Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Selasa, 26 Januari 2016

Buku Baru Paus Fransis, Soal Perkawinan, Homoseksual dan korupsi

Paus Fransiskus pada Selasa 12 Januari 2016 lalu merilis buku barunya yang membahas tentang perkawinan dan seksualitas. Berbicara tentang bukunya yang berjudul "The Name of God Is Mercy" tersebut, Paus Fransiskus mengatakan bahwa dia sangat senang membahas tentang seksualitas, terutama homoseksual.


"Saya senang bahwa kita berbicara tentang 'homoseksual' karena diatas semuanya adalah tentang keutuhan dan martabat masing-masing individu.

"Dan orang-orang tidak harus mendefinisikan hanya dengan kecenderungan seksual mereka: janganlah kita lupa bahwa Allah mengasihi semua ciptaan-Nya dan kita ditakdirkan untuk menerima cintanya yang tak terbatas.

"Saya lebih suka bahwa homoseksual datang ke pengakuan, bahwa mereka tetap dekat dengan Tuhan, dan bahwa kita berdoa bersama-sama," kata Paus, seperti yang dilansir Priemer Christian Radio pada 11 Januari 2016.

Selain itu, Paus juga berbicara soal perkawinan, dimana dia mengajak orang untuk menghargai setiap keputusan dalam masing-masing rumah tangga. Terkhusus dia membahas tentang perceraian dalam gereja khatolik.

Pemimpin Gereja Katolik tersebut juga membahas korupsi , topik hangat dalam serangkaian skandal Vatikan baru-baru ini tentang dugaan salah urus keuangan Gereja.

"Orang korup marah karena dompetnya dicuri dan dia mengeluh tentang kurangnya keamanan di jalan-jalan, tapi kemudian dia adalah orang yang menipu negara dengan menghindari pajak, atau dia memecat karyawannya setiap tiga bulan sehingga dia tidak harus mempekerjakan mereka dengan kontrak permanen.

"Dan kemudian dia menawarkan kepada teman-temannya tentang cara-cara licik nya. Dia adalah orang yang pergi ke Misa setiap hari Minggu namun tidak memiliki masalah dengan menggunakan posisinya kuat untuk menuntut suap. ... Orang korup sering tidak menyadari kondisinya sendiri, kebanyakan mereka tidak menyadari bau mulutnya sendiri."

Buku ini dirilis pada Selasa, dalam rangka bertepatan dengan Tahun Yubileum Mercy, tahun di mana umat Katolik dipanggil untuk mencari pengampunan, serta memaafkan orang lain.

Link:


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Senin, 25 Januari 2016

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-24 TAHUN. 2016


PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS

UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-24

2016

 

Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria:

"Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu" (Yoh 2:5)

 
Saudari-saudara terkasih,

Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda.


Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di Tanah Suci, saya ingin menawarkan sebuah renungan dari Injil tentang pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11), dimana Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama melalui campur tangan Ibunda-Nya. Tema yang dipilih – Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: "Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu" (Yoh 2:5) – sungguh sesuai dengan semangat Yubileum Agung Kerahiman. Perayaan Ekaristi Hari Orang Sakit ini akan dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2016, pada peringatan liturgis Santa Perawan Maria dari Lourdes, di Nazaret, dimana "Sang Sabda telah menjadi daging dan tinggal di antara kita" (Yoh 1:14). Di Nazaret, Yesus memulai misi keselamatan-Nya, dengan menerapkan kepada diri-Nya kata-kata Nabi Yesaya, sebagaimana diceritakan Penginjil Lukas: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan bagi orang-orang tahanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk 4:18-19).


Penyakit, di atas semuanya penyakit yang berat, selalu menempatkan keberadaan manusia dalam krisis dan membawa serta pertanyaan yang begitu dalam. Tanggapan pertama kita bisa jadi merupakan satu pemberontakan: Mengapa ini terjadi padaku? Kita dapat merasa putus asa, berpikir bahwa semuanya telah hilang, bahwa semua hal dalam hidup ini  tidak mempunyai arti lagi.


Dalam situasi-situasi ini, iman kepada Allah pada satu sisi diuji, namun pada waktu yang sama dapat menyatakan semua sumber daya positifnya. Bukan karena iman menyebabkan penyakit, rasa sakit, atau pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, menghilang, tetapi karena iman menawarkan kunci yang membantu kita dapat menemukan makna terdalam dari apa yang sedang kita alami; sebuah kunci yang membantu kita melihat bagaimana penyakit dapat menjadi jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Yesus yang berjalan di sisi kita, yang dibebani oleh salib. Dan kunci ini diberikan kepada kita oleh Maria, Bunda kita, yang telah lebih dulu mengenal jalan ini.


