Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Selasa, 09 Oktober 2012

Surat Apostolik Pintu kepada Iman (Porta Fidei)

SURAT APOSTOLIK
YANG DITERBITKAN SEBAGAI MOTU PROPRIO
“PINTU KEPADA IMAN”
( Porta Fidei )
DARI SANTO BAPA
BENEDIKTUS  XVI
UNTUK MENCANANGKAN TAHUN IMAN


1. “Pintu kepada Iman” (Kis. 14:27) senantiasa terbuka bagi kita, memasukkan kita ke dalam persekutuan hidup dengan Allah dan memberi tawaran untuk masuk ke dalam Gereja-Nya. Melintasi ambang pintu ini dimungkinkan apabila Sabda Allah diwartakan dan hati manusia membiarkan dirinya dibentuk oleh rakhmat yang senantiasa mampu mengubah. Memasuki pintu gerbang itu berarti memulai suatu perjalanan yang akan berlangsung seumur hidup. Ia mulai dengan baptisan (bdk. Rom. 6:4), dengan mana kita dapat menyebut Allah sebagai Bapa kita, dan perjalanan itu akan berakhir dengan kematian yang memasukkan kita ke kehidupan kekal, buah dari kebangkitan Tuhan Yesus, yang, dengan anugerah Roh Kudus, memang berkehendak menarik semua orang yang percaya kepada-Nya untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya (bdk. Yoh. 17:22). Beriman kepada Tritunggal –Bapa, Putra dan Roh Kudus– adalah percaya kepada Allah yang mahaesa yang adalah kasih (bdk. 1Yoh. 4:8), yaitu: Bapa, yang dalam kepenuhan waktu telah mengutus Putra-Nya untuk menyelamatkan kita, yakni Yesus Kristus, yang melalui misteri wafat dan kebangkitan-Nya telah menebus dunia; Roh Kudus, yang membimbing Gereja mengarungi jaman sambil menantikan kedatangan Tuhan yang akan datang kembali dalam kemuliaan.

2. Sejak mulai memangku jabatan sebagai Pengganti Petrus, saya telah berbicara tentang perlunya menemukan kembali perjalanan iman kita itu, agar supaya ia dapat memberikan pencerahan yang lebih jelas atas kegembiraan dan semangat yang senantiasa diperbarui dari perjumpaan kita dengan Kristus. Dalam homili yang saya sampaikan pada Misa pentakhtaan saya sebagai Paus saya mengatakan:“Gereja, secara keseluruhan, bersama dengan semua pastor-pastornya, seperti Kristus, harus bergerakuntuk membimbing umat keluar dari pada gurun, menuju ke tempat kehidupan, ke dalam persahabatan dengan Putra Allah, kepada Dia, Sang Pemberi kehidupan, bahkan kehidupan yang berkelimpahan”.[1] Sering sekali terjadi, bahwa Umat Kristiani lebih menaruh perhatian kepada konsekwensi-konsekwensi sosial, budaya dan politis dari komitmen mereka, karena mereka berpendapat bahwa iman-keprcayaan akan dengan sendirinya menyatakan diri secara kentara di dalam kehidupan bermasyarakat. Padahal kenyataannya, anggapan sedemikian itu bukan saja tidak bisa diandaikan terjadi dengan sendirinya, tetapi cukup sering bahkan secara terang-terangan diingkari[2]. Sementara di masa lampau sangat mungkin orang dapat mengenal kembali suatu matriks kemasyarakatan yang mempersatukan, yang secara luas diterima sebagai daya tarik kepada isi iman-kepercayaan dan nilai-nilai yang lahir dari sana, tetapi di masa sekarang ini rupanya hal itu tidak terjadi lagi pada kelompok-kelompok masyarakat luas dan itu adalah akibat dari adanya krisis iman yang mendalam yang telah menimpa banyak bangsa.

3. Kita tidak dapat menerima bahwa garam menjadi tawar atau bahwa pelita ditaruh di bawah gantang (lih. Mat. 5:13-16). Orang-orang jaman sekarangpun masih bisa mengalami kebutuhan pergi ke sumur, seperti wanita Smaria, untuk mendengar Yesus mengundang kita untuk percaya kepada-Nya serta menimba dari sumber air hidup yang memancar keluar dari dalam diri-Nya (lih. Yoh. 4:14). Kita harus menemukan kembali cita-rasa sedapnya menyantap sabda Allah, yang dengan setia telah diserah-alihkan kepada Gereja, dan atas roti kehidupan yang telah diserahkan bagi kehidupan para murid-Nya (bdk. Yoh. 6:51). Sungguh, pada jaman inipun ajaran Yesus masih tetap bergema kuat: “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal” (Yoh. 6:27), Bahkan pertanyaan yang kita ajukan sekarangpun masih sama dengan pertanyaan yang diajukan oleh para pendengar pada waktu itu: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" (Yoh. 6:28). Maka percaya kepada Yesus Kristus adalah jalan untuk sampai dengan pasti kepada keselamatan.

4. Atas dasar itu semua maka saya telah mengambil keputusan untuk mencanangkan suatu Tahun Iman. Tahun itu akan dimulai pada tanggal 11 Oktober 2012, yakni hari ulang tahun yang ke limapuluh dari pembukaan Konsili Vatikan II, dan akan ditutup pada Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam, pada tanggal 24 November 2013. Tanggal yang mengawali Tahun Iman itu, 11 Oktober 2012, merupakan juga hari ulang tahun yang ke duapuluh dari publikasi buku Katekismus Gereja Katolik,sebuah naskah yang sudah dipromulgasikan oleh pendahulu saya, Beato Yoahnes Paulus II[3], dengan maksud untuk memberikan kepada segenap umat beriman gambaran tentang kekuatan dan keindahan iman-kepercayaan kita. Dokumen tersebut, sebagai buah yang otentik dari Konsili Vatikan II, telah diminta oleh Synode Luar-biasa Para Uskup pada tahun 1985 untuk dijadikan sarana-bantu bagi pelayanan Katekese[4] dan telah diterbitkan dalam kerja-sama dengan semua Uskup dalam Gereja Katolik.  Tambahan pula, tema dari Sidang Umum Synode Para Uskup yang telah saya undang untuk bulan Oktber 2012 yang akan datang ini adalah: “Evangelisasi Baru utuk Mentransmisikan Iman Kristiani”. Hal itu akan menjadi kesempatan yang baik untuk untuk menghantar masuk segenap Gereja ke dalam suasana refleksi yang khusus dan menemukan kembali iman-kepercayaannya. Inibukan yang pertama kalinya Gereja dipanggil untu merayakan suatu Tahun Iman. Pendahulu saya yang Mulia Hamba Tuhan Paus Paulus VI pernah memaklumkan itu pada tahun 1976, untuk memperingati kemartiran santo Petrus dan Santo Paulus pada peringatan semblan belas abad tindakan yang paling luhur dari kesaksian mereka. Menurut hemat Beliau iulah saat yang paling mulia bagi seluruh Gereja untuk untuk menyatakan “suatu pengakuan yang otentik dan tulus dari iman-kepercayaan yang sama”. Apalagi beliau menghendaki bahwa hal itu masih dikuatkan lagi dengan cara “baik pribadi maupun bersama-sama, baik secara bebas namun bertanggngjawab, baik secara lahir maupun secara batin, dengan rendah hati dan berterus-terang”[5]. Beliau berpendapat, bahwa dengan cara demikian seluruh Gereja dapat memulihkan kembali “pemahaman yang tepat atas iman-kepercayaan itu, sehingga dengan demikian juga menguatkannya, memurnikannya, dan mengakuinya”[6]. Perayaan besar-besaran Tahun itu semakin menunjukkan betapa umat memang membutuhkan perayaan semacam itu. Upacara penutupannya dengan Pengakuan Iman Umat Allah[7] dimaksudkan untuk menunjukkan, betapa muatan hakiki iman itu yang selama berabad-abad telah membentuk warisan segenap orang yang percaya itu, perlu ditegaskan, dipahami dan diselidiki lagi secara baru, agar supaya kesaksian iman itu menjadi konsisten dengan hal-ikhwal sejarah semasa yang berbeda sekali dengan yang dari masa lampau

