Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Kamis, 25 Juli 2013

KUNJUNGAN PAUS: Peringatkan Bahaya Legalisasi Narkoba

Paus Fransiskus (76) memperingatkan Amerika Latin untuk menentang legalisasi narkoba. Menurut pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu, kebijakan liberal melegalisasi narkoba tidak akan mengurangi persoalan.

Paus kelahiran Argentina itu mengangkat topik hangat tersebut, Rabu (24/7), setelah perayaan misa pertama dalam kunjungan sepekannya di Brasil.

Paus Fransiskus menyerukan sikap tegas melawan narkoba ketika bertemu pencandu narkoba yang tengah dirawat di ruang rehabilitasi Rumah Sakit Rio de Janeiro yang dikelola biarawan Fransiskan.

"Yang mengerikan dari perdagangan narkoba adalah hal itu memicu kekerasan dan memunculkan penderitaan dan kematian. Karena itu, dibutuhkan tindakan berani dari masyarakat secara keseluruhan," kata Paus Fransiskus. Menurut Paus, penurunan penyebaran dan pengaruh kecanduan narkoba tidak akan bisa dicapai jika ada liberalisasi penggunaan narkoba, seperti yang saat ini diusulkan di sejumlah negara Amerika Latin.

Narkoba telah menewaskan lebih dari 70.000 orang di Meksiko sejak 2006, sementara perdagangan narkoba terus berlanjut di Amerika Latin.

Wacana legalisasi
Presiden Guatemala mewacanakan legalisasi, sebuah visi yang juga dikemukakan mantan presiden di Brasil, Meksiko, dan Kolombia, tetapi hal itu ditentang Amerika Serikat dan Pemerintah Meksiko. Sementara Presiden Uruguay Jose Mujica telah mengusulkan legalisasi ganja di negaranya.

Paus pertama yang berasal dari Amerika Latin itu memimpin misa di Basilika Our Lady Aparecida.

"Memang benar bahwa saat ini, sampai batas tertentu, semua orang, termasuk orang-orang muda kita, merasa tertarik pada banyak berhala yang mengambil tempat Allah dan muncul untuk menawarkan harapan: uang, kesuksesan, kekuasaan, kesenangan," katanya.

Maka, Paus mendesak umat Katolik menolak "berhala-berhala" tersebut.

Di Brasil, Paus juga menghadiri Festival Kaum Muda Katolik Sedunia (World Youth Day) yang dibuka Selasa lalu di Pantai Copacabana.

Diperkirakan 15.000 orang memadati basilika untuk misa hari Rabu lalu, sedangkan 200.000 orang terpaksa mengikuti misa di luar basilika. 

(Kompas cetak, 26 Juli 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 07 Juli 2013

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA BERSAMA PARA SEMINARIS DAN PARA NOVIS 7 JULI 2013

Paus Fransiskus menyampaikan homili pada Misa hari Minggu pagi 7 Juli 2013 bersama para seminaris dan para novis yang berkumpul di Basilika Santo Petrus untuk menandai akhir konferensi empat hari tentang panggilan, kearifan dan pembentukan di Roma. Berikut adalah homili lengkap Bapa Suci pada Misa tersebut.

************************************************

Saudara dan saudari terkasih,
Kemarin saya merasa senang bertemu denganmu, dan hari ini sukacita kita bahkan lebih besar, karena kita telah berkumpul untuk Ekaristi pada Hari Tuhan. Kamu adalah para seminaris, para novis, orang-orang muda pada perjalanan panggilan, dari setiap bagian dari dunia. Kamu mewakili orang muda Gereja! Jika Gereja adalah Mempelai Kristus, Kamu dalam arti tertentu mewakili saat pertunangan, musim semi panggilan, musim penemuan, penilaian, pembentukan. Dan itulah musim yang sangat indah, yang di dalamnya landasan diletakkan untuk masa depan. Terima kasih sudah datang!

Hari ini sabda Allah berbicara kepada kita tentang perutusan. Dari mana perutusan berasal? Jawabannya sederhana: perutusan berasal dari suatu panggilan, panggilan Tuhan, dan ketika Ia memanggil orang-orang, Ia melakukannya dengan maksud untuk mengutus mereka keluar. Tetapi bagaimana seseorang yang diutus dimaksudkan untuk tinggal? Apa saja pokok acuan perutusan Kristiani? Bacaan-bacaan yang telah kita dengar mengusulkan tiga hal : sukacita penghiburan, Salib dan doa.

Unsur pertama: sukacita penghiburan. Nabi Yesaya sedang menyampaikan pesan kepada orang-orang yang telah melalui masa gelap pembuangan, suatu pencobaan yang sangat sulit. Tetapi sekarang saat penghiburan telah tiba bagi Yerusalem; kesedihan dan ketakutan harus memberi jalan kepada sukacita: "Bersukacitalah .... bersorak-soraklah ....bergiranglah bersama-sama dia", kata Sang Nabi (66:10). Undangan yang bagus untuk bersukacita. Mengapa? Karena alasan apa? Karena Tuhan akan mencurahkan atas Kota Suci dan penduduknya suatu "curahan deras" penghiburan, kelembutan seorang ibu: "Kamu akan digendong dan akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu" (ayat 12-13). Setiap orang Kristiani, terutama Anda dan saya, dipanggil untuk menjadi pembawa pesan pengharapan ini yang memberikan ketenangan dan sukacita: penghiburan Allah, kelembutan-Nya terhadap semua orang. Tetapi jika kita awalnya mengalami sukacita dihibur oleh-Nya, dikasihi oleh-Nya, maka kita dapat membawa sukacita itu kepada orang lain. Hal ini penting jika perutusan kita untuk menjadi berbuah: merasakan penghiburan Allah dan menyampaikannya kepada orang lain! Undangan Yesaya harus bergema dalam hati kita: "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku" (40:1) dan harus mengarah pada perutusan. Orang-orang saat ini tentu membutuhkan kata-kata, tetapi kebanyakan dari mereka semua membutuhkan kita untuk menjadi saksi bagi belas kasihan dan kelembutan Tuhan, yang menghangatkan hati, menghidupkan harapan, dan menarik orang-orang ke arah kebaikan. Betapa sukacitanya membawa penghiburan Allah kepada orang lain!

Titik acuan perutusan yang kedua adalah Salib Kristus. Santo Paulus, menulis kepada jemaat di Galatia, mengatakan: "Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus" (6:14). Dan ia berbicara tentang "tanda-tanda Yesus", yaitu, luka-luka Tuhan yang disalibkan, sebagai tanda balasan, sebagai tanda khusus hidup-Nya sebagai seorang Rasul Injil. Dalam karya pelayanannys Paulus mengalami penderitaan, kelemahan dan kekalahan, tetapi juga sukacita dan penghiburan. Inilah misteri Paskah Yesus: misteri kematian dan kebangkitan. Dan justru dengan membiarkan dirinya menjadi serupa dengan kematian Yesus maka Santo Paulus menjadi pengikut dalam kebangkitan-Nya, dalam kemenangan-Nya. Dalam saat kegelapan dan kesengsaraan, fajar cahaya dan keselamatan sudah hadir dan bekerja. Misteri Paskah adalah berdebarnya jantung perutusan Gereja! Dan jika kita tetap di dalam misteri ini, kita terlindung baik dari gambaran perutusan yang bersifat duniawi maupun yang bersifat kemenangan dan dari keputusasaan yang dapat dihasilkan dari kesengsaraan dan kegagalan. Kelimpahan pemberitaan Injil diukur bukan oleh keberhasilan atau kegagalan menurut kriteria evaluasi manusia, tetapi oleh menjadi serupa dengan logika Salib Yesus, yang merupakan logika melangkah ke luar diri sendiri dan menghabiskan diri sendiri, logika kasih. Itulah Salib - Salib yang selalu hadir bersama Kristus - yang menjamin kelimpahan perutusan kita. Dan dari Saliblah, tindakan tertinggi belas kasihan dan kasih, sehingga kita dilahirkan kembali sebagai "ciptaan baru" (Gal 6:15).

Akhirnya unsur ketiga: doa. Dalam Injil kita mendengar: "Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" (Luk 10:2). Para buruh untuk panenan tidak dipilih melalui kampanye iklan atau permintaan untuk pelayanan dan kemurahan hati, tetapi mereka "dipilih" dan "diutus" oleh Allah. Untuk ini, doa adalah penting. Gereja, sebagaimana sering ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI, bukan milik kita, tetapi milik Allah; lahan untuk dibudidayakan adalah milik-Nya. Maka, perutusan terutama adalah tentang rahmat. Dan jika Rasul lahir dari doa, ia menemukan dalam doa cahaya dan kekuatan untuk tindakannya. Perutusan kita berhenti berbuah, bahwasanya, perutusan dipadamkan saat hubungan dengan sumbernya, dengan Tuhan, terganggu.

Para seminaris terkasih, para novis terkasih, orang-orang muda terkasih camkan panggilan Anda: "evangelisasi dilakukan pada lutut seseorang", ketika salah satu dari Anda mengatakan kepada saya lain hari. Jadilah selalu pria dan wanita doa! Tanpa suatu hubungan terus menerus dengan Allah, perutusan menjadi suatu pekerjaan. Resiko paham aktivis, terlalu banyak mengandalkan pada struktur, adalah sebuah bahaya yang selalu hadir. Jika kita memandang ke arah Yesus, kita melihat bahwa sebelum keputusan atau peristiwa penting apapun Ia memusatkan diri-Nya dalam doa yang intens dan berkelanjutan. Marilah kita memupuk dimensi kontemplatif, bahkan di tengah angin puyuh tugas yang lebih penting dan mendesak. Dan semakin perutusan memanggil kamu untuk pergi keluar ke pinggiran eksistensi, biarkan hatimu menjadi lebih erat bersatu dengan hati Kristus, puncak belas kasih dan kasih. Di sinilah letak rahasia kelimpahan seorang murid Tuhan!

Yesus mengutus para pengikut-Nya dengan tidak ada "bekal, pundi-pundi, kasut" (Luk 10:4). Penyebaran Injil tidak dijamin baik oleh jumlah orang, ataupun oleh kewibawaan lembaga, ataupun oleh jumlah sumber daya yang tersedia. Yang penting adalah diresapi oleh kasih Kristus, membiarkan diri dipimpin oleh Roh Kudus dan mencangkokkan hidup miliknya sendiri kepada pohon kehidupan, yang adalah Salib Tuhan.

