Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Sabtu, 24 Agustus 2013

Ketika Katolik Menjadi Ateis Praktis (Paus Emeritus Benedictus XVI)

By Paus Emeritus Benedictus XVI on May 11, 2013 |

ATEIS Praktis haruslah dibedakan dari Ateis Aktual atau Ateis Teoritis.

Ateis Praktis adalah orang-orang beragama yang mengakui bahwa mereka beragama tetapi mereka hidup seolah-olah Tuhan itu tidak ada. Sedangkan Ateis Teoritis adalah Ateis yang secara terang-terangan menolak eksistensi Tuhan dan mereka berusaha membuat argumen-argumen untuk menyangkal keberadaan Tuhan. Setiap orang Katolik yang mengakui bahwa ia percaya kepada Allah dapat saja menjadi seorang Ateis Praktis dan dengan demikian menjadi ancaman yang lebih besar daripada Ateis Teoritis.

Dalam Audiensi-nya tanggal 14 November 2012, Paus Benediktus XVI berkata bahwa "pada waktu kita sekarang terdapat fenomena yang berbahaya bagi iman; ada fakta sebuah bentuk ateisme yang kita definisikan sebagai "praktis" yang tidak menolak kebenaran-kebenaran iman atau ibadah-ibadah religius tetapi dengan mudah menganggap itu semua tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari, terlepas dari hidup, tidak berguna. Seringkali, kemudian, orang-orang percaya kepada Allah dengan cara yang mudah, tetapi hidup "seolah-olah Allah tidak ada" (etsi Deus non daretur). Pada akhirnya, cara hidup seperti ini lebih menghancurkan karena membawa kepada sikap acuh tak acuh terhadap iman dan pertanyaan mengenai Allah."

Paus juga menambahkan "Dengan mengaburkan acuan kepada Allah, cakrawala etika juga dikaburkan [dan] memberikan ruang bagi relativisme dan konsep kebebasan yang ambigu yang bukannya malah membebaskan tetapi justru mengikat manusia kepada berhala."

Contoh sederhana dari Ateisme Praktis adalah ketika mengakui bahwa Tuhan itu ada dan melihat segala yang kita lakukan tetapi kita malah berbohong untuk kepentingan kita dan kemudian mengabaikan kebenaran bahwa Allah itu ada dan melihat kebohongan kita itu. Pada saat kita secara sukarela dan sadar melakukan dosa bohong itu, kita telah mengabaikan Allah yang jelas menolak dosa bohong itu.

Contoh lain yang lebih kompleks adalah mengenai ajaran-ajaran moral Gereja yang berasal dari wahyu Ilahi. Tidak sedikit kita lihat bahwa ada banyak wanita melakukan aborsi demi kebebasan entah itu kebebasan dari malu (misalnya bila anak yang ia kandung adalah akibat dari hubungan di luar nikah) maupun kebebasan dari beban mengurusi anak. Dalam hal alat kontrasepsi buatan, banyak orang Katolik, meskipun tahu bahwa penggunaan alat kontrasepsi buatan adalah dosa, tetap menggunakan alat tersebut demi menghindari "kesusahan" dari mengurus anak yang lebih banyak.

Kita bisa melihat lebih jelas bahwa demi keuntungan pribadi, banyak dari kita menyangkal keberadaan Allah dan ajaran-Nya secara praktis dalam perbuatan-perbuatan kita. Malah tidak jarang lagi, banyak dari kita sudah kehilangan "perasaan berdosa" dan dengan enteng kemudian melakukan dosa yang sama berkali-kali. Ketika seorang teman menegur kita karena dosa kita itu, kita kemudian malah balik berkata dan menyerang, "Kamu itu jangan menghakimi saya. Suka-suka saya dong untuk melakukan ini." Ya, ketika kita juga mulai membela diri kita sekalipun kita berdosa dengan kata-kata seperti "Suka-suka saya", "Terserah saya dong", "Masa bodoh dengan itu" dan sebagainya, kita semakin menarik diri kita menjauh dari Allah dan semakin jelas kita akan menjadi Ateis Praktis.

Kita mengakui dan mengimani Tuhan di mulut dan pikiran kita, tetapi di saat yang bersamaan kita juga terikat kuat kepada dosa dan berhala. Perlu diulang kembali pernyataan Paus Pius XII yang masih relevan sampai sekarang: "The greatest sin of our modern generation is that it has lost all sense of sin." – "Dosa terbesar generasi modern kita adalah generasi modern kita telah kehilangan semua rasa berdosa."