Pada pesta perkawinan di Kana, Maria adalah perempuan bijaksana yang melihat masalah serius bagi kedua mempelai: anggur, simbol sukacita pesta, telah habis. Maria mengetahui adanya kesulitan, dalam beberapa hal menyelesaikan dengan caranya sendiri, dan bertindak dengan cepat dan hati-hati. Dia tidak sekedar menonton, dalam waktu singkat menemukan dimana letak masalahnya, tetapi lebih dari itu, dia berpaling kepada Yesus dan mengajukan kepada-Nya persoalan yang nyata: "Mereka kehabisan anggur" (Yoh 2:3). Dan ketika Yesus mengatakan padanya bahwa sekarang belum tiba waktunya bagi Dia untuk menyatakan diri-Nya (bdk. Ayat 4), Maria mengatakan kepada para pelayan: "Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu" (ayat 5). Kemudian Yesus melakukan mukjizat, mengubah air menjadi anggur, anggur yang dengan seketika menjadi anggur yang terbaik dalam keseluruhan pesta. Pelajaran apa yang dapat kita tarik dari misteri pesta perkawinan di Kana ini bagi Hari Orang Sakit Sedunia?


Pesta perkawinan di Kana merupakan suatu gambaran Gereja: di pusatnya ada Yesus yang dalam belaskasih-Nya mengerjakan suatu  tanda; di sekitar Yesus ada para murid, buah-buah pertama dari komunitas yang baru; serta di samping Yesus dan para murid ada Maria, Ibu pemelihara dan pendoa. Maria ambil bagian dalam kegembiraan orang kebanyakan dan membantunya untuk tumbuh; dia menjadi perantara dengan Puteranya atas nama kedua mempelai dan semua tamu yang diundang. Yesus juga tidak menolak permintaan ibu-Nya. Betapa besar harapan yang ada dalam peristiwa itu bagi kita semua! Kita memiliki seorang Ibu yang lemah lembut dan yang selalu waspada, seperti Puteranya; sebuah hati yang penuh kasih keibuan, seperti Dia; tangan-tangan yang ingin membantu, seperti tangan-tangan Yesus yang memecah-mecah roti bagi mereka yang lapar, menjamah yang sakit dan menyembuhkan mereka. Semua ini memenuhi kita dengan kepercayaan dan membuka hati kita bagi rahmat dan belaskasih Kristus.


Kepengantaraan Maria membuat kita mengalami penghiburan yang membuat rasul Paulus memuliakan Allah: "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah" (2Kor 1:3-5). Maria adalah Ibu "penghiburan" yang menghibur anak-anaknya.


Di Kana ciri khas Yesus dan misi-Nya terlihat dengan jelas: Dia datang untuk menolong mereka yang berada dalam kesulitan dan yang kekurangan. Memang, di medan pelayanan mesianis-Nya, Dia menyembuhkan banyak orang dari berbagai penyakit, kelemahan-kelemahan dan roh-roh jahat, memberi penglihatan pada yang buta, membuat orang yang lumpuh berjalan, memulihkan kesehatan dan martabat bagi mereka yang lepra, membangkitkan yang mati, dan mewartakan kabar baik kepada orang miskin (bdk. Luk 7:21-22). Permintaan Maria pada pesta perkawinan, yang didorong oleh Roh Kudus pada hati keibuannya, dengan jelas memperlihatkan bukan hanya kekuasaan Yesus sebagai Juru Selamat tetapi juga belas kasih-Nya.


Dalam keprihatinan Maria, kita menyaksikan pantulan kelembutan hati Allah. Kelembutan hati yang sama ini hadir di dalam hidup semua orang yang memberi perhatian kepada orang sakit dan memahami kebutuhan-kebutuhan mereka, bahkan kepada orang-orang yang paling tidak mendapat perhatian, karena mereka memandang orang-orang sakit dan yang tidak mendapat perhatian dengan mata yang penuh cinta. Sedemikian sering seorang ibu menunggui anaknya yang sakit di samping pembaringannya, atau seorang anak yang merawat orangtua yang sudah lanjut usia, atau seorang cucu yang prihatin terhadap kakek-neneknya, menyerahkan doa mereka ke dalam tangan Bunda kita! Untuk orang-orang yang kita cintai yang menderita karena suatu penyakit, kita pertama-tama memohon untuk kesehatan mereka. Yesus sendiri memperlihatkan kehadiran Kerajaan Allah secara khusus melalui penyembuhan-penyembuhan-Nya: "Pergi dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Mat 11:4-5). Tetapi kasih yang dihidupi oleh iman membuat kita memohon bagi mereka sesuatu yang lebih besar daripada kesehatan jasmani: kita memohon kedamaian, ketentraman di dalam hidup yang datang dari hati dan merupakan rahmat Allah, buah dari Roh Kudus, rahmat dari Bapa yang tidak pernah menolak mereka yang memohon kepada-Nya dengan penuh kepercayaan.