Sahabat-sahabat terkasih, dengan keyakinan yang besar saya mempercayakan kamu kepada perantaraan Maria yang Tersuci. Ia adalah Bunda yang membantu kita untuk mengambil keputusan hidup secara bebas dan tanpa rasa takut. Semoga ia membantu kamu untuk menjadi saksi bagi sukacita penghiburan Allah, untuk menyesuaikan dirimu dengan logika kasih dari Salib, untuk bertumbuh dalam kesatuan yang lebih dalam dengan Tuhan. Maka hidupmu akan menjadi kaya dan berlimpah! Amin.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
(Peter - milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 09 Mei 2013

Nota Pastoral Tahun 2013 : “Keterlibatan Gereja dalam Melestarikan Keutuhan Ciptaan”


PENGANTAR
1. Nota Pastoral Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) 2013  berjudul:KETERLIBATAN GEREJA DALAM MELESTARIKAN KEUTUHAN CIPTAAN.  Dengan memilih judul tersebut, Gereja ingin mengajak seluruh umat Katolik untuk memberi perhatian, meningkatkan kepedulian dan tindakan partisipatif dalam menjaga, memperbaiki, melindungi dan melestarikan keutuhan ciptaan dari berbagai macam kerusakan. Nota Pastoral ini dimaksudkan sebagai bahan pembelajaran pribadi atau bersama bagi seluruh umat dan siapapun yang mempunyai kepedulian terhadap masalah-masalah lingkungan hidup dan usaha-usaha untuk menjaga, memperbaiki,melindungi dan memulihkannya.
2. Nota Pastoral ini merupakan hasil hari studi para uskup pada tanggal 5-7 November 2012 tentang ekopastoral. Para uskup menyadari pentingnya lingkungan hidup untuk kelangsungan hidup semua ciptaan namun juga prihatin terhadap berbagai macam kerusakan alam dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.  Di Indonesia, kerusakan alam terus terjadi dan dari waktu ke waktu kian mengkhawatirkan. Oleh karena itu, para uskup sepakat untuk meningkatkan pelayanan karya pastoral di bidang lingkungan hidup atau ekopastoral.
3. Nota Pastoral ini secara berurutan akan mengupas masalah lingkungan hidup dan kerusakannya, dasar-dasar panggilan Gereja  untuk melestarikan keutuhan ciptaan Tuhan dan harapan para uskup sehubungan dengan pastoral lingkungan hidup yang bisa diupayakan oleh Gereja  Katolik  di Indonesia sebagai persekutuan umat beriman.
LINGKUNGAN HIDUP
4Lingkungan hidup  merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar makhluk hidup, termasuk manusia,  berupa  benda, daya dan keadaan yang mempengaruhi kelangsungan makhluk hidup,  baik langsung maupun tidak langsung.[1] Dalam lingkungan hidup terdapat ekosistem yaitu unsur-unsur lingkungan hidup, baik yang hidup (biotik)  seperti manusia, tumbuhan, hewan, maupun yang  tidak hidup (abiotik) seperti tanah, air dan udara yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi.
5. Manusia bersama dengan ciptaan yang lain  merupakan  bagian dari  lingkungan hidup dan keduanya mempunyai hubungan timbal  balik yang amat erat.   Lingkungan hidup  menyediakan berbagai kebutuhan manusia, menentukan dan membentuk kepribadian, budaya, pola, dan model kehidupan masyarakat. Sedangkan manusia dengan segala kemampuannya  dapat menentukan  dan mempengaruhi perubahan-perubahan dalam lingkungan hidup.  Jika manusia mampu hidup selaras dan seimbang dengan lingkungan hidup, kehidupannya dan kehidupan makhluk lain pun akan berlangsung dengan baik.
KONDISI YANG MEMPRIHATINKAN
6. Pada kenyataannya, manusia sering  menempatkan diri sebagai yang berkuasa terhadap alam ciptaan dan pusat segala-galanya. Manusia juga sering  beranggapan bahwa alam  menyediakan berbagai sumber daya   yang tidak terbatas dan mampu tercipta kembali  secara cepat. Alam dianggap memiliki kemampuan sendiri untuk mengatasi dampak-dampak negatif dari eksploitasi dan pencemaran. Pemahaman ini mendorong manusia untuk  semakin berperilaku rakus dan serakah.
7. Kerusakan lingkungan memang  tidak semata-mata disebabkan oleh ulah manusia.  Alam bisa rusak dan hancur karena faktor alam  juga seperti gunung meletus, gempa bumi, dan tsunami.  Namun perilaku manusia yang menempatkan dirinya sebagai subyek dan alam sebagai obyek  untuk   dikuras kekayaannya dan  dicemari menjadi penyebab terbesar kerusakan lingkungan hidup saat ini
8. Kerusakan lingkungan hidup ditandai dengan adanya perubahan langsung dan tidak langsung terhadap ekosistem aslinya yang melampaui ukuran batas kemampuan lingkungan hidup untuk dapat tetap berfungsi dengan baik. Kerusakan lingkungan  yang saat ini terjadi lebih disebabkan oleh aktivitas pengambilan sumber daya alam yang tidak terkendali di berbagai bidang seperti:
8.1. Pertambangan
Kegiatan pertambangan, khususnya yang bersifat terbuka semakin marak. Hingga tahun 2012 tercatat sebanyak 10.677 Ijin Usaha Pertambangan (IUP) yang sudah dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Dari jumlah IUP tersebut, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Dirjen PHKA) mencatat bahwa sejak tahun 2004 hingga 2012 terdapat  1.724 kasus penambangan yang merusak kawasan hutan secara ilegal. Pada tahun 2004, sebanyak 13 unit usaha tambang beroperasi di kawasan hutan lindung dan membabat areal hutan seluas 950.000 hektar.[2] Di satu sisi, industri pertambangan memberikan manfaat terhadap perekonomian domestik, membuka lapangan kerja secara nasional dan regional, serta mengembangkan unit-unit ekonomi di sekitar kawasan tambang. Di sisi lain, pembukaan kawasan hutan yang dimulai dari penebangan hingga penggalian dan pembuangan limbah hasil tambang telah mengubah lahan dan merusak ekosistem setempat. Reklamasi  lahan bekas tambang tidak akan mampu mengembalikan keadaan semula. Setidaknya akan tetap tersisa wilayah dengan lobang bekas tambang.
Pengambilan sumber daya alam yang tidak memperhatikan keberlanjutannya mengakibatkan sumber daya alam menipis. Laju kecepatan pengambilan lebih tinggi daripada laju kecepatan tumbuh.   Sumber daya alam yang awalnya dimanfaatkan sebagai modal pembangunan akan semakin habis dan biaya perbaikan lingkungan semakin mahal. Di samping itu, konflik dan kekerasan antar masyarakat atau masyarakat dengan pemerintah akan semakin meningkat seiring terbatasnya akses pada sumber daya alam dan lahan untuk mendukung kehidupan. Masyarakat, pengusaha, dan pemerintah akan saling menyalahkan sebagai penyebab kerusakan lingkungan hidup.
Bagi masyarakat sekitar tambang, ganti rugi  yang diterima sering tidak memadai dibandingkan dengan penderitaan yang harus mereka alami karena kehilangan  mata pencarian dan akibat kerusakan lingkungan. Selain itu, masyarakat juga tidak lebih sejahtera karena hasil tambang lebih  banyak dinikmati oleh pemilik modal dan para pekerja yang sebagian besar berasal dari luar daerah penambangan.
8.2. Perkebunan
Usaha perkebunan skala besar jauh lebih berkembang dibandingkan perkebunan rakyat. Data Dirjen Perkebunan menunjukkan bahwa pertambahan luas perkebunan kelapa sawit selama 10 tahun terakhir meningkat 88% yaitu dari 4,15 juta hektar di tahun 2000 menjadi 7,8 juta hektar pada tahun 2010. Sementara luas perkebunan karet relatif tetap dari 3,37 juta hektar pada tahun 2000 menjadi 3,44 juta hektar pada tahun 2010.[3] Sektor perkebunan telah memberikan kontribusi yang besar dalam penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat, memberikan nilai tambah terhadap pendapatan daerah dan ikut menumbuhkan sektor jasa transportasi.  Meskipun begitu, pemberian ijin kawasan untuk perkebunan seringkali menimbulkan permasalahan dengan masyarakat setempat karena mereka tidak diakui keberadaannya oleh pemerintah dan dianggap ilegal. Tidak adanya pengakuan atas hak hidup masyarakat adat maupun masyarakat lain yang sudah lebih dahulu tinggal dan beraktivitas, membuat posisi mereka sangat lemah dan mudah dipermainkan.  Kelompok masyarakat ini belum terwadahi dalam peraturan pemerintah.  “Perasaan terusir dari lingkungannya sendiri, ketidakmampuan untuk ikut menikmati hasil bumi yang dipijaknya, dampak ekonomi dan sosial yang tidak selalu positif, semuanya menjadi dampak yang harus ditanggung oleh masyarakat.”[4] Selain menimbulkan masalah sosial, perkebunan skala besar juga menyisakan kerusakan lingkungan yang harus diderita oleh alam dan manusia. Penggantian jenis tanaman menjadi monokultur, penggunaan pupuk dan pestisida yang terus menerus, pengambilan air tanah untuk keperluan tanaman, menjadikan  masyarakat kecil sebagai korban yang tidak berdaya.
8.3. Kehutanan
Industri kehutanan telah ikut meningkatkan pendapatan negara lewat ekspor kayu tropis, dalam bentuk log, kayu gergajian, kayu lapis dan produk kayu lainnya.  Meskipun begitu, fungsi hutan yang sangat penting untuk kehidupan saat ini sudah berkurang seiring dengan kerusakannya yang semakin luas. Berdasarkan data Ditjen Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan, luas lahan kritis dan sangat kritis tahun 2011 telah mencapai 29,3 juta hektar.[5] Kerusakan hutan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:  “Penebangan kayu yang berlebihan, praktik  illegal logging, semakin luasnya areal penggunaan lain di mana hutan dapat dikonversi   untuk kepentingan  di luar sektor kehutanan seperti perkebunan, pertambangan, dan  permukiman. Kerusakan tersebut tidak lepas dari peran para pengambil kebijakan yang sering hanya mendasarkan kebijakan pada pertimbangan keuntungan ekonomis semata.   Pengawasan terhadap pengelolaan hutan yang lestari masih lemah, sanksi hukum terhadap para pelanggar peraturan tentang industri kehutanan juga masih rendah.[6] Di samping itu, kesadaran  masyarakat akan pentingnya hutan untuk kehidupan belum merata. Fungsi sumber daya hutan masih tidak dipahami, sehingga kerusakan lingkungan dari hulu hingga hilir suatu kawasan tidak dilihat sebagai permasalahan sebab-akibat, melainkan permasalahan parsial termasuk penanganannya.
Kerusakan hutan  yang mengakibatkan bencana alam membuat biaya hidup masyarakat makin mahal. Biaya ekonomi, sosial, dan lingkungan untuk mengatasi banjir, tanah longsor, kekeringan dan krisis air bersih, perbaikan fasilitas publik seperti jalan, bangunan sekolah dan pemerintahan,  serta terganggunya kegiatan ekonomi masyarakat,  akan semakin meningkat. Masyarakat akan menanggung biaya hidup yang semakin tinggi karena pemerintah tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dasar  mereka.
8.4. Pencemaran tanah
Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan-bahan kimia buatan manusia masuk dan mengubah lingkungan tanah alami. Tanah dimengerti sebagai permukaan bumi yang banyak  dihuni oleh makhluk hidup, terutama manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Pencemaran ini terjadi karena masuknya limbah cair atau bahan kimia industri, limbah pertanian, dan limbah rumah tangga ke dalam tanah yang akan mengubah metabolisme dan mikroorganisme dalam tanah, memusnahkan spesies dan mengganggu rantai makanan dalam tubuh manusia. Bahan kimia akan meresap ke dalam air bawah tanah sehingga mempengaruhi kualitas air tanah. Hal ini terjadi sebagai akibat penggunaan pupuk, pestisida, dan limbah tidak terurai seperti plastik, kaleng, limbah cair, dan air hujan yang tercampur dengan senyawa kimia di udara. Pencemaran ini akan  berdampak negatif terhadap ekosistem yang hidup di dalam dan di atas tanah. Kualitas hidup manusia juga akan mengalami penurunan sebagai akibat rantai makanan yang tercemar dan menurunnya fungsi tanah sebagai sumber kehidupan yang dibutuhkan oleh semua makhluk hidup.
8.5. Pencemaran udara
Pencemaran udara dapat disebabkan oleh kejadian alam seperti letusan gunung berapi dan oleh kegiatan manusia di bidang transportasi, industri, kegiatan rumah tangga, dan usaha-usaha komersial. Berbagai kegiatan ini mengakibatkan terjadinya pencemaran udara.  Pembakaran sampah menyebabkan pencemaran udara dalam bentuk senyawa kimia termasuk partikel logam berat. Alat pemantau udara otomatis yang dipasang di 43 stasiun pantau di 10 kota, menunjukkan bahwa terdapat partikel dengan ukuran di bawah 10 mikrometer (PM10) sehingga akan ikut terhirup dan masuk ke dalam pernafasan. Hal ini akan mengganggu kesehatan dan dalam jangka panjang bersifat racun.[7] Kota-kota di Jawa, Bali, Sumatera, dan beberapa kota di Kalimantan yang memiliki kegiatan industri yang padat menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi pencemaran yang lebih tinggi dibandingkan wilayah kota lainnya.

