Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Rabu, 27 November 2013

Gereja Harus Fokus Perangi Kemiskinan

Paus Fransiskus, Selasa (26/11), menyerukan reformasi dan pembaruan peran Gereja Katolik dengan mengimbau para pemimpin global dan umat untuk lebih fokus memerangi kemiskinan. Paus juga mengecam kapitalisme yang disebutnya sebagai "tirani baru".

Dalam dokumen "Imbauan Apostolik" sebanyak 84 halaman yang ditulisnya sendiri, Paus Fransiskus juga mengatakan,
dia terbuka untuk saran untuk perubahan kekuasaan kepausan.

"Ini adalah tugas saya sebagai Uskup Roma, menjadi lebih terbuka terhadap saran, yang akan membantu dalam tugas pelayanan dan kesetiaan yang sesuai dengan apa yang ingin diberikan Yesus Kristus," tulis Paus.

Lebih jauh Paus Fransiskus menulis, sudah waktunya untuk adanya "konversi kepausan", dan menambahkan, sentralisasi
yang berlebihan di Vatikan, ketimbang pembuktian dalam karya, telah mempersulit kehidupan Gereja.

Apa yang diungkapkan Paus Fransiskus, dalam dokumen resmi pertamanya sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi Gereja Katolik, Maret lalu, tidak jauh berbeda dengan khotbah-khotbahnya sebelum ini.

Kecam berhala uang
Populer sebagai pengkritik paling gencar sistem ekonomi global yang cenderung mengabaikan kaum papa, Paus Fransiskus lebih jauh mengecam "penyembahan berhala uang". Paus juga meminta para politisi agar menjamin setiap warga negara mendapatkan pekerjaan bermartabat, pendidikan, dan kesehatan.

Fransiskus, paus non-Eropa pertama dalam 1.300 tahun sejarah kepausan, juga meminta orang-orang kaya untuk berbagi kekayaan mereka.

"Sama seperti perintah 'jangan membunuh', hari ini kami juga harus mengatakan 'kamu tidak boleh membiarkan ekonomi menuju ketidakadilan. Ekonomi semacam itu membunuh!'" tulis Paus Fransiskus.

"Bagaimana mungkin, ketika seorang tunawisma tua meninggal bukanlah sebuah berita, tetapi saat pasar saham kehilangan dua poin adalah sebuah berita besar?" papar Paus.

Tentang "konversi kepausan" dan revitalisasi peran Gereja, Paus mengatakan, "Saya lebih suka Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena telah keluar di jalan-jalan. Bukan Gereja yang sehat dan sibuk dengan keamanannya sendiri," tulis Paus.

Paus juga menekankan pandangannya terhadap kesenjangan dan ketidakadilan akibat sistem ekonomi global. Paus berusia 76 tahun ini juga mendesak pentingnya perbaikan sistem keuangan global dan memperingatkan bahwa ketimpangan distribusi kekayaan pasti akan mengarah pada kekerasan.

"Selama masalah kemiskinan tidak secara radikal diselesaikan, dengan cara menolak otonomi pasar absolut dan spekulasi keuangan dengan cara menghancurkan institusi penyebab ketidakadilan, tidak akan pernah ada pemecahan masalah kemiskinan," tulis Paus.

Sejak terpilih sebagai paus, Fransiskus memberi contoh nyata penghematan dan hidup sederhana dan memilih tinggal di guest house Vatikan ketimbang tinggal di Istana Kerasulan yang mewah. Dia juga bepergian dengan mobil sederhana.(Reuters/AFP/joy)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000003395482
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 25 November 2013

PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) TAHUN 2013

"Datanglah, ya Raja Damai"
(Bdk. Yes. 9:5)

Saudara-saudari terkasih,
segenap umat Kristiani Indonesia,
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

1. Kita kembali merayakan Natal, peringatan kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat dunia. Perayaan kedatangan-Nya selalu menghadirkan kehangatan dan pengharapan Natal bagi segenap umat manusia, khususnya bagi umat Kristiani di Indonesia. Dalam peringatan ini kita menghayati kembali peristiwa kelahiran Yesus Kristus yang diwartakan oleh para Malaikat dengan gegap gempita kepada para gembala di padang Efrata, komunitas sederhana dan terpinggirkan pada jamannya (bdk. Luk. 2:8-12). Selayaknya, penyampaian kabar gembira itu tetap menggema dalam kehidupan kita sampai saat ini, dalam keadaan apapun dan dalam situasi bagaimanapun.