Lalu apa efek dari "Seorang Katolik Menjadi Ateis Praktis" ini? Yang pasti adalah kebenaran Allah dan Gereja menjadi tersamarkan dan terkaburkan. Orang Katolik yang harusnya menjadi injil yang hidup dan menghidupi injil, justru menjadi batu sandungan bagi mereka yang berada di luar Kristus dan Gereja. Kita tidak bisa mengatur cara berpikir dan menilai orang lain. Banyak dari mereka yang berada di luar Kristus dan Gereja menilai apa yang tampak dari mata mereka. Tidak jarang nama Kristus dan Gereja akhirnya yang harus menanggung penghinaan atau pandangan negatif karena kita yang menjadi Ateis Praktis ini.

Apa yang kita lakukan untuk berbalik dari Ateis Praktis ini?

Paduan pesan St. Yohanes Krisostomos dan St. Yosef  Leonessa ini bisa menjadi pesan yang bagus buat kita.

"Tetapi dapatkah tulisan yang satu ditulis di atas tulisan yang lain? Jika tulisan yang duluan tidak dihapus, maka tulisan yang baru tidak dapat ditulis di atasnya. Di dalam hatimu ada tertulis kelobaan, kesombongan, pemborosan dan cacat-cacat lainnya. Bagaimana kita dapat menulis kerendahan hati, kesusilaan dan keutamaan-keutamaan lainnya, jika cacat-cacat yang terdahulu tidak dihapus?"– St. Yosef  Leonessa.

"Oleh karena itu, saudara-saudara, hendaklah kita pun mengambil obat yang mengerjakan keselamatan kita, yakni melakukan pertobatan, yang melenyapkan dosa-dosa kita. Akan tetapi pertobatan itu bukan yang dinyatakan dengan melenyapkan noda-noda kejahatan dari dalam hati. Sebab sang nabi berkata: "Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku." (Yes 1:1-16).

Mengapa kelimpahan kata-kata ini?

Tidak cukupkah mengatakan saja: "Jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari hatimu" untuk menerangkan seluruh maksud? Mengapa masih ditambahkan: "Dari depan mata-Ku?" Sebab lainlah cara mata manusia memandang, lain pula Tuhan memandang, yakni: "manusia memandang muka, sedangkan Tuhan memandang ke dalam hati." Ia berkata: "Janganlah menjalankan pertobatan secara lahiriah saja, tetapi tunjukkanlah hasil pertobatan itu di depan mata-Ku, yang melihat apa yang tersembunyi."– St. Yohanes Krisostomos.

Tidak lupa juga, di Tahun Iman ini, mari kita kenali ajaran Allah melalui Gereja-Nya, Gereja Katolik. Kekatolikan sekarang dipandang semata-mata sebagai sistem kepercayaan dan sistem nilai tetapi tidak dipandang sebagai ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu Ilahi. Mari kita ubah cara pandang kita mengenai Kekatolikan dan mulailah mengetahui, menghidupi dan mewartakan ajaran iman kita yang berasal dari Kristus Sang Jalan, Kebenaran dan Hidup.

Deus meus in Te confido

link sumber
http://www.sesawi.net/2013/05/11/ketika-katolik-menjadi-ateis-praktis/

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 10 Agustus 2013

Budaya Mengantri Lebih Penting dari Matematika

(Dari Milis sebelah)
Seorang guru di Australia pernah berkata

"Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika" kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri."

"Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?" Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya;

1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.

"Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?"

"Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;"

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..

4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silahkan anda temukan sendiri sisanya.

Saya sempat tertegun mendengarkan butir-butir penjelasannya. Dan baru saja menyadari hal ini saat satu ketika mengajak anak kami berkunjung ke tempat bermain anak Kids Zania di Jakarta.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

1. Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk "menyusup" ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata "Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!"

2. Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata "Dasar Penakut", karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.

3. Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.

4. Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.

5. dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga.?

Ah sayang sekali ya.... padahal disana juga banyak pengunjung orang Asing entah apa yang ada di kepala mereka melihat kejadian semacam ini?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya... Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral. ?

Ah sayang sekali ya... seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini ?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia.

Mari kita ajari anak kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik...!
Semoga Bermanfaat...

(Milis APIKatolik)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 02 Agustus 2013

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK UMAT ISLAM MENJELANG AKHIR RAMADHAN

"Menggalakkan Saling Menghormati melalui Pendidikan"

(diterjemahkan oleh Peter Suriadi dari Radio Vatikan edisi Bahasa Inggris)

Untuk umat Muslim di seluruh dunia

Memberi saya kegembiraan besar menyapa Anda ketika Anda merayakan Idul Fitri, begitu mengakhiri Bulan Ramadhan, yang didedikasikan terutama untuk puasa, doa dan sedekah.

Merupakan sebuah tradisi hingga kini sehingga, pada kesempatan ini, Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama mengirim pesan keinginan baik, bersama-sama dengan tema yang diusulkan untuk permenungan bersama. Tahun ini, tahun pertama Masa Kepausan saya, saya telah memutuskan untuk menandatangani sendiri pesan tradisional ini dan mengirimkannya kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih, sebagai ungkapan penghargaan dan persahabatan bagi seluruh umat Muslim, terutama mereka yang merupakan pemimpin agama.

