada di depan mata.

3. Karena itu, Gema tema Natal 2013 "Datanglah, Ya raja Damai" menjadi sangat relevan. Nubuat Nabi Yesaya sungguh memiliki kekuatan dalam ungkapannya. Seruan ini mengungkapkan sebuah doa permohonan dan sekaligus harapan akan datangnya sang pembawa damai dan penegak keadilan (bdk. "Penasihat Ajaib").
Doa ini dikumandangkan berangkat dari kesadaran bahwa dalam situasi apapun, pada akhirnya "Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal," Dialah yang memiliki otoritas atas dunia ciptaan-Nya. Dengan demikian, semangat Natal adalah semangat merefleksikan kembali arti Kristus yang sudah lahir bagi kita, yang telah menyatakan karya keadilan dan perdamaian dunia, dan karenanya pada saat yang sama, umat berkomitmen untuk mewujudkan kembali karya itu, yaitu karya perdamaian di tengah konteks kita. Tema ini sekaligus mengacu pada pengharapan akan kehidupan kekal melalui kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Hakim yang Adil. Semangat tema ini sejalan dengan tekad Gereja-gereja sedunia yang ingin menegakkan keadilan, sebab kedamaian sejati tidak akan menjadi nyata tanpa penegakan keadilan.
Karena itu, dalam pesan Natal bersama kami tahun ini, kami hendak menggarisbawahi semangat kedatangan Kristus tersebut dengan sekali lagi mendorong Gereja-gereja dan seluruh umat Kristiani di Indonesia untuk tidak jemu-jemu menjadi agen-agen pembawa damai dimana pun berada dan berkarya. Hal itu dapat kita wujudkan antara lain dengan:
· Terus mendukung upaya-upaya penegakkan keadilan, baik di lingkungan kita maupun dalam lingkup yang lebih luas. Hendaklah kita menjadi pribadi-pribadi yang adil dan bertanggung jawab, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, gereja, masyarakat dan dimana pun Allah mempercayakan diri kita berkarya. Penegakkan keadilan, niscaya diikuti oleh sikap hidup yang berintegritas, disiplin, jujur dan cinta damai.
· Terus memberi perhatian serius terhadap upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian dan pemulihan lingkungan. Mulailah dari sikap diri yang peduli terhadap kebersihan dan keindahan alam di sekitar kita, penghematan pemakaian sumber daya yang tidak terbarukan, serta bersikap kritis terhadap berbagai bentuk kegiatan yang bertolak belakang dengan semangat pelestarian lingkungan. Dengan demikian kita juga berperan dalam memberikan keadilan dan perdamaian terhadap lingkungan serta generasi penerus kita.
· Semangat cinta damai dan hidup rukun menjadi dasar yang kokoh dan modal yang sangat penting untuk menghadapi agenda besar bangsa kita, yaitu Pemilu legislatif maupun Pemilu Presiden-Wakil Presiden tahun 2014 yang akan datang.
Saudara-saudara terkasih,
Marilah kita menyambut kedatangan-Nya sambil terus mendaraskan doa Santo Fransiskus dari Asisi ini:

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih
Bila terjadi penghinaan jadikanlah aku pembawa pengampunan

Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,

Tuhan semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,
Sebab dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku diampuni
Dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
Amin

SELAMAT NATAL 2013 DAN TAHUN BARU 2014
Jakarta, 18 November 2013
Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA KONFERENSI WALIGEREJA
DI INDONESIA (PGI), INDONESIA (KWI),


Pdt. Dr. A.A. Yewangoe Mgr. I. Suharyo
Ketua Umum Ketua


Pdt. Gomar Gultom Mgr. J.M. Pujasumarta
Sekretaris Umum Sekretaris Jendral

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 07 November 2013

PAUS FRANSISKUS MENGUMUMKAN TEMA HARI ORANG MUDA SEDUNIA

Paus Fransiskus telah memutuskan tema Hari Orang Muda Sedunia untuk tiga tahun ke depan. Ini menandakan rencana perjalanan tiga tahun persiapan rohani yang akan berpuncak pada Hari Orang Muda Sedunia bersama Pengganti Santo Petrus yang dijadwalkan berlangsung di Krakow, Polandia pada bulan Juli 2016.