Tema Natal bersama PGI dan KWI kali ini diilhami suatu ayat dalam Kitab Nabi Yesaya 9:5 "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita; seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang; Penasehat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai". Kekuatan pesan sang nabi tentang kedatangan Mesias dibuktikan dari empat gelar yang dijabarkan dalam nubuat tersebut, yaitu: 1). Mesias disebut "Penasihat ajaib", karena Dia sendiri akan menjadi keajaiban adikodrati yang membawakan hikmat sempurna dan karenanya, menyingkapkan rencana keselamatan yang sempurna. 2). Dia digelari "Allah yang perkasa", karena dalam DiriNya seluruh kepenuhan ke-Allah-an akan berdiam secara jasmaniah (bdk. Kol. 2:9, bdk. Yoh. 1:1.14). 3). Disebut "Bapa yang kekal" karena Mesias datang bukan hanya memperkenalkan Bapa Sorgawi, tetapi Ia sendiri akan bertindak terhadap umat-Nya secara kekal bagaikan seorang Bapa yang penuh dengan belas kasihan, melindungi dan memenuhi kebutuhan anak-anak-Nya (Bdk. Mzm. 103:3). 4). Raja Damai, karena pemerintahan-Nya akan membawa damai bagi umat manusia melalui pembebasan dari dosa dan kematian (bdk. Rm. 5:1; 8:2).

2. Seiring dengan semangat dan tema Natal tahun ini, kita menyadari bahwa Natal kali ini tetap masih kita rayakan dalam suasana keprihatinan untuk beberapa situasi dan kondisi bangsa kita. Kita bersyukur bahwa Konstitusi Indonesia menjamin kebebasan beragama. Namun, dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara, kita masih merasakan adanya tindakan-tindakan intoleran yang mengancam kerukunan, dengan dihembuskannya isu mayoritas dan minoritas di tengah-tengah masyarakat oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan kekuasaan. Tindakan intoleran ini secara sistematis hadir dalam berbagai bentuknya. Selain itu, di depan mata kita juga tampak perusakan alam melalui cara-cara hidup keseharian yang tidak mengindahkan kelestarian lingkungan seperti kurang peduli terhadap sampah, polusi, dan lingkungan hijau, maupun dalam bentuk eksploitasi besar-besaran terhadap alam melalui proyek-proyek yang merusak lingkungan.

Hal yang juga masih terus mencemaskan kita adalah kejahatan korupsi yang semakin menggurita. Usaha pemberantasan sudah dilakukan dengan tegas dan tak pandang bulu, tetapi tindakan korupsi yang meliputi perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar masih terus terjadi. Hal lain yang juga memprihatinkan adalah lemahnya integritas para pemimpin bangsa. Bahkan dapat dikatakan bahwa integritas moral para pemimpin bangsa ini kian hari kian merosot. Disiplin, kinerja, komitmen dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat digerus oleh kepentingan politik kekuasaan. Namun demikian, kita bersyukur karena Tuhan masih menghadirkan beberapa figur pemimpin yang patut dijadikan teladan. Kenyataan ini memberi secercah kesegaran di tengah dahaga dan kecewa rakyat atas realitas kepemimpinan yang ada di depan mata.