Seperti Anda semua ketahui, ketika para Kardinal memilih saya sebagai Uskup Roma dan Gembala Semesta Gereja Katolik, saya memilih nama "Fransiskus", seorang kudus yang sangat terkenal yang mengasihi Allah dan setiap manusia dengan begitu dalam, hingga titik yang disebut "saudara semesta". Ia mengasihi, membantu dan melayani orang-orang yang membutuhkan, orang-orang sakit dan orang-orang miskin; ia juga sangat peduli akan ciptaan.

Saya menyadari bahwa keluarga dan dimensi kemasyarakatan menikmati suatu keutamaan karena umat Muslim selama periode ini, dan perlu dicatat bahwa ada kesejajaran tertentu dalam setiap bidang ini dengan iman dan praktek Kristiani.

Tahun ini, tema yang padanya saya ingin renungkan bersama Anda dan bersama semua orang yang akan membaca pesan ini adalah salah satu yang menjadi perhatian baik umat Muslim maupun umat Kristiani : Menggalakkan Saling Menghormati melalui Pendidikan.

Tema tahun ini dimaksudkan untuk menggarisbawahi pentingnya pendidikan dalam cara kita memahami satu sama lain, berlandasan saling menghormati. "Menghormati" berarti suatu sikap kebaikan terhadap orang-orang yang kepadanya kita memiliki perhatian dan penghargaan. "Saling" berarti bahwa ini bukan proses satu arah, tetapi sesuatu yang dibagikan oleh kedua belah pihak.

Apa yang kita sebut menghormati dalam setiap orang adalah terutama hidupnya, integritas fisiknya, martabatnya dan hak-hak yang berasal dari martabat tersebut, reputasinya, hartanya, identitas etnis dan budayanya, ide-idenya dan pilihan-pilihan politiknya. Oleh karena itu kita dipanggil untuk berpikir, berbicara dan menulis dengan penuh hormat tentang orang lain, tidak hanya dalam kehadirannya, tetapi selalu dan di mana-mana, menghindari kritik atau fitnahan yang tidak adil. Keluarga, sekolah, ajaran agama dan semua bentuk media memiliki sebuah peran mengusahakan dalam pencapaian tujuan ini.

Beralih kepada saling menghormati dalam hubungan antaragama, khususnya antara umat Kristiani dan umat Muslim, kita dipanggil untuk menghormati agama lain, ajaran-ajarannya, simbol-simbolnya, nilai-nilainya. Terutama rasa hormat karena pemimpin agama dan karena tempat ibadah. Betapa menyakitkan penyerangan pada salah satu atau lainnya!

Jelas bahwa, ketika kita menunjukkan rasa hormat kepada agama tetangga kita atau ketika kita menawarkan mereka keinginan baik kita pada kesempatan suatu perayaan keagamaan, kita benar-benar berusaha untuk merasakan sukacita mereka, tanpa merujuk kepada muatan keyakinan agama mereka.

Sehubungan dengan pendidikan kaum muda Muslim dan Kristiani, kita harus membawa orang-orang muda kita berpikir dan berbicara dengan penuh hormat tentang agama-agama lain dan para pengikutnya, dan menghindari ejekan atau perendahan keyakinan dan praktek keagamaan mereka.

Kita semua mengetahui bahwa saling menghormati bersifat mendasar dalam hubungan manusia apapun, terutama di kalangan orang-orang yang mengaku beragama. Dengan cara ini, persahabatan yang tulus dan abadi dapat tumbuh.

Ketika saya menerima Korps Diplomatik yang terakreditasi untuk Takhta Suci pada 22 Maret 2013, saya berkata: "Tidaklah mungkin menjalin hubungan sejati dengan Allah, sementara mengabaikan orang lain. Oleh karena itu penting untuk menggiatkan dialog di antara berbagai agama, dan saya sedang memikirkan khususnya dialog dengan Islam. Pada Misa yang menandai awal pelayanan saya, saya sangat menghargai kehadiran begitu banyak pemimpin sipil dan agama dari dunia Islam". Dengan kata-kata ini, saya ingin menekankan sekali lagi betapa pentingnya dialog dan kerjasama antarumat, khususnya umat Kristiani dan Muslim, dan perlunya hal itu ditingkatkan.

Dengan kepekaan ini, saya menegaskan harapan saya agar semua umat Kristiani dan umat Muslim memungkinkan menjadi penggalak sejati saling menghormati dan persahabatan, khususnya melalui pendidikan.

Akhirnya, saya mengirim Anda keinginan baik saya yang penuh doa, agar hidup Anda dapat memuliakan Yang Mahakuasa dan memberi sukacita kepada orang-orang di sekitar Anda.

Selamat Hari Raya untuk Anda semua!