> Hari Orang Muda Sedunia ke-29 tahun 2014 bertema : "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga" (Mat 5:3).
> Hari Orang Muda Sedunia ke-30 tahun 2015 bertema : "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat 5:8).
> Hari Orang Muda Sedunia ke-31 tahun 2016 bertema : "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan" (Mat 5:7).

Tiga tema tersebut diambil dari Sabda Bahagia dalam Injil. Di Rio de Janeiro, Paus Fransiskus meminta orang-orang muda "dengan sepenuh hati" membaca kembali Sabda Bahagia dan menjadikan Sabda Bahagia itu rencana tindakan untuk hidup mereka : "Lihatlah, bacalah Sabda Bahagia: itu akan mengerjakan Anda kebaikan!" (bdk. Pertemuan dengan kaum muda dari Argentina yang berkumpul di Katedral São Sebastião, 25 Juli 2013).

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 06 November 2013

MAKNA TANDA SALIB

Banggakah  anda menjadi sorang Katolik ?
Apapun jawaban anda, ada satu keistimewaan orang Katolik yaitu Tanda Salib.

Mengapa demikian ?

Tanda Salib merupakan suatu rangkaian  DOA  SINGKAT tetapi sangat padat dalam maknanya.

DALAM NAMA BAPA (di dahi).
Hal ini menandakan bahwa Allah Bapa merencanakan, menciptakan dan menyelenggarakan segala sesuatunya.
Otak merupakan susunan syaraf pusat merupakan pusat segalanya, tempat kita berpikir, berimainasi dan merencanakan.
Bapa yg telah merencanakan Putra-Nya datang ke dunia sebagai Penyelamat, adalah penyelenggara segala karya dan hidup Yesus.
maka kita melanjutkan dengan :

DAN PUTRA (di pusar).
Disini sering terjadi kesalahan karena banyak yg melakukannya di dada (horizontal dengan Roh Kudus0.
SEharusnya di pusar, karena tali pusar adalah tali kehidupan, tali yg menyambung antara ibu dan anak. Disinilah janin mendapat makanan dan minuman serta curahan kehidupan. Karya Yesus juga dimulai semenjak kita masih berupa janin, dan Dia harus meninggalkan kita dan kembali kepada Bapa-Nya.

DAN ROH KUDUS (Bahu kiri, horizontal, hubungan dengan manusia)
Bapa yg menyelenggarakan hidup kita dgn mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk memurnikan dan membakar dosa2 kita hingga musnah, mendampingi kita, melindungi, menghibur, mengajarkan ttg kebenaran, membimbing dan menjaga kita; maka selayaknya kita senantiasa harus bersyukur, memuji dan memuliakan Dia. Kita harus selalu mengundang dan menghadirkan Allah Tritinggal dalam setiap kehidupan kita, Ia akan setia mendampingi kita sampai kedatanganAllah Putra kembali.

Amin (Bahu kanan)
Amin mengandung arti kesetiaan Allah terhadap kita dan iman kepercayaan kita kepada-Nya.

Tanda Salib merupakan pengormatan kita kepada Allah Tritunggal dan sekaligus merupakan tanda persatuan persaudaraan dalam IMAN kepada Yesus Kristus lewat sarana Katolik. Ketika kita melihat orang membuat Tanda Salib baik di restoran, di arena sport, dalam upacara dll; dalam hati kita akan bilang, "Oh, orang itu orang Katolik. Dia saudara kita yang seiman." (By John Lefthew, SJ)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 01 Oktober 2013

Paus akan mereformasi Vatikan

Sumber: BBCIndonesia.com - detikNews

Paus Fransiskus mengadakan pertemuan pertama dengan sebuah kelompok
khusus yang terdiri dari para kardinal untuk mempertimbangkan cara-cara
mereformasi Vatikan.

Kelompok yang dikenal sebagai G8 Vatikan ini telah dipilih dari luar
pemerintahan Takhta Suci untuk menjamin independensi.

Terdiri dari delapan kardinal yang dipilih oleh Fransiskus dari seluruh
dunia, kelompok ini bertugas mencari cara untuk membentuk kembali
birokrasi Gereja Katolik Roma.