3. Karena itu, Gema tema Natal 2013 "Datanglah, Ya raja Damai" menjadi sangat relevan. Nubuat Nabi Yesaya sungguh memiliki kekuatan dalam ungkapannya. Seruan ini mengungkapkan sebuah doa permohonan dan sekaligus harapan akan datangnya sang pembawa damai dan penegak keadilan (bdk. "Penasihat Ajaib").
Doa ini dikumandangkan berangkat dari kesadaran bahwa dalam situasi apapun, pada akhirnya "Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal," Dialah yang memiliki otoritas atas dunia ciptaan-Nya. Dengan demikian, semangat Natal adalah semangat merefleksikan kembali arti Kristus yang sudah lahir bagi kita, yang telah menyatakan karya keadilan dan perdamaian dunia, dan karenanya pada saat yang sama, umat berkomitmen untuk mewujudkan kembali karya itu, yaitu karya perdamaian di tengah konteks kita. Tema ini sekaligus mengacu pada pengharapan akan kehidupan kekal melalui kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Hakim yang Adil. Semangat tema ini sejalan dengan tekad Gereja-gereja sedunia yang ingin menegakkan keadilan, sebab kedamaian sejati tidak akan menjadi nyata tanpa penegakan keadilan.
Karena itu, dalam pesan Natal bersama kami tahun ini, kami hendak menggarisbawahi semangat kedatangan Kristus tersebut dengan sekali lagi mendorong Gereja-gereja dan seluruh umat Kristiani di Indonesia untuk tidak jemu-jemu menjadi agen-agen pembawa damai dimana pun berada dan berkarya. Hal itu dapat kita wujudkan antara lain dengan:
· Terus mendukung upaya-upaya penegakkan keadilan, baik di lingkungan kita maupun dalam lingkup yang lebih luas. Hendaklah kita menjadi pribadi-pribadi yang adil dan bertanggung jawab, baik dalam lingkungan keluarga, pekerjaan, gereja, masyarakat dan dimana pun Allah mempercayakan diri kita berkarya. Penegakkan keadilan, niscaya diikuti oleh sikap hidup yang berintegritas, disiplin, jujur dan cinta damai.
· Terus memberi perhatian serius terhadap upaya-upaya pemeliharaan, pelestarian dan pemulihan lingkungan. Mulailah dari sikap diri yang peduli terhadap kebersihan dan keindahan alam di sekitar kita, penghematan pemakaian sumber daya yang tidak terbarukan, serta bersikap kritis terhadap berbagai bentuk kegiatan yang bertolak belakang dengan semangat pelestarian lingkungan. Dengan demikian kita juga berperan dalam memberikan keadilan dan perdamaian terhadap lingkungan serta generasi penerus kita.
· Semangat cinta damai dan hidup rukun menjadi dasar yang kokoh dan modal yang sangat penting untuk menghadapi agenda besar bangsa kita, yaitu Pemilu legislatif maupun Pemilu Presiden-Wakil Presiden tahun 2014 yang akan datang.
Saudara-saudara terkasih,
Marilah kita menyambut kedatangan-Nya sambil terus mendaraskan doa Santo Fransiskus dari Asisi ini:

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih
Bila terjadi penghinaan jadikanlah aku pembawa pengampunan

Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang,

Tuhan semoga aku lebih ingin menghibur daripada dihibur,
Memahami dari pada dipahami, mencintai dari pada dicintai,
Sebab dengan memberi aku menerima
Dengan mengampuni aku diampuni
Dengan mati suci aku bangkit lagi, untuk hidup selama-lamanya.
Amin

SELAMAT NATAL 2013 DAN TAHUN BARU 2014
Jakarta, 18 November 2013
Atas nama
PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA KONFERENSI WALIGEREJA
DI INDONESIA (PGI), INDONESIA (KWI),


Pdt. Dr. A.A. Yewangoe Mgr. I. Suharyo
Ketua Umum Ketua


Pdt. Gomar Gultom Mgr. J.M. Pujasumarta
Sekretaris Umum Sekretaris Jendral

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 07 November 2013

PAUS FRANSISKUS MENGUMUMKAN TEMA HARI ORANG MUDA SEDUNIA

Paus Fransiskus telah memutuskan tema Hari Orang Muda Sedunia untuk tiga tahun ke depan. Ini menandakan rencana perjalanan tiga tahun persiapan rohani yang akan berpuncak pada Hari Orang Muda Sedunia bersama Pengganti Santo Petrus yang dijadwalkan berlangsung di Krakow, Polandia pada bulan Juli 2016.

> Hari Orang Muda Sedunia ke-29 tahun 2014 bertema : "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga" (Mat 5:3).
> Hari Orang Muda Sedunia ke-30 tahun 2015 bertema : "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat 5:8).
> Hari Orang Muda Sedunia ke-31 tahun 2016 bertema : "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan" (Mat 5:7).