5. Dalam arti tertentu, Yang Mulia Pendahulu saya itu melihat Tahun Iman ini sebagai suatu “konsekwensi dan kebutuhan dari masa pasca konsili”[8], sambil menyadari sepenuhnya tentang kesukaran-kesukaran jaman yang serius, teristimewa yang berkaitan dengan pengakuan iman yang sejati dan penafsirannya yang benar. Menurut hemat sayatiming peluncuran Tahun Iman yang bertepatan dengan ulang tahun ke lima-puluh pembukaan Konsili Vatikan II itu akan memberikan kesempatan yang sangat bagus dalam membantu umat untuk memahami, bahwa naskah dokumen yang telah diwariskan oleh para Bapa Konsili itu, dengan kata-kata Beato Yohanes Paulus II, “sama sekali belum kehilangan nilai dan kecemerlangannya”. Naskah-naskah itu perlu dibaca dengan benar, ditangkap dengan akal budi secara luas dan dicamkan di dalam hati secara mendalam sebagai dokumen yang penting dan mengikat dari Magisterium Gereja sendiri, semuanya di dalam jalur Traidisi Gereja … Saya sendiri merasa lebih berkewajiban untuk menunjukkan kepada Konsili itu sebagai rakhmat agung yang dicurahkan Allah kepada Gereja Abad Keduapuluh itu, di mana kita dapat menemukan penunjuk arah untuk dapat mengarungi abad yang sekarang baru akan mulai itu”[9]. Saya juga ingin menekankan dengan sangat sekali lagi, apa yang sudah saya katakan tentang konsili ini beberapa bulan setelah saya terpilih sebagai Paus Pengganti Petrus: ”Apabila, kita, menafsirkan dan mengimplementasikan Konsili itu dengan bimbingan suatu hermeneutika yang benar, maka Konsili itu bisa dan akan menjadi semakin berdaya bagi pembaharuan Gereja yang senantiasa diperlukan itu”[10].

6. Pembaruan Gereja juga bisa dilaksanakan melalui kesaksian yang diberikan oleh hidup umat beriman: yakni justru melalui cara-mengada mereka di dunia ini, Umat Kristiani dipanggil untuk memancarkan sabda kebenaran yang diwariskan Tuhan kepada kita. Konsili sendiri, dalam Konstitusi Dogmatik Lumen Gentium, mengatakan ini: “Sedangkan Kristus, yang “suci, tanpa kesalahan, tanpa noda” (Ibr 7:26), tidak mengenal dosa (lih. 2Kor. 5:21), melainkan dating hanya untuk menebus dosa-dosa umat (lih Ibr 2:17), Gereja merangkum pendosa-pendosa dalam pangkuannya sendiri. Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan,serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan. Gereja “dengan mengembara di antara penganiayaan dunia dan hiburan yang diterimanya dari Allah Gereja maju, sambil mewartakan salib dan wafat Tuhanahingga Ia datang (lih 1Kor. 11:26). Tetapi Gereja diteguhkan oleh daya Tuhan yang telah bangkit, untuk dapat mengatasi sengsara dan kesulitannya, baik dari dalam maupun dari luar, dengan kesabaran dan cinta kasih, dan untuk dengan setia mewahyukan misteri Tuhan di dunia, kendati dalam kegelapan, sampai ditampakkan pada akhir Zaman dalam cahaya yang penuh[11]. Dalam perspektif ini maka Tahun Suci itu adalah suatu panggilan kepada pertobatan yang otentik kembali kepada Tuhan, satu-satunya  Juruselamat dunia. Melalui misteri wafat dan kebangkitan-Nya, Allah telah menyatakan di dalam kepenuhannya kasih yang menyelamatkan dan memanggil kita kepada pertobatan hidup melalui pengampunan dosa (lih. Kis. 5:31). Bagi Santo Paulus, kasih ini memasukkan kita ke dalam suatu kehidupan baru: “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rom. 6:4). Melalui iman-kepercayaan, hidup yang baru ini membentuk seluruh keberadaan manusiawi kita dari akar-akarnya sesuai dengan keadaan baru sebagai buah kebangkitan. Sejauh manusia dengan bebas bekerja-sama, maka pikiran dan perasaan-perasaannya, mentalitas dan perilakunya sedikit demi sedikit akan dimurnikan dan ditransformasikan, dalam suatu perjalanan yang tidak akan pernah sepenuhnya selesai di dalam hidup ini. “hanya Iman yang bekerja oleh kasih” (Gal. 5:6) akan menjadi kriteria baru bagi pemahaman dan tindakan yang mengubah seluruh hidup manusia (bdk. Rom. 12:2; Kol. 3:9-10; Ef. 4:20-29; 2Kor. 5:17).

7. Kasih Kristus menguasai kita” (2Kor. 5:14): Kasih Kristuslah yang memenuhi hati kita dan mendorong kita unutk berevangelisasi. Sekarang ini, seperti juga dulu, Kristus mengutus kita ke lorong-lorong dunia ini untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa di bumi (bdk, Mat, 28:16). Melalui kasih-Nya, Yesus Kristus menarik kepada diri-Nya orang-orang dari segala keturunan: dalam setiap jaman Dia menghimpun Gereja sambil mempercayakan kepada Gereja itu pewartaan Injil dengan perintah-Nya yang senantiasa baru. Pada jaman sekarangpun dirasa adanya kebutuhan akan komitmen Gereja yang lebih kuat bagi suatu evangelisasi baru, agar supaya orang menemukan kembali kegembiraan dalam percaya dan kegairahan dalam mengkomunikasikan iman itu, Dalam menemukan kembali kasih-Nya itu dari hari ke hari, keseiap-sediaan untuk diutus dari orang beriman ini mendapatkan kekuatan dan kegairahan yang tak akan pernah bisa pudar.  Iman itu bertumbuh apabila ia dihidupi sebagai pengalaman kasih yang sudah diterima, juga bila ia dikomunikasikan sebagai suatu pengalamann rakhmat dan kebahagiaan. Iman itu membuat kita berbuah subur, sebab dia memperluas hati kita dalam harapan dan memampukan kita untuk memberi kesaksian yang juga menghidupkan: memang, iman itu membuka hati dan budi siapa saja yang mendengar dan menjawab undangan Tuhan untuk tetap setia kepada sabda-Nya dan menjadi murid-Nya. Orang yang percaya, demikian Santo Agustinus mengatakannya, “menguatkan dirinya sendiri dengan kepercayaannya itu”[12]. Santo Uskup dari Hippo itu memiliki alasan yang sungguh tepat untuk mengungkapkan dirinya seperti itu, karena sebagaimana kita tahu, hidupnya merupakan suatu pencarian terus-menerus akan keindahan iman-kepercayaan itu sampai saat ketika hatinya menemukan istirahat dalam Allah[13]. Karya tulisnya yang sangat ekstensif, di mana Agustinus memberipenjelasan tentang pentingnya percaya dan dan tentang kebenaran iman, sampai sekarang tetap merupakan warisan dengan kekayaan yang tiada taranya, dan tetap menjadi sarana bantu bagi banyak orang yang mencari Allah untuk menemukan jalan yang benar menuju “pintu kepada iman”.