Paus mengatakan dalam sebuah wawancara dengan sebuah surat kabar bahwa
Vatikan sudah menjadi terlalu mementingkan diri sendiri dan perlu lebih
membaur.

Pusat administrasi Gereja Katholik ini telah terpukul berbagai skandal
dalam beberapa tahun terakhir, dan para uskup di seluruh dunia
mengkritiknya otokratis dan lamban.

Selama pembicaraan tiga hari ini berlangsung, koran Italia La Repubblica
menerbitkan wawancara dengan Paus di mana ia berbicara tentang masalah
yang dihadapi pemerintah Vatikan.

Di dalamnya ia mencela sikap "Vatikan-sentris" dan mengakui bahwa
pendahulunya tergila-gila dengan kemegahan Vatikan dan orang yang ada di
dalamnya.

Vatikan-sentris

"(Para) penasehat Paus adalah kusta kepausan," katanya.

"Visi Vatikan-sentris mengabaikan dunia di sekitarnya dan saya akan
melakukan segalanya untuk mengubah itu."

Kelompok G8 Vatikan ini memiliki tugas utama untuk menulis ulang
konstitusi 1998 tentang cara kerja berbagai departemen Takhta Suci.

Wartawan BBC David Willey, di Roma, mengatakan tidak ada keputusan yang
bisa segera diharapkan dan Paus sendiri mengakui perubahan ini akan
memakan waktu.

Dalam wawancara Repubblica La, Paus mengatakan: "Kita perlu memberi
harapan kepada orang-orang muda, membantu orang tua dan membuka diri
terhadap masa depan dan menyebar cinta," katanya.

Sementara itu, bank Vatikan, yang telah dituduh menutup mata terhadap
tuduhan pencucian uang oleh beberapa pemegang rekening saat ini menjadi
subjek perubahan yang diusung Paus Fransiskus.

Ia juga telah mengeluarkan rincian rekeningnya untuk pertama kali.

Bank, yang dikenal sebagai Lembaga Pekerjaan Agama, melaporkan laba
bersih sebesar 86,6 juta Euro, empat kali lipat dari tahun sebelumnya.

(bbc/bbc)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Penunjuk Arah ke Depan (tentang Paus Fransiskus)

THE TABLET
THE INTERNATIONAL CATHOLIC WEEKLY
Founded in 1840
 
SIGNPOSTS TO THE FUTURE
 
(Panunjuk Arah ke Depan)
 
Belum pernah seorang Paus baru memaparkan di hadapan seluruh umat katolik tentang dirinya sendiri dan tentang harapan-harapannya seperti yang dilakukan oleh Paus Fransiskus ini, dan membiarkan dirinya untuk dinilai kekuatan dan kelemahannya.
 
Ini merupakan salah satu strategi Paus untuk membuat reformasi (reform) dan pembaruan (renewal), ketika Paus menjelaskan secara panjang lebar dalam wawancara dengan editor majalan Jesuit La Civiltà Cattolica yang dipublikasikan minggu lalu secara simultan dalam pelbagai publikasi Jesuit di seluruh dunia dan melalui media on-line.
 
Paus mengajar dengan memberi contoh. Paus mengatakan kepada Pastor Antonio Spadaro SJ bahwa yang pertama harus diperbarui adalah "sikap" (attitude). Reformasi struktural menyusul kemudian, menunggu sampai sikap berubah menjadi baru. Paus sangat terus terang mengenai perubahan sikap yang diperlukan itu. "Para pelayan Injil haruslah orang-orang yang dapat menghangatkan hati umat...Umat Allah membutuhkan pastores (gembala-gembala) bukan klerus yang bertindak sebagai birokrat atau pejabat pemerintah."
 
Hal itu sangat jelas dari pernyataan yang banyak dikutip tentang prioritas Gereja: "Kita tidak bisa menekankan masalah-masalah yang berkaitan dengan abortus, perkawinan homo, dan penggunaan kontrasepsi...Ajaran Gereja mengenai hal-hal itu sudah jelas, dan saya adalah putera Gereja, namun tidak perlu untuk selalu bicara tentang hal-hal itu sepanjang waktu."
 