Tiga tema tersebut diambil dari Sabda Bahagia dalam Injil. Di Rio de Janeiro, Paus Fransiskus meminta orang-orang muda "dengan sepenuh hati" membaca kembali Sabda Bahagia dan menjadikan Sabda Bahagia itu rencana tindakan untuk hidup mereka : "Lihatlah, bacalah Sabda Bahagia: itu akan mengerjakan Anda kebaikan!" (bdk. Pertemuan dengan kaum muda dari Argentina yang berkumpul di Katedral São Sebastião, 25 Juli 2013).

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 06 November 2013

MAKNA TANDA SALIB

Banggakah  anda menjadi sorang Katolik ?
Apapun jawaban anda, ada satu keistimewaan orang Katolik yaitu Tanda Salib.

Mengapa demikian ?

Tanda Salib merupakan suatu rangkaian  DOA  SINGKAT tetapi sangat padat dalam maknanya.

DALAM NAMA BAPA (di dahi).
Hal ini menandakan bahwa Allah Bapa merencanakan, menciptakan dan menyelenggarakan segala sesuatunya.
Otak merupakan susunan syaraf pusat merupakan pusat segalanya, tempat kita berpikir, berimainasi dan merencanakan.
Bapa yg telah merencanakan Putra-Nya datang ke dunia sebagai Penyelamat, adalah penyelenggara segala karya dan hidup Yesus.
maka kita melanjutkan dengan :

DAN PUTRA (di pusar).
Disini sering terjadi kesalahan karena banyak yg melakukannya di dada (horizontal dengan Roh Kudus0.
SEharusnya di pusar, karena tali pusar adalah tali kehidupan, tali yg menyambung antara ibu dan anak. Disinilah janin mendapat makanan dan minuman serta curahan kehidupan. Karya Yesus juga dimulai semenjak kita masih berupa janin, dan Dia harus meninggalkan kita dan kembali kepada Bapa-Nya.

DAN ROH KUDUS (Bahu kiri, horizontal, hubungan dengan manusia)
Bapa yg menyelenggarakan hidup kita dgn mengirimkan Roh Kudus-Nya untuk memurnikan dan membakar dosa2 kita hingga musnah, mendampingi kita, melindungi, menghibur, mengajarkan ttg kebenaran, membimbing dan menjaga kita; maka selayaknya kita senantiasa harus bersyukur, memuji dan memuliakan Dia. Kita harus selalu mengundang dan menghadirkan Allah Tritinggal dalam setiap kehidupan kita, Ia akan setia mendampingi kita sampai kedatanganAllah Putra kembali.

Amin (Bahu kanan)
Amin mengandung arti kesetiaan Allah terhadap kita dan iman kepercayaan kita kepada-Nya.

Tanda Salib merupakan pengormatan kita kepada Allah Tritunggal dan sekaligus merupakan tanda persatuan persaudaraan dalam IMAN kepada Yesus Kristus lewat sarana Katolik. Ketika kita melihat orang membuat Tanda Salib baik di restoran, di arena sport, dalam upacara dll; dalam hati kita akan bilang, "Oh, orang itu orang Katolik. Dia saudara kita yang seiman." (By John Lefthew, SJ)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 01 Oktober 2013

Paus akan mereformasi Vatikan

Sumber: BBCIndonesia.com - detikNews

Paus Fransiskus mengadakan pertemuan pertama dengan sebuah kelompok
khusus yang terdiri dari para kardinal untuk mempertimbangkan cara-cara
mereformasi Vatikan.

Kelompok yang dikenal sebagai G8 Vatikan ini telah dipilih dari luar
pemerintahan Takhta Suci untuk menjamin independensi.

Terdiri dari delapan kardinal yang dipilih oleh Fransiskus dari seluruh
dunia, kelompok ini bertugas mencari cara untuk membentuk kembali
birokrasi Gereja Katolik Roma.

Paus mengatakan dalam sebuah wawancara dengan sebuah surat kabar bahwa
Vatikan sudah menjadi terlalu mementingkan diri sendiri dan perlu lebih
membaur.