Sejak tahun 1998, Indonesia telah dinyatakan sebagai negara dengan kondisi pencemaran udara di perkotaan yang terburuk di mana tingkat konsentrasi dari tiga jenis parameter yang dipantau yaitu kadar timbal, nitrogen dioksida, dan total padatan tersuspensi melebihi standar WHO[8]. Kadar timbal di udara Jakarta mencapai 29 mg/m3 sedangkan standar WHO hanya 0,5 mg/m3. Penumpukan kadar timbal dalam darah sebesar 10 ug/dl akan menurunkan tingkat kecerdasan anak-anak. Dampak asap dari kebakaran hutan juga dapat menimbulkan sakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), asma, radang paru-paru, dan penyakit mata. Jumlah penderita ISPA di wilayah kebakaran hutan lebih tinggi 1,8 hingga 3,8 kali dibanding sebelum terkena asap. Hasil pembakaran bahan bakar untuk kegiatan industri dan transportasi menghasilkan gas nitrogen di udara yang di perkotaan lebih tinggi 0-100 kali dibandingkan dengan wilayah pedesaan[9].  Gas ini bersifat racun bagi paru-paru. Standar WHO untuk NO2 adalah 40 mg/m3 sedangkan Jakarta mencapai 250 mg/m3. Dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya aktivitas masyarakat, dapat dipastikan bahwa tingkat konsentrasi dari masing-masing jenis parameter di atas meningkat.
8.6. Pencemaran air
Indonesia membutuhkan dana Rp 37 trilyun untuk penyediaan air bersih. Kebutuhan air bersih di Indonesia belum memadai. Dari 380 PDAM yang ada di Indonesia, baru sekitar 140 PDAM yang tercatat mampu menyalurkan air yang sehat. Target pembangunan milenium tahun 2015 sebanyak 68% penduduk Indonesia terlayani air bersih belum mampu dicapai karena saat ini yang tercapai baru 47%. Jumlah penderita diare per tahun juga masih sangat tinggi yaitu 120 juta per tahun akibat minimnya air bersih. [10] Kekurangan air bersih ini semakin diperparah oleh pencemaran air yang dapat diartikan sebagai suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Perubahan ini mengakibatkan menurunnya kualitas air hingga ke tingkat yang membahayakan dan air tidak bisa digunakan sesuai peruntukannya. Pusat Sarana Pengendalian Dampak Lingkungan mencatat bahwa pada tahun 2011 dari 51 sungai besar di Indonesia, 32 di antaranya tercemar berat. Instalasi pengolah air limbah baru terdapat di 11 kota di Indonesia dan hanya mampu melayani 2,5 juta jiwa.[11] Limbah pemukiman, limbah pertanian dan limbah industri  semakin merusak air, baik air permukaan maupun air bawah tanah. Keadaan ini diperparah oleh pemahaman bahwa alam merupakan tempat sampah raksasa yang dapat mengolah limbahnya secara alami, baik limbah cair maupun limbah padat, dan sungai menjadi salah satu media tempat sampah yang paling gampang dipakai. Akibatnya, manusia sendiri yang harus menanggung dampaknya.
8.7. Sampah
Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas menyatakan bahwa sampah menjadi permasalahan pelik khususnya hampir di setiap kota besar.  Jumlah sampah yang terangkut dan mengalami proses pengolahan masih sangat rendah. Dari 1 juta meter kubik sampah, baru 42% yang dapat diolah dengan baik, sedangkan sisanya menjadi permasalahan lingkungan.[12] Budaya bersih dan usaha mengurangi jumlah sampah yang dihasilkan masih  jauh dari harapan. Pemikiran bahwa sampah merupakan urusan dan tanggung jawab pemerintah untuk mengelolanya masih sangat kental. Padahal, sampah merupakan sumber pencemar tanah, air, dan udara. Bau yang menyengat dan rembesan air yang mengandung senyawa kimia yang berasal dari pembusukan sampah akan mengganggu kesehatan masyarakat