Dari Vatikan, 10 Juli 2013

(Milis APIKatolik)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 27 Juli 2013

Paus ingatkan pastor untuk turun membantu kaum miskin

Paus Fransiskus meminta para pemuka agama katolik pada Sabtu, untuk meninggalkan wilayah nyaman dan kemapanannya, keluar dan melayani kaum miskin serta mereka yang memerlukan.

"Kita tidak bisa terus diam di dalam lingkungan umat, di dalam masyarakat ketika begitu banyak orang menantikan pewartaan," katanya dalam kotbah pada misa di katedral Rio dalam kunjungannya ke Brasil, seperti dilansir Reuters.

Sejak terpilih sebagai Bapa Suci pada Maret lalu, sebagai Paus yang bukan orang Eropa dalam 1.300 tahun sejarah kepausan, Fransiskus memacu para pastor, biarawati dan uskup untuk mengurangi perhatian pada karir mereka di gereja tetapi lebih mendengar jeritan dan tangisan orang yang kelaparan baik material maupun spiritual.

"Tidak cukup dengan hanya membuka pintu untuk menyambut, tetapi kita harus melangkah keluar pintu dan menemui rakyat," katanya.

Dikenal sebagai "Kardinal daerah kumuh" di negara asalnya Argentina karena kebiasaannya blusukan ke daerah kumuh dan mengunjungi orang miskin, Fransiskus menyerukan ajakan kepada para imam untuk keluar dan berada di antara umat yang memerlukannya.

"Adalah di `favela` dan `vila miseria" kita mesti mencari dan melayani Kristus," katanya mengutip mendiang Bunda Theresa dari Kalkuta yang menggunakan nama-nama Brasil untuk menyebut rumah-rumah gubuk.

Fransiskus menolak tempat tinggalnya di Vatikan di istana Apostolik dan memilih tinggal di rumah tamu Vatikan yang sederhana serta makan di ruang makan umum.

Jutaan orang Brasil menyaksikan Paus sejak kedatangannya pada Senin untuk menghadiri jambore Orang Muda katolik yang dikenal dengan Hari Orang Muda.

Dalam kotbahnya di Katedral moderen yang berbentuk kerucut itu Paus Fransiskus meminta para imam dan biarawati untuk memberikan layanan kepada mereka yang memerlukan di jalanan dan di lingkungan-lingkungan yang sulit.

"Marilah kita melaksanakan tugas pastoral yang diperlukan, dimulai di daerah pinggiran, tempat terjauh dan mereka yang biasanya tidak ke gereja," katanya.

Pada Jumat malam di pantai Copacabana yang terkenal, Paus mendesak anak muda untuk ikut mengubah dunia, tempat dimana makananan dihambur-hamburkan sementara jutaan orang kelaparan, tempat dimana kekerasan rasial masih menghampiri manusia dan dimana politik lebih dekat dengan korupsi ketimbang pelayanan.

Paus juga memerintahkan agar kaca mobil di bagian samping dibuka dan kendaraannya berhenti beberapa kali untuk memberi kesempatan ia mencium bayi-bayi dan kanak-kanak, menjabat tangan, bahkan turun beberapa kali untuk berjalan sehingga membuat bingung para petugas keamanannya.

Hari Orang Muda berakhir pada Minggu dan Paus akan memimpin misa sebelum bertolak kembali ke Roma pada malam harinya.

(Antaranews.com - 27 Juli 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 25 Juli 2013

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM RANGKA HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-28

HOMILI PAUS FRANSISKUS PADA MISA DI BASILIKA BUNDA KITA YANG DIKANDUNG TANPA NODA DI APARECIDA, BRASIL, DALAM RANGKA HARI ORANG MUDA SEDUNIA KE-28, 24 Juli 2013

Para uskup dan para imam saudaraku,
Saudara dan saudari yang terkasih,

Betapa sukacita yang saya rasa ketika saya datang ke rumah Bunda dari setiap orang Brasil, Tempat Ziarah Bunda Maria di Aparecida! Sehari setelah pemilihan saya sebagai Uskup Roma, saya mengunjungi Basilika Santa Maria Utama di Roma, untuk mempercayakan pelayanan saya sebagai Penerus Petrus kepada Bunda Maria. Hari ini saya datang ke sini untuk meminta Maria Bunda kita untuk keberhasilan Hari Orang Muda Sedunia dan untuk menempatkan di kakinya kehidupan rakyat Amerika Latin.