Pusat administrasi Gereja Katholik ini telah terpukul berbagai skandal
dalam beberapa tahun terakhir, dan para uskup di seluruh dunia
mengkritiknya otokratis dan lamban.

Selama pembicaraan tiga hari ini berlangsung, koran Italia La Repubblica
menerbitkan wawancara dengan Paus di mana ia berbicara tentang masalah
yang dihadapi pemerintah Vatikan.

Di dalamnya ia mencela sikap "Vatikan-sentris" dan mengakui bahwa
pendahulunya tergila-gila dengan kemegahan Vatikan dan orang yang ada di
dalamnya.

Vatikan-sentris

"(Para) penasehat Paus adalah kusta kepausan," katanya.

"Visi Vatikan-sentris mengabaikan dunia di sekitarnya dan saya akan
melakukan segalanya untuk mengubah itu."

Kelompok G8 Vatikan ini memiliki tugas utama untuk menulis ulang
konstitusi 1998 tentang cara kerja berbagai departemen Takhta Suci.

Wartawan BBC David Willey, di Roma, mengatakan tidak ada keputusan yang
bisa segera diharapkan dan Paus sendiri mengakui perubahan ini akan
memakan waktu.

Dalam wawancara Repubblica La, Paus mengatakan: "Kita perlu memberi
harapan kepada orang-orang muda, membantu orang tua dan membuka diri
terhadap masa depan dan menyebar cinta," katanya.

Sementara itu, bank Vatikan, yang telah dituduh menutup mata terhadap
tuduhan pencucian uang oleh beberapa pemegang rekening saat ini menjadi
subjek perubahan yang diusung Paus Fransiskus.

Ia juga telah mengeluarkan rincian rekeningnya untuk pertama kali.

Bank, yang dikenal sebagai Lembaga Pekerjaan Agama, melaporkan laba
bersih sebesar 86,6 juta Euro, empat kali lipat dari tahun sebelumnya.

(bbc/bbc)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Penunjuk Arah ke Depan (tentang Paus Fransiskus)

THE TABLET
THE INTERNATIONAL CATHOLIC WEEKLY
Founded in 1840
 
SIGNPOSTS TO THE FUTURE
 
(Panunjuk Arah ke Depan)
 
Belum pernah seorang Paus baru memaparkan di hadapan seluruh umat katolik tentang dirinya sendiri dan tentang harapan-harapannya seperti yang dilakukan oleh Paus Fransiskus ini, dan membiarkan dirinya untuk dinilai kekuatan dan kelemahannya.
 
Ini merupakan salah satu strategi Paus untuk membuat reformasi (reform) dan pembaruan (renewal), ketika Paus menjelaskan secara panjang lebar dalam wawancara dengan editor majalan Jesuit La Civiltà Cattolica yang dipublikasikan minggu lalu secara simultan dalam pelbagai publikasi Jesuit di seluruh dunia dan melalui media on-line.
 
Paus mengajar dengan memberi contoh. Paus mengatakan kepada Pastor Antonio Spadaro SJ bahwa yang pertama harus diperbarui adalah "sikap" (attitude). Reformasi struktural menyusul kemudian, menunggu sampai sikap berubah menjadi baru. Paus sangat terus terang mengenai perubahan sikap yang diperlukan itu. "Para pelayan Injil haruslah orang-orang yang dapat menghangatkan hati umat...Umat Allah membutuhkan pastores (gembala-gembala) bukan klerus yang bertindak sebagai birokrat atau pejabat pemerintah."
 
Hal itu sangat jelas dari pernyataan yang banyak dikutip tentang prioritas Gereja: "Kita tidak bisa menekankan masalah-masalah yang berkaitan dengan abortus, perkawinan homo, dan penggunaan kontrasepsi...Ajaran Gereja mengenai hal-hal itu sudah jelas, dan saya adalah putera Gereja, namun tidak perlu untuk selalu bicara tentang hal-hal itu sepanjang waktu."
 