Karena itu, hanya melalui percaya, iman dapat bertumbuh dan menjadi kuat; tidak ada kemungkinan lain untuk mendapatkan kepastian yang berkaitan dengan kehidupan seseorang, selain dari pada meninggalkan diri sendiri dalam suatucrescendo yang terus-menerus, masuk ke dalam tangan-tangan kasih yang sepertinya terus bertumbuh tanpa henti karena memang bersal dari Allah.

8. Pada kesempatan yang membahagiakan ini, saya ingin mengundang saudara-saudara saya para Uskup dari se antero dunia untuk bergabung bersma dengan Pengganti Petrus selama masa yang penuh dengan rakhmat spiritual yang dianguerahkan Tuhan kepada kita ini, untuk mengingat anugerah iman yang sangat berharga itu. Kita hendak merayakan Tahun itu secara pantas dan menghasilkan buah. Renungan-renungan tentang iman hendaknya diintensifkan, untuk membantu segenap umat yang beriman kepada Kristus untuk mendapatkan kesadaran yang lebih baik dan secara lebih bersemangat melekatkan diri kepada Kabar Gembira, khususnya ketika sedang terjadi perubahan mendalam seperti yang sedang dialami oleh umat manusia pada saat ini. Kita akan mendapat kesempatan untuk mengakui iman-kepercayaan kita akan Tuhan yang bangkit di gereja-gereja katedral kita dan di dalam gereja-gereja di seluruh dunia; juga di rumah-rumah kita dan di antara kaum keluarga kita, sehingga setiap orang akan merasakan betapa perlunya pemahaman yang lebih baik dan kemudian untuk meneruskannya kepada generasi yang akan datang iman-kepercayaan segala jaman tersebut. Komunitas-komunitas biara seperti juga komunitas-komunitas paroki, dan semua lembaga-lembaga gerejawi, baik yang lama maupun yang baru, semuanya harus menemukan cara untuk, sepanjang Tahun itu, mengakui secara publik Credo kita.

9. Pada tahun ini kita hendak membangkitkan dalam diri setiap orang beriman aspirasi untuk mengakuiiman-keprcayaannya dalam kepenuhannya dan dengan keyakinan yang baru, juga dengan penuh kepercayaan dan harapan. Tahun itu akan menjadi juga sebah kesempatan yang bagus untuk mengintensifkan perayaan iman itu di dalam liturgi, teristimewa di dalam perayaan Ekaristi, yang adalah “puncak ke mana seluruh kegiatan Gereja diarahkan … tetapi juga adalah sumber dari mana seluruh kekuatan Gereja itu …  mengalir”[14]. Pada saat yang sama, kita berdoa juga agar kesaksian hidup umat beriman semakin dapat dipercaya. Untuk menemukan kembali isi iman yang diakui, dirayakan, dihayati dan didoakan[15], dan untuk merenungkan kembali kegiatan iman itu adalah tugas yang setiap umat beriman harus menjadikannya tugasnya sendiri, khususnya selama Tahun Iman ini. Bukan tanpa alasan umat Kristiani pada abad-abad pertama dituntut untuk menghafalkan pengkuan iman-kepercayaannya itu. Bagi mereka hal itu lalu berfungsi sebagai doa mereka setiap hari, agar mereka tidak melupakan komitmen yang telah mereka ikrarkan ketika mereka dibaptis. Dengan kata-kata yang sarat dengan makna, Santo Agustinus berbicara tentang hal ini dalam homili beliau tentangredditio symboli, tentang “penyerah-alihan pengakuan iman”, katanya: “Pengakuan iman dari misteri-misteri kudus yang telah kalian terima secara serentak dan yang pada hari ini telah kalian ucapkan kembali satu demi satu itu, adalah kata-kata di atas mana iman-kepercayaan Bunda Gereja didirikan dengan kokoh, pada landasan yang menetap, yang adalah Kristus, Tuhan sendiri. Kalian telah menerimanya, namun alian harus tetap memeliharanya di dalam akal-budi dan hati-sanubari kalian, kalian harus tetap mengulang-ulangnya di ranjang tempat tidur kalian, tetap mengingat-inganya di pasar-pasar, tidak melupakannya sementara kalian makan-makan, bahkan ketika kalian sedang tidurpun, kalian harus tetap memperhatikannya dengan hati kalian”[16].

10. Di sini saya ingin memberikan suatu garis besar dari sebuah sarana yang dimaksudkan untuk membantu kita memahami secara lebih mendalam, bukan saja isi muatan iman-kepercayaan itu, melainkan juga tindakan yang akan kita pilih untuk mempercayakan diri kita sepenuhnya kepada Allah dengan cara yang sebebas-bebasnya. Pada kenyataannya memang ada kesatuan yang mendalam antara tindakan dengan mana kita beriman dan muatan isi, kepadanya kita memberikan kesepakatan kita. Santo Paulus membantu kita memasuki kenyataan ini ketika dia menulis: “Dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rom. 10:10). Hati itulah yang menunjukkan bahwa tindakan pertama yang membawa seorang percaya adalah anugerah dari Allah dan tindakan rakhmat yang bergiat dan mengubah seseorang dari dalam.

Dalam kaitan ini secara khusus contoh dari Lydia menjadi sangat berarti. Santo Lukas menceriterakan, bahwa ketika berada di Filipi, pada suatu hari Sabbat, Paulus memberitakan Injil kepada beberapa wanita, di antaranya adalah Lydia dan “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis. 16:14). Di dalam ungkapan itu terkandunglah suatu makna yang penting. Santo Lukas mengajarkan, bahwa memahami muatan isi dari yang harus diimani tdaklah mencukupi, apabila hati, yakni tempat kudus yang khas dalam diri seseorang, tidak turut dibuka oleh rakhmat yang membuat mata bisa melihta apa yang ada di bawah permukaan dan mamahami, bahwa yang sedang diberitakan itu adalah Sabda Allah sendiri.