8.8. Perubahan iklim
Dampak perubahan iklim global juga dirasakan oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan hasil kajian di tingkat nasional maupun internasional, temperatur rata-rata tahunan Indonesia akan meningkat 0,30C, dan secara keseluruhan kelembaban udara akan berkurang 2-3%, sehingga akan berpengaruh pada curah hujan dan pola bulan basah – bulan kering.[13] Berkurangnya curah hujan akan berdampak pada tingginya resiko kekeringan, ketidakpastian ketersediaan air. Semuanya akan mengganggu kegiatan ekonomi dan kegiatan pertanian sehingga mengancam ketahanan pangan. Di sisi lain, meningkatnya curah hujan akan meningkatkan resiko banjir yang tentunya akan menimbulkan kerugian yang sangat tinggi. Kerugian banjir Jakarta tahun 2007 diperkirakan Rp 4,1 trilyun.[14] Perubahan iklim yang menyebabkan meningkatnya kejadian banjir dan kekeringan otomatis juga akan menyebabkan terjadi penyebaran infeksi dan bibit penyakit seperti malaria dan demam berdarah. Penyebaran infeksi  melalui air dapat berupa diare dan kolera.
Kenaikan suhu juga akan berdampak pada meningkatnya permukaan air laut. Saat ini telah terjadi kenaikan permukaan laut rata-rata 1-3 mm per tahun di wilayah perairan Asia[15]. Padahal sekitar 60% penduduk Indonesia tinggal di wilayah pesisir. Kegiatan ekonomi di sepanjang 81.000 km wilayah pesisir memberi sumbangan sebesar 25% dari pendapatan nasional.[16] Kenaikan permukaan air laut ini juga akan berdampak kepada banjir, meningkatnya salinitas atau masuknya air asin ke perairan darat. Keduanya akan berdampak pada kegiatan pertanian dan rumah tangga. Bahkan dalam cuaca ekstrim yang menyebabkan kenaikan permukaan laut setinggi satu meter akan mampu menggenangi 405.000 hektar wilayah pesisir terutama bagian utara Jawa, bagian timur Sumatera, dan bagian utara Sulawesi.
Selain itu, gejala penyimpangan suhu, atau yang dikenal dengan nama El Nino akan berdampak pada kematian benih ikan sehingga akan mengurangi ketersediaan ikan bagi manusia.  Penyimpangan suhu juga akan menyebabkan kebakaran hutan. Pada tahun 1997-1998 terjadi kebakaran hutan seluas 9,7  hektar, dan kebakaran lahan gambut, yang selain dipicu oleh kenaikan suhu juga karena pembukaan lahan seluas 2 juta hektar. Padahal lahan gambut memiliki kemampuan mengikat karbon 30 kali lebih tinggi daripada tutupan hutan lainnya.[17]   Oleh karena itu, Indonesia menjadi salah satu penyumbang emisi keempat terbesar dunia
AMANAT ILAHI
9. Allah menciptakan manusia dan segala makhluk dengan kasih-Nya (bdk. Kej.1). Keyakinan ini menyadarkan  kita bahwa dunia dengan segala isinya sungguh dikehendaki oleh Allah, baik adanya. Allah adalah Sang Pencipta. Dialah ‘’awal dan akhir, asal dan tujuan seluruh alam ciptaan.”[18]Semua makhluk, dengan segala keanekaragaman dan keunikannya,  menggambarkan keagungan dan kemahakuasaan Allah (bdk. Mzm. 104: 14).
10. Di antara segala ciptaan, manusia adalah satu-satunya makhluk yang secitra dengan Allah (bdk. Kej.1:27). Sebagai citra Allah, manusia  mempunyai martabat sebagai pribadi yang mampu mengenali dirinya sendiri, menyadari kebersamaan dirinya dengan orang lain, dan  bertanggung jawab  atas makhluk ciptaan yang lain. Manusia adalah rekan kerja Allah dalam menata, menjaga, memelihara dan mengembangkan seluruh alam semesta ini. Allah memberikan kepercayaan kepada manusia untuk memelihara dan mengolah dengan bijaksana alam semesta ini serta berupaya  menciptakan hubungan yang harmonis di antara semua ciptaan (bdk. Kej.2:15). Oleh karena itu, manusia harus mengelola bumi dengan segala isinya ini dalam kesucian dan keadilan. Manusia  tidak berhak memboroskan  dan merusak alam serta sumber-sumbernya dengan alasan apapun.
11. Kehadiran Allah di dunia dalam diri Yesus Kristus ingin menyatakan bahwa kasih-Nya amat besar terhadap manusia dan semua ciptaan.  Allah tidak hanya mencipta, tetapi juga melindungi dan memelihara. Allah adalah Kasih (bdk. 1Yoh.4:16)  dan kasih itu tidak hanya ditujukan kepada manusia  tetapi kepada semua makhluk yang telah Ia ciptakan. Solidaritas dan kepedulian Allah terhadap ciptaan-Nya dalam peristiwa penjelmaan menjadi pegangan manusia untuk memperlakukan ciptaan yang lain secara baik.  Sehubungan dengan hal itu,  manusia harus melepaskan diri dari berbagai kelekatan seperti kekayaan dan kekuasaan (bdk. Mat.6:19-21), yang sering dicapai  dengan mengorbankan sesamanya atau makhluk ciptaan Tuhan yang lain.
12. Karya penebusan Allah dalam diri Yesus Kristus  juga ingin menjangkau  semua ciptaan. Dengan  darah salib Kristus, segala sesuatu di bumi dan di surga diperdamaikan oleh Allah ( bdk. Kol.1:19-20). Rasul Paulus dengan tegas menyatakan bahwa  karya penyelamatan Allah tidak hanya untuk manusia yang berdosa tetapi meliputi segala makhluk dan seluruh alam semesta. Oleh karena itu, sikap pemberian diri  yang disertai dengan kerendahan hati  manusia terhadap yang lain sebagaimana telah dilakukan oleh Yesus kristus (bdk. Flp.2:1-11) diperluas untuk semua makhluk ciptaan.
GEREJA YANG PEDULI
13. Gereja sebagai sakramen keselamatan telah menaruh kepedulian yang mendalam terhadap masalah lingkungan hidup. Kepedulian Gereja tersebut tampak dalam pemikiran dan pandangan para Bapa Gereja. Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes  No. 69  menyatakan “Allah menghendaki, supaya bumi beserta segala isinya digunakan oleh semua orang dan sekalian bangsa, sehingga harta –benda yang tercipta dengan cara yang wajar harus mencapai semua orang, berpedoman pada keadilan, diiringi dengan cinta kasih”. Para Bapa Konsili meyakini bahwa Allah telah menganugerahkan bumi dengan segala kekayaannya sebagai rumah bersama semua manusia dan semua makhluk. Semua manusia, tanpa kecuali,  berhak menikmati dan mendapatkan sumber penghidupan dari kekayaan alam semesta ini.
14. Gereja selalu terbuka, menghormati dan mendukung berbagai macam perkembangan dan  kemajuan jaman, termasuk di bidang ekonomi, sejauh kemajuan tersebut membawa kesejahteraan bagi manusia dan mahkluk hidup yang lain. Kemajuan zaman harus tetap menjaga dan melindungi  hak hidup masyarakat, khususnya orang-orang  yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir. Sehubungan dengan hal itu, Paus Paulus VI dalam Ensiklik Populorum Progressio No.34 menekankan pentingnya Gereja mendampingi dan  memajukan masyarakat untuk ikut serta memanfaatkan sumber daya alam. Mereka perlu dilindungi dari penindasan dan keserakahan orang-orang yang ingin mendapatkan keuntungan ekonomis sebesar-besarnya dari kekayaan alam yang ada di sekitar mereka.
15. Paus Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis No.34  menegaskan bahwa manusia tidak dibenarkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengorbankan hewan, tumbuhan dan unsur-unsur alam yang lain. Sumber daya alam yang ada juga terbatas sehingga pemanfaatannya harus memperhatikan tuntutan-tuntutan moral. Sang Pencipta sudah mengungkapan secara simbolis agar manusia tidak “makan buah terlarang” (bdk. Kej.2:16-17). Maksudnya alam tidak hanya  berada di bawah hukum biologis, tetapi juga hukum-hukum moral. Alam adalah anugerah Allah untuk semua orang  sehingga harus dikelola secara bertanggung untuk kesejahteraan bersama pula.
16. Keprihatinan dan kepedulian Gereja Katolik Indonesia terhadap masalah lingkungan hidup sebenarnya sudah  ada sejak lama. Surat Gembala KWI pada bulan Februari 1989 secara khusus telah membahas lingkungan hidup.  Para Waligereja mengajak seluruh umat katolik untuk  mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup demi terwujudnya kenyamanan dan kesejahteraan hidup manusia. Komitmen untuk mewujudkan keadilan dan melestarikan keutuhan ciptaan merupakan dua dimensi panggilan kristiani dalam upaya menghadirkan Kerajaan Allah.
17. Sidang Tahunan KWI  tanggal 1-11 November 2004 dengan tema Keadaban Publik: Menuju Habitus Baru Bangsa menampilkan Gereja Indonesia yang peduli dengan berbagai persoalan bangsa,  di antaranya kerusakan  lingkungan hidup. Pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat warga merupakan pihak-pihak yang harus bertanggungjawab untuk memulihkan keadaban publik  yang telah rusak  tersebut. Salah satu caranya adalah dengan membangun budaya baru. Budaya baru dimengerti sebagai cara pandang dan kebiasaan sosial yang menjadi tandingan dari cara pandang dan kebiasaan sosial umum dalam masyarakat, termasuk sikap hidup yang kurang menghargai lingkungan hidup.
18. Sidang Agung  Gereja Katolik Indonesia  tanggal 16-20 November 2005  dengan tema  Bangkit dan Bergeraklah secara tegas mengajak Gereja untuk lebih terlibat dalam mengatasi berbagai macam ketidakadaban publik, di antaranya yang berhubungan dengan kerusakan lingkungan hidup.  Berkaitan dengan masalah lingkungan hidup, para Waligereja  Indonesia kembali menekankan pentingnya upaya memberdayakan kearifan lokal dan menghormati masyarakat adat serta usaha-usaha lainnya seperti mengatasi polusi air, udara dan tanah.
19. Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia tanggal 1-5 November 2010 dengan tema Ia Datang supaya Semua Memperoleh hidup dalam Kelimpahan, mendorong Gereja untuk lebih berkomitmen dalam mewujudkan aksi solidaritas. Dalam salah satu butir  Pernyataan Akhir dan Rekomendasi, para Waligereja menekankan pentingnya  pelayanan pastoral untuk para petani, nelayan, buruh, kelompok yang terabaikan dan terpinggirkan serta upaya pemeliharaan lingkungan hidup.
20. Gereja Katolik Indonesia telah melakukan berbagai upaya nyata untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Upaya-upaya itu antara lain edukasi yaitu menyadarkan umat akan pentingnya lingkungan hidup untuk keberlangsungan hidup semua ciptaan termasuk manusia; advokasi yaitu membantu dan mendampingi para korban kerusakan lingkungan hidup agar mendapatkan kembali hak hidupnya secara utuh; negosiasi  yaitu menjadi penghubung antara masyarakat dengan pemerintah dan pelaku usaha, menyangkut kebijakan dan pemanfaatan sumber daya alam agar tidak memiskinkan masyarakat. Gereja telah berusaha melakukan berbagai gerakan di lingkup keuskupan, paroki, sekolah, biara, komunitas basis, kelompok kategorial  dan bersama dengan masyarakat umum lainnya. Namun kerusakan lingkungan hidup terus saja terjadi, bahkan dari waktu ke waktu semakin meningkat.