Dalam adegan di Kana, selain Yesus dan Ibu-Nya, ada "pelayan-pelayan", yang kepada mereka Maria katakan: "Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu" (Yoh 2:5). Tentu saja, mukjizat tersebut sebagai karya Kristus; bagaimanapun, Dia ingin menggunakan bantuan manusia dalam melakukan mukjizat ini. Dia dapat membuat anggur yang secara langsung ada di gentong-gentong. Namun Dia ingin mengandalkan  kerjasama manusia, karena itu Dia meminta pelayan-pelayan untuk mengisi gentong-gentong itu dengan air. Betapa indah dan menyenangkan Tuhan menjadi pelayan  bagi orang lain! Ini lebih daripada apa pun yang membuat kita seperti Yesus, yang "datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani" (Mrk 10:45). Orang-orang yang tak dikenal ini  di dalam Injil mengajarkan kepada kita suatu hal besar. Tidak sekedar memperlihatkan mereka taat, tetapi mereka taat dengan sepenuh hati: mereka mengisi gentong-gentong sampai penuh (bdk. Yoh 2:7). Mereka percaya pada bunda-Nya dan segera mengerjakannya dengan baik apa yang diminta untuk mereka kerjakan, tanpa mengeluh, tanpa berpikiran macam-macam.


Pada Hari Orang Sakit Sedunia ini marilah kita memohon kepada Yesus di dalam belas kasih-Nya, melalui perantaraan Maria, Ibunda-Nya dan Ibu kita, untuk melimpahkan kepada kita kesiapsediaan yang sama untuk melayani mereka yang membutuhkan, dan secara khusus, saudari-saudara kita yang lemah. Kadang-kadang pelayanan ini terasa melelahkan dan membebani, namun kita tentu yakin bahwa Tuhan pasti akan mengubah upaya-upaya manusiawi kita menjadi sesuatu yang ilahi. Kita juga dapat menjadi tangan, lengan dan hati yang membantu Allah untuk melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, yang begitu sering tersembunyi. Kita juga, entah sehat atau sakit, dapat mempersembahkan beban hidup dan penderitaan-penderitaan kita seperti air yang memenuhi gentong-gentong pada pesta perkawinan di Kana dan diubah menjadi anggur terbaik. Dengan diam-diam membantu mereka yang menderita, seperti dalam penyakitnya sendiri, kita memikul salib harian kita di atas bahu kita dan mengikuti Sang Guru (bdk. Luk 9:23). Meskipun begitu pengalaman penderitaan akan selalu merupakan sebuah misteri, Yesus membantu kita untuk mengungkapkan maknanya.


Jika kita mampu belajar mentaati kata-kata Maria, yang mengatakan: "Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu", Yesus akan selalu mengubah air kehidupan kita menjadi anggur yang berharga. Demikian Hari Orang Sakit Sedunia ini, yang dirayakan secara khidmat di Tanah Suci, akan membantu memenuhi harapan yang saya nyatakan dalam Bulla Tahun Yubileum Agung Kerahiman: 'Saya percaya bahwa Tahun Yubelium Agung yang merayakan kerahiman Allah ini akan membantu perkembangan perjumpaan dengan (Yudaisme dan Islam) dan dengan tradisi-tradisi mulia agama lain; semoga hal ini membuka kita pada dialog yang lebih sungguh-sungguh lagi sehingga kita saling mengenal dan mengerti satu sama lain dengan lebih baik; semoga hal ini mengikis setiap bentuk kepicikan pikiran dan sikap kurang hormat, serta menyingkirkan setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi' (Misericordiae Vultus, 23). Setiap rumah sakit dan rumah perawatan dapat menjadi sebuah tanda yang kelihatan dan menjadi tempat untuk mempromosikan budaya perjumpaan dan perdamaian, di mana pengalaman sakit dan menderita, disertai dengan bantuan yang profesional dan semangat persaudaraan, membantu mengatasi setiap keterbatasan dan keterpecahan.


Untuk ini kita diberi teladan oleh dua orang suster religius yang dikanonisasi pada akhir Mei yang lalu: Santa Maria-Alphonsine Danil Ghattas dan Santa Maria dari Baouardy Yesus Tersalib, keduanya puteri dari Tanah Suci. Yang pertama adalah seorang saksi kesabaran/kelembutan dan kesatuan, yang memberi kesaksian yang jelas mengenai pentingnya tanggungjawab kepada satu sama lain, dengan hidup saling melayani. Yang kedua, seorang perempuan yang rendah hati dan buta huruf, yang patuh pada Roh Kudus dan menjadi sebuah sarana perjumpaan dengan dunia muslim.