“Pengakuan dengan bibir” itu pada gilirannya menunjukkan, bahwa “beriman” itu mengandung juga pengertian “kesaksian secara publik” serta sebuah komitmen. Seorang Kristiani tidak pernah boleh berpikir bahwa beriman itu adalah urusan pribadi saja. Beriman berarti memilih untuk memihak kepada Allah dan dengan demikian berada dengan Dia juga. “Memihak kepada Dia” ini ke depan menunjuk kepada pemahaman akan alasan-alasan mengapa dia menjadi percaya. Iman-kepercayaan, justru karena dia adalah suatu tindakan yang bebas, juga menuntut pertanggungjawaban social aats apa yang diimaninya. Pada hari Pentakosta Gereja menunjukkan dengan sejelas-jelasnya dimensi publik dari keberimanan ini dan memberitakan dengan tanpa takut iman-keprcayaan seseorang kepada setiap orang. Anugerah Roh Kuduslah yang telah membuat kita siap untuk diutus dan menguatkan kesaksian kita serta menjadikannya terus-terang dan berani.

Pengakuan iman adalah suatu tindakan yang sekaligus bersifat perseorangan sendiri-sendiri, tetapi juga secara berkomunitas bersama-sama. Gerejalah yang sebenarnya pertama-tama menjadi subjek iman-kepercayaan. Di dalam iman-kepercayaan dari komunitas kristiani, setiap pribadi individual menerima baptisan, suatu tanda yang effektif masuknya ke dalam kalangan umat beriman untuk memperoleh keselamatan. Dalam buku Katekismus Gereja Katolik, kita membaca: "Aku percaya", itulah iman Gereja, sebagaimana setiap orang beriman mengakui secara pribadi, terutama pada waktu Pembaptisan. "Kami percaya"  itulah iman Gereja, sebagaimana para Uskup yang berkumpul dalam konsili itu mengakui, atau lebih umum, sebagaimana umat beriman mengakui dalam liturgi. "Aku percaya": demikianlah juga Gereja, ibu kita berbicara, yang menjawab Allah melalui imannya dan yang mengajar kita berkata: "aku percaya", "kami percaya"[17].

Jelas sekali, bahwa pengetahuan akan isi iman-kepercayaan adalah hakiki bagi seseorang untuk dapat memberikan persetujuannya, artinya untuk mengikatkan diri sepenuhnya, dengan segenap akal-budi dan kehendaknya, kepada apa yang ditawarkan oleh Gereja. Pengetahuan akan iman-keprcayaan ini membuka pintu masuk ke dalam kepenuhan misteri karya penyelamtan yang diwahyukan oleh Allah. Persetujuan yang kita berikan itu berarti pula, bahwa ketika kita percaya, kita menerima dengan bebas seluruh misteri iman-kepercayaan, sebab penjamin dari kebenarannya adalah Allah sendiri, yang mewahyukan dirinya sendiri dan mengijinkan kita mengetahui misteri cinta-kasih-Nya [18].

Di pihak lain, kita tidak boleh melupakan, bahwa di dalam konteks budaya kita, ada banyak bangsa, yang meskipun tidak meng-claim memiliki anugerah iman itu, namun secara tulus mereka mencari arti makna yang tertinggi dan kebenaran yang pasti dari hidup dan dunia mereka. Pencarian ini merupakan “pendahuluan” yang otentik kepada iman-kepercayaan, justru karean ia menuntun orang pada jalan yang membawanya ke misteri Allah. Sebenarnya akal-budi manusia mengandung di dalam dirinya tuntutan pada “apa yang selamanya sahih dan langgeng”[19]. Tuntutan ini mengandung suatu panggilan yang menetap, karena terpatri secara tak-terhapuskan di dalam hati manusia, yang membuatnya bergerak mencari Dia yang kita tidak akan mencarinya seandainya Dia sudah tidak lebih dahulu bergerak untuk mendapatkan kita[20]. Pada perjumpaan inilah iman-kepercayaan mengundang kita dan membuka diri kita sepenuh-penuhnya.

11. Untuk sampai pada pemahaman yang sistematik pada isi iman-kepercayaan itu, semua orang dapat menemukannya di dalam buku Katekismus Gereja Katolik, suatu sarana-bantu yang sangat berharga dan taktergantikan. Dokumen itu dalah satu dari buah-buah terpenting Konsili Vatikan Kedua. Dalam Konstitusi Apostolik Fidei Drpositum, yang ditandatangani, bukan hanya karena kebetulan, pada Hari Ulang Tahun yang ke tiga-puluh Pembukaan Konsili Vatikan Kedua. Beato Yohanes Paulus II menulis: ”Katekismus ini akan menjadi suatu kontribusi yang sangat penting bagi karya pembaruan seluruh kehidupan Gereja  Maka saya menyatakan katekismus itu menjadi suatu sarana-bantu yang sah dan legitim bagi persekutuan gerejawi dan menjadi norma yang pasti bagi pengajaran iman”[21].
Dalam arti inilah bahwa Tahun Iman itu harus mengupayakan suatu usaha terpadu untuk menemukan kembali dan untuk mempelajari isi muatan fundamental dair iman-kepercayaan yang sekarang disintesekan secara sistematis dan secara organis di dalam Katekismus Gereja Katolik. Di sinilah, sebenarnya, kita melihat kekayaan ajaran yang telah diterima oleh Gereja, dijaga dan diwartakan sepanjang dua ribu tahun sejarah keberadaannya. Dari Kitab Suci, sampai ke Para Bapa-bapa Gereja, dari para pakar teologi sampai ke para kudus sepanjang segala abad, Katekismus ini memberikan rekaman yang menetap dari banyak cara yang dipergunakan Gereja untuk merenungkan iman itu dan berkembang maju dalam ajaran, dan dengan demikian kepastian bagi para beriman dalam kehidupan beriman mereka.

Dalam strukturnya yang seperti itu Katekismus Gereja Katolik ini mengikuti perkembangan iman-kepercayaan langsung kepada tema-tema besar dalam kehidupan sehari-hari. Di setiap halaman demi halaman, kita temukan, bahwa apa yang disajikan di sini bukanlah teori belaka, akan tetapi sungguh suatu perjumpaan dengan Seorang Pribadi yang hidup di dalam Gereja. Pengakuan iman diikuti oleh penerimaan kehidupan sakramental di mana Kristus hadir, bergiat dan melanjutkan karya-Nya membangun Gereja. Tanpa liturgi dan sakramen-sakramen, pengakuan itu akan kehilangan efikasitasnya, sebab dia akan kehilangan rakhmat yang mendukung kesaksiannya secara Krisriani.Melalui kriterium yang sama, ajaran dari Katekismusini tentang kehidupan moral mendapatkan artinya yang penuh, apabila memang ditempatkan dalam keterikatannya dengan iman-kepercayaan, liturgi dan doa.

12. Maka dari itu dalam Tahun Iman itu nanti,Katekismus Gereja Katolik itu akan dipergunakan sebagai sarana bantu untuk memberikan dukungan yang nyata bagi iman-kepercayaan, terutama bagi mereka yang terkait dengan pembinaan umat kristiani, yang berada dalam saat sangat krusial dalam konteks budaya kita. Untuk maksud itu saya telah mengundang Kongregasi Untuk Ajaran Iman, dalam kesepakatan dengan Dikasteri-dikasteri Takhta Suci yang kompeten, untuk mempersiapkan sebuahNota, yang akan memberikan arahan-arahan kepada umat beriman Gereja dan perseorangan tentang bagaimana harus menghayati Tahun Iman itu secara yang se-efektif dan se-tepat mungkin bagi kepentingan iman-kepercayaan dan pewartaan.