Pertama-tama ada sesuatu yang ingin saya katakan. Enam tahun lalu Konferensi Umum Para Uskup Amerika Latin dan Karibia V diadakan di Tempat Ziarah ini. Sesuatu yang indah terjadi di sini, yang saya saksikan langsung. Saya melihat bagaimana para uskup - yang sedang membahas tema tentang menjumpai Kristus, pemuridan dan perutusan - merasa didorong, didukung dan dalam beberapa cara diilhami oleh ribuan peziarah yang datang ke sini hari demi hari untuk mempercayakan hidup mereka kepada Bunda Maria. Konferensi itu merupakan saat agung dari Gereja. Benar-benar dapat dikatakan bahwa Dokumen Aparecida lahir dari interaksi antara usaha-usaha para uskup dan iman sederhana dari para peziarah, di bawah perlindungan keibuan Maria. Ketika Gereja mencari Yesus, ia selalu mengetuk pintu Bundanya dan bertanya: "Tunjukkan kami Yesus". Dari Maria, Gereja belajar pemuridan sejati. Itulah sebabnya Gereja menjalani perutusan dalam jejak Maria.

Hari ini, memandang ke depan kepada Hari Orang Muda Sedunia yang telah membawa saya ke Brasil, saya juga datang mengetuk pintu rumah Maria - yang mengasihi dan membesarkan Yesus - sehingga ia dapat membantu kita semua, para gembala umat Allah, orang tua dan para pendidik, untuk menyampaikan kepada orang-orang muda kita nilai-nilai yang dapat membantu mereka membangun bangsa dan dunia yang lebih adil, bersatu dan bersaudara. Karena alasan ini saya ingin berbicara tentang tiga sikap sederhana: harapan, keterbukaan untuk dikejutkan oleh Allah, dan hidup dalam sukacita.

1. Harapan. Bacaan Kedua Misa menyajikan adegan dramatis: seorang perempuan - gambaran Maria dan Gereja - sedang dikejar-kejar oleh Naga - iblis - yang ingin melahap anaknya. Tetapi adegan bukan tentang kematian melainkan tentang kehidupan, karena Allah campur tangan dan menyelamatkan anak itu (bdk. Why 12:13a,15-16a). Berapa banyak kesulitan yang hadir dalam kehidupan setiap pribadi, di antara umat kita, di komunitas kita; namun seberapa besar hal ini mungkin tampak, Allah tidak pernah memperbolehkan kita menjadi kewalahan oleh kesulitan-kesulitan itu. Dalam menghadapi saat-saat keputusasaan yang kita alami dalam hidup, dalam upaya kita berevangelisasi atau mewujudkan iman kita sebagai orang tua dalam keluarga, saya ingin mengatakan dengan tegas: Kenali selalu dalam hatimu, bahwa Allah ada di sisimu; Ia tidak pernah meninggalkanmu! Marilah kita tidak pernah kehilangan harapan! Marilah kita tidak pernah memperbolehkannya mati dalam hati kita! "Naga", kejahatan, hadir dalam sejarah kita, tetapi tidak memiliki kendali. Sosok yang memegang kendali adalah Allah, dan Allah adalah harapan kita! Memang benar bahwa saat ini, sampai batas tertentu, semua orang, termasuk orang-orang muda kita, merasa tertarik oleh banyak berhala yang mengambil alih tempat Allah dan muncul untuk menawarkan harapan: uang, keberhasilan, kekuasaan, kesenangan. Seringkali rasa kesepian dan kekosongan yang tumbuh dalam hati banyak orang membawa mereka untuk mencari kepuasan dalam berhala-berhala fana itu. Saudara dan saudari terkasih, marilah kita menjadi terang harapan! Marilah kita menjaga pandangan positif tentang kenyataan. Marilah kita mendorong kemurahan hati yang adalah ciri khas dari kaum muda dan membantu mereka untuk bekerja secara aktif dalam membangun dunia yang lebih baik. Orang-orang muda adalah mesin yang kuat bagi Gereja dan bagi masyarakat. Mereka tidak memerlukan hal-hal jasmaniah saja, juga dan terutama, mereka perlu menegakkan bagi mereka nilai-nilai bukan jasmaniah yang adalah jantung rohaniah suatu rakyat, kenangan akan suatu rakyat. Dalam tempat ziarah ini, yang merupakan bagian dari kenangan akan Brasil, kita hampir dapat membaca nilai-nilai ini: spiritualitas, kedermawanan, solidaritas, ketekunan, persaudaraan, sukacita; semuanya adalah nilai-nilai yang memiliki akar terdalam dalam iman Kristiani.