Kepada semua yang membantu orang sakit dan menderita, saya menyatakan harapan yang saya yakini bahwa mereka akan mengambil inspirasi dari Maria, Bunda Kerahiman. "Semoga kemanisan ketenangannya menjaga kita di dalam Tahun Suci ini, sehingga kita semua dapat menemukan kembali sukacita dari kelembutan hati Allah (ibid, 24), mengijinkannya tinggal di dalam hati kita dan menyatakannya dalam tindakan-tindakan kita! Marilah kita mempercayakan pencobaan-pencobaan dan kesengsaraan-kesengsaraan kita kepada Perawan Maria, bersama dengan sukacita dan penghiburan kita. Marilah memohon kepadanya untuk mengalihkan mata belaskasihnya ke arah kita, khususnya di kala sakit, dan menjadikan kita pantas memandang, wajah kerahiman Yesus Puteranya, kini dan selamanya!

Teriring doa untuk Anda semua, saya melimpahkan Berkat Apostolik.

Dari Vatikan, 15 September 2015
Pada Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita
 
FRANSISKUS

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Senin, 18 Januari 2016

PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK KESATUAN UMAT KRISTIANI 18-25 Januari 2016 - PANGGILAN MEWARTAKAN PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN YANG BESAR! (Bdk. 1 Petrus 2:9)‎


PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK KESATUAN UMAT KRISTIANI
18-25 Januari 2016

PANGGILAN MEWARTAKAN PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN YANG BESAR! (Bdk. 1 Petrus 2:9)

Pengantar:
Tema Pekan Doa Sedunia (PDS) untuk Kesatuan Umat Kristiani 2016 dikutip dan diolah dari Surat Pertama St. Petrus bab 2 ayat 9. Selengkapnya, teks itu berbunyi, "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1Ptr 2:9). Berangkat dan berpangkal dari teks tersebut, tema PDS untuk Kesatuan Umat Kristiani 2016 dirumuskan menjadi "Panggilan Mewartakan Perbuatan-Perbuatan Tuhan yang besar". Allah mengerjakan perbuatan-perbuatan-Nya yang besar bagi kita semua dan kita dipanggil untuk mewartakannya.

Dari bahan yang diterbitkan oleh kerjasama Dewan Kepausan untuk Kesatuan Umat Kristiani (Vatikan, Katolik Roma) dan Komisi Iman dan Hukum Dewan Gereja-Gereja Sedunia (Gereja-Gereja Protestan) dipersiapkan oleh Komunitas Umat Kristiani di Latvia, terutama oleh Pusat Orang Muda Katolik Keuskupan Agung Riga, yang timbul dari pengalaman mereka menyelenggarakan Jalan Salib Ekumenis. Pengalaman Umat beriman di negeri bekas Uni Soviet yang sebelumnya dikuasai komunisme itu membantu kita dalam menghayati pedihnya perpecahan dan penting indahnya persatuan. Sejarah kelam saat Latvia diduduki oleh Uni Soviet masih menghantui banyak sekali orang di Negara ini. Masih ada dukacita mendalam dan kepedihan. Itu mengakibatkan luka batin yang membuat orang menjadi sulit mengampuni. Semuanya ini bagaikan batu besar yang menutupi pintu kubur Yesus.

Akan tetapi dalam iman, harapan, dan kasih kepada Tuhan Yesus Kristus, yang telah berdoa bagi kawanan domba-Nya agar bersatu; tiada yang mustahil untuk diubah dan diwujudkan. Persatuan dan kesatuan Umat Kristiani dapat dibaca dalam terang pengalaman konkret tersebut. Tumpuannya hanya satu yakni iman, harapan dan kasih kepada Kristus yang sejak awal mula merindukan bahkan mendoakan kita semua agar bersatu dan memberikan kesaksaian tentang hidup bersama yang ditandai dengan kerukunan dan persaudaraan yang sejati dengan siapa saja di mana saja dan kapan saja.

Tema yang kita renungkan selama PDS 2016 ini selaras dengan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS), yang sejak tahun 2016 ini mengajak kita semua untuk membangun peradaban kasih dalam kehidupan yang sejahtera dalam semangat inklusif dan transformatif. Semoga kian hari, kita kian membangun peradaban kasih di antara umat Kristiani dan kemudian meluas mengakar di antara semua umat manusia dalam kehidupan yang rukun, bersatu dan bahagia.

Selamat mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang telah dikerjakan Tuhan dalam dan melalui kehidupan kita yang rapuh ini, namun kita dipanggil dan diutus untuk mewartakan belas kasih-Nya dalam kehidupan kita bersama. Tuhan memberkati. Berkah Dalem.