Dalam skala yang lebih besar dari pada di masa lampau, sekarang ini iman dihantam dengan serangkaian pertanyaan yang muncul dari suatu sikap dasar yang sudah berubah, yang, khususnya dewasa ini, bidang kepastian-kepastian rasional diberi pembatasan-pembatasan terhadap penemuan-penemuan ilmiah dan teknologi. Namun demikian, Gereja tidak pernah merasa takut untuk tetap menunjukkan, bahwa tidak mugkin ada pertentangan antara iman dan ilmu yang sejati, sebab keduanya, kendatipun jalur yang ditempuh berbeda, mengarah menuju kepada kebenaran[22].
                                                                           
13. Satu hal yang akan sangat menentukan dalam tahun Iman itu adalah, bila kita menelusuri sejarah iman kita yang sebenarnya ditandai dengan misteri yang takterkatakan dari keterjalinan antara kesucian dan dosa. Sementara yang pertama menyoroti kontribusi besar yang diprestasikan oleh laki-laki atau perempuan bagi pertumbuhan dan perkembangan persekutuan melalui kesaksian hidup mereka, yang kedua harus menantang dari setiap orang  suatu kerja yang tulus dan berlanjut dari pertobatan untuk mengalami belas-kasih Bapa, yang dtawarkan kepada semua orang,

Selama waktu itu kita akan harus tetap memandang Yesus Kristus, “yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan” (Ibr. 12:2): di dalam Dia, semua kekhawatiran dan semua kerinduan hati manusia mendapatkan pemenuhannya. Sukacita dari kasih, jawaban atas drama penderitaan dan kesakitan, kekuatan dari pengampunan di hadapan sebuah penghinaan yang diterima dan kemenangan hidup atas kehampaan kematian: semuanya itu mendapatkan kepenuhannya di dalam misteri inkarnasi-Nya, ketika Dia menjadi manusia, ketika Dia mengambil-bagian di dalam kelemahan manusiawi kita, sehingga semuanya itu ditransformasikan-Nya melalui kekuatan dari kebangkitan-Nya. Di dalam Dia yang telah mati lalu bangkit kembali demi keselamatan kita itu, contoh teladan iman-kepercayaan yang telah menandai dua ribu tahun sejarah keselamatan kita ini mendapatkan pencerahan yang sepenuh-penuhnya.

Dengan iman, Maria menerima kata-kata Malaekat dan percaya kepada pesan bahwa dia akan menjadi Bunda Allah dalam ketaatan dari kesalehannya (bdk. Luk. 1:38). Ketika mengunjungi Elizabet, dia melambungkan madah pujiannya kepada Yang Mahatinggi karena karya ajaib yang telah dikerjakan-Nya di dalam diri mereka yang menaruh kepercayaan kepada-Nya (bdk. Luk. 1:46-55), Dengan sukacita dan kegentaran dai melahirkan anaknya yang tunggal, dengan keperawanannya yang tetap tak ternoda (bdk. Luk.2:6-7). Sambil tetap mempercayai Yusuf, suaminya, ia membawa Yesus ke Mesir untuk menyelamatkan-Nya dari pengejaran Herodes (bdk. Mat, 2:15-17). Dengan kepercayaan yang sama, ia mengikuti Tuhan dalam pewartaan-Nya dan tetap menyertai-Nya sampai ke Golgota (bdk. Yoh. 19:25-27). Dengan iman-kepercayaannya, Maria mengecap buah-buah kebangkitan Yesus dan sambil tetap menyimpan setiap kenangan di dalam hatinya (bdk. Luk. 2:19,51). Ia menyerah-alihkan itu kepada Keduabelas Rasul yang berkumpul di ruang atas untuk menerima Roh Kudus (bdk. Kis, 114-2:1-4).

Dengan iman, para rasul telah meninggalkan semuanya dan mengikuti Tuhan mereka (bdk. Mat. 10:28). Mereka percaya kepada kata-kata yang diwartakan-Nya tentang Kerajaan Allah yang telah datang dan dipenuhi di dalam diri-Nya (bdk. Luk. 11:20). Mereka hidup dalam persekutuan dengan Yesus yang membina mereka dengan ajaran-Nya, dengan mewariskan kepada mereka suatu peraturan hidup, dengan mana mereka akan dikenal sebagai murid-murid-Nya setelah kematian-Nya (bdk. Yoh. 13:34-35). Dengan iman, mereka pergi ke seluruh dunia, mengikuti perintah-Nya untuk mewartakan Kabar Gembira ke pada semua ciptaan (bdk. Mrk. 16:15) dan dengan tanpa takut mereka mewartakan kepada semua orang sukacita kebangkitan, tentangnya mereka adalah saksi-saksinya yang setia.

Dengan iman, para murid membentuk komunitas yang pertama, yang dihimpun di sekeliling ajaran para rasul, di dalam doa, di dalam perayaan Ekaristi, sambil mempertahankan kepunyaan mereka sebagai milik bersama dan dengan demikian mereka memenuhi kebutuhan saudara-saudara (bdk. Kis. 2:42-47).

Dengan iman, para martir menyerahkan hidup mereka, sambil memberi kesaksian pada kebenaran Injil yang telah mengubah hidup mereka dan membuat mereka mampu mendapatkan anugerah terbesar dari cinta-kasih: yakni pengampunan kepada para penganiaya mereka.

Dengan iman, pria dan wanita telah membaktikan hidup mereka di dalam Kristus, sambil meninggalkan segala sesuatu, untuk dapat hidup dalam ketaatan, kemiskinan dan kemurnian dalam kesederhanaan injili, sebagai tanda nyata dari penantian mereka akan kedatangan Tuhan yang tidak akan tertunda. Dengan iman, tak terbilang banyaknya orang kristiani telah memajukan tindakan bagi keadilan sehingga dengan demikian mereka melaksanakan sabda Tuhan, yang datang untuk mewartakan pembebasan dari semua penindasan dan mewartakan kedatangan suatu tahun penuh kebaikan bagi semua orang (bdk. Luk. 4:18-19).

Dengan iman, sepanjang abad-abad, pria dan wanita dari segala usia, yang namanya tercatat di dalam Kitab Kehidupan (bdk.Why. 7:9; 13:8), telah mengakui keindahan hal mengikuti Tuhan Yesus kemanapun mereka dipanggil untuk memberi kesaksian pada kenyataan, bahwa mereka adalah orang-orang kristiani: di dalam keluarga, di tempat kerja, dalam kehidupan publik, dalam menjalankan kharisma dan pelayanan yang menjadi panggilan hdiup mereka.

Dengan iman, kita juga hidup: sambil menghayati pengakuan kita kepada Tuhan Yesus, yang hadir di dalam hidup kita dan sejarah kita.