GEREJA MENINGKATKAN KEPEDULIAN
21. Kepedulian Gereja terhadap usaha-usaha untuk melestarikan keutuhan ciptaan perlu ditingkatkan.  Salah satu hal penting dan mendesak untuk dilakukan adalah membangun dan mengembangkan pertobatan ekologis  demi terwujudnya rekonsiliasi atau pendamaian antara manusia dengan seluruh ciptaan.  Pertobatan ini tidak hanya berhenti pada lahirnya kesadaran baru, bahwa lingkungan hidup penting untuk kehidupan manusia, melainkan adanya perubahan positif yang signifikan  dalam memandang dan memperlakukan alam semesta.
22. Kehidupan seluruh ciptaan menjadi pusat dari segala kegiatan manusia. Dengan kata lain perlu  peralihan dari cara pandang egosentris  ke cara pandang biosentris. Eksploitasi sumber daya alam yang didasari keinginan tak terbatas diubah menjadi pemanfaatan sumber daya alam yang arif-bijaksana didasarkan pada kebutuhan hidup yang berkelanjutan. Konsep pembangunan tidak lagi hanya mengacu pada pertumbuhan ekonomi tetapi juga pada pembangunan yang berwawasan lingkungan. Alam kembali ditempatkan dalam perannya sebagai mitra kehidupan manusia dan rumah bagi semua mahkluk.
23. Pastoral ekologi atau ekopastoral hendaknya dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan. Menyeluruh artinya melibatkan semua orang yang berkehendak baik untuk menjaga dan memulihkan lingkungan hidup serta mencakup pihak-pihak yang terkait dengan kerusakan  lingkungan hidup itu sendiri.  Berkesinambungan berarti pastoral lingkungan hidup menjadi gerakan  Gereja yang teratur, terarah, dan  terus menerus yang diperkaya dengan informasi, pengetahuan, dan cara bertindak yang benar berkaitan dengan lingkungan hidup.
24.1. Kepada saudara-saudari yang berada di posisi pengambil kebijakan.
24.1.1. Kebijakan pemanfaatan sumber daya alam hendaknya memperhatikan keseimbangan antara kepentingan manusia dan lingkungan hidup. Oleh karena itu, kebijakan pembangunan dengan memanfaatkan sumber daya alam yang cenderung eksploitatif  (hanya menekankan pertumbuhan dengan mengeruk sumber daya alam  tetapi kurang memperhatikan  segi keseimbangan  eskosistem) dan destruktif (mencemari lingkungan hidup  dengan aneka ragam limbah) harus ditinjau ulang atau jika perlu dihentikan.
24.1.2. Kebijakan Penataan Ruang melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) hendaknya memperhatikan kepentingan masyarakat kecil. Tujuannya agar  mereka tidak tergusur secara semena-mena,  tidak kehilangan ruang publik yang bisa dipakai untuk bermain anak-anak mereka, tidak khawatir akan datangnya banjir saat musim hujan. Dengan demikian, resapan air tetap terjaga, kesegaran dan kenyaman hidup terjamin karena masih luasnya kawasan hijau.
24.1.3. Izin  usaha yang  berdasarkan pertimbangan yuridis dan analisis akademis dari berbagai disiplin ilmu    akan berdampak pada kerusakan lingkungan hidup, tidak boleh  dikeluarkan. Di samping itu, bagi mereka yang telah terbukti melanggar ketentuan usaha yang ramah lingkungan  dan  menjadi penyebab kerusakan lingkungan hidup hendaknya diberi sanksi yang semestinya.
24.1.4. Kebijakan hendaknya dilandaskan pada prinsip keadilan, artinya kebijakan itu menghormati martabat manusia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Hal ini perlu diperhatikan  baik dalam membuat  kebijakan ekonomi nasional maupun setempat. Masyarakat lokal yang tinggal di kawasan   hutan  adalah kelompok  pertama yang harus mendapat manfaat dari potensi alam  sekitarnya. Kebijakan ini juga disertai dengan usaha-usaha penyadaran yang intensif agar masyarakat berlaku hemat dan bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam yang ada.
24.2. Kepada saudara-saudari yang bergerak di dunia usaha
24.2.1. Kemajuan usaha industri  tidak dapat mengorbankan lingkungan hidup. “Setiap kegiatan ekonomi yang mendayagunakan sumber-sumber daya alam mesti juga peduli untuk melindungi lingkungan hidup.”[19]  Oleh karena itu, pengembangan dan pembangunan ekonomi hendaknya  diikuti juga dengan upaya-upaya pemulihan lingkungan hidup sehingga tidak membawa dampak negatif terhadap kehidupan.
24.2.2. Sumber daya alam tidak boleh hanya dimanfaatkan untuk mengejar keuntungan ekonomis semata, tetapi harus memberikan manfaat sosial yaitu kesejahteraan bersama (bonum commune). Masyarakat harus  diberi kesempatan untuk ikut menikmati  sumber daya alam di sekitar mereka dan dihindarkan dari  berbagai dampak negatif proses industri.  “Makna-tujuan yang paling inti dari produksi bukanlah semata-mata bertambahnya hasil produksi, bukan pula keuntungan atau kekuasaan, melainkan pelayanan kepada manusia, yakni manusia seutuhnya.”[20] Kelompok masyarakat kecil dan terpinggirkan seperti masyarakat adat, para petani, dan nelayan yang sering kena dampak negatif kerusakan lingkungan dan perubahan iklim hendaknya  juga diperhatikan secara khusus.
24.3. Kepada seluruh umat Kristiani yang terkasih
24.3.1. Krisis ekologis sebagai akibat dari perilaku manusia, harus mendorong kita untuk menata ulang hubungan kita  dengan ciptaan yang lain. Penataan ulang ini  dimaksudkan untuk membangkitkan kesadaran  akan tanggung jawab atas kepentingan bersama semua manusia dan semua ciptaan.[21] Penataan itu dapat dimulai dengan menyadari bahwa lingkungan hidup mempunyai peran yang amat penting bagi semua kehidupan sehingga harus dilindungi dari berbagai pencemaran dan perusakan. Dengan demikian, tindakan pastoral lingkungan hidup tidak hanya menyangkut masalah teknis, tetapi juga menyangkut proses penanaman nilai melalui pendidikan. Pendidikan nilai untuk membangun kesadaran agar manusia menghargai alam harus menjadi prioritas utama dalam usaha mencegah dan memulihkan lingkungan hidup dari kerusakan akibat ulah manusia maupun karena bencana alam.[22]
24.3.2. Umat Kristiani hendaknya  dengan setia menjalankan kegiatan-kegiatan yang mengarah pada pemulihan hak hidup masyarakat dan gerakan cinta lingkungan. Gerakan ini bertujuan untuk membela sesama yang menjadi korban kerusakan lingkungan  dan lingkungan   yang dikorbankan secara semena-mena untuk kepentingan segelintir orang. Kegiatan tersebut misalnya, mendampingi dan membantu masyarakat korban kerusakan lingkungan serta korban pengusahaan hutan, perkebunan,  dan pertambangan,  melakukan pengelolaan sampah yang baik, melakukan penanaman pohon, pengembangan usaha pertanian organik, membersihkan sungai, dan selokan dari tumpukan sampah.
24.3.3. Masalah lingkungan hidup merupakan masalah bersama. Oleh karena itu, umat Kristiani hendaknya membangun kerjasama dengan siapapun yang mempunyai kepedulian terhadap kerusakan lingkungan ini. Kerjasama ini dapat dilakukan dengan berbagai bentuk, misalnya menggelar seminar publik, diskusi, atau gerakan-gerakan nyata lainnya dengan melibatkan saudara-saudari yang beragama dan berkeyakinan lain, lembaga-lembaga pemerintah maupun non pemerintah. Dengan kerjasama ini diharapkan  kekuatan akan semakin besar, jangkauan akan semakin luas, dan semakin banyak orang yang terlibat dan peduli.
24.3.4. Keterlibatan umat Kristiani dalam memulihkan dan melestarikan keutuhan ciptaan bukan semata-mata didorong oleh adanya kerusakan lingkungan hidup, tetapi  merupakan perwujudan iman akan Allah Sang Pencipta dan Pemelihara kehidupan. Iman yang hidup dan penuh kasih menjadi dasar spiritualitas segala upaya untuk mendatangkan keselamatan bagi semua ciptaan. Oleh karena itu, berbagai bentuk kegiatan pastoral lingkungan hidup hendaknya selalu bersumber pada kasih Allah yang mencipta, memelihara  dan menjaga seluruh alam semesta ini.
PENUTUP
25Dalam terang iman akan Yesus Kristus hendaklah kita selalu  menyadari dan merenungkan kesatuan kita dengan seluruh ciptaan yang lain. Kita dipanggil untuk menjadi rekan kerja Allah dalam  karya penyelamatan-Nya di dunia ini. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan usaha-usaha baik yang telah kita mulai untuk menjaga dan melestarikan keutuhan ciptaan Tuhan dari berbagai ancaman kerusakan demi semakin tegaknya Kerajaan Allah.
26. Akhirnya kepada para akademisi, pengamat, praktisi dan aktivis lingkungan hidup, diucapkan banyak terima kasih atas berbagai sumbangan berupa pemikiran, pandangan dan gerakan dalam rangka menyelamatkan bumi dan segala isinya dari jurang kehancuran yang lebih dalam. Semoga segala usaha baik yang telah dimulai ini dari waktu ke waktu kian berkembang dan senantiasa dalam lindungan Tuhan.


[1] Bdk. UU No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
[2] JATAM, Catatan Akhir Tahun 2012, Sektor Pertambangan Indonesia Kejahatan terhadap Keselamatan Rakyat, 28 Desember 2012.
[3] Statistik Perkebunan, Ditjen Perkebunan, 2012.
[4] Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran-Perantau KWI, Animasi keadilan dan Perdamaian, Jakarta 2008, hlm.35.
[5] Lampiran Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. P. 114/Menhut II/2012tentang Pedoman Penyelenggaraan Rehabilitasi Hutan dan Lahan Tahun 2012.
[6] Bdk. J.Milburn Thompson, Keadilan dan perdamaian, Jakarta,  PT BPK Gunung Mulia, 2009hlm.89
[7] Status Lingkungan Hidup Indonesia 2010, KLH, hal. 48
[8] Budi P.Resosudarmo, Indonesia’s Clean Air Program, Economics and Environment Network Working Paper EEN0209, AustralianNationalUniversity.
[9] Parameter Pencemar Udara dan Dampaknya Terhadap Kesehatanhttp://www.depkes.go.id
[10] Sustaining Partnership, Media Informasi Kerjasama Pemerintahan Swasta, Edisi Desember 2011, Ironi Air di Indonesia, Menyikapi Potensi Perang Air, Belajar tentang Air dari Swedia.
[11] WALHI, Lebih Dari Separuh Sungai di Indonesia Tercemar Berat, 29 Maret 2012.
[12] Suara Pembaruan, Setahun Volume Sampah Indonesia Setara dengan 122 Gelora Bung Karno, 26 Juni 2012.
[13] Boer, R., A. Buono, A. Rakhman.2008. Analysis of Historical Change of Indonesian Climate Change, Technical reports for the 2nd National Communication Ministry of Environment, Republic of Indonesia, Jakarta.
[14] WHO, 2007, Emergency and Humanitarian Action News Update, February and March, WHO Office for South-East Asia.
[15] Cruz, R.V,et.al., 2007: Asia Climate Change 2007: Impacts, Adaptation and Vulnerability. Contribution of Working Group II to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change, M.L. Parry, O.F. Canziani, J.P. Palutiko f, P.J. van der Linden and C.E. Hanson, Eds., Cambridge University Press, Cambridge, UK, 469-506.
[16] Michael Case, et.al., WWF Report on Climate Change in Indonesia Implications for Humans and Natureassets.wwf.org.uk
[17] IFPRI, Discussion Paper 01148, December 2011, The Impact of Global Climate Change on the Indonesian Economy
[18] Berthold.A. Pareira, O.Carm, Guido Tisera, SVD, Martin Harun, OFM, Keadilan, Perdamaian &Keutuhan Ciptaan, Jakarta, Lembaga BIblika Indonesia 2007, hlm.136.
[19] Komisi Kepausan Untuk Keadilan dan Perdamaian, Kompendium Ajaran Sosial Gereja, Maumere, Penerbit Ledalero, 2009, hlm. 322.
[20] Konsili Vatikan II, Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes, art. 64, hlm. 595.
[21] Dr. Robert P.Borrong, Etika Bumi Baru, Jakarta, PT BPK Gunung Mulia 2009, hlm.285.
[22] Bdk. Ibid