Ungaran, 26/11/2015

Aloys Budi Purnomo, Pr
Delegatus Komisi HAK KAS

***

BACAAN ALKITAB
PANGGILAN MEWARTAKAN PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN YANG BESAR! (1Ptr 2:9)

"Tetapi kamulah bangsa yang terpilih,
imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihiani, tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan."

***

TEMA, DOA DAN REFLEKSI ALKITABIAH SELAMA SATU PEKAN

HARI 1: Biarkanlah batu itu terguling

Yehezkiel 37:12-14: "Aku membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku, dari dalamnya."

Mazmur 71:18b-23: "Keperkasaan-Mu dan keadilan-Mu, ya Allah, sampai ke langit."

Roma 8:15-21: "Jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia."

Matius 28:1-10: "Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya."

Setiap orang mempunyai sejarah kelam penderitaan. Itu bagaikan batu besar yang menutupi pintu kubur Yesus. Namun, jika penderitaan yang kita alami, kita satukan dengan penderitaan-Nya, maka kisah kita tidak akan berakhir dengan mengurung diri dalam kubur. Gempa bumi karena kebangkitan Tuhan adalah kejadian yang menggoncang dunia yang membuka kubur kita dan membebaskan kita dari penderitaan dan kepedihan yang selama ini membuat kita mengasingkan diri dari orang lain. Inilah karya agung Tuhan: kasih-Nya, yang menggoncang dunia, yang menggulingkan batu kubur, yng membebaskan kita, dan yang memanggil kita keluar untuk memasuki suatu pagi hari yang baru. Saat inilah, saat fajar baru kita dipersatukan kembali dengan saudara-saudari kita yang dulu juga terkurung dan terluka. Seperti Maria Magdalena kita harus "pergi cepat-cepat" dari momen penuh sukacita ini untuk mewartakan kepada orang lain mengenai apa yang telah Tuhan lakukan dalam hidup kita.

Refleksi: Permasalahan apa yang pernah kita alami yang membuat kita mengurung diri kita sendiri dalam kubur dukacita, kesedihan, kekhawatiran, kegelisahan dan keputusasaan? Apa yang menghalangi kita untuk menerima janji dan sukacita dari kebangkitan Kristus? Seberapa siapkah kita membagikan pengalaman bersama Kristus kepada orang-orang yang kita jumpai?

Doa: Tuhan Yesus, Engkau selalu mengasihi kami sejak semula, dan menunjukkan betapa dalam kasih-Mu melalui wafat-Mu di salib untuk menebus dosa kami, menanggung penderitaan dna luka kami. Saat ini, kami serahkan semua penghalang yang menjauhkan kami dari-Mu di bawah kaki salib-Mu. Gulingkanlah batu kubur yang memenjarakan kami. Bangkitkanlah kami menyongsong fajar baru. Semoga kami bisa mewartakan Engkau kepada saudara-saudari kami yang terpisah dari-Mu, kini dan selamanya. Amin

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Selasa, 05 Januari 2016

RESOLUSI UTAMA PAUS FRANSISKUS THN. 2016


RESOLUSI UTAMA PAUS FRANSISKUS THN. 2016

Paus Fransiskus menyampaikan Resolusi Utama untuk Tahun Baru 2016 kepada kaum Awam.

– "Take care of your spiritual life, your relationship with GOD, because this is the backbone of everything we do and everything we are." 
("Jagalah kehidupan rohani Anda dan hubungan Anda dengan TUHAN, karena ini merupakan kekuatan dasar dari semua yang kita lakukan dan segala bentuk kehadiran kita ")

– "Take care of your family life, giving your children and loved ones not just money, but most of all your time, attention and love." 
( "Jagalah kehidupan keluarga Anda, tidak hanya dengan memberikan uang kepada anak-anak Anda dan orang-orang yang Anda cintai, melainkan dengan memberikan seluruh waktu, perhatian dan cinta Anda kepada mereka ")

– "Take care of your relationships with others, transforming your faith into life and your words into good works, especially on behalf of the needy." 
("Jagalah hubungan Anda dengan orang lain, dengan mewujudkan iman Anda ke dalam hidup dan mewujudkan perkataan ke dalam karya kebaikan, terutama demi mereka yang membutuhkan ")

– "Be careful how you speak, purify your tongue of offensive words, vulgarity and worldly decadence." 
( "Berhati-hatilah ketika Anda berbicara, bersihkanlah lidah Anda dari segala perkataan yang menyakitkan hati, yang kasar, dan yang memerosotkan kehidupan duniawi " )