2. Sikap kedua: keterbukaan untuk dikejutkan oleh Allah. Siapapun yang adalah pria atau wanita harapan - harapan besar yang diberikan iman kepada kita - tahu bahwa bahkan di tengah-tengah kesulitan Allah bertindak dan Ia mengejutkan kita. Sejarah tempat ziarah ini adalah contoh yang baik: tiga nelayan, setelah seharian tidak mendapatkan ikan, menemukan sesuatu yang tidak terduga di perairan Sungai Parnaíba: sebuah gambar Bunda Maria Yang Dikandung Tanpa noda. Siapa pun akan berpikir bahwa tempat perjalanan mencari ikan yang sia-sia akan menjadi tempat di mana semua orang Brasil bisa merasa bahwa mereka adalah anak-anak dari satu Bunda? Allah selalu mengejutkan kita, seperti anggur baru dalam Injil yang baru saja kita dengar. Allah selalu menyimpan yang terbaik untuk kita. Tetapi Ia meminta kita untuk membiarkan diri kita dikejutkan oleh kasih-Nya, menerima kejutan-Nya. Marilah kita mempercayai Allah! Terpisah dari Dia, Sang anggur sukacita, Sang anggur harapan, habislah. Jika kita mendekat kepada-Nya, jika kita tinggal bersama-nya, apa yang tampaknya menjadi air dingin, kesulitan, dosa, diubah menjadi anggur baru persahabatan dengan Dia.

3. Sikap ketiga: hidup dalam sukacita. Para sahabat terkasih, jika kita berjalan dalam pengharapan, membiarkan diri kita dikejutkan oleh anggur baru yang ditawarkan Yesus kepada kita, kita memiliki sukacita dalam hati kita dan kita tidak bisa gagal untuk menjadi saksi sukacita ini. Orang-orang Kristiani penuh sukacita, mereka tidak pernah muram. Allah ada di pihak kita. Kita memiliki bunda yang selalu berdoa untuk kehidupan anak-anaknya, bagi kita, seperti Ratu Ester dalam bacaan pertama (bdk. Est 5:3). Yesus telah menunjukkan kepada kita bahwa wajah Allah yakni wajah Bapa yang penuh kasih. Dosa dan maut telah dikalahkan. Orang-orang Kristiani tidak dapat pesimis! Mereka tidak terlihat seperti orang dalam perkabungan terus menerus. Jika kita benar-benar dalam kasih bersama Kristus dan jika kita merasakan betapa Ia mengasihi kita, hati kita akan "menyala" dengan suatu sukacita yang menyebar kepada semua orang di sekitar kita. Seperti dikatakan Paus Benediktus XVI : "Murid tahu bahwa tanpa Kristus, tidak ada terang, tidak ada harapan, tidak ada kasih, tidak ada masa depan" (Pesan Pembukaan, Konferensi Umum Para Uskup Amerika Latin dan Karibia V, Aparecida, 13 Mei 2007, 3).

Para sahabat yang terkasih, kita telah datang untuk mengetuk pintu rumah Maria. Ia telah membukakannya untuk kita, ia telah membiarkan kita masuk dan ia menunjukkan kepada kita Putranya. Sekarang ia meminta kita untuk "melakukan apa pun yang Ia katakan kepadamu" (Yoh 2:5). Ya, Bunda yang terkasih, kami berjanji untuk melakukan apa pun yang Yesus katakan kepada kami! Dan kami akan melakukannya dengan harapan, percaya pada kejutan Allah dan penuh sukacita. Amin.

http://pope-at-mass.blogspot.com/2013/07/homili-paus-fransiskus-pada-misa-di.html
Powered by Telkomsel BlackBerry®

KUNJUNGAN PAUS: Peringatkan Bahaya Legalisasi Narkoba

Paus Fransiskus (76) memperingatkan Amerika Latin untuk menentang legalisasi narkoba. Menurut pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu, kebijakan liberal melegalisasi narkoba tidak akan mengurangi persoalan.

Paus kelahiran Argentina itu mengangkat topik hangat tersebut, Rabu (24/7), setelah perayaan misa pertama dalam kunjungan sepekannya di Brasil.

Paus Fransiskus menyerukan sikap tegas melawan narkoba ketika bertemu pencandu narkoba yang tengah dirawat di ruang rehabilitasi Rumah Sakit Rio de Janeiro yang dikelola biarawan Fransiskan.

"Yang mengerikan dari perdagangan narkoba adalah hal itu memicu kekerasan dan memunculkan penderitaan dan kematian. Karena itu, dibutuhkan tindakan berani dari masyarakat secara keseluruhan," kata Paus Fransiskus. Menurut Paus, penurunan penyebaran dan pengaruh kecanduan narkoba tidak akan bisa dicapai jika ada liberalisasi penggunaan narkoba, seperti yang saat ini diusulkan di sejumlah negara Amerika Latin.

Narkoba telah menewaskan lebih dari 70.000 orang di Meksiko sejak 2006, sementara perdagangan narkoba terus berlanjut di Amerika Latin.

Wacana legalisasi
Presiden Guatemala mewacanakan legalisasi, sebuah visi yang juga dikemukakan mantan presiden di Brasil, Meksiko, dan Kolombia, tetapi hal itu ditentang Amerika Serikat dan Pemerintah Meksiko. Sementara Presiden Uruguay Jose Mujica telah mengusulkan legalisasi ganja di negaranya.