Tetapi ada banyak bagian umat katolik di dunia – khususnya di Amerika – di mana banyak uskup telah diangkat dengan alasan memiliki keutamaan dalam membela hal-hal itu, dan mereka menempatkan issue-issue tersebut dalam pusat pewartaan mereka dan dalam dialog dengan pemerintah. Dengan singkat dapat dikatakan, Paus Fransiskus telah menekan tombol reset (Francis, in a phrase, has pressed the reset button).
 
Dan hasilnya ialah bahwa strategi itu mengakibatkan seluruh generasi pemimpin katolik di banyak tempat di dunia ini menjadi obsolete (kedaluwarsa/tidak berguna) – dan generasi para pemimpin itu terkenal karena keengganan mereka untuk mengambil resiko demi kesetiaan mereka untuk mengikuti garis Vatikan. Sungguh, barangkali tidak akan ada lagi garis semacam itu di masa depan.
 
Paus menegaskan berulang kali dalam interview itu bahwa ia menginginkan devaluasi kekuasaan secara substansial mulai dari pusat Gereja, dan bahwa ajaran Gereja tidak boleh lagi dirumuskan tanpa memperhitungkan konteksnya, yang berarti harus memperhitungkan situasi personal dan budaya lokal ( and that teaching should no longer be formulated without regard to its context, which must mean personal circumstances and local culture)
 
Sebagai Jesuit yang terbiasa dengan "latihan rohani" discerment adalah sangat penting bagi Paus, dan discernment itu menuntut perlunya konsultasi luas. Sebagai Paus yang memiliki spiritualitas Ignatian, ia melihat seluruh dunia bukan sebagai hal jahat (hostile), seolah-olah menjadi musuh yang membahayakan iman dan terhadap dunia itu iman katolik harus dilindungi.
 
 Paus mengatakan, "Dalam usaha untuk mencari dan berjumpa dengan Allah di dalam segala-sesuatu, masih ada wilayah ketidakpastian...Kita harus masuk ke dalam pengembaraan/petualangan itu (the adventure) pencarian untuk menjumpai Allah,  atau lebih tepat: kita perlu membiarkan Allah mencari dan menemukan kita."
 
Penegasan Paus itu bukan infallibilis ( tak dapat sesat). Paus mau menegaskan bahwa untuk mengakui adanya suatu perubahan internal dalam kultur katolik, suatu spiritualitas baru, sungguh diperlukan suaru reformasi struktural, jika pembaruan itu akan efektif dan tahan lama.
 
Secara historis sulitnya perubahan itu menjelaskan mengapa reformasi yang digulirkan oleh Konsili Vatikan II segera dihadang (stymied) oleh bentuk baru kekuasaan Paus disebabkan oleh kepanikan bahwa segala-sesuatu akan berubah secara lepas kendali (kebablasan).
 
Prioritas pada perubahan sikap itu mungkin menjelaskan mengapa Paus tidak memilih topik dalam interview itu mengenai tema-tema yang begitu mendesak dalam reformasi Gereja, seperti misalnya perlunya review dan revisi independent tentang prosedur Vatikan mengenai perlindungan anak baik menyangkut klerus yang dianggap bertanggungjawab, maupun bagaimana penanganannya menyangkut kasus-kasus yang terjadi di mana saja.
 
Atau tentang ajaran-ajaran Gereja atau tentang korupsi di Vatikan. Masalah-masalah itu tetap ada di sana (They are still there). Jelaskah bahwa diperlukan konsultasi lebih luas dan discerment lebih mendalam sebelum Paus melaksanakan pembaruan menyangkut masalah-masalah itu.
 

Namun tanda-tanda unik yang menyiratkan pikiran Paus telah membangkitkan kepercayaan bahwa Paus tahu apa yang sedang ia lakukan, dan bahwa Injil ada di dalam pusat pembaruan itu. Tetapi apakah para kardinal mengerti apa yang akan mereka kerjakan ketika mereka ditunjuk oleh Paus secara mengejutkan enam bulan lalu. Pertanyaan itu ditanyakan oleh para kardinal itu sendiri kepada diri mereka masing-masing.

Sumber: milis Mitra Hukum
Powered by Telkomsel BlackBerry®