Rabu, 01 Mei 2013

Surat Bersama PGI dan KWI kepada Presiden tentang Kurikulum 2013

SURAT BERSAMA
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI)
& Konferensi Waligereja Indonesia (KWI)
Hal: Kurikulum 2013 Jakarta, 05 April 2013
Yang Terhormat
Presiden Republik Indonesia
Bapak DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Di
Jakarta
Dengan Hormat,
Berdasarkan pengamatan kami tentang rencana implementasi Kurikulum 2013
oleh pemerintah, kami sangat menghargai usaha pemerintah untuk memajukan
pendidikan dengan berbagai cara. Namun demikian, kami melihat ada beberapa
persoalan yang seharusnya oleh pemerintah disikapi dengan bijaksana, dimana
sebagai warga negara kami merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk
menyampaikan catatan mengenai hal-hal tersebut, yaitu:
1. Proses pembuatan kurikulum adalah tanpa perencanaan yang matang dan
studievaluasi terhadap efektifitas atau kegagalan KTSP. Sebenarnya untuk
merubah sebuah kurikulum perlu didahului dengan penelitian dan studi yang
komprehensif, bukan asumsi dan opini dari segelintir orang yang berkuasa.
Cara berpikir ini membuat pendidikan kita tidak maju, karena selalu
dipasung oleh kekuasaan. Kami minta pengambil kebijakan secara bijaksana
merenungkan kembali hakikat perubahan Kurikulum 2013, apakah didasari oleh
motif kekuasaan atau proses pencerdasan bangsa.
2. Dampak Kurikulum 2013 bagi Guru dan rendahnya mutu guru di Indonesia
yang tidak siap mengimplementasikan Kurikulum 2013, karena di lapangan kami
mendapatkan fakta bahwa guru belum mengerti dan memahami kurikulum 2013,
sedangkan waktu untuk rencana implementasi sangat pendek. Kami memandang
waktu dua bulan tidak realistis untuk melaksanakan Kurikulum baru yang
isinya berubah total dari kurikulum KTSP.
3. Dampak pelaksanaan kKurikulum 2013 yang tergesa-gesa tanpa dipersiapkan
dengan matang dan disosialisaiskan secara massal, akan mengakibatkan
peserta didik menjadi korban dari kebijakan pemerintah yang tidak memahami
esensi bahwa pendidikan itu adalah proses menjadi manusia yang cerdas,
rasional dan dewasa. Kami melihat materi-materi dalam kurikulum 2013
mereduksi akal sehat ke dalam ketaatan yang buta. Oleh karena itu kami
memandang perlunya direvisi ulang materi-materi dalam kurikulum 2013 yang
bertolak belakang satu sama lain dengan logika akal sehat.
4. Dampak implementasi Kurikulum 2013 adalah adanya kebijakan menghapus
beberapa mata pelajaran di jenjang SD, SMP, dan SMA/SMKK yang dapat
mengakibatkan para guru kehilangan pekerjaan, kesempatan berkarier,
kesempatan mengembangkan pengetahuan dan kehilangan tunjangan profesi
pendidikan. Adalah tidak masuk akal kalau mereka diharuskan mengajar mata
pelajaran yang bukan bidang keahliannya. Hal ini akan menyembabkan peserta
didik menjadi korban. Pertimbangan pemerintah yang memberi jaminan para
guru tidak kehilangan pekerjaan, menurut hemat kami adalah cara berpikir
yang menyederhanakan persoalan, karena mengabaikan fakta adanya
spesialisasi dari guru untuk mengampu mata-mata pelajaran tertentu.
5. Konsep pendidikan yang integratif didasari oleh filosofi pendidikan
yang memerdekakan peserta didik untuk mampu mengksplorasi, kreatif dan
menjadi dirinya sendiri, membutuhkan sebuah proses menjadi manusia yang
merdeka itu. Dalam kaitannya dengan itu, dibutuhkan perubahan paradigma
guru sebagai teman, rekan, partner dalam belajar, bukan sebagai pawang
atau mentor. Kami memandang bahwa saat ini perubahan paradigma guru lebih
prioritas dibandingkan perubahan kurikulum. Kami berharap daripada
diperuntukkan bagi perubahan Kurikulum yang dibuat tergesa-gesa, anggaran
dapat dialokasikan untuk pusat-pusat training para guru agar guru memiliki
perubahan paradigma yang signifikan dalam mengajar. Tanpa perubahan
paradigma, perubahan kurikulum tidak ada artinya, dan hanya sekadar
menghabiskan anggaran negara.
Berdasarkan realitas yang kami kemukakan di atas, kami meminta pemerintah
dan DPR untuk menunda pelaksanaan Kurikulum 2013 demi kebaikan bersama.
Menurut hemat kami lebih baik waktu yang ada dipakai untuk menyempurnakan
Kurikulum 2013 dengan pematangan infrastruktur yang dibutuhkan, agar
perubahan Kurikulum dapat menyumbang secara optimal bagi proses pendidikan
bangsa.
Hormat Kami,
a.n. Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia &
Konferensi Waligereja Indonesia
Pdt. Gomar Gultom Rm. Eddy Purwanto
Sekretaris Umum PGI
Sekretaris Eksekutif KWI
Tembusan:
1. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI
2. Komisi X – DPR RI

Powered by Telkomsel BlackBerry®










Minggu, 21 April 2013

Pesan  Bapa Suci untuk Hari Komsos Sedunia ke-47 12 Mei 2013: Jejaring Sosial: Pintu  kepada Kebenaran dan Iman, Ruang Baru untuk Evangelisasi

Pesan  Bapa Suci untuk Hari Komsos Sedunia ke-47 - 12 Mei 2013

Jejaring Sosial: Pintu  kepada Kebenaran dan Iman, Ruang Baru untuk Evangelisasi


Menjelang Hari Komunikasi Sosial Sedunia tahun 2013 ,saya ingin menyampaikan beberapa permenungan mengenai suatu kenyataan  yang  semakin penting tentang cara  manusia sezaman berkomunikasi di antara mereka. Saya ingin mencermati perkembangan jejaring sosial digital yang membantu menciptakan "agora" baru, suatu alun-alun publik tempat manusia berbagi gagasan, informasi dan pendapat, dan yang dalamnya  relasi-relasi dan bentuk-bentuk komunitas baru dapat terwujud.

Ruang-ruang tersebut - bila dimanfaatkan secara  bijak dan berimbang- membantu memajukan berbagai bentuk dialog dan debat yang, bila dilakukan dengan penuh hormat dan memerhatikan privasi, bertanggungjawab dan jujur, dapat memperkuat ikatan kesatuan di antara individu-individu dan memajukan kerukunan keluarga manusiawi secara berdaya-guna. Pertukaran informasi dapat menjadi komunikasi yang benar, relasi-relasi dapat mematangkan pertemanan, koneksi-koneksi dapat mempermudah  persekutuan.  Bila jejaring sosia terpanggil untuk mewujudkan potensi besar ini, orang-orang yang  terlibat di dalamnya harus berupaya menjadi otentik , karena di dalam ruang itu,  orang tidak hanya berbagi gagasan dan informasi, tetapi pada akhirnya orang mengkomunikasikan dirinya sendiri.
Perkembangan jejaring sosial menuntut komitmen:  orang melibatkan diri di dalamnya untuk membangun relasi dan menjalin persahabatan, mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan  mencari hiburan, tetapi juga dalam menemukan dorongan intelektual serta berbagi pengetahuan dan keterampilan. Jejaring sosial semakin menjadi bagian dari tatanan masyarakat sejauh menyatukan orang dengan berpijak pada kebutuhan dasar. Jejaring sosial dengan demikian terpelihara oleh aspirasi yang  tertanam dalam hati manusia.
Budaya jejaring sosial dan perubahan dalam sarana  dan gaya berkomunikasi membawa tantangan bagi mereka yang ingin berbicara tentang kebenaran dan nilai. Seringkali, sama halnya dengan sarana-sarana komunikasi sosial yang lain, makna dan efektifitas berbagai bentuk ekspresi nampaknya lebih ditentukan oleh popularitasnya ketimbang kepentingan hakiki dan nilainya. Pada gilirannya, popularitas seringkali lebih melekat pada ketenaran ataupun strategi persuasi  daripada  logika argumentasi. Kadangkala suara lembut dari pikiran dikalahkan oleh membludaknya informasi yang berlebihan dan gagal menarik perhatian pada apa yang disampaikan kepada orang yang mengungkapkan diri secara lebih persuasif. Dengan demikian, media sosial membutuhkan  komitmen dari semua orang yang menyadari nilai dialog, debat rasional dan argumentasi logis dari orang-orang yang berusaha keras membudidayakan bentuk-bentuk wacana dan pengungkapan  yang menggerakkan aspirasi luhur dari orang-orang yang terlibat dalam proses komunikasi. Dialog dan debat dapat juga berkembang dan bertumbuh ketika kita berbicara  dengan dan sungguh-sungguh  menghargai orang-orang yang gagasan-gagasannya berbeda dengan  kita. "Mengingat kenyataan keragaman budaya, perlulah memastikan bahwa  manusia  bukan saja mengakui keberadaan budaya orang lain tetapi juga bercita-cita diperkaya olehnya dan menghargai segala yang baik, benar dan indah"( Pidato pada Pertemuan dengan Dunia Budaya, Belem, Lisabon, 12 Mei 2010).