Paus pertama yang berasal dari Amerika Latin itu memimpin misa di Basilika Our Lady Aparecida.

"Memang benar bahwa saat ini, sampai batas tertentu, semua orang, termasuk orang-orang muda kita, merasa tertarik pada banyak berhala yang mengambil tempat Allah dan muncul untuk menawarkan harapan: uang, kesuksesan, kekuasaan, kesenangan," katanya.

Maka, Paus mendesak umat Katolik menolak "berhala-berhala" tersebut.

Di Brasil, Paus juga menghadiri Festival Kaum Muda Katolik Sedunia (World Youth Day) yang dibuka Selasa lalu di Pantai Copacabana.

Diperkirakan 15.000 orang memadati basilika untuk misa hari Rabu lalu, sedangkan 200.000 orang terpaksa mengikuti misa di luar basilika. 

(Kompas cetak, 26 Juli 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 07 Juli 2013

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA BERSAMA PARA SEMINARIS DAN PARA NOVIS 7 JULI 2013

Paus Fransiskus menyampaikan homili pada Misa hari Minggu pagi 7 Juli 2013 bersama para seminaris dan para novis yang berkumpul di Basilika Santo Petrus untuk menandai akhir konferensi empat hari tentang panggilan, kearifan dan pembentukan di Roma. Berikut adalah homili lengkap Bapa Suci pada Misa tersebut.

************************************************

Saudara dan saudari terkasih,
Kemarin saya merasa senang bertemu denganmu, dan hari ini sukacita kita bahkan lebih besar, karena kita telah berkumpul untuk Ekaristi pada Hari Tuhan. Kamu adalah para seminaris, para novis, orang-orang muda pada perjalanan panggilan, dari setiap bagian dari dunia. Kamu mewakili orang muda Gereja! Jika Gereja adalah Mempelai Kristus, Kamu dalam arti tertentu mewakili saat pertunangan, musim semi panggilan, musim penemuan, penilaian, pembentukan. Dan itulah musim yang sangat indah, yang di dalamnya landasan diletakkan untuk masa depan. Terima kasih sudah datang!

Hari ini sabda Allah berbicara kepada kita tentang perutusan. Dari mana perutusan berasal? Jawabannya sederhana: perutusan berasal dari suatu panggilan, panggilan Tuhan, dan ketika Ia memanggil orang-orang, Ia melakukannya dengan maksud untuk mengutus mereka keluar. Tetapi bagaimana seseorang yang diutus dimaksudkan untuk tinggal? Apa saja pokok acuan perutusan Kristiani? Bacaan-bacaan yang telah kita dengar mengusulkan tiga hal : sukacita penghiburan, Salib dan doa.

Unsur pertama: sukacita penghiburan. Nabi Yesaya sedang menyampaikan pesan kepada orang-orang yang telah melalui masa gelap pembuangan, suatu pencobaan yang sangat sulit. Tetapi sekarang saat penghiburan telah tiba bagi Yerusalem; kesedihan dan ketakutan harus memberi jalan kepada sukacita: "Bersukacitalah .... bersorak-soraklah ....bergiranglah bersama-sama dia", kata Sang Nabi (66:10). Undangan yang bagus untuk bersukacita. Mengapa? Karena alasan apa? Karena Tuhan akan mencurahkan atas Kota Suci dan penduduknya suatu "curahan deras" penghiburan, kelembutan seorang ibu: "Kamu akan digendong dan akan dibelai-belai di pangkuan. Seperti seseorang yang dihibur ibunya, demikianlah Aku ini akan menghibur kamu" (ayat 12-13). Setiap orang Kristiani, terutama Anda dan saya, dipanggil untuk menjadi pembawa pesan pengharapan ini yang memberikan ketenangan dan sukacita: penghiburan Allah, kelembutan-Nya terhadap semua orang. Tetapi jika kita awalnya mengalami sukacita dihibur oleh-Nya, dikasihi oleh-Nya, maka kita dapat membawa sukacita itu kepada orang lain. Hal ini penting jika perutusan kita untuk menjadi berbuah: merasakan penghiburan Allah dan menyampaikannya kepada orang lain! Undangan Yesaya harus bergema dalam hati kita: "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku" (40:1) dan harus mengarah pada perutusan. Orang-orang saat ini tentu membutuhkan kata-kata, tetapi kebanyakan dari mereka semua membutuhkan kita untuk menjadi saksi bagi belas kasihan dan kelembutan Tuhan, yang menghangatkan hati, menghidupkan harapan, dan menarik orang-orang ke arah kebaikan. Betapa sukacitanya membawa penghiburan Allah kepada orang lain!