14. Tahun Iman itu juga akan menjadi stau kesempatan yang bagus untuk mengintensifkan kesaksian amal-kasih, sebagaimana diingatkan oleh Santo Paulus kepada kita: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (Kor. 13:13).
Dengan kata-kata yang lebih kuat, ‒yang senantiasa telah menempatkan orang Kristiani di bawah kewajiban,‒  Santo Jakobus mengatakan: “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan", aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku." (Yak. 2:14-18).

Iman tanpa kasih tidak akan menghasilkan buah, sedang kasih tanpa iman hanya akan merupakan suatu perasaan yang senantiasa berada di bawah kuasa kebimbangan. Iman dan kasih saling membutuhkan satu sama lain, sedemikian sehingga yang satu akan membiarkan yang lain untuk tampil menurut jalurnya sendiri-sendiri. Memang, banyak orang kristiani membaktikan hidupnya dengan kasih bagi mereka yang tersendiri, yang termarginalkan atau yang terkucilkan, sebagiamana juga bagi mereka yang pertama-tama menuntut perhatian kita dan yang paling penting bagi kita untuk dibantu, sebab justru di dalam diri merekalah  nampak cerminan wajah Kristus sendiri. Melalui iman kita dapat mengenal wajah Tuhan yang bangkit di dalam diri mereka yang meminta kasih kita. “Sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40). Kata-kata ini haruslah menjadi peringatan yang tidak boleh dilupakan dan harus menjadi undangan yang menetap bagi kita untuk membalas kasih dengan mana Tuhan telah senantiasa memperhatikan kita. Imanlah yang memampukan kita mengenal Kristus dan kasih-Nyalah yang mendorong kita untuk membantu-Nya kapan saja Dia menjadi sesama yang kita jumpai dalam perjalanan hidup kita. Dikuatkan oleh iman, marilah kita memandang kepada komitmen kita di dunia ini sambiil menantikan “surga baru dan dunia baru, di mana terdapat kebenaran” (2Ptr. 3:13; bdk. Why. 21:1).

15. Ketika sampai pada akhir hidupnya, Santo Paulus meminta Timotius muridnya untuk “mengejar iman” (lih. 2Tim. 2:22) dengan kesetiaan yang sama seperti ketika ia masih muda (bdk. 2Tim. 3:15). Kita mendengar undangan ini ditujukan juga kepada masing-masing kita, supaya jangan ada di antara kita yang menjadi malas di dalam iman. Iman yang menjadi pendamping seumur hidup inilah yang membuat kita mampu untuk memahami, setiap kali secara baru, karya-karya ajaib Tuhan  bagi kita. Sambil senantiasa peka terhadap tanda-tanda jaman yang terhimpun di dalam sejarah kita di masa sekarang ini, iman itu membuat masing-masing kita sendiri menjadi tanda dari kehadiran Tuhan yang bangkit di dunia kita ini. Apa yang secara khusus dibutuhkan oleh dunia kita sekarang ini adalah kesaksian yang dapat dipercaya dari orang-orang yang mendapatkan pencerahan di dalam budi dan hatinya oleh sabda Tuhan dan kemudian mampu membuka hati dan budi bagi banyak orang lain untuk merindukan Allah dan hidup yang sejati, hidup yang kekal abadi.

“Supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan” (2Tes. 3:1): semoga Tahun Iman ini membuat hubungan kita dengan Krsitus, Tuhan, semakin bertambah kuat, karena hanya di dalam Dialah ada kepastian untuk memandang masa depan dan ada jaminan dari kasih yang sejati dan lestari. Semoga kata-kata Santo Petrus ini akan dapat memberikan seberkas pencahayaan yang terakhir atas iman ini: “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu -- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api -- sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr. 1:6-9) Hidup umat kristiani mengenal baik pengalaman sukacita maupun pengalaman penderitaan. Betapa banyak orang-orang kudus yang hidup di dalam kesunyian. Betapa banyak umat beriman, juga sampai pada hari ini, dicoai oleh berdiamnya Allah, sementara mereka lebih merindukan mendengar suara-Nya yang menghibur. Percobaan-percobaan hidup, sementara mereka memang membantu kita untuk memahami misteri salib dan turut mengambil-bagian dalam penderitaan Kristus (bdk. Kol. 1:24), menjadi juga suatu pendahuluan kepada sukacita dan harapan ke mana iman juga mengarahkan: “jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10). Kita percaya dengan kepastian yang kokoh bahwa Tuhan Yesus telah mengalahkan kejahatan dan kematian. Dengan kepercyaan yang pasti ini kita mempercayakan diri kita kepada-Nya: Dia, yang hadir di tengah-tengah kita, mengalahkan kekuatan si jahat itu (bdk. Luk. 11:20) dan Gereja, persekutan yang nampak dari belas-kasih-Nya, tinggal di dalam Dia sebagai suatu tanda dari rekonsiliasi yang definitif dengan Bapa.

Marilah kita mempercayakan saat rakhmat ini kepada Bunda Allah, yang diwartakan sebagai yang “berbahagialah ia, yang telah percaya“ (Luk. 1:45)

Dikeluarkan di Roma, dari Basilika Santo Petrus, pada tanggal 11 Oktober 2011, tahun kepausan saya yang ke tujuh.


BENEDIKTUS XVI, PAUS



[1] Homili pada awal menjabat sebagai Uskup Roma dalam pelayanan sebagai pengganti Petrus (24 April 2005):AAS 97 (2005), 710.
[2]Lih. Benedictus XVI, Homili dalam Misa “Terreiro do Paço” di Lisabon, (11 Mai 2010); Insegnamenti VI: 1 (2010), 673.
[3] Lih. Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 113-118.

[4] Lih. Laporan terakhir Sinode Luar Biasa II Para Uskup (7 Desember 1985), II, B, a, 4 in Enchiridion Vaticanum, ix, n. 1797.
[5] Paulus VI, Ekshortasi Apostolik Petrum et Paulum Apostolos pada perayaan XIX abad kemartiran St Petrus dan Paulus (22 Februari 1967): AAS 59 (1967), 196.
[6] Ibid., 198.
[7] Paulus VI, Credo Umat Allah, Homilidalam Misa pada perayaan XIX abad kemartiran St Petrus dan Paulus pada penutupan “Tahun Iman” (30 Juni 1968): AAS60 (1968), 433-445.
[8] PaulusVI,  Audiensi Umum  (14 Juni 1967): Insegnamenti V (1967), 801.
[9] Joannes  Paulus II, Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte (6 Januari 2001), 57: AAS 93 (2001), 308
[10]  Sambutan kepada Curia Romana, (22 Desember 2005): AAS 98 (2006), 52.
[11] Konsili Ekumenis Vatikan II,  Konstiotusi Dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium, 8.
[12] De Utilitate Credendi, I:2.
[13] Konsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Lityurgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10.
[14] KOnsili Ekumenis Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci Sacrosanctum Concilium, 10.
[15] Lih.. Joannes Paulus IIKonstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 116.
[16] Sermo 215:1.
[17]Katekismus Gereja Katolik, 167.
[18]  Lih.Konsili ekumenis Vatikan I, Konstitusi Dogmatis tentang Iman Katolik,Dei Filius, Bab. III: DS 3008-3009: Konsili ekumenis Vatikan II, Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi Dei Verbum, 5.
[19] Benediktus XVI, Sambutan di  Collège des Bernardins, Paris (12 September 2008): AAS100 (2008), 722.