Tantangan yang dihadapi oleh jejaring sosial adalah bagaimana benar-benar menjadi inklusif: dengan demikian mereka memperoleh manfaat dari peran serta  penuh dari orang-orang beriman yang ingin berbagi amanat Yesus dan nilai martabat manusia yang dikemukakan melalui pengajaran-Nya. Kaum beriman semakin menyadari bahwa  kalau Kabar Baik tidak diperkenalkan juga di dalam dunia digital, ia akan hilang dalam pengalaman banyak orang yang menganggap ruang eksistensial ini penting. Lingkungan digital bukanlah sebuah dunia paralel  atau murni virtual, tetapi merupakan bagian dari pengalaman keseharian banyak orang teristimewa kaum muda. Jejaring sosial adalah hasil  interaksi manusia akan tetapi pada gilirannya, ia memberikan bentuk baru terhadap dinamika komunikasi yang membangun relasi: oleh karena itu pemahaman yang mendalam tentang lingkungan ini merupakan prasyarat untuk suatu kehadiran yang bermakna.
Kemampuan untuk menggunakan bahasa baru dituntut,  bukan terutama untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup sezaman, tetapi justru untuk memampukan kekayaan tak terbatas dari Injil menemukan bentuk-bentuk pengungkapan yang mampu menjangkau pikiran dan hati semua orang.  Di dalam lingkungan digital, perkataan tertulis sering disertai dengan gambar dan suara. Komunikasi yang efektif seperti yang terungkap dalam perumpamaan Yesus memerlukan pelibatan imaginasi dan kepekaan emosional  mereka yang ingin kita ajak untuk berjumpa dengan misteri kasih Allah.  Disamping itu kita mengetahui bahwa tradisi Kristiani selalu kaya akan tanda dan simbol: Saya berpikir, misalnya, salib, ikon, Patung Perawan Maria, kandang natal, jendela kaca berwarna-warni dan lukisan-lukisan di dalam gereja kita. Suatu bagian bernilai dari khazanah artistik umat manusia telah diciptakan oleh para seniman  dan musisi yang berupaya untuk mengungkapkan kebenaran iman.
Dalam jejaring sosial,  orang beriman menunjukkan kesejatiannya dengan berbagi sumber terdalam dari harapan dan kegembiraan mereka: iman kepada Allah pengasih dan penyayang yang terungkap dalam Kristus Yesus.  Wujud berbagi ini tidak hanya terdiri dari ungkapan iman yang eksplisit, tetapi juga dalam kesaksian mereka, dalam cara  mereka mengkomnikasikan "pilihan, preferensi, penilaian yang sungguh sesuai dengan Injil, bahkan bila tidak disampaikan secara ekspisit" (Pesan untuk Hari Komunikasi Sedunia 2011).

Suatu cara yang secara khusus bermakna dengan memberikan kesaksian  serupa terjadi melalui kerelaan untuk mengorbankan diri kepada orang lain seraya menanggapi pertanyaan dan keraguan  mereka dengan sabar dan penuh hormat tatkala mereka mencari  kebenaran dan makna eksistensi manusia. Dialog yang berkembang dalam jejaring sosial tentang iman dan kepercayaan menegaskan penting dan relevannya agama di dalam debat publik dan dalam kehidupan masyarakat. Bagi mereka yang telah menerima  karunia iman dengan hati yang terbuka, jawaban yang paling radikal akan pertanyaan manusia tentang kasih, kebenaran dan makna hidup- pertanyaan - pertanyan serupa yang tentu tidak absen dari jejaring sosial - ditemukan dalam pribadi Yesus Kristus. Wajar  bahwa mereka yang memiliki iman  ingin berbagi dengan orang yang mereka jumpai dalam forum digital dengan rasa hormat dan bijaksana. Namun pada akhirnya, jika upaya kita untuk berbagi Injil menghasilkan buah yang baik,  hal itu selalu dikarenakan oleh kekuatan sabda Allah itu sendiri yang menyentuh hati banyak orang mendahului segala usaha dari pihak kita. Percaya pada kekuatan karya Allah harus selalu lebih besar daripada kerpecayaan apa saja yang kita letakan pada  sarana-sarana manusia.  Dalam ruang lingkup digital, juga, dimana suara yang tajam dan memecahbelah dibesar-besarkan  dan  dimana sensasionalisme menang,  kita diundang untuk berlaku arif, penuh kehati-hatian. Dalam hal ini hendaklah kita ingat bahwa Eliyah mengenal suara Allah tidak dalam angin yang besar dan kuat, tidak melalui gempa bumi dan api tetapi dalam hembusan angin  sepoi-sepoi" (1 Raj 19:11-12).

Kita perlu percaya bahwa  kerinduan mendasar manusia untuk mengasihi dan dikasihi  dan untuk menemukan makna dan kebenaran -sebuah kerinduan yang Allah sendiri tanamkan dalam hati setiap laki-laki dan perempuan-  menetap di zaman kita ini,   selalu dan setidak-tidaknya terbuka kepada apa yang Beato Kardinal Newmann sebut ' cahaya ramah' dari iman.
Jejaring sosial, dengan menjadi sarana  Evangelisasi dapat juga menjadi faktor dalam pembangunan manusia. Sebagai contoh, dalam konteks geografis dan budaya dimana orang Kristiani merasa terisolasi,  jejaring sosial dapat memperkuat  rasa kesatuan nyata dengan komunitas kaum beriman di seluruh dunia. Jejaring sosial mempermudah orang berbagi sumber-sumber rohani dan liturgi, menolong orang untuk berdoa dengan perasaan kedekatan  bersama mereka yang mengaku iman yang sama. Suatu keterlibatan yang sejati dan interaktif dengan pertanyaan dan keraguan dari mereka yang berada  jauh dari iman seharusnya membuat kita merasa perlu untuk memelihara iman kita  melalui doa dan permenungan, iman akan Allah serta amal kasih kita: " Walaupun saya berbicara dengan bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi apabila aku tidak mempunyai kasih, aku adalah gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing". (1 Kor 13:1)

Di dalam dunia digital terdapat jejaring-jejaring sosial yang memberikan peluang-peluang sezaman untuk berdoa, meditasi, dan berbagi firman Allah. Akan tetapi jejaring sosial itu dapat juga membuka pintu terhadap dimensi lain dari iman. Banyak orang benar-benar menemukan, tepatnya berkat kontak awalnya di internet, pentingnya pertemuan langsung, pengalaman komunitas-komunitas dan  bahkan peziarahan, unsur-unsur yang  senantiasa penting dalam perjalanan iman. Dalam upaya untuk membuat Injil hadir dalam dunia digital, kita dapat mengundang orang untuk datang bersama-sama untuk berdoa dan perayaan liturgi di tempat-tempat tertentu seperti gereja dan kapel. Seharusnya tidak  kekurang kobersamaan atau kesatuan dalam pengungkapan iman kita dan dalam memberikan kesaksian tentang Injil di dalam realitas apa saja dimana kita hidup entah itu fisik atau digital. Kita  kita berada bersama orang lain, selalu dan dengan cara apapun, kita dipanggil untuk memperkenalkan kasih Allah hingga ujung  bumi.
Saya berdoa agar Roh Allah mendampingi dan senantiasa menerangi kamu, dan dengan seggenap hati saya memberkati kamu sekalian, agar kamu benar-benar mampu menjadi bentara-bentara  dan saksi-saksi Injil." Pergilah ke seluruh dunia, beritakan Injil kepada segala mahkluk" (Mrk 16:15)

Vatikan, 24 Januari 2013
Pesta Santo Frasiskus de Sales
BENEDICTUS XVI

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 18 April 2013

Katekese Paus Fransiskus tentang Kenaikan Yesus dalam Audiensi 17 April

Melanjutkan Katekese tentang Credo/Aku Percaya di dalam Tahun Iman yang dicanangkan oleh Benediktus XVI, Paus Fransiskus pada Audiensi Umum tanggal 17 April telah mengomentari pengukuhan bahwa Yesus "naik ke Surga dan duduk di sebelah Kanan
Allah Bapa", mengikuti Injil dari Santo Lukas dan berulang kali ia menyatakan
sebuah tema yang amat disukai oleh Benediktus XVI – bahwa peristiwa Yesus naik ke Surga bukan hanya suatu simbol belaka, tetapi sebuah FAKTA yang sungguh-sungguh terjadi di dalam sejarah dan yang mana para Rasul merupakan saksi-saksi langsung dari peristiwa itu.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM - 17 April 2013
 
Saudara dan saudari terkasih,

Dalam Syahadat, kita menemukan penegasan bahwa Yesus "naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Bapa". Kehidupan duniawi Yesus memuncak dalam peristiwa Kenaikan, yaitu ketika Ia berlalu dari dunia ini kepada Bapa, dan diangkat ke sisi kanan-Nya.

Apa pentingnya peristiwa ini? Apa konsekuensinya bagi hidup kita? Apa artinya merenungkan Yesus duduk di sebelah kanan Bapa? Marilah kita dipandu oleh Penginjil Lukas.
 
 
Kita mulai dari saat Yesus memutuskan
untuk memulai peziarahan-Nya yang terakhir ke Yerusalem. Santo Lukas mencatat: "Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem" (Luk 9:51).

Sementara ia "naik" ke Kota Suci, di mana "keluaran"-Nya dari kehidupan ini akan tercapai, Yesus sudah melihat tujuan, Surga, tapi Ia tahu bahwa jalan yang membawa-Nya kembali kepada kemuliaan Allah melalui Salib, melalui ketaatan terhadap rencana kasih ilahi
bagi umat manusia. Katekismus Gereja Katolik menyatakan bahwa "peninggian Yesus pada kayu salib menandakan dan memaklumkan peninggian-Nya oleh kenaikan-Nya
ke surga, dan itulah permulaannya" (no. 662).

Kita juga harus jelas dalam kehidupan Kristiani kita, karena untuk masuk ke dalam kemuliaan Allah membutuhkan
kesetiaan setiap hari terhadap kehendak-Nya, bahkan ketika kesetiaan itu membutuhkan pengorbanan, ketika pada saat-saat tertentu kesetiaan itu mengharuskan kita untuk mengubah rencana kita. Kenaikan Yesus benar-benar terjadi di Bukit Zaitun, dekat tempat di mana Ia telah mengundurkan diri dalam doa sebelum sengsara-Nya untuk berada
dalam persatuan yang mendalam dengan Allah Bapa; sekali lagi kita melihat bahwa doa memberi kita kasih karunia untuk hidup dengan setia terhadap rancangan Allah.