Titik acuan perutusan yang kedua adalah Salib Kristus. Santo Paulus, menulis kepada jemaat di Galatia, mengatakan: "Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus" (6:14). Dan ia berbicara tentang "tanda-tanda Yesus", yaitu, luka-luka Tuhan yang disalibkan, sebagai tanda balasan, sebagai tanda khusus hidup-Nya sebagai seorang Rasul Injil. Dalam karya pelayanannys Paulus mengalami penderitaan, kelemahan dan kekalahan, tetapi juga sukacita dan penghiburan. Inilah misteri Paskah Yesus: misteri kematian dan kebangkitan. Dan justru dengan membiarkan dirinya menjadi serupa dengan kematian Yesus maka Santo Paulus menjadi pengikut dalam kebangkitan-Nya, dalam kemenangan-Nya. Dalam saat kegelapan dan kesengsaraan, fajar cahaya dan keselamatan sudah hadir dan bekerja. Misteri Paskah adalah berdebarnya jantung perutusan Gereja! Dan jika kita tetap di dalam misteri ini, kita terlindung baik dari gambaran perutusan yang bersifat duniawi maupun yang bersifat kemenangan dan dari keputusasaan yang dapat dihasilkan dari kesengsaraan dan kegagalan. Kelimpahan pemberitaan Injil diukur bukan oleh keberhasilan atau kegagalan menurut kriteria evaluasi manusia, tetapi oleh menjadi serupa dengan logika Salib Yesus, yang merupakan logika melangkah ke luar diri sendiri dan menghabiskan diri sendiri, logika kasih. Itulah Salib - Salib yang selalu hadir bersama Kristus - yang menjamin kelimpahan perutusan kita. Dan dari Saliblah, tindakan tertinggi belas kasihan dan kasih, sehingga kita dilahirkan kembali sebagai "ciptaan baru" (Gal 6:15).

Akhirnya unsur ketiga: doa. Dalam Injil kita mendengar: "Mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu" (Luk 10:2). Para buruh untuk panenan tidak dipilih melalui kampanye iklan atau permintaan untuk pelayanan dan kemurahan hati, tetapi mereka "dipilih" dan "diutus" oleh Allah. Untuk ini, doa adalah penting. Gereja, sebagaimana sering ditegaskan oleh Paus Benediktus XVI, bukan milik kita, tetapi milik Allah; lahan untuk dibudidayakan adalah milik-Nya. Maka, perutusan terutama adalah tentang rahmat. Dan jika Rasul lahir dari doa, ia menemukan dalam doa cahaya dan kekuatan untuk tindakannya. Perutusan kita berhenti berbuah, bahwasanya, perutusan dipadamkan saat hubungan dengan sumbernya, dengan Tuhan, terganggu.

Para seminaris terkasih, para novis terkasih, orang-orang muda terkasih camkan panggilan Anda: "evangelisasi dilakukan pada lutut seseorang", ketika salah satu dari Anda mengatakan kepada saya lain hari. Jadilah selalu pria dan wanita doa! Tanpa suatu hubungan terus menerus dengan Allah, perutusan menjadi suatu pekerjaan. Resiko paham aktivis, terlalu banyak mengandalkan pada struktur, adalah sebuah bahaya yang selalu hadir. Jika kita memandang ke arah Yesus, kita melihat bahwa sebelum keputusan atau peristiwa penting apapun Ia memusatkan diri-Nya dalam doa yang intens dan berkelanjutan. Marilah kita memupuk dimensi kontemplatif, bahkan di tengah angin puyuh tugas yang lebih penting dan mendesak. Dan semakin perutusan memanggil kamu untuk pergi keluar ke pinggiran eksistensi, biarkan hatimu menjadi lebih erat bersatu dengan hati Kristus, puncak belas kasih dan kasih. Di sinilah letak rahasia kelimpahan seorang murid Tuhan!

Yesus mengutus para pengikut-Nya dengan tidak ada "bekal, pundi-pundi, kasut" (Luk 10:4). Penyebaran Injil tidak dijamin baik oleh jumlah orang, ataupun oleh kewibawaan lembaga, ataupun oleh jumlah sumber daya yang tersedia. Yang penting adalah diresapi oleh kasih Kristus, membiarkan diri dipimpin oleh Roh Kudus dan mencangkokkan hidup miliknya sendiri kepada pohon kehidupan, yang adalah Salib Tuhan.

Sahabat-sahabat terkasih, dengan keyakinan yang besar saya mempercayakan kamu kepada perantaraan Maria yang Tersuci. Ia adalah Bunda yang membantu kita untuk mengambil keputusan hidup secara bebas dan tanpa rasa takut. Semoga ia membantu kamu untuk menjadi saksi bagi sukacita penghiburan Allah, untuk menyesuaikan dirimu dengan logika kasih dari Salib, untuk bertumbuh dalam kesatuan yang lebih dalam dengan Tuhan. Maka hidupmu akan menjadi kaya dan berlimpah! Amin.

+++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
(Peter - milis APIK)
Powered by Telkomsel BlackBerry®