– "Heal wounds of the heart with the oil of forgiveness, forgiving those who have hurt us and medicating the wounds we have caused others." 
( "Sembuhkanlah luka-luka hati dengan minyak pengampunan, dengan memaafkan mereka yang telah melukai kita dan dengan mengobati luka-luka orang lain sebagai akibat dari perbuatan kita " )

– "Look after your work, doing it with enthusiasm, humility, competence, passion and with a spirit that knows how to thank the LORD ." 
("Tekunilah pekerjaan Anda, lakukanlah dengan penuh semangat, kerendahan hati, kesanggupan, dengan segenap hati dan dengan penghayatan penuh syukur kepada ALLAH " )

– "Be careful of envy, lust, hatred and negative feelings that devour our interior peace and transform us into destroyed and destructive people." 
( "Berhati-hatilah terhadap kedengkian, nafsu, kebencian dan perasaan-perasaan negatif yang menggerogoti kedamaian terdalam kita dan mengubah kita menjadi orang-orang yang merusak dan menghancurkan" )

– "Watch out for anger that can lead to vengeance; for laziness that leads to existential euthanasia; for pointing the finger at others, which leads to pride; and for complaining continually, which leads to desperation". ("Waspadalah terhadap kemarahan yang menuntun kepada pembalasan, terhadap kemalasan yang menuntun kepada kematian eksistensial, terhadap sikap menyalahkan orang lain yang menuntun kepada kesombongan, dan terhadap sikap yang senantiasa mengeluh yang menuntun kepada keputusasaan " )

– "Take care of brothers and sisters who are weaker, the elderly, the sick, the hungry, the homeless and strangers, because we will be judged on this." 
( "Rawatlah Saudara-Saudari yang lemah, orang lanjut usia, orang sakit, orang lapar, orang asing dan yang tak punya rumah, karena kita akan dinilai berdasarkan semua ini ")..

Hepi New Year - New Hope - New Spirit..‎
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Kamis, 10 Desember 2015

Pesan Natal Bersama PGI & KWI: “Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah”


PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI)

DAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI)

"Hidup Bersama Sebagai Keluarga Allah"

 

SAUDARA-saudari umat Kristiani Indonesia,

Salam sejahtera dalam kasih Kristus.

Kita kembali merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus, Sang Juruselamat. Perayaan kedatangan-Nya selalu menghangatkan dan menguatkan pengharapan kita. Dalam perayaan ini kita menghayati kembali peristiwa kelahiran Yesus yang diwartakan dengan penuh sukacita oleh para malaikat kepada para gembala di padang Efrata, komunitas sederhana dan terpinggirkan pada zamannya (bdk. Luk. 2:8-12). Kiranya warta gembira para malaikat itu tetap menggema dalam kehidupan kita sampai saat ini dalam keadaan apapun.

Pada kesempatan istimewa ini, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengajak Anda semua untuk mensyukuri kehadiran Sang Juruselamat dengan merenungkan pesan tentang "Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah." Kita masing-masing ada dalam keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Sementara itu keluarga kita berada bersama keluarga-keluarga lainnya dalam sebuah keluarga besar umat manusia. Namun juga kita sadari bahwa keluarga besar umat manusia mendiami bumi yang menjadi rumah kita bersama. Di bumi yang satu ini, kita ditempatkan oleh Tuhan bersama seluruh ciptaan lainnya. Di situlah kita hidup bersama sebagai keluarga Allah.

Kitab Kejadian 9:16 yang kita jadikan pijakan renungan mengatakan: "Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi". Ayat ini menyatakan bahwa Allah membarui perjanjian-Nya, perjanjian keselamatan dengan seluruh ciptaan-Nya. Pelangi di awan menjadi lambang pengharapan kita. Peristiwa Natal mengingatkan kita kembali untuk 'hidup sebagai keluarga Allah,' yang dituntun oleh pelangi kasih-Nya yang meneguhkan iman dan menguatkan harapan.

Hidup bersama sebagai keluarga Allah mengandung pesan utama bahwa kita adalah satu keluarga. Sebagai anggota keluarga, kita masing-masing mempunyai tanggungjawab untuk menjadikan hidup bersama di bumi ini semakin baik; bukan hanya tanggung jawab untuk keselamatan manusia, tetapi juga untuk keutuhan seluruh ciptaan.

Bagaimana mewujudkan tanggungjawab itu dalam perutusan kita sebagai warga negara dan bangsa Indonesia? Pertama-tama, kita umat kristiani Indonesia dipanggil untuk berteguh hati melaksanakan tujuan Allah hadir di dunia, yaitu menciptakan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Kita bertanggungjawab mewujudkan keluarga Allah yang damai, rukun, adil dan saling menerima dalam keberagaman. Kita perlu membangun kesadaran bersama bahwa setiap makhluk ciptaan Allah memiliki hak-hak dasar yang harus dihormati, hak hidup yang harus dilindungi, dan hak-hak orang perorangan serta bersama yang harus dipenuhi dan diwujudkan.