Pada akhir Injilnya, Santo Lukas menceritakan Kenaikan dalam cara yang sangat dibuat-buat. Yesus membawa murid-murid "[ke luar kota] sampai dekat Betania. Di situ Ia
mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke surga. Mereka sujud menyembah
kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah"(24:50-53).

Saya ingin mencatat dua unsur dari perikop tersebut. Pertama, selama Kenaikan tersebut Yesus menggenapi gerakan berkat imamat dan tentu saja para murid mengungkapkan iman mereka dengan sujud, mereka berlutut dan menundukkan kepala mereka. Ini adalah pokok penting yang pertama: Yesus adalah Imam tunggal dan abadi, yang dengan melewati kematian dan kubur-Nya serta bangkit kembali dan
naik ke surga; Ia bersama Allah Bapa, di mana Ia selalu menjadi pengantara dalam kepentingan kita (bdk. Ibr 9:24). Seperti dituliskan oleh Santo Yohanes dalam suratnya yang pertama, Dia adalah pembela kita, Pembela kita bersama Bapa (bdk. 2:1-2).
 
Sangat menyenangkan mendengar hal ini. Hal pertama yang kita
lakukan ketika kita dipanggil oleh hakim atau dipanggil ke pengadilan, hal pertama yang kita lakukan adalah mencari pengacara untuk membela kita. Kitamemiliki Dia selalu membela kita. Dia membela kita dari akal busuk Iblis, Ia membela kita dari diri kita sendiri, dari dosa-dosa kita. Tetapi, saudara dan saudari terkasih, kita memiliki pembela tersebut. Kita tidak harus takut untuk berbalik kepada-Nya, untuk berbalik kepada-Nya dengan ketakutan kita, untuk
meminta berkat dan kerahiman-Nya. Ia selalu mengampuni kita, Iia adalah pembela kita, Ia selalu membela kita. Kita tidak boleh melupakan hal ini.

Kenaikan Tuhan Yesus ke surga kemudian mengungkapkan kepada kita kenyataan yang begitu menghibur bagi perjalanan kita: dalam Kristus, Allah sejati dan manusia sejati,
kemanusiaan kita dibawa kepada Allah; Ia telah membuka lintasan itu untuk kita, Ia seperti seorang pemimpin di hulu tali ketika Anda mendaki gunung, yang telah mencapai puncak dan menarik kita kepada-Nya menuntun kita kepada Allah. Jika kita mempercayakan hidup kita kepada-Nya, jika kita membiarkan diri dibimbing oleh-Nya kita yakin berada dalam tangan yang aman. Di tangan Penyelamat kita, pembela kita.
 
Unsur kedua: Santo Lukas menyebutkan bahwa para rasul, setelah melihat Yesus naik ke surga, kembali ke Yerusalem "dengan
sukacita". Hal ini tampaknya sedikit aneh. Biasanya ketika kita terpisah
dari keluarga kita, teman-teman kita, dalam sebuah keterpisahan terakhir, terutama sekali karena kematian, kita secara alami sedih, karena kita tidak lagi akan melihat wajah mereka, atau mendengar suara mereka, kita tidak akan lagi bisa menikmati kasih sayang mereka, kehadiran mereka.

Sebaliknya, Penginjil menekankan sukacita mendalam dari para Rasul. Bagaimana bisa? Karena, dengan mata iman, mereka memahami bahwa
meskipun diambil dari mata mereka, Yesus tetap bersama mereka selamanya, Ia tidak meninggalkan mereka, dan dalam kemuliaan Bapa, mendukung mereka, membimbing mereka dan menjadi perantara bagi mereka.

Santo Lukas menceritakan fakta Kenaikan pada awal Kisah Para Rasul, untuk menekankan bahwa peristiwa ini adalah seperti cincin yang melibatkan dan menghubungkan kehidupan Yesus dengan kehidupan Gereja.

Di sini Santo Lukas juga menyebutkan awan yang membawa Yesus keluar dari
pandangan para murid, yang tetap menatap Kristus naik kepada Allah (bdk. Kis 1:9-10).

Kemudian dua orang berjubah putih datang di tengah-tengah, mendesak mereka untuk jangan tetap melihat ke langit, tetapi untuk memelihara hidup mereka dan kesaksian mereka dari kepastian bahwa Yesus akan datang kembali dengan cara yang sama seperti mereka melihat Dia naik ke surga (Kis 1:10-11).

Ini merupakan sebuah undangan untuk mengawali dari permenungan ke-Tuhan-an Yesus, untuk menerima dari-Nya kekuatan untuk membawa dan menjadi saksi Injil dalam kehidupan sehari-hari: permenungan dan tindakan, ora et labora yang diajarkan Santo Benediktus, keduanya diperlukan dalam hidup kita sebagai orang Kristiani.
 
Saudaradan saudari terkasih, Kenaikan tidak menunjukkan ketiadaanYesus, tetapi mengatakan kepada kita bahwa Ia hidup di antara kita dengan cara baru; Ia tidak lagi berada di tempat tertentu di dunia sepertiIa berada sebelum Kenaikan;Ia sekarang berada dalam keilahianAllah, hadir dalam semua ruang dan waktu, di samping kita masing-masing. Kita tidak pernah sendirian dalam hidup kita: Kita memiliki pembela yang menunggu kita tersebut, kita tidak pernah sendirian, Tuhan yang disalibkan dan bangkit menuntun kita, dan bersama kita ada banyak saudara dan saudari yang
dalam keheningan dan ketidakterkenalan, dalam hidup dan karya keluarga mereka, dalam
masalah dan kesulitan mereka, sukacita dan harapan mereka, menghayati iman mereka setiap hari dan, bersama-sama dengan kita, membawa ke dunia ke kasih ilahi Allah.
 
Saya memberikan sambutan ramah bagi para anggota Konferensi Waligereja Inggris dan Wales, dan saya meyakinkan mereka akan doa-doa saya bagi pelayanan episkopal mereka. Saya juga menyambut para imam dari Institut Pendidikan Teologi Lanjut pada Pontifical North American College. Kepada semua pengunjung berbahasa Inggris yang hadir pada Audiensi
hari ini, termasuk mereka yang berasal dari Inggris, Denmark, Swedia, Australia, India, Singapura, Sri Lanka, Filipina, Kanada dan Amerika Serikat, saya memohonkan sukacita dan damai dari Tuhan yang Bangkit.
 
(Sumber: http://katekesekatolik.blogspot.it)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 07 April 2013

Paus Fransiskus: Iman tidak bisa dinegosiasikan; Gereja Kita adalah Gereja Martir

Oleh:
Shirley Hadisandjaja

6 April 2013.

Memberikan kesaksian keterpaduan iman dengan berani: adalah sebuah ajakan dari Paus Fransiskus selama Misa yang dipimpinnya di Kapel Casa Santa Marta.

Dalam homilinya yang singkat, Paus mengomentari bacaan-bacaan Alkitab pada hari Sabtu masa Oktaf Paskah: yang pertama merujuk kepada Petrus dan Yohanes yang memberikan kesaksian iman dengan berani di hadapan para imam kepala Yahudi
meskipun menghadapi ancaman-ancaman, kemudian dalam bacaan Injil, Yesus yang Bangkit menegur para rasul yang tidak mempercayai banyak orang yang telah meyakini melihatNya hidup.  

Sri Paus bertanya: "Bagaimana dengan iman kita sendiri? Kuatkah? Atau kerap kali seperti air mawar yang keruh?". Ketika kesulitan-kesulitan hidup datang "apakah kita berani seperti Petrus atau merasa segan?". Paus mengamati bahwa Petrus tidak kehilangan iman, ia tidak jatuh kepada kompromi-kompromi, karena "iman
tidak bisa dinegosiasikan". Paus juga meyakini bahwa "dalam sejarah umat Allah, telah ada pencobaan ini: menyurutkan iman sebagian, pencobaan menjadi sedikit 'seperti
yang dilakukan semua orang', yaitu 'tidak menjadi sangat, sangat tegar".

Tetapi saat kita mulai menyurutkan iman, mulai mengkompromi iman, sedikit menjualnya kepada penawar tertinggi – kata Paus menggarisbawahi – maka kita memulai jalan apostasi, yaitu jalan ketidaksetiaan kepada Tuhan".

 "Contoh iman dari Petrus dan Yohanes membantu kita, memberikan kita kekuatan, tetapi, dalam sejarah Gereja ada banyak martir sampai sekarang, karena untuk menemukan martir-martir tidak perlu mengunjungi kuburan atau ke Koloseum: martir-martir hidup saat ini, di banyak Negara. Umat Kristen– kata Paus – mengalami penganiayaan atas iman mereka. Di beberapa Negara banyak dari mereka tidak boleh membawa salib: mereka dihukum apabila melakukannya. Saat ini, pada abad XXI, Gereja kita merupakan Gereja para martir,  yaitu orang-orang yang berbicara seperti Petrus dan Yohanes: "Kami tidak dapat berdiam terhadap apa yang telah kami saksikan dan dengarkan". Paus melanjutkan, "Dan hal ini memberikan kekuatan kepada kita, yang kerap kali memiliki iman yang agak lemah.  Memberikan kita kekuatan untuk bersaksi dengan
hidup, iman yang telah kita terima, yang merupakan rahmat dari Tuhan kepada semua bangsa".

Sri Paus kemudian menutup homilinya: "Tetapi, kita tidak dapat melakukannya sendiri: itu adalah sebuah rahmat. Yaitu rahmat iman, yang harus kita mohon setiap hari:  'Tuhan …
peliharalah imanku, tambahlah imanku, agar selalu kuat, pemberani, dan bantulah aku di dalam saat-saat di mana – seperti Petrus dan Yohanes – aku harus memberikan kesaksian iman di hadapan banyak orang. Berikanlah aku keberanian'. Ini akan menjadi sebuah doa yang indah pada hari ini: semoga Tuhan membantu kita untuk memelihara iman, membawanya maju, dan untuk menjadi, kita, wanita dan pria yang beriman. Amin".

(Sumber: Radio Vatikan)
Powered by Telkomsel BlackBerry®