[20] Lih.. Santo Augustinus, Confessions, XIII:1.
[21] Joannes Paulus II, Konstitusi Apostolik Fidei Depositum (11 Oktober 1992): AAS 86 (1994), 115 dan 117.

[22] Lih.  Joannes Paulus II, Ensiklik Fides et Ratio (14 September 1998), 34, 106: AAS 91 (1999), 31-32, 86-87.
(sumber: dokumengerejakatolik.blogspot.com)

Rabu, 27 Juni 2012

Surat kepada Keluarga Bulan Juni 2012 (KAJ)‬

Surat kepada keluarga bulan Juni 2012 (KAJ)‬
Melihat kangguru dan anak di kantungnyaKita diingatkan, bahwa kebaikan lahir di dekat hati
Rasa aman diberikan melalui kesediaan melindungi
Dan persatuan dijamin dalam lelah bersama
Anak-anak adalah masa depan milik dunia
Sekarang ini, mereka bersekolah bersama kita
Buatlah mereka damai di dalam genggamanmuLahirkan pribadi mencintai, karena sapaan lembutmu
Tanpa dibatasi waktu..hanya kegembiraanbersama..
KELUARGA KELUARGA YANG TERKASIH
Suatu kegembiraan karena akhirnya masa liburan tiba bagi anak-anak kita. Anak-anak mempunyai lebih banyak kesempatan bersama sama kita.
Dalam beberapa minggu, mereka menjadi sepenuhnya anak-anak kita, karena seluruh acara mereka sekarang menjadi acara bersama kita, orang tuanya, dan saudara-saudarinya. Mau di bawa kemana anak-anak kita itu dalam liburan dari tugas belajar?
Masa liburan menjadi kesenangan sekaligus menjadi tantangan bagi kita para orang tua untuk mendampingi anak-anak di saat mereka menikmati liburan dan membutuhkan kedekatan dengan keluarganya..
Kedua faktor, edukasi dan kegembiraan, sangat baik dialami anak-anak kita pada masa liburan ini. Anak-anak secara alami selalu berada dalam masa belajar untuk mengantar mereka menjadi semakin dewasa, termasuk pada waktu liburan tiba, tanpa beban study formal.
Keluarga-keluarga terkasih, apakah kita sudah merencanakan suatu liburan yang menyenangkan? Atau kita merencanakan program tertentu yang didesain untuk menambah pengetahuan dan ketrampilan anak-anak dalam liburannya? Untuk sebagian anak-anak, kata "liburan" membuat mereka membayangkan paket-paket liburan atau kursus-kursus spesial. Yang lain mungkin sudah membayangkan suatu liburan ke luar negeri atau tempat wisata yang jauh.
Anak-anak dari keluarga sederhana memikirkan untuk menghabiskan masa liburan bersama teman-teman atau membantu orang tuanya, ikut bekerja, atau sekedar mengunjungi sanak family di kampung halaman. Pertanyaan anak-anak dari semua kalangan sebenarnya sama: apakah aku akan mengalami liburan yang menyenangkan dan berkesan? Kita sebagai orang tua ditantang untuk menghadirkan suatu liburan yang bermutu bagi mereka, apapun kondisi keluarga kita.
Kita sudah cukup banyak menghadapi pengalaman kesulitan bersama-anak-anak kita. Komunikasi bersama mereka kadang menjadi begitu langka, karena kesibukan masing-masing ketika mereka sekolah. Dalam masa liburan, kita perlu menyediakan waktu yang lebih dari cukup untuk semakin mengenal satu sama lain. Keluarga memang hidup dan tinggal serumah, tetapi ini membuat kita merasa kaget melihat perubahan dan perkembangan anak-anak kita yang berubah pesat. Kita seperti kehilangan kendali atas mereka.
Masa liburan akan menjadi masa yang menyenangkan, karena anak-anak yang berlibur bersama kedua orang tuanya yakin bahwa orang tua mereka memberi perhatian dan menyayangi mereka melalui kebersamaan di antara mereka. Ambillah waktu untuk berbagi: omong-omong, pergi ke tempat khusus (tidak harus ke tempat yang mahal dan jauh); mengunjungi nenek-kakek, oom atau tantenya; atau barangkali merencanakan acara menanam pohon bersama di depan rumah dan mengecat tembok dan pagar.
Keluarga-keluarga terkasih, acara kebersamaan bagi kita di Jakarta dan sekitarnya menjadi suatu acara yang mahal. Bukan karena tempat tujuan, melainkan suatu kesempatan langka untuk seluruh anggota keluarga, anak-anak dan orang tuanya dalam suatu relasi tanpa batas waktu dan ekspresi bebas yang menunjukkan cinta dan penerimaan. Beberapa minggu menjadi saat emas bagi suatu pendidikan nilai kebersamaan, kerukunan, kasih, perhatian, kerjasama, dll. di antara orang tua-anak yang mengubah dan meneguhkan.
Tempat sebaik dan seindah apapun tidak banyak berarti, kalau mereka pergi sendiri. Tetapi kalau mereka menikmati sapaan ramah dan tulus satu sama lain, waktu liburan bahkan bisa menjadi kesempatan memberikan dukungan, pendampingan, didikan, dan peneguhan yang lebih mahal dari program-program liburan berkelas apapun tanpa adanya waktu bersama untuk suatu relasi manusiawi dengan anggota keluarga yang lain.
Barangkali kita harus belajar dari masa kecil atau kisah-kisah masa kecil kita (para orang tua) masing-masing. Memancing, mengunjungi nenek-kakek, berkebun, memasak, membacakan buku cerita, reparasi mobil/motor bersama, berbelanja bersama, olahraga keluarga, dan pergi ke Gereja bersama dalam waktu yang sama, menjadi pilihan untuk menjalani waktu liburan istimewa.
Pendidikan nilai dan prakteknya sekaligus dapat diberikan ketika orang tua dan anak-anaknya tidak dikejar-kejar waktu. Inilah saat terindah sepanjang tahun yang sesungguhnya diperlukan oleh semua anggota keluarga. Jadilah orang tua yang baik dan bijaksana. Pakailah saat-saat liburan sebagai saat emas untuk menjadikan anak-anak kembali "menjadi milik kita", bukan milik sekolah; bukan milik teman-temannya; bukan milik komputer, TV, dan buku-bukunya; melainkan menjadi milik kita sepenuhnya, sebagai satu keluarga.
Selamat berlibur..!
Alexander Erwin MSF
Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 26 Juni 2012

Paus Menetapkan Riana sebagai Uskup Ketapang

Paus Benedictus XVI secara resmi, Senin (25/6), menerima pengunduran diri Uskup Ketapang di Kalimantan Barat Mgr Blasius Pujaraharja Pr. Pemimpin umat Katolik sedunia itu pun menetapkan pastor Pius Riana Prabdi Pr sebagai Uskup Ketapang. Penetapan Riana, yang kini menjabat Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang, juga disampaikan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Antonio Filipazzi di Semarang, Senin.