Demikian pula, kita diingatkan bahwa umat kristiani tidak hidup sendiri sebagai komunitas tertutup di dunia ini. Gereja hidup berdampingan dengan komunitas-komunitas lain. Perbedaan pandangan dan cara menjalani kehidupan, seringkali menimbulkan gesekan-gesekan bahkan konflik antar kelompok, golongan, ras/suku dan agama, sehingga hubungan antar umat dan antar warga menjadi kurang harmonis. Tidak sedikit orang menguras habis alam demi meraup keuntungan. Hal itu menyebabkan hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam terganggu. Menjadi tugas kita bersama untuk memperbaiki relasi yang rusak itu. Kita harus mengupayakan terwujudnya bumi yang satu ini sebagai "rumah kita bersama".

Sebagai warga bangsa kita juga diingatkan untuk bijaksana dalam menyikapi bentuk-bentuk gangguan sosial yang dapat mengancam persaudaraan, perdamaian, dan keamanan di Negara kita. Berbagai peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita, membangkitkan kesadaran dan niat baik kita untuk bersikap bijaksana. Penutupan dan pengrusakan rumah-rumah ibadah, termasuk yang mengakibatkan korban jiwa masih terjadi akibat perilaku kekerasan sekelompok orang yang bertindak atas nama agama. Di samping itu, kerusakan lingkungan terjadi, termasuk yang mengakibatkan musibah asap di berbagai wilayah Indonesia. Semua itu membuat relasi antar umat manusia dan alam menjadi terganggu, bahkan sudah makin rusak. Kita juga harus menjadi semakin bijaksana memperlakukan alam "Ibu Pertiwi" yang darinya kita semua memperoleh kebutuhan hidup sehari-hari. Kita dipanggil untuk menegaskan kembali ketetapan hati kita untuk melindungi dan mempertahankan keutuhan ciptaan di tengah budaya serakah yang melahirkan kemiskinan, ketidak-adilan, radikalisme dan kerusakan lingkungan. Kita perlu mengembangkan hidup sederhana dan jujur di tengah pengaruh globalisasi keserakahan dan ketidakpedulian ini.

Dengan mengembangkan semangat hidup sederhana ini, umat kristiani Indonesia  berupaya: mengendalikan diri dan berani mengatakan cukup; menyatakan kesediaan untuk hidup berbagi; dan berani berjuang bersama menentang segala sistem dan struktur yang menghalangi serta mengurangi hak orang lain untuk memperoleh kecukupan dalam hidupnya.

Dalam semangat kelahiran Yesus kita diajak untuk menanam, menyiram dan  memelihara kehidupan semua makhluk ciptaan di bumi pertiwi ini, supaya semua makhluk dapat hidup bersama sebagai keluarga Allah dengan damai, adil dan bercukupan.

 

SELAMAT NATAL 2015 DAN TAHUN BARU 2016

Jakarta, 18 November 2015

Atas nama

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia                           Konferensi Waligereja Indonesia


APIKatolik. 

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Kamis, 29 Oktober 2015

DOSA YANG MERUSAK PERNIKAHAN

Dari WA tetangga: DOSA YANG MERUSAK PERNIKAHAN

a. Suami:
1. Suami tidak berfungsi menjadi pemimpin dengan baik, akibatnya saling melukai.
2. Suami gagal menjadikan Istri nomer satu dalam hidupnya.
3. Suami membandingkan Istri dengan wanita lain.
4. Suami kurang disiplin mengontrol emosi dan kebiasaan buruk.
5. Suami gagal memuji hal-hal kecil dari Istri.
6. Suami menolak pendapat Istri.
7. Suami tidak pernah minta maaf.

b. Istri:
1. Istri tidak menghargai Suami sebagai otoritas.
2. Istri gagal menundukkan diri kepada Suami.
3. Istri gagal menampilkan kecakapan manusia batiniah.
4. Istri gagal menunjukan rasa syukur kepada Suami.

Kebutuhan seorang Suami:
1. Sex.
2. Istri sebagai sahabat.
3. Rumah yang rapi.
4. Istri yang menarik.
5. Saling menghargai.

Kebutuhan seorang Istri:
1. Kasih sayang dan penghargaan.
2. Diajak bicara.
3. Jujur dan terbuka.
4. Keuangan yang cukup.
5. Komitmen terhadap keluarga.

Ingat!
Kepala keluarga yang berhasil dalam keluarga maka keberhasilan yang lain akan mengikuti. Kepala keluarga yang gagal dalam keluarga maka kegagalan lain akan mengikuti.