Tetapi ada banyak bagian umat katolik di dunia – khususnya di Amerika – di mana banyak uskup telah diangkat dengan alasan memiliki keutamaan dalam membela hal-hal itu, dan mereka menempatkan issue-issue tersebut dalam pusat pewartaan mereka dan dalam dialog dengan pemerintah. Dengan singkat dapat dikatakan, Paus Fransiskus telah menekan tombol reset (Francis, in a phrase, has pressed the reset button).
 
Dan hasilnya ialah bahwa strategi itu mengakibatkan seluruh generasi pemimpin katolik di banyak tempat di dunia ini menjadi obsolete (kedaluwarsa/tidak berguna) – dan generasi para pemimpin itu terkenal karena keengganan mereka untuk mengambil resiko demi kesetiaan mereka untuk mengikuti garis Vatikan. Sungguh, barangkali tidak akan ada lagi garis semacam itu di masa depan.
 
Paus menegaskan berulang kali dalam interview itu bahwa ia menginginkan devaluasi kekuasaan secara substansial mulai dari pusat Gereja, dan bahwa ajaran Gereja tidak boleh lagi dirumuskan tanpa memperhitungkan konteksnya, yang berarti harus memperhitungkan situasi personal dan budaya lokal ( and that teaching should no longer be formulated without regard to its context, which must mean personal circumstances and local culture)
 
Sebagai Jesuit yang terbiasa dengan "latihan rohani" discerment adalah sangat penting bagi Paus, dan discernment itu menuntut perlunya konsultasi luas. Sebagai Paus yang memiliki spiritualitas Ignatian, ia melihat seluruh dunia bukan sebagai hal jahat (hostile), seolah-olah menjadi musuh yang membahayakan iman dan terhadap dunia itu iman katolik harus dilindungi.
 
 Paus mengatakan, "Dalam usaha untuk mencari dan berjumpa dengan Allah di dalam segala-sesuatu, masih ada wilayah ketidakpastian...Kita harus masuk ke dalam pengembaraan/petualangan itu (the adventure) pencarian untuk menjumpai Allah,  atau lebih tepat: kita perlu membiarkan Allah mencari dan menemukan kita."
 
Penegasan Paus itu bukan infallibilis ( tak dapat sesat). Paus mau menegaskan bahwa untuk mengakui adanya suatu perubahan internal dalam kultur katolik, suatu spiritualitas baru, sungguh diperlukan suaru reformasi struktural, jika pembaruan itu akan efektif dan tahan lama.
 
Secara historis sulitnya perubahan itu menjelaskan mengapa reformasi yang digulirkan oleh Konsili Vatikan II segera dihadang (stymied) oleh bentuk baru kekuasaan Paus disebabkan oleh kepanikan bahwa segala-sesuatu akan berubah secara lepas kendali (kebablasan).
 
Prioritas pada perubahan sikap itu mungkin menjelaskan mengapa Paus tidak memilih topik dalam interview itu mengenai tema-tema yang begitu mendesak dalam reformasi Gereja, seperti misalnya perlunya review dan revisi independent tentang prosedur Vatikan mengenai perlindungan anak baik menyangkut klerus yang dianggap bertanggungjawab, maupun bagaimana penanganannya menyangkut kasus-kasus yang terjadi di mana saja.
 
Atau tentang ajaran-ajaran Gereja atau tentang korupsi di Vatikan. Masalah-masalah itu tetap ada di sana (They are still there). Jelaskah bahwa diperlukan konsultasi lebih luas dan discerment lebih mendalam sebelum Paus melaksanakan pembaruan menyangkut masalah-masalah itu.
 

Namun tanda-tanda unik yang menyiratkan pikiran Paus telah membangkitkan kepercayaan bahwa Paus tahu apa yang sedang ia lakukan, dan bahwa Injil ada di dalam pusat pembaruan itu. Tetapi apakah para kardinal mengerti apa yang akan mereka kerjakan ketika mereka ditunjuk oleh Paus secara mengejutkan enam bulan lalu. Pertanyaan itu ditanyakan oleh para kardinal itu sendiri kepada diri mereka masing-masing.

Sumber: milis Mitra Hukum
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 28 September 2013

Tahun Iman, Pesan Sri Paus: “Katekis bukanlah sebuah gelar, tetapi suatu sikap”

Dalam Kongres Katekis Internasional (26-28 Sept): "Jadilah seorang Katekis, dan bukan bekerja sebagai Katekis."

Sumber: http://www.pondokrenungan.com

Tanggal 27 September kemarin, sebuah pesta besar terjadi bagi para Katekis yang berkumpul di sekeliling Paus Fransiskus untuk merayakan Tahun Iman. Di dalam Aula Paolo VI, Sri Paus berbicara dengan gaya yang kekeluargaan dan secara langsung tentang "menjadi" Katekis, yang melibatkan hidup, dalam membantu anak-anak dan orang dewasa untuk mengenal dan mencintai Tuhan. Dan Katekis yang pertama adalah justru Sri Paus sendiri yang telah mengawali pesan-nya dengan sebuah katekismus dasar. "Gereja tidak tumbuh berkembang karena proselitisme melainkan karena kesaksian", demikian kata Sri Paus mengutip Benediktus XVI dan Santo Fransiskus dari Assisi. Lalu berkata: "Saya akan bicara tentang tiga hal seperti yang biasa dilakukan imam-imam Yesuit lansia!"

Kata Paus: "Untuk menjadi seorang Katekis yang baik, diperlukan keakraban dengan Tuhan. Hal yang pertama, bagi seorang murid, adalah tinggal bersama Sang Guru, mendengarkan Dia dan belajar daripada-Nya. Dan ini berlaku selamanya, ini adalah sebuah perjalanan yang berlangsung sepanjang hidup!"

Kemudian Sri Paus menceritakan pengalamannya: "Bagi saya, contohnya, adalah hal yang sangat penting untuk tinggal di hadapan Tabernakel; ini adalah sebuah hidup dengan kehadiran Tuhan, dan membiarkan diriku untuk dipandang-Nya. Dan ini menghangatkan hati, menyalakan api persahabatan dengan-Nya, membuatmu merasakan bahwa IA sungguh memandangmu, IA dekat denganmu dan mengasihimu." Kemudian lanjutnya, "Jika kamu merasa lelah berdiam, ridurla di hadapan Tabernakel. Tuhan tetap memandangmu. Ini sangat penting, jika kita yakin bahwa Tuhan memandang kita."

Tentu saja ini bukan hal yang mudah bagi semua orang terutama yang telah berkeluarga untuk menemukan waktu sejenak tetapi "yang penting adalah menemukan cara yang tepat untuk tinggal bersama Tuhan; dan ini dapat dilakukan, dan memungkinkan di dalam setiap tahap dalam hidup."

Sri Paus juga memberikan contoh tentang seseorang yang telah belajar dan lulus menjadi Katekis, lantas dengan riang-gembira berseru: "Saya mendapat gelar Katekis!". Tetapi Paus Fransiskus berkata: "Ini tidak penting. Katekis bukanlah sebuah gelar, melainkan suatu sikap."

Ia juga berbicara tentang "karunia Iman" dari mereka yang tidak memilikinya, berkata: "biarkanlah dirimu dipandang oleh Tuhan."

Pertanyaan pertama tentang latihan pemeriksaan batin yang diajukan Paus: "bagaimana saya menjalankan "tinggal" dengan Yesus? Saya sering kali berdiam dalam kehadiran_nya, di dalam keheningan, membiarkan diriku dipandang oleh-Nya? Membiarkan api-Nya menghangatkan hatiku? Jika di dalam hati kita tidak ada kehangatan Allah, tidak ada kasih-Nya, tidak ada kelembutan-Nya, bagaimanakah kita, yang pendosa ini, mampu menghangatkan hati orang lain?"

Kemudian Sri Paus kembali kepada tema yang penting baginya: keluar dari diri sendiri untuk bertemu dengan orang lain. "Sebuah pengalaman yang indah dan agak berkontradiksi. Mengapa? Karena barang siapa menempatkan Kristus sebagai pusat hidupnya, tidak memusatkan dirinya! Lebih banyak kamu menyatu kepada Yesus dan IA menjadi pusat hidupmu, lebih banyak lagi IA membuatmu keluar dari dirimu sendiri, IA tidak memusatkan dirimu dan membuka dirimu bagi orang lain."

Paus Fransiskus menyebutnya "dinamisme dari kasih" kemudian berbicara tentang jantung-hati seorang Katekis yang "selamanya menghidupkan gerakan 'systole-diastole': persatuan dengan Yesus-pertemuan dengan orang lain. 'Systole-diastole'. Jika tidak ada salah satu dari gerakan ini, jantung akan berhenti berdetak, tidak hidup lagi."

Pertanyaan kedua tentang latihan pemeriksaan batin: "berdetak seperti inikah jantung-hati-ku sebagai Katekis: bersatu dengan Yesus dan bertemu dengan orang lain? Didulang dalam hubunganku dengan Dia, tetapi untuk membawanya kepada orang lain?"

Sebuah karunia, untuk diberikan semuanya, bukanlah suatu bisnis, kata Sri Paus. "Jadilah seorang Katekis dan bukan bekerja sebagai Katekis".  Lalu ia berbicara tentang kreatifitas dari seorang Katekis dan tentang Allah yang tidak "kaku". Allah menerima kita dan memahami kita.

Tema ketiga yang penting bagi Paus: dengan dinamisme ini kita harus pergi sampai ke pinggiran hati manusia. Para Katekis "tidak boleh merasa takut untuk keluar dari skema kita untuk mengikuti Allah, karena Allah pergi lebih jauh lagi, Allah tidak takut terhadap pinggiran-pinggiran kota. Allah selamanya setia, IA kreatif, tidak menutup diri, dan oleh karena itu IA tidak pernah kaku, IA menerima kita, menemui kita, memahami kita. Untuk menjadi setia, untuk menjadi kreatif, perlu tahu cara berubah." Seorang Katekis bukanlah sebuah patung dalam Museum. Ia perlu berubah untuk menyesuaikan diri terhadap keadaan-keadaan di mana ia harus mewartakan Injil, demikian kata Paus. "Ini seperti halnya tinggal di dalam sebuah ruangan tertutup lalu jatuh sakit, tentu saja jika pergi ke jalan-jalan dapat terjadi kecelakaan-kecelakaan, tetapi saya katakan, lebih memilih seribu kali Gereja yang mengalami kecelakaan daripada Gereja yang sakit".  

Dan di dalam bepergian ini Yesus dekat dengan kita, tidak meninggalkan kita sendirian. "Ini – kata Sri Paus kepada para Katekis yang hadir dan antusias – adalah keindahan kita dan kekuatan kita: jika kita pergi, jika kita keluar untuk membawa Injil Tuhan dengan kasih, dengan semangat apostolik yang sejati, dengan keberanian berbicara tentang Kebenaran, IA ikut berjalan bersama kita, IA mendahului kita karena Yesus menantikan kita di dalam hati saudara kita itu, di dalam dagingnya yang terluka, di dalam hidupnya yang tertekan, di dalam jiwanya tanpa iman. Yesus ada di sana, di dalam diri saudara kita itu. IA selalu mendahului kita." Ia mengatakan pula tentang Buenos Aires, tentang anak-anak yang tidak tahu membuat tanda salib, sebuah pinggiran sejati untuk pewartaan.
Kemudian Sri Paus menutup pertemuan dengan para Katekis dengan ungkapan syukur dan dengan harapan "Semoga Bunda Maria mendampingi kalian!"

Mons. Rino Fisichella, Kepala dari Konsili Kepausan untuk Pewartaan Baru menyalami Sri Paus sambil mengingatkan dia bahwa Kongres Katekis terakhir dilakukan 20 tahun yang lalu.

Sri Paus memberikan pengajarannya dengan duduk di sebuah kursi dan meja di pusat Aula.
Hari Minggu, 29 September, Sri Paus akan memimpin Misa Kudus dengan para peserta dari Kongres Katekis Internasional yang telah berziarah ke Makam Santo Petrus di Vatikan, bersama seluruh umat beriman di Lapangan Santo Petrus.
 
(Shirley Hadisandjaja, 28 September 2013, sumber Radio Vatikan)

Powered by Telkomsel BlackBerry®