Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2013

Lambang dari Paus Fransiskus

(Terjemahan oleh: Shirley Hadisandjaja)


PERISAI
Pada bagian-bagian yang penting, Paus Fransiskus telah memutuskan untuk tetap menggunakan bagian depan dari lambangnya, yang dipilih sejak dari pentahbisannya sebagai uskup dan ditandai oleh sebuah kesederhanaan yang jelas.

Di atas Perisai biru ditandai dengan simbol martabat kepausan, sama seperti yang diambil oleh pendahulunya Benediktus XVI (mitra ditempatkan di antara kunci silang dari emas dan perak, yang diikat oleh tali merah). Di bagian atas, berdiri lambang dari Ordo asal Paus, yaitu Serikat Yesus: matahari bersinar dan terbakar dengan huruf merah IHS, monogram dari Kristus. Di atas Huruf H ada salib; pada ujungnya, tiga paku hitam.
Di bagian bawah, ada bintang dan bunga narwastu. Bintang, menurut tradisi heraldik kuno, melambangkan Perawan Maria, Bunda Kristus dan Bunda Gereja;  sedangkan bunga narwastu menunjukkan St. Yosef, pelindung Gereja Universal. Memang dalam tradisi ikonografi Hispanik, St. Yosef digambarkan memegang di tangannya sebuah dahan dari bunga narwastu. Dengan menempatkan gambar-gambar itu di perisai, Sri Paus ingin mengekspresikan pengabdian khusus kepada Santa Perawan Maria dan St. Yosef.

MOTO

Moto dari Bapa Suci Fransiskus diambil dari Homili St. Bede* imam Mulia (Om. 21, CCL 122, 149-151), yang, mengomentari kisah Injil pemanggilan St. Matius menulis: "Vidit ergo lesus publicanum et quia miserando atque eligendo vidit, ait illi Sequere me" (Yesus melihat seorang penagih pajak dan saat Ia menatapnya dengan perasaan kasih dan memilihnya, Ia berkata kepadanya: Ikutlah aku).
Homili ini merupakan penghargaan kepada kemurahan Allah dan diulang dalam Ibadat Harian pada Pesta St. Matius. Memiliki makna tertentu dalam kehidupan dan kenyataan spiritual Sri Paus, pada pesta St. Matius tahun 1953, pemuda Jorge Bergoglio mengalami pada usia 17 tahun, dengan cara yang sangat istimewa, kehadiran penuh kasih Allah dalam hidupnya. Setelah mengaku dosa, ia merasa hatinya tersentuh dan merasa turunnya Rahmat Allah, yang denganmata kasih yang lembut, ia dipanggil kepada hidup beriman, mengikuti teladan St. Ignatius Loyola.

Setelah dipilih sebagai uskup, Yang Mulia Bapa Uskup Bergoglio, dalam kenangan akan peristiwa yang menandai awal konsakrasi totalnya kepada Tuhan dalam GerejaNya, memutuskan untuk memilih, sebagai motto dan cara hidup, pernyataan St. Bede "miserando atque eligendo" (memilih dengan perasaan kasih) yang diinginkannya untuk diulang sebagai lambang kepausan.
Copyright © L'Osservatore Romano
* St. Bede adalah Doktor Gereja Katolik, seorang imam Mulia, biarawan, ahli sejarah dan Orang Kudus Anglosakson, yang hidup di Biara Benediktin St. Petrus dan Paulus di Wearmouth, Inggris. Dante Aligheri, penulis ternama Italia, mengutip dirinya dalam karyanya yang terkenal Divina Commedia.

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Minggu, 17 Februari 2013

Gereja

Minggu, 17 Februari 2013
Jemaat makin tak terlihat di negeri kelahiran Paus Benediktus XVI yang
mengundurkan diri.
Peribadatan lengang. Gereja-gereja jadi gedung menganggur yang harus
dibongkar. Majalah *Der Spiegel* 14 Februari yang lalu mencatat: di Jerman,
selain di wilayah Protestan, juga di Bavaria yang Katolik, misa tak ramai
lagi.
Di Börssum, di Niedersachsen, cuma 5% penduduk yang datang ke misa di
Gereja Santo Bernward tiap Minggu (sementara biaya perawatan mencapai €
134.500). Kesimpulan: gereja yang hanya makan ongkos itu harus dirobohkan.
Lain lagi biara St. Maximin di Trier: jadi tempat olahraga sekolah.
Herz-Jesu-Kirche di Kaltenberg: tempat latihan dansa dan pilates. Di Essen,
ada 83 rumah peribadatan Katolik yang harus diratakan dengan tanah.
Pastor Michael Kemper ingat ia memimpin misa Corpus Christi terakhir di
Duisburg. Dengan sayu ia mengenang bagaimana dulu ia berjalan di bawah
kanopi altar, dengan jubahnya yang berwarna pucat, melewati barisan umat
yang makin muram. "Menutup gereja ini membuat saya sakit," ia berkata.
Tapi barangkali telah tiba suatu tanda, bukan tentang akhir zaman,
melainkan tentang satu "pandangan dunia yang punah, sebuah kebudayaan yang
melenyap", untuk meminjam kata-kata Octavio Paz. Penyair ini berbicara
tentang satu bagian sejarah Meksiko, negerinya, dan bukan tentang nasib
Gereja Katolikâ€"tapi di sana juga, gereja itu kini terasa jadi satu *visión
del mundo* yang sedang kehilangan daya hidup.
Roberto Blancarte, seorang sosiolog dan sejarawan, (dikutip *Latin American
Herald Tribune* 15 Februari) mencatat bahwa lebih dari 1.000 orang di
Meksiko meninggalkan Gereja tiap hari selama dasawarsa terakhir.
Tentu, di tempat lain, di Asia misalnya, Gereja Katolik masih kukuh dan
penuh. Tapi tahun ini di mana-mana seakan-akan ditandai seorang Paus yang
tua dan kelelahan hingga mengundurkan diri. Di abad macam ini, seberapa
kuatkah Gereja sebenarnya? "Paus, berapa batalion dia punya?"
Pada 1944, itu pertanyaan Stalin, seorang komunis yang menganggap agama
hanya takhayul. Agaknya ia hendak mencemooh, atau ia heran, bahwa
negara-negara pemenang Perang Dunia II macam Inggris sangat memperhitungkan
sikap sebuah negeri seluas 44 hektare yang cuma didiami 800 manusia yang
tak punya tentara: Vatikan.
Dengan kata lain, Stalin mungkin tak paham makna "ikonik" kota kecil Italia
itu. Sang pemimpin Kremlin hidup di masa ketika bedil dan batalion
pasukanâ€"yang begitu fisik dan begitu langsung efektifâ€"menentukan
kekuasaan.
Tapi bukan salah dia agaknya. Sejarah posisi Paus adalah sejarah yang rumit
tentang silih-bergantinya yang fisik dengan yang "ikonik".
Pada mulanya adalah sebuah ketegangan. Yesus berpesan bahwa para murid
adalah sesama saudara. Jangan memanggil siapa pun "Rabi" atau "Bapa",
katanya, karena "hanya satu Bapamu, yaitu Bapa yang di Surga". Tapi selama
tiga abad pertama Masehi, ada sekitar seratus aliran kepercayaan
Kristenâ€"dan pelan-pelan diperlukan "bapa" yang mengelola perbedaan.
Perbedaan itu makin kompleks terutama setelah Paulus menyatakan bahwa hukum
Taurat tak memadai. Baginya, ajaran Yesusâ€"yang berakar pada
Yudaismeâ€"terbuka meliputi Yahudi maupun Yunani, budak maupun tuan, pria
ataupun wanita.
Universalitas yang dikumandangkan Paulus (di zaman ini ditirukan bahkan
oleh seorang atheis seperti Alain Badiou) menggugah. Tapi keanekaragaman
yang tercakup bisa membingungkan. Tak jarang aliran yang satu mengutuk
aliran yang lainâ€"satu hal yang juga terjadi dalam agama lain, Islam
ataupun Buddhisme. Apalagi di masa itu belum ada pusat yang menentukan.
Menurut Will Durant dalam *The Story of Civilization,* yang disebut papa
(kemudian jadi *pope,* "paus") adalah tiap uskup di sebuah wilayah. Belum
ada yang berkuasa atas yang lain.
Tapi berangsur-angsur, ada kebutuhan rupanya. Berangsur-angsur, uskup dari
Roma didengar dan dipandang. Roma punya makna "ikonik" sebelum fisik. Di
sanalah Rasul Petrus dulu membangun gereja. Memang tak serta-merta makna
"ikonik" itu efektif. Pada 218, ketika Callistus ditunjuk jadi pemimpin
Gereja Roma, perpecahan terjadi.
Tapi sejarah berpihak kepadanya. Roma, di mana bangunan politik yang kukuh
beberapa abad berdiri, mengajarkan kepada Gereja gabungan antara yang
"ikonik" dan kekuatan fisik: organisasi. Ketika penguasa politik Romawi
merosot peran dan wibawanya, Gereja Roma mengambil alih perannya.
Salah satu momen yang menentukan di abad ke-8, ketika Roma terancam
serangan dari Lombardia dan Charlemagne, raja bangsa Franka,
menyelamatkannya. Di malam Natal 800, sang raja mendapat imbalan: berkah
Tuhan. Ia berlutut di depan Paus Leo III. Di atas kepalanya, uskup Roma itu
memasang mahkota Imperium Eropa Barat.
Tradisi ini berlangsung sampai berabad-abad kemudian. Tapi gabungan yang
"ikonik" dan yang fisik mencapai puncaknya ketika sebuah dokumen palsu
dibuat: di situ dicantumkan bahwa kepada Paus dihibahkan otoritas,
kekayaan, dan wilayah kemaharajaan Roma oleh Raja Konstantin. Bahwa dokumen
palsu tentang hibah itu dibuat di abad ke-8, sekian abad setelah Konstantin
mangkat, menunjukkan: kekuasaan fisik memerlukan sesuatu yang
lainâ€"pengesahan dari masa lalu yang gemilang.
Kekuasaan fisik itu kemudian menciut ketika abad ke-20 yang nasionalistis
datang. Yang tinggal, dan dicoba dikukuhkan, adalah makna "ikonik".
Makna ini dibentuk mithos dan ingatan orang ramai tentang mithos itu. Tapi
ia juga dikekalkan oleh panggilan yang di awal sejarah agama Kristen sangat
kuat: panggilan keadilan dan kebebasan. Ketika panggilan itu mengalami
distorsi, di abad ke-21 tak banyak gembala yang datang lagi.
*Goenawan Mohamad*

Powered by Telkomsel BlackBerry®


















Misa & diskusi pasca-penemuan kerangka wanita dewasa & 2 bayi di Lela, Flores

Sudah tersiar luas di NTT dan berbagai daerah di Indonesia, dan bahkan sudah mendunia, berita ditemukannya kerangka Yosephine Keredok Payong (Ex Suster Mary Grace SSpS) dan kedua bayinya di Lela, Sikka, Flores di taman bunga depan tempat TOR (Tahun Orientasi Rohani) para novis projo yang akan melanjutkan ke Seminari Tinggi Ritapiret dan studi di STFK Ledalero, 10 km dari Maumere, Kabupaten Sikka, NTT pada hari Minggu 27 Januari yang lalu. Si tersangka adalah Romo Herman Jumat Pr yang di sekitar tahun 1998 - 2006 menjadi pembimbing rohani para frater. Menurut informasi, romo ini telah diberhentikan uskup Larantuka tahun lalu dalam tugasnya sebagai imam.
Mary Grace (teman-temannya di Ledalero tetap ingin menggunakan nama ini walaupun saat kejadian ia telah keluar dari tarekat SSpS) adalah sarjana filsafat tamatan STFK Ledalero setelah studi selama 4 tahun di kampus Ledalero. Setelah melepas tudung suster, ia bekerja di Rumah Sakit Lela, menjadi penyuluh rohani bagi pasien. Pada waktu ini terjalin hubungan khusus dengan Rm Herman Jumat (keduanya sama-sama berasal dari Kecamatan Ile Boleng, Adonara, Flores Timur). Tahun 1999 ia hamil dan melahirkan bayi di kamar romo tersebut. Bayi itu meninggal entah secara wajar atau dibunuh dan dikuburkan di lahan depan kamar romo itu. Awal tahun 2001 Mary Grace pindah bekerja pada Yayasan yang bergerak di bidang kesehatan di Larantuka yang dipimpin Rm Frans Amanue Pr. Hubungannya dengan Herman Jumat berlangsung terus. Desember 2001 ia minta berhenti bekerja pada yayasan itu dan pindah ke Lela. Sekitar Maret 2002 ia melahirkan bayi yang kedua dan ternyata bayi itu meninggal dan juga ibunya Mary Grace yang dikuburkan di tempat yang sama dengan tempat dikuburkannya bayi yang pertama.
Akhirnya misteri kehilangan Mary Grace selama 10 tahun terkuak. Kematian ini entah alamiah atau dibunuh sedang diselidiki polisi. Informasi yang beredar tahun 2010 tentang dikuburkannya Mary Grace dan kedua anaknya dari informan kunci akhirnya sampai ke telinga paman (om) Mary Grace bernama Pater Peter Payong SVD pada tahun 2011. Ia menjadi misionaris SVD perintis pertama alumnus Seminari Tinggi Ledalero ke Filipina yang pulang ke tanah air dan tinggal di Biara Simeon di Ledalero karena sakit.

Atas inisiatif Pater Peter Payong akhirnya keluarga melaporkan kasus ini kepada polisi di Kantor Polres Maumere. Berdasarkan informasi ini dan dituntun oleh informan kunci akhirnya ditemukan kerangka tiga anak manusia ini, satu wanita dewasa dan kedua bayinya. Wanita dewasa ini diyakini adalah Yosephine Keredok Payong (ex-suster Mary Grace) dari cincin yang dikenakan sebagai hadiah adiknya dan kawat gigi yang dipasang seorang suster SSpS bertahun silam. Tes DNA telah dilakukan. Kerangka telah diantar untuk dimakamkan secara terhormat di Ile Boleng, Adonara, Flores Timur. Setelah itu, Herman Jumat yang bekerja di sebuah perusahaan di Kalimantan datang ke Maumere menyerahkan diri kepada polisi.
Proses penyidikan polisi terus berjalan dan dalam waktu dekat akan dilakukan rekonstruksi kejadian dan selanjutnya sidang pengadilan. Peristiwa ini diperkirakan mungkin akan menimbulkan kehebohan besar bagi umat Katolik Indonesia umumnya dan umat Katolik NTT khususnya. Jika TVOne atau MetroTV meliput rekonstruksi misalnya bukan tidak mungkin berbagai kalangan non-Katolik, masyarakat Indonesia umumnya dapat saja menjelekkan gereja kita. Perbuatan oknum dalam gereja karena statusnya sebagai imam mungkin membuat jelek citra gereja kita. Nila setitik rusak susu sebelanga. Mungkin kita semua "salah", hirarki tertentu "salah" karena mendiamkan berbagai kasus dan umat tertentu juga mungkin "salah" karena membiarkan kasus-kasus seperti ini tidak dituntaskan karena tidak dilaporkan, tidak melakukan advokasi.

Mungkin ini momen penting bagi refleksi, introspeksi, dan perbaikan sistem pendidikan calon imam di seminari menengah dan seminari tinggi di NTT. Secara internal kami sedang berdiskusi tentang bagaimana mengevaluasi dan mengusulkan perbaikan sistem formasi di seminari-seminari di NTT.

Mungkin ini adalah momen penting bagi gereja NTT (baik hirarki maupun umat) untuk berefleksi, melakukan introspeksi, lalu pembenahan diri dan pemurnian gereja. "Biji sesawi itu harus mati dulu baru bertumbuh subur". Gereja sebagai tubuh mistik Kristus tetap kita imani. Gereja sebagai organisasi di NTT kin mungkin saatnya melakukan metanoia.
Untuk mengenang Mary Grace dan kedua anaknya direncanakan pada hari Minggu tanggal 24 Februari ini akan diadakan misa di Aula Sekolah Marsudirini, Matraman (Suster OSF), Jakarta Pukul 08.30 pagi (dekat Gereja St Yosef Matraman). Selanjutnya akan diadakan diskusi dengan tema "Tragedi Lela, Membongkar Budaya Bisu". Disediakan snack dan makan siang sederhana. Hasil diskusi berupa rekomendasi akan dituangkan dalam sebuah petisi yang akan dikirimkan kepada berbagai pihak seperti uskup Larantuka, Maumere, dan Ende, Praeses Seminari Tinggi Ritapiret, uskup-uskup lain di NTT, KWI, dan pihak-pihak yang relevan. Tim kecil yang dipimpin Robert Bala yang beranggotakan Paul Rahmat, Gerard Bibang, Fidel Harjo, dan kami sendiri akan mengirim surat undangan resmi untuk acara misa dan diskusi ini.
Kami tidak bermaksud berwacana tentang kasus ini di milis kita ini. Mungkin dengan email ini, para sahabat yang belum tahu menjadi tahu. Lebih baik kita tahu duluan dari kalangan masyarakat non-Katolik. Harapan kami adalah mungkin ada anggota milis ini yang merasa amat concerned  terhadap tragedi ini dan ingin berpartisipasi sudi meluangkan waktu untuk mengikuti misa mengenang Mary Grace dan kedua anaknya dan berperan serta dalam diskusi dengan tema tersebut. Direncanakan akan dilakukan misa konselebrasi yang dipimpin oleh Pater Peter Payong SVD, om Mary Grace. Bagi anggota milis yang imam dapat menjadi konselebran dan dapat menghubungi kami pada No. HP 0813 1653 xxxx. Tampaknya ini adalah masalah kejahatan terhadap kemanusiaan, khususnya kejahatan terhadap kaum perempuan dan anak-anak.
Terima kasih atas perhatian para sahabat.
Salam kami,
S Belen
(Sumber: milis pendidikan Katolik)
Powered by Telkomsel BlackBerry®












Selasa, 09 Oktober 2012

Surat Apostolik Pintu kepada Iman (Porta Fidei)

SURAT APOSTOLIK
YANG DITERBITKAN SEBAGAI MOTU PROPRIO
“PINTU KEPADA IMAN”
( Porta Fidei )
DARI SANTO BAPA
BENEDIKTUS  XVI
UNTUK MENCANANGKAN TAHUN IMAN


1. “Pintu kepada Iman” (Kis. 14:27) senantiasa terbuka bagi kita, memasukkan kita ke dalam persekutuan hidup dengan Allah dan memberi tawaran untuk masuk ke dalam Gereja-Nya. Melintasi ambang pintu ini dimungkinkan apabila Sabda Allah diwartakan dan hati manusia membiarkan dirinya dibentuk oleh rakhmat yang senantiasa mampu mengubah. Memasuki pintu gerbang itu berarti memulai suatu perjalanan yang akan berlangsung seumur hidup. Ia mulai dengan baptisan (bdk. Rom. 6:4), dengan mana kita dapat menyebut Allah sebagai Bapa kita, dan perjalanan itu akan berakhir dengan kematian yang memasukkan kita ke kehidupan kekal, buah dari kebangkitan Tuhan Yesus, yang, dengan anugerah Roh Kudus, memang berkehendak menarik semua orang yang percaya kepada-Nya untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya (bdk. Yoh. 17:22). Beriman kepada Tritunggal –Bapa, Putra dan Roh Kudus– adalah percaya kepada Allah yang mahaesa yang adalah kasih (bdk. 1Yoh. 4:8), yaitu: Bapa, yang dalam kepenuhan waktu telah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan kita, yakni Yesus Kristus, yang melalui misteri wafat dan kebangkitan-Nya telah menebus dunia; Roh Kudus, yang membimbing Gereja mengarungi jaman sambil menantikan kedatangan Tuhan yang akan datang kembali dalam kemuliaan.

2. Sejak mulai memangku jabatan sebagai Pengganti Petrus, saya telah berbicara tentang perlunya menemukan kembali perjalanan iman kita itu, agar supaya ia dapat memberikan pencerahan yang lebih jelas atas kegembiraan dan semangat yang senantiasa diperbarui dari perjumpaan kita dengan Kristus. Dalam homili yang saya sampaikan pada Misa pentakhtaan saya sebagai Paus saya mengatakan:“Gereja, secara keseluruhan, bersama dengan semua pastor-pastornya, seperti Kristus, harus bergerakuntuk membimbing umat keluar dari pada gurun, menuju ke tempat kehidupan, ke dalam persahabatan dengan Putra Allah, kepada Dia, Sang Pemberi kehidupan, bahkan kehidupan yang berkelimpahan”.[1] Sering sekali terjadi, bahwa Umat Kristiani lebih menaruh perhatian kepada konsekwensi-konsekwensi sosial, budaya dan politis dari komitmen mereka, karena mereka berpendapat bahwa iman-keprcayaan akan dengan sendirinya menyatakan diri secara kentara di dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal kenyataannya, anggapan sedemikian itu bukan saja tidak bisa diandaikan terjadi dengan sendirinya, tetapi cukup sering bahkan secara terang-terangan diingkari[2]. Sementara di masa lampau sangat mungkin orang dapat mengenal kembali suatu matriks kemasyarakatan yang mempersatukan, yang secara luas diterima sebagai daya tarik kepada isi iman-kepercayaan dan nilai-nilai yang lahir dari sana, tetapi di masa sekarang ini rupanya hal itu tidak terjadi lagi pada kelompok-kelompok masyarakat luas dan itu adalah akibat dari adanya krisis iman yang mendalam yang telah menimpa banyak bangsa.

3. Kita tidak dapat menerima bahwa garam menjadi tawar atau bahwa pelita ditaruh di bawah gantang (lih. Mat. 5:13-16). Orang-orang jaman sekarangpun masih bisa mengalami kebutuhan pergi ke sumur, seperti wanita Smaria, untuk mendengar Yesus mengundang kita untuk percaya kepada-Nya serta menimba dari sumber air hidup yang memancar keluar dari dalam diri-Nya (lih. Yoh. 4:14). Kita harus menemukan kembali cita-rasa sedapnya menyantap sabda Allah, yang dengan setia telah diserah-alihkan kepada Gereja, dan atas roti kehidupan yang telah diserahkan bagi kehidupan para murid-Nya (bdk. Yoh. 6:51). Sungguh, pada jaman inipun ajaran Yesus masih tetap bergema kuat: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 6:27), Bahkan pertanyaan yang kita ajukan sekarangpun masih sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh para pendengar pada waktu itu: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" (Yoh. 6:28). Maka percaya kepada Yesus Kristus adalah jalan untuk sampai dengan pasti kepada keselamatan.

4. Atas dasar itu semua maka saya telah mengambil keputusan untuk mencanangkan suatu Tahun Iman. Tahun itu akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, yakni hari ulang tahun yang ke limapuluh dari pembukaan Konsili Vatikan II, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, pada tanggal 24 November 2013. Tanggal yang mengawali Tahun Iman itu, 11 Oktober 2012, merupakan juga hari ulang tahun yang ke duapuluh dari publikasi buku Katekismus Gereja Katolik,sebuah naskah yang sudah dipromulgasikan oleh pendahulu saya, Beato Yoahnes Paulus II[3], dengan maksud untuk memberikan kepada segenap umat beriman gambaran tentang kekuatan dan keindahan iman-kepercayaan kita. Dokumen tersebut, sebagai buah yang otentik dari Konsili Vatikan II, telah diminta oleh Synode Luar-biasa Para Uskup pada tahun 1985 untuk dijadikan sarana-bantu bagi pelayanan Katekese[4] dan telah diterbitkan dalam kerja-sama dengan semua Uskup dalam Gereja Katolik.  Tambahan pula, tema dari Sidang Umum Synode Para Uskup yang telah saya undang untuk bulan Oktber 2012 yang akan datang ini adalah: “Evangelisasi Baru utuk Mentransmisikan Iman Kristiani”. Hal itu akan menjadi kesempatan yang baik untuk untuk menghantar masuk segenap Gereja ke dalam suasana refleksi yang khusus dan menemukan kembali iman-kepercayaannya. Inibukan yang pertama kalinya Gereja dipanggil untu merayakan suatu Tahun Iman. Pendahulu saya yang Mulia Hamba Tuhan Paus Paulus VI pernah memaklumkan itu pada tahun 1976, untuk memperingati kemartiran santo Petrus dan Santo Paulus pada peringatan semblan belas abad tindakan yang paling luhur dari kesaksian mereka. Menurut hemat Beliau iulah saat yang paling mulia bagi seluruh Gereja untuk untuk menyatakan “suatu pengakuan yang otentik dan tulus dari iman-kepercayaan yang sama”. Apalagi beliau menghendaki bahwa hal itu masih dikuatkan lagi dengan cara “baik pribadi maupun bersama-sama, baik secara bebas namun bertanggngjawab, baik secara lahir maupun secara batin, dengan rendah hati dan berterus-terang”[5]. Beliau berpendapat, bahwa dengan cara demikian seluruh Gereja dapat memulihkan kembali “pemahaman yang tepat atas iman-kepercayaan itu, sehingga dengan demikian juga menguatkannya, memurnikannya, dan mengakuinya”[6]. Perayaan besar-besaran Tahun itu semakin menunjukkan betapa umat memang membutuhkan perayaan semacam itu. Upacara penutupannya dengan Pengakuan Iman Umat Allah[7] dimaksudkan untuk menunjukkan, betapa muatan hakiki iman itu yang selama berabad-abad telah membentuk warisan segenap orang yang percaya itu, perlu ditegaskan, dipahami dan diselidiki lagi secara baru, agar supaya kesaksian iman itu menjadi konsisten dengan hal-ikhwal sejarah semasa yang berbeda sekali dengan yang dari masa lampau

5. Dalam arti tertentu, Yang Mulia Pendahulu saya itu melihat Tahun Iman ini sebagai suatu “konsekwensi dan kebutuhan dari masa pasca konsili”[8], sambil menyadari sepenuhnya tentang kesukaran-kesukaran jaman yang serius, teristimewa yang berkaitan dengan pengakuan iman yang sejati dan penafsirannya yang benar. Menurut hemat sayatiming peluncuran Tahun Iman yang bertepatan dengan ulang tahun ke lima-puluh pembukaan Konsili Vatikan II itu akan memberikan kesempatan yang sangat bagus dalam membantu umat untuk memahami, bahwa naskah dokumen yang telah diwariskan oleh para Bapa Konsili itu, dengan kata-kata Beato Yohanes Paulus II, “sama sekali belum kehilangan nilai dan kecemerlangannya”. Naskah-naskah itu perlu dibaca dengan benar, ditangkap dengan akal budi secara luas dan dicamkan di dalam hati secara mendalam sebagai dokumen yang penting dan mengikat dari Magisterium Gereja sendiri, semuanya di dalam jalur Traidisi Gereja … Saya sendiri merasa lebih berkewajiban untuk menunjukkan kepada Konsili itu sebagai rakhmat agung yang dicurahkan Allah kepada Gereja Abad Keduapuluh itu, di mana kita dapat menemukan penunjuk arah untuk dapat mengarungi abad yang sekarang baru akan mulai itu”[9]. Saya juga ingin menekankan dengan sangat sekali lagi, apa yang sudah saya katakan tentang konsili ini beberapa bulan setelah saya terpilih sebagai Paus Pengganti Petrus: ”Apabila, kita, menafsirkan dan mengimplementasikan Konsili itu dengan bimbingan suatu hermeneutika yang benar, maka Konsili itu bisa dan akan menjadi semakin berdaya bagi pembaharuan Gereja yang senantiasa diperlukan itu”[10].

6. Pembaruan Gereja juga bisa dilaksanakan melalui kesaksian yang diberikan oleh hidup umat beriman: yakni justru melalui cara-mengada mereka di dunia ini, Umat Kristiani dipanggil untuk memancarkan sabda kebenaran yang diwariskan Tuhan kepada kita. Konsili sendiri, dalam Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium, mengatakan ini: “Sedangkan Kristus, yang “suci, tanpa kesalahan, tanpa noda” (Ibr 7:26), tidak mengenal dosa (lih. 2Kor. 5:21), melainkan dating hanya untuk menebus dosa-dosa umat (lih Ibr 2:17), Gereja merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan,serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan. Gereja “dengan mengembara di antara penganiayaan dunia dan hiburan yang diterimanya dari Allah Gereja maju, sambil mewartakan salib dan wafat Tuhanahingga Ia datang (lih 1Kor. 11:26). Tetapi Gereja diteguhkan oleh daya Tuhan yang telah bangkit, untuk dapat mengatasi sengsara dan kesulitannya, baik dari dalam maupun dari luar, dengan kesabaran dan cinta kasih, dan untuk dengan setia mewahyukan misteri Tuhan di dunia, kendati dalam kegelapan, sampai ditampakkan pada akhir Zaman dalam cahaya yang penuh[11]. Dalam perspektif ini maka Tahun Suci itu adalah suatu panggilan kepada pertobatan yang otentik kembali kepada Tuhan, satu-satunya  Juruselamat dunia. Melalui misteri wafat dan kebangkitan-Nya, Allah telah menyatakan di dalam kepenuhannya kasih yang menyelamatkan dan memanggil kita kepada pertobatan hidup melalui pengampunan dosa (lih. Kis. 5:31). Bagi Santo Paulus, kasih ini memasukkan kita ke dalam suatu kehidupan baru: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rom. 6:4). Melalui iman-kepercayaan, hidup yang baru ini membentuk seluruh keberadaan manusiawi kita dari akar-akarnya sesuai dengan keadaan baru sebagai buah kebangkitan. Sejauh manusia dengan bebas bekerja-sama, maka pikiran dan perasaan-perasaannya, mentalitas dan perilakunya sedikit demi sedikit akan dimurnikan dan ditransformasikan, dalam suatu perjalanan yang tidak akan pernah sepenuhnya selesai di dalam hidup ini. “hanya Iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6) akan menjadi kriteria baru bagi pemahaman dan tindakan yang mengubah seluruh hidup manusia (bdk. Rom. 12:2; Kol. 3:9-10; Ef. 4:20-29; 2Kor. 5:17).

7. Kasih Kristus menguasai kita” (2Kor. 5:14): Kasih Kristuslah yang memenuhi hati kita dan mendorong kita unutk berevangelisasi. Sekarang ini, seperti juga dulu, Kristus mengutus kita ke lorong-lorong dunia ini untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa di bumi (bdk, Mat, 28:16). Melalui kasih-Nya, Yesus Kristus menarik kepada diri-Nya orang-orang dari segala keturunan: dalam setiap jaman Dia menghimpun Gereja sambil mempercayakan kepada Gereja itu pewartaan Injil dengan perintah-Nya yang senantiasa baru. Pada jaman sekarangpun dirasa adanya kebutuhan akan komitmen Gereja yang lebih kuat bagi suatu evangelisasi baru, agar supaya orang menemukan kembali kegembiraan dalam percaya dan kegairahan dalam mengkomunikasikan iman itu, Dalam menemukan kembali kasih-Nya itu dari hari ke hari, keseiap-sediaan untuk diutus dari orang beriman ini mendapatkan kekuatan dan kegairahan yang tak akan pernah bisa pudar.  Iman itu bertumbuh apabila ia dihidupi sebagai pengalaman kasih yang sudah diterima, juga bila ia dikomunikasikan sebagai suatu pengalamann rakhmat dan kebahagiaan. Iman itu membuat kita berbuah subur, sebab dia memperluas hati kita dalam harapan dan memampukan kita untuk memberi kesaksian yang juga menghidupkan: memang, iman itu membuka hati dan budi siapa saja yang mendengar dan menjawab undangan Tuhan untuk tetap setia kepada sabda-Nya dan menjadi murid-Nya. Orang yang percaya, demikian Santo Agustinus mengatakannya, “menguatkan dirinya sendiri dengan kepercayaannya itu”[12]. Santo Uskup dari Hippo itu memiliki alasan yang sungguh tepat untuk mengungkapkan dirinya seperti itu, karena sebagaimana kita tahu, hidupnya merupakan suatu pencarian terus-menerus akan keindahan iman-kepercayaan itu sampai saat ketika hatinya menemukan istirahat dalam Allah[13]. Karya tulisnya yang sangat ekstensif, di mana Agustinus memberipenjelasan tentang pentingnya percaya dan dan tentang kebenaran iman, sampai sekarang tetap merupakan warisan dengan kekayaan yang tiada taranya, dan tetap menjadi sarana bantu bagi banyak orang yang mencari Allah untuk menemukan jalan yang benar menuju “pintu kepada iman”.

Karena itu, hanya melalui percaya, iman dapat bertumbuh dan menjadi kuat; tidak ada kemungkinan lain untuk mendapatkan kepastian yang berkaitan dengan kehidupan seseorang, selain dari pada meninggalkan diri sendiri dalam suatucrescendo yang terus-menerus, masuk ke dalam tangan-tangan kasih yang sepertinya terus bertumbuh tanpa henti karena memang bersal dari Allah.

8. Pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin mengundang saudara-saudara saya para Uskup dari se antero dunia untuk bergabung bersma dengan Pengganti Petrus selama masa yang penuh dengan rakhmat spiritual yang dianguerahkan Tuhan kepada kita ini, untuk mengingat anugerah iman yang sangat berharga itu. Kita hendak merayakan Tahun itu secara pantas dan menghasilkan buah. Renungan-renungan tentang iman hendaknya diintensifkan, untuk membantu segenap umat yang beriman kepada Kristus untuk mendapatkan kesadaran yang lebih baik dan secara lebih bersemangat melekatkan diri kepada Kabar Gembira, khususnya ketika sedang terjadi perubahan mendalam seperti yang sedang dialami oleh umat manusia pada saat ini. Kita akan mendapat kesempatan untuk mengakui iman-kepercayaan kita akan Tuhan yang bangkit di gereja-gereja katedral kita dan di dalam gereja-gereja di seluruh dunia; juga di rumah-rumah kita dan di antara kaum keluarga kita, sehingga setiap orang akan merasakan betapa perlunya pemahaman yang lebih baik dan kemudian untuk meneruskannya kepada generasi yang akan datang iman-kepercayaan segala jaman tersebut. Komunitas-komunitas biara seperti juga komunitas-komunitas paroki, dan semua lembaga-lembaga gerejawi, baik yang lama maupun yang baru, semuanya harus menemukan cara untuk, sepanjang Tahun itu, mengakui secara publik Credo kita.

9. Pada tahun ini kita hendak membangkitkan dalam diri setiap orang beriman aspirasi untuk mengakuiiman-keprcayaannya dalam kepenuhannya dan dengan keyakinan yang baru, juga dengan penuh kepercayaan dan harapan. Tahun itu akan menjadi juga sebah kesempatan yang bagus untuk mengintensifkan perayaan iman itu di dalam liturgi, teristimewa di dalam perayaan Ekaristi, yang adalah “puncak ke mana seluruh kegiatan Gereja diarahkan … tetapi juga adalah sumber dari mana seluruh kekuatan Gereja itu …  mengalir”[14]. Pada saat yang sama, kita berdoa juga agar kesaksian hidup umat beriman semakin dapat dipercaya. Untuk menemukan kembali isi iman yang diakui, dirayakan, dihayati dan didoakan[15], dan untuk merenungkan kembali kegiatan iman itu adalah tugas yang setiap umat beriman harus menjadikannya tugasnya sendiri, khususnya selama Tahun Iman ini. Bukan tanpa alasan umat Kristiani pada abad-abad pertama dituntut untuk menghafalkan pengkuan iman-kepercayaannya itu. Bagi mereka hal itu lalu berfungsi sebagai doa mereka setiap hari, agar mereka tidak melupakan komitmen yang telah mereka ikrarkan ketika mereka dibaptis. Dengan kata-kata yang sarat dengan makna, Santo Agustinus berbicara tentang hal ini dalam homili beliau tentangredditio symboli, tentang “penyerah-alihan pengakuan iman”, katanya: “Pengakuan iman dari misteri-misteri kudus yang telah kalian terima secara serentak dan yang pada hari ini telah kalian ucapkan kembali satu demi satu itu, adalah kata-kata di atas mana iman-kepercayaan Bunda Gereja didirikan dengan kokoh, pada landasan yang menetap, yang adalah Kristus, Tuhan sendiri. Kalian telah menerimanya, namun alian harus tetap memeliharanya di dalam akal-budi dan hati-sanubari kalian, kalian harus tetap mengulang-ulangnya di ranjang tempat tidur kalian, tetap mengingat-inganya di pasar-pasar, tidak melupakannya sementara kalian makan-makan, bahkan ketika kalian sedang tidurpun, kalian harus tetap memperhatikannya dengan hati kalian”[16].

10. Di sini saya ingin memberikan suatu garis besar dari sebuah sarana yang dimaksudkan untuk membantu kita memahami secara lebih mendalam, bukan saja isi muatan iman-kepercayaan itu, melainkan juga tindakan yang akan kita pilih untuk mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah dengan cara yang sebebas-bebasnya. Pada kenyataannya memang ada kesatuan yang mendalam antara tindakan dengan mana kita beriman dan muatan isi, kepadanya kita memberikan kesepakatan kita. Santo Paulus membantu kita memasuki kenyataan ini ketika dia menulis: “Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rom. 10:10). Hati itulah yang menunjukkan bahwa tindakan pertama yang membawa seorang percaya adalah anugerah dari Allah dan tindakan rakhmat yang bergiat dan mengubah seseorang dari dalam.

Dalam kaitan ini secara khusus contoh dari Lydia menjadi sangat berarti. Santo Lukas menceriterakan, bahwa ketika berada di Filipi, pada suatu hari Sabbat, Paulus memberitakan Injil kepada beberapa wanita, di antaranya adalah Lydia dan “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis. 16:14). Di dalam ungkapan itu terkandunglah suatu makna yang penting. Santo Lukas mengajarkan, bahwa memahami muatan isi dari yang harus diimani tdaklah mencukupi, apabila hati, yakni tempat kudus yang khas dalam diri seseorang, tidak turut dibuka oleh rakhmat yang membuat mata bisa melihta apa yang ada di bawah permukaan dan mamahami, bahwa yang sedang diberitakan itu adalah Sabda Allah sendiri.

“Pengakuan dengan bibir” itu pada gilirannya menunjukkan, bahwa “beriman” itu mengandung juga pengertian “kesaksian secara publik” serta sebuah komitmen. Seorang Kristiani tidak pernah boleh berpikir bahwa beriman itu adalah urusan pribadi saja. Beriman berarti memilih untuk memihak kepada Allah dan dengan demikian berada dengan Dia juga. “Memihak kepada Dia” ini ke depan menunjuk kepada pemahaman akan alasan-alasan mengapa dia menjadi percaya. Iman-kepercayaan, justru karena dia adalah suatu tindakan yang bebas, juga menuntut pertanggungjawaban social aats apa yang diimaninya. Pada hari Pentakosta Gereja menunjukkan dengan sejelas-jelasnya dimensi publik dari keberimanan ini dan memberitakan dengan tanpa takut iman-keprcayaan seseorang kepada setiap orang. Anugerah Roh Kuduslah yang telah membuat kita siap untuk diutus dan menguatkan kesaksian kita serta menjadikannya terus-terang dan berani.

Pengakuan iman adalah suatu tindakan yang sekaligus bersifat perseorangan sendiri-sendiri, tetapi juga secara berkomunitas bersama-sama. Gerejalah yang sebenarnya pertama-tama menjadi subjek iman-kepercayaan. Di dalam iman-kepercayaan dari komunitas kristiani, setiap pribadi individual menerima baptisan, suatu tanda yang effektif masuknya ke dalam kalangan umat beriman untuk memperoleh keselamatan. Dalam buku Katekismus Gereja Katolik, kita membaca: "Aku percaya", itulah iman Gereja, sebagaimana setiap orang beriman mengakui secara pribadi, terutama pada waktu Pembaptisan. "Kami percaya"  itulah iman Gereja, sebagaimana para Uskup yang berkumpul dalam konsili itu mengakui, atau lebih umum, sebagaimana umat beriman mengakui dalam liturgi. "Aku percaya": demikianlah juga Gereja, ibu kita berbicara, yang menjawab Allah melalui imannya dan yang mengajar kita berkata: "aku percaya", "kami percaya"[17].

Jelas sekali, bahwa pengetahuan akan isi iman-kepercayaan adalah hakiki bagi seseorang untuk dapat memberikan persetujuannya, artinya untuk mengikatkan diri sepenuhnya, dengan segenap akal-budi dan kehendaknya, kepada apa yang ditawarkan oleh Gereja. Pengetahuan akan iman-keprcayaan ini membuka pintu masuk ke dalam kepenuhan misteri karya penyelamtan yang diwahyukan oleh Allah. Persetujuan yang kita berikan itu berarti pula, bahwa ketika kita percaya, kita menerima dengan bebas seluruh misteri iman-kepercayaan, sebab penjamin dari kebenarannya adalah Allah sendiri, yang mewahyukan dirinya sendiri dan mengijinkan kita mengetahui misteri cinta-kasih-Nya [18].

Di pihak lain, kita tidak boleh melupakan, bahwa di dalam konteks budaya kita, ada banyak bangsa, yang meskipun tidak meng-claim memiliki anugerah iman itu, namun secara tulus mereka mencari arti makna yang tertinggi dan kebenaran yang pasti dari hidup dan dunia mereka. Pencarian ini merupakan “pendahuluan” yang otentik kepada iman-kepercayaan, justru karean ia menuntun orang pada jalan yang membawanya ke misteri Allah. Sebenarnya akal-budi manusia mengandung di dalam dirinya tuntutan pada “apa yang selamanya sahih dan langgeng”[19]. Tuntutan ini mengandung suatu panggilan yang menetap, karena terpatri secara tak-terhapuskan di dalam hati manusia, yang membuatnya bergerak mencari Dia yang kita tidak akan mencarinya seandainya Dia sudah tidak lebih dahulu bergerak untuk mendapatkan kita[20]. Pada perjumpaan inilah iman-kepercayaan mengundang kita dan membuka diri kita sepenuh-penuhnya.

11. Untuk sampai pada pemahaman yang sistematik pada isi iman-kepercayaan itu, semua orang dapat menemukannya di dalam buku Katekismus Gereja Katolik, suatu sarana-bantu yang sangat berharga dan taktergantikan. Dokumen itu dalah satu dari buah-buah terpenting Konsili Vatikan Kedua. Dalam Konstitusi Apostolik Fidei Drpositum, yang ditandatangani, bukan hanya karena kebetulan, pada Hari Ulang Tahun yang ke tiga-puluh Pembukaan Konsili Vatikan Kedua. Beato Yohanes Paulus II menulis: ”Katekismus ini akan menjadi suatu kontribusi yang sangat penting bagi karya pembaruan seluruh kehidupan Gereja  Maka saya menyatakan katekismus itu menjadi suatu sarana-bantu yang sah dan legitim bagi persekutuan gerejawi dan menjadi norma yang pasti bagi pengajaran iman”[21].
Dalam arti inilah bahwa Tahun Iman itu harus mengupayakan suatu usaha terpadu untuk menemukan kembali dan untuk mempelajari isi muatan fundamental dair iman-kepercayaan yang sekarang disintesekan secara sistematis dan secara organis di dalam Katekismus Gereja Katolik. Di sinilah, sebenarnya, kita melihat kekayaan ajaran yang telah diterima oleh Gereja, dijaga dan diwartakan sepanjang dua ribu tahun sejarah keberadaannya. Dari Kitab Suci, sampai ke Para Bapa-bapa Gereja, dari para pakar teologi sampai ke para kudus sepanjang segala abad, Katekismus ini memberikan rekaman yang menetap dari banyak cara yang dipergunakan Gereja untuk merenungkan iman itu dan berkembang maju dalam ajaran, dan dengan demikian kepastian bagi para beriman dalam kehidupan beriman mereka.

Dalam strukturnya yang seperti itu Katekismus Gereja Katolik ini mengikuti perkembangan iman-kepercayaan langsung kepada tema-tema besar dalam kehidupan sehari-hari. Di setiap halaman demi halaman, kita temukan, bahwa apa yang disajikan di sini bukanlah teori belaka, akan tetapi sungguh suatu perjumpaan dengan Seorang Pribadi yang hidup di dalam Gereja. Pengakuan iman diikuti oleh penerimaan kehidupan sakramental di mana Kristus hadir, bergiat dan melanjutkan karya-Nya membangun Gereja. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan itu akan kehilangan efikasitasnya, sebab dia akan kehilangan rakhmat yang mendukung kesaksiannya secara Krisriani.Melalui kriterium yang sama, ajaran dari Katekismusini tentang kehidupan moral mendapatkan artinya yang penuh, apabila memang ditempatkan dalam keterikatannya dengan iman-kepercayaan, liturgi dan doa.

12. Maka dari itu dalam Tahun Iman itu nanti,Katekismus Gereja Katolik itu akan dipergunakan sebagai sarana bantu untuk memberikan dukungan yang nyata bagi iman-kepercayaan, terutama bagi mereka yang terkait dengan pembinaan umat kristiani, yang berada dalam saat sangat krusial dalam konteks budaya kita. Untuk maksud itu saya telah mengundang Kongregasi Untuk Ajaran Iman, dalam kesepakatan dengan Dikasteri-dikasteri Takhta Suci yang kompeten, untuk mempersiapkan sebuahNota, yang akan memberikan arahan-arahan kepada umat beriman Gereja dan perseorangan tentang bagaimana harus menghayati Tahun Iman itu secara yang se-efektif dan se-tepat mungkin bagi kepentingan iman-kepercayaan dan pewartaan.

Dalam skala yang lebih besar dari pada di masa lampau, sekarang ini iman dihantam dengan serangkaian pertanyaan yang muncul dari suatu sikap dasar yang sudah berubah, yang, khususnya dewasa ini, bidang kepastian-kepastian rasional diberi pembatasan-pembatasan terhadap penemuan-penemuan ilmiah dan teknologi. Namun demikian, Gereja tidak pernah merasa takut untuk tetap menunjukkan, bahwa tidak mugkin ada pertentangan antara iman dan ilmu yang sejati, sebab keduanya, kendatipun jalur yang ditempuh berbeda, mengarah menuju kepada kebenaran[22].
                                                                           
13. Satu hal yang akan sangat menentukan dalam tahun Iman itu adalah, bila kita menelusuri sejarah iman kita yang sebenarnya ditandai dengan misteri yang takterkatakan dari keterjalinan antara kesucian dan dosa. Sementara yang pertama menyoroti kontribusi besar yang diprestasikan oleh laki-laki atau perempuan bagi pertumbuhan dan perkembangan persekutuan melalui kesaksian hidup mereka, yang kedua harus menantang dari setiap orang  suatu kerja yang tulus dan berlanjut dari pertobatan untuk mengalami belas-kasih Bapa, yang dtawarkan kepada semua orang,

Selama waktu itu kita akan harus tetap memandang Yesus Kristus, “yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr. 12:2): di dalam Dia, semua kekhawatiran dan semua kerinduan hati manusia mendapatkan pemenuhannya. Sukacita dari kasih, jawaban atas drama penderitaan dan kesakitan, kekuatan dari pengampunan di hadapan sebuah penghinaan yang diterima dan kemenangan hidup atas kehampaan kematian: semuanya itu mendapatkan kepenuhannya di dalam misteri inkarnasi-Nya, ketika Dia menjadi manusia, ketika Dia mengambil-bagian di dalam kelemahan manusiawi kita, sehingga semuanya itu ditransformasikan-Nya melalui kekuatan dari kebangkitan-Nya. Di dalam Dia yang telah mati lalu bangkit kembali demi keselamatan kita itu, contoh teladan iman-kepercayaan yang telah menandai dua ribu tahun sejarah keselamatan kita ini mendapatkan pencerahan yang sepenuh-penuhnya.

Dengan iman, Maria menerima kata-kata Malaekat dan percaya kepada pesan bahwa dia akan menjadi Bunda Allah dalam ketaatan dari kesalehannya (bdk. Luk. 1:38). Ketika mengunjungi Elizabet, dia melambungkan madah pujiannya kepada Yang Mahatinggi karena karya ajaib yang telah dikerjakan-Nya di dalam diri mereka yang menaruh kepercayaan kepada-Nya (bdk. Luk. 1:46-55), Dengan sukacita dan kegentaran dai melahirkan anaknya yang tunggal, dengan keperawanannya yang tetap tak ternoda (bdk. Luk.2:6-7). Sambil tetap mempercayai Yusuf, suaminya, ia membawa Yesus ke Mesir untuk menyelamatkan-Nya dari pengejaran Herodes (bdk. Mat, 2:15-17). Dengan kepercayaan yang sama, ia mengikuti Tuhan dalam pewartaan-Nya dan tetap menyertai-Nya sampai ke Golgota (bdk. Yoh. 19:25-27). Dengan iman-kepercayaannya, Maria mengecap buah-buah kebangkitan Yesus dan sambil tetap menyimpan setiap kenangan di dalam hatinya (bdk. Luk. 2:19,51). Ia menyerah-alihkan itu kepada Keduabelas Rasul yang berkumpul di ruang atas untuk menerima Roh Kudus (bdk. Kis, 114-2:1-4).

Dengan iman, para rasul telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Tuhan mereka (bdk. Mat. 10:28). Mereka percaya kepada kata-kata yang diwartakan-Nya tentang Kerajaan Allah yang telah datang dan dipenuhi di dalam diri-Nya (bdk. Luk. 11:20). Mereka hidup dalam persekutuan dengan Yesus yang membina mereka dengan ajaran-Nya, dengan mewariskan kepada mereka suatu peraturan hidup, dengan mana mereka akan dikenal sebagai murid-murid-Nya setelah kematian-Nya (bdk. Yoh. 13:34-35). Dengan iman, mereka pergi ke seluruh dunia, mengikuti perintah-Nya untuk mewartakan Kabar Gembira ke pada semua ciptaan (bdk. Mrk. 16:15) dan dengan tanpa takut mereka mewartakan kepada semua orang sukacita kebangkitan, tentangnya mereka adalah saksi-saksinya yang setia.

Dengan iman, para murid membentuk komunitas yang pertama, yang dihimpun di sekeliling ajaran para rasul, di dalam doa, di dalam perayaan Ekaristi, sambil mempertahankan kepunyaan mereka sebagai milik bersama dan dengan demikian mereka memenuhi kebutuhan saudara-saudara (bdk. Kis. 2:42-47).

Dengan iman, para martir menyerahkan hidup mereka, sambil memberi kesaksian pada kebenaran Injil yang telah mengubah hidup mereka dan membuat mereka mampu mendapatkan anugerah terbesar dari cinta-kasih: yakni pengampunan kepada para penganiaya mereka.

Dengan iman, pria dan wanita telah membaktikan hidup mereka di dalam Kristus, sambil meninggalkan segala sesuatu, untuk dapat hidup dalam ketaatan, kemiskinan dan kemurnian dalam kesederhanaan injili, sebagai tanda nyata dari penantian mereka akan kedatangan Tuhan yang tidak akan tertunda. Dengan iman, tak terbilang banyaknya orang kristiani telah memajukan tindakan bagi keadilan sehingga dengan demikian mereka melaksanakan sabda Tuhan, yang datang untuk mewartakan pembebasan dari semua penindasan dan mewartakan kedatangan suatu tahun penuh kebaikan bagi semua orang (bdk. Luk. 4:18-19).

Dengan iman, sepanjang abad-abad, pria dan wanita dari segala usia, yang namanya tercatat di dalam Kitab Kehidupan (bdk.Why. 7:9; 13:8), telah mengakui keindahan hal mengikuti Tuhan Yesus kemanapun mereka dipanggil untuk memberi kesaksian pada kenyataan, bahwa mereka adalah orang-orang kristiani: di dalam keluarga, di tempat kerja, dalam kehidupan publik, dalam menjalankan kharisma dan pelayanan yang menjadi panggilan hdiup mereka.

Dengan iman, kita juga hidup: sambil menghayati pengakuan kita kepada Tuhan Yesus, yang hadir di dalam hidup kita dan sejarah kita.

14. Tahun Iman itu juga akan menjadi stau kesempatan yang bagus untuk mengintensifkan kesaksian amal-kasih, sebagaimana diingatkan oleh Santo Paulus kepada kita: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (Kor. 13:13).
Dengan kata-kata yang lebih kuat, ‒yang senantiasa telah menempatkan orang Kristiani di bawah kewajiban,‒  Santo Jakobus mengatakan: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak. 2:14-18).

Iman tanpa kasih tidak akan menghasilkan buah, sedang kasih tanpa iman hanya akan merupakan suatu perasaan yang senantiasa berada di bawah kuasa kebimbangan. Iman dan kasih saling membutuhkan satu sama lain, sedemikian sehingga yang satu akan membiarkan yang lain untuk tampil menurut jalurnya sendiri-sendiri. Memang, banyak orang kristiani membaktikan hidupnya dengan kasih bagi mereka yang tersendiri, yang termarginalkan atau yang terkucilkan, sebagiamana juga bagi mereka yang pertama-tama menuntut perhatian kita dan yang paling penting bagi kita untuk dibantu, sebab justru di dalam diri merekalah  nampak cerminan wajah Kristus sendiri. Melalui iman kita dapat mengenal wajah Tuhan yang bangkit di dalam diri mereka yang meminta kasih kita. “Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Kata-kata ini haruslah menjadi peringatan yang tidak boleh dilupakan dan harus menjadi undangan yang menetap bagi kita untuk membalas kasih dengan mana Tuhan telah senantiasa memperhatikan kita. Imanlah yang memampukan kita mengenal Kristus dan kasih-Nyalah yang mendorong kita untuk membantu-Nya kapan saja Dia menjadi sesama yang kita jumpai dalam perjalanan hidup kita. Dikuatkan oleh iman, marilah kita memandang kepada komitmen kita di dunia ini sambiil menantikan “surga baru dan dunia baru, di mana terdapat kebenaran” (2Ptr. 3:13; bdk. Why. 21:1).

15. Ketika sampai pada akhir hidupnya, Santo Paulus meminta Timotius muridnya untuk “mengejar iman” (lih. 2Tim. 2:22) dengan kesetiaan yang sama seperti ketika ia masih muda (bdk. 2Tim. 3:15). Kita mendengar undangan ini ditujukan juga kepada masing-masing kita, supaya jangan ada di antara kita yang menjadi malas di dalam iman. Iman yang menjadi pendamping seumur hidup inilah yang membuat kita mampu untuk memahami, setiap kali secara baru, karya-karya ajaib Tuhan  bagi kita. Sambil senantiasa peka terhadap tanda-tanda jaman yang terhimpun di dalam sejarah kita di masa sekarang ini, iman itu membuat masing-masing kita sendiri menjadi tanda dari kehadiran Tuhan yang bangkit di dunia kita ini. Apa yang secara khusus dibutuhkan oleh dunia kita sekarang ini adalah kesaksian yang dapat dipercaya dari orang-orang yang mendapatkan pencerahan di dalam budi dan hatinya oleh sabda Tuhan dan kemudian mampu membuka hati dan budi bagi banyak orang lain untuk merindukan Allah dan hidup yang sejati, hidup yang kekal abadi.

“Supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan” (2Tes. 3:1): semoga Tahun Iman ini membuat hubungan kita dengan Krsitus, Tuhan, semakin bertambah kuat, karena hanya di dalam Dialah ada kepastian untuk memandang masa depan dan ada jaminan dari kasih yang sejati dan lestari. Semoga kata-kata Santo Petrus ini akan dapat memberikan seberkas pencahayaan yang terakhir atas iman ini: “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr. 1:6-9) Hidup umat kristiani mengenal baik pengalaman sukacita maupun pengalaman penderitaan. Betapa banyak orang-orang kudus yang hidup di dalam kesunyian. Betapa banyak umat beriman, juga sampai pada hari ini, dicoai oleh berdiamnya Allah, sementara mereka lebih merindukan mendengar suara-Nya yang menghibur. Percobaan-percobaan hidup, sementara mereka memang membantu kita untuk memahami misteri salib dan turut mengambil-bagian dalam penderitaan Kristus (bdk. Kol. 1:24), menjadi juga suatu pendahuluan kepada sukacita dan harapan ke mana iman juga mengarahkan: “jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10). Kita percaya dengan kepastian yang kokoh bahwa Tuhan Yesus telah mengalahkan kejahatan dan kematian. Dengan kepercyaan yang pasti ini kita mempercayakan diri kita kepada-Nya: Dia, yang hadir di tengah-tengah kita, mengalahkan kekuatan si jahat itu (bdk. Luk. 11:20) dan Gereja, persekutan yang nampak dari belas-kasih-Nya, tinggal di dalam Dia sebagai suatu tanda dari rekonsiliasi yang definitif dengan Bapa.

Marilah kita mempercayakan saat rakhmat ini kepada Bunda Allah, yang diwartakan sebagai yang “berbahagialah ia, yang telah percaya“ (Luk. 1:45)

Dikeluarkan di Roma, dari Basilika Santo Petrus, pada tanggal 11 Oktober 2011, tahun kepausan saya yang ke tujuh.


BENEDIKTUS XVI, PAUS



[1] Homili pada awal menjabat sebagai Uskup Roma dalam pelayanan sebagai pengganti Petrus (24 April 2005):AAS 97 (2005), 710.
[2]Lih. Benedictus XVI, Homili dalam Misa “Terreiro do Paço” di Lisabon, (11 Mai 2010); Insegnamenti VI: 1 (2010), 673.
[3] Lih. Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 113-118.

[4] Lih. Laporan terakhir Sinode Luar Biasa II Para Uskup (7 Desember 1985), II, B, a, 4 in Enchiridion Vaticanum, ix, n. 1797.
[5] Paulus VI, Ekshortasi Apostolik Petrum et Paulum Apostolos pada perayaan XIX abad kemartiran St Petrus dan Paulus (22 Februari 1967): AAS 59 (1967), 196.
[6] Ibid., 198.
[7] Paulus VI, Credo Umat Allah, Homilidalam Misa pada perayaan XIX abad kemartiran St Petrus dan Paulus pada penutupan “Tahun Iman” (30 Juni 1968): AAS60 (1968), 433-445.
[8] PaulusVI,  Audiensi Umum  (14 Juni 1967): Insegnamenti V (1967), 801.
[9] Joannes  Paulus II, Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte (6 Januari 2001), 57: AAS 93 (2001), 308
[10]  Sambutan kepada Curia Romana, (22 Desember 2005): AAS 98 (2006), 52.
[11] Konsili Ekumenis Vatikan II,  Konstiotusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 8.
[12] De Utilitate Credendi, I:2.
[13] Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Lityurgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10.
[14] KOnsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10.
[15] Lih.. Joannes Paulus IIKonstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 116.
[16] Sermo 215:1.
[17]Katekismus Gereja Katolik, 167.
[18]  Lih.Konsili ekumenis Vatikan I, Konstitusi Dogmatis tentang Iman Katolik,Dei Filius, Bab. III: DS 3008-3009: Konsili ekumenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi Dei Verbum, 5.
[19] Benediktus XVI, Sambutan di  Collège des Bernardins, Paris (12 September 2008): AAS100 (2008), 722.

[20] Lih.. Santo Augustinus, Confessions, XIII:1.
[21] Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 115 dan 117.

[22] Lih.  Joannes Paulus II, Ensiklik Fides et Ratio (14 September 1998), 34, 106: AAS 91 (1999), 31-32, 86-87.
(sumber: dokumengerejakatolik.blogspot.com)