Kebahagiaan perkawinan membutuhkan perjuangan yang tidak kenal lelah, dan membutuhkan  kehadiran dan pertolongan Tuhan.

Berbahagialah mereka yang benar-benar menikmati hidup rumah tangga yang rukun dan damai, meskipun itu harus diperoleh dengan cucuran air mata. 
Belaian tangan suami adalah emas bagi istri.
Senyum manis sang istri adalah permata bagi suami.
Kesetiaan suami adalah mahkota bagi istri.
Keceriaan istri adalah sabuk di pinggang suami.

Perbaikilah apa yang bisa diperbaiki sekarang sebelum terlambat. Cintailah pasangan yang telah Tuhan pilih untukmu! 

If you care about family, broadcast this. It will save a marriage. Semoga Tuhan memberkahi Pernikahan Anda! Bagi yang belum Menikah, semoga ini bisa menjadi bekal kelak bila Anda menghadapi hidup Pernikahan

(dari WA)


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Jumat, 16 Oktober 2015

LAPORAN SITUASI NO 2 KONFLIK ACEH SINGKIL


LAPORAN SITUASI NO 2
KONFLIK ACEH SINGKIL

PENGANTAR
Negara: Indonesia
Lokasi Bencana: Kabupaten Aceh Singkil
Periode Pelaporan: 15 Oktober 2015
Sumber Data: Paroki Tumba Manduamas Desa Tumbajae, Kec. Manduamas 
Disusun oleh: Daniel Gunawan
Pelapor: Afentus Situmorang dan Elvina Simanjuntak

LATAR BELAKANG
Aksi simpatik yang dilakukan oleh berbagai lembaga kemanusiaan dan organisasi lain untuk para pengungsi korban konflik di Aceh Singkil dengan pemberian bantuan kepada pengungsi turut membantu pemulihan pengungsi.

WILAYAH TERDAMPAK
Gereja yang telah dibakar oleh massa yaitu Gereja Katolik dan Gereja HKI di Kecamatan Gunung Meriah.
 
POPULASI TERDAMPAK
Jumlah yang mengungsi di Posko Pengungsi Paroki Tumba Manduamas berjumlah 2.473 orang dengan rincian sebagai berikut:
Laki-laki: 1.250 jiwa
Perempuan : 1.223 jiwa

Berdasarkan kelompok umur:
Umur 50 th ke atas: 278 jiwa
Umur 17-50 tahun: 1.203 jiwa
Umur 6-16 tahun: 687 jiwa
Umur 0-5 tahun: 305 jiwa

Pengungsi ditempatkan di sekitar lapangan/gedung Paroki dan gedung sekolah. Untuk pengungsi yang tinggal di Gedung Sekolah harus mengemas barang-barang untuk sementara jika proses belajar mengajar berlangsung dari pagi sampai siang. Setelah kegiatan belajar selesai maka pengungsi kembali ke dalam ruangan kelas.

KEBUTUHAN MENDESAK
1.Perlengkapan bayi
2. Pembalut wanita
3. Peralatan mandi

RESPON PEMERINTAH
Bantuan terus berdatangan dari berbagai pihak kepada pengungsi baik yang di Posko Paroki Tumba Manduamas maupun di Posko Phakpak Barat. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah turut mengirimkan Satpol PP untuk membantu di Posko Paroki Tumba Manduamas dalam penanganan pengungsi.


RESPON CARITAS/KEUSKUPAN
Sampai hari ini Caritas tetap memantau proses penanganan pengungsi, karena Paroki setempat masih dapat menanggulangi dan punya kapasitas untuk menangani pengungsi melaui mobilisasi sumber-sumber daya lokal. Keuskupan Sibolga sendiri turut hadir dengan memberikan bantuan dan menurunkan tim di lapangan. 

Catatan:
-Bantuan hingga saat ini cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan pengungsi. Kapolres Tapanuli Tengah dan Dandim sudah berkunjung ke Aceh Singkil untuk membicarakan langkah-langkah perdamaian.
-Kapolda Aceh besok (16 Oktober 2015) akan menuju lokasi pengungsian di Posko Paroki Tumba Manduamas untuk membahas rencana kepulangan pengungsi ke Aceh Singkil.
-Jika pengungsi akan dipindahkan kembali ke rumah di Aceh Singkil, maka yang perlu dipikirkan bersama adalah kebutuhan makanan dan minuman pengungsi di hari pertama dan ke 2 karena pengungsi harus memulai dari nol lagi.

Contact Person:
P. Alfons Pandiangan (Pastor Paroki Tumba Manduamas):  081376502187
Afentus Situmorang (Staf Caritas di lokasi Pengungsian): 081397677349
Daniel Gunawan (Staf Caritas di Gunung Meriah)


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.