Blasius, Senin malam, menjelaskan, penunjukan Riana itu diumumkan pada Senin siang waktu Roma atau sekitar pukul 17.00 di Semarang. Setelah mundur, Blasius menjadi uskup emeritus. Dia sudah merencanakan karya selanjutnya, tetapi belum bersedia mengungkapkannya.

"Saya ajukan pengunduran diri karena sudah berumur 75 tahun. Menurut Kitab Hukum Kanonik atau Hukum Gereja Katolik kanon 401, uskup diosesan yang berumur 75 tahun diminta mengundurkan diri dari jabatannya," ujar Blasius. Paus akan memutuskan setelah mempertimbangkan segala keadaan.

Dijumpai di Semarang, Selasa, Riana menuturkan, penunjukan dirinya sebagai Uskup Ketapang dilakukan secara rahasia sejak Mei lalu dan baru diumumkan secara resmi pada Senin. "Saya tidak memiliki prasangka apa pun saat ada undangan dari Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta. Saya kira itu undangan rutin. Ternyata, saya diberi tahu bahwa ditunjuk menggantikan Uskup Ketapang," jelasnya.

Blasius menambahkan, Riana akan ditahbiskan sebagai Uskup Ketapang paling lama dalam tiga bulan ke depan sesuai ketentuan gereja. Dalam tradisi Gereja Katolik, uskup baru akan ditahbiskan oleh seorang uskup pentahbis dibantu dua uskup pendamping.

Riana menilai, Gereja Katolik di Ketapang mengakar kuat dan terkait erat dengan budaya setempat karena sudah melewati masa 100 tahun. (Kompas Cetak, 27 Juni 2012)​
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 22 Juni 2012

Vatikan beri izin umat Katolik pakai kondom


Sekretaris Negara Vatikan Kardinal Tarcisio Bertone mengatakan, masyarakat dunia boleh menggunakan apapun untuk memerangi HIV dan AIDS. "Vatikan membebaskan umat untuk memilih caranya mengatasi penyakit itu," katanya pada acara Konferensi AIDS Internasional di Roma, Italia, seperti dilansir situs Inquirer.net, Jumat (22/6).

Keterangan Bertone bertolak belakang dengan ucapan Paus Benediktus XVI pada 2010. Pemimpin Vatikan tertinggi itu menegaskan kondom haram digunakan. Pria menggunakan barang ini harus bertanggung jawab atas dosa diri dan pasangannya.

Meski Kardinal tidak menyebutkan secara langsung, sikap Vatikan tentang kebijakan kondom ini dirasa melunak. Banyak penelitian mengatakan penggunaan benda itu 99 persen mencegah HIV-AIDS.

Baik Paus dan Bertone sama-sama menyerukan pentingnya menjaga diri dan tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah agar terhindar dari penyakit berbahaya itu.



Sumber: merdeka | Berita Terbaru

 Sikap Gereja Katolik Indonesia terhadap Gagasan Penerapan Syariat Islam di Indonesia (Mgr. Ignatius Suharyo, Pr)

 Sikap Gereja Katolik Indonesia terhadap gagasan penerapan Syariat Islam diIndonesia (Mgr. Ignatius Suharyo, Pr):

1). Tetap berpegang teguh pada keputusan para Bapak Bangsa untuk mendirikan negara berdasarkan Pancasila untuk berjuang sesuai dengan kedudukan dan kemampuannya baik dalam bidang legislatif, eksekutif, yudikatif, dan media massa.

2). Mengingatkan kepada siapa saja, yang mau memasukkan ajaran khusus agamanya secara formal menjadi ketentuan yang harus berlaku untuk umum, agar tidak melanjutkan usaha seperti itu, karena hal yang demikian itu berlawanan dengan hakekat Negara Kesatuan Republik Indonesia.

3). Tidak menyetujui siapa saja, termasuk bila ada dari kalangan Katolik sendiri, yang berusaha memaksakan ketentuan partikular agamanya ke dalam ketentuan-ketentuan umum secara formal, karena hal itu dapat dipandang sebagai usaha membubarkan Negara Republik Indonesia.

4). Mendesak agar pemerintah berusaha dengan tegas dan tidak ragu-ragu untuk membela Negara Indonesia dari usaha-usaha mengubah hakekatnya.

5). Mengajak umat Katolik khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya untuk berdoa dan berusaha melalui jalan tanpa kekerasan, agar Negara Republik Indonesia tetap berdiri dan umatnya sejahtera lahir batin. Semoga........

(Sumber: milis pendidikan Katolik)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Integritas Orang Beriman


Bahan bacaan: Injil Mat 6:19-23

Sorotan publik terhadap persoalan bangsa dewasa ini masalah integritas diri dan karakter bangsa. Harta dipandang sebagai hal mutlak yang memenuhi kebahagiaan. Hal ini mendorong orang  untuk mengejar harta duniawi dengan korupsi. Semakin banyak orang melalaikan dan meninggalkan semangat nilai-nilai keagamaan dan Pancasila dalam tata hidup bersama. Akibatnya integritas diri dan karakter bangsa semakin dipertanyakan.
Solusi yang ditawarkan para pengamat dan pemikir adalah penegakan hukum dan pendidikan karakter.  Lalu bagaimana dengan kita orang beriman? Apa yang bisa kita lakukan?
Agama merupakan salah satu sumber nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagia karakter kita sebagai anak bangsa. Masing-masing agama menawarkan semangat nilai-nilai agama yang tidak bertentangan dengan Pancasila.
Bacaan hari ini menegaskan pengajaran Yesus bagi kita yang percaya kepadaNya. Paling tidak ada tiga poin yang dapat membangun integritas  dan karakter kita sebagai orang beriman.

Yang pertama, kumpulkanlah harta surgawi.
Dalam kondisi seperti sekarang ini, ajaran Yesus sangat relevan, sebab banyak orang menjadi egois dan memberikan nilai mutlak kepada uang dan harta. Yesus mengingatkan bahwa tujuan umat Kristiani adalah mengumpulkan harta yang jauh lebih mulia dan bernilai kekal, yaitu harta surgawi. Harta ini dapat berupa apapun yang bermakna mulia dan kekal, yang dihasilkan karena berbagi dengan yang kekurangan, memaafkan sesama, menderita bagi Kristus, berbuat kebaikan dan lain sebagainya. Itulah harta yang harus dikumpulkan oleh segenap umat Kristiani dengan segenap hati.

Yang kedua, jagalah hati agar tidak diperbudak oleh harta.
Mengumpulkan harta surgawi tidaklah mudah, sebab pada hakekatnya adalah masalah perspektif/pendangan. Umat Kristiani harus waspada agar tidak mudah tergiur dengan apa yang ia lihat. Umat Kristiani juga harus sadar  bahwa dalam hubungannya dengan harta, kita dituntut untuk bersikap tegas antara mempergunakan harta atau diperbudak harta. Ketika kita diperbudak oleh harta, maka kita semakin jauh dari Allah, demikian pula sebaliknya.

Yang ketiga, mata adalah pelita tubuh
Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. ...Jika terang yang ada padamu gelap, betapa pekatnya kegelapan itu.

Suatu perumpamaan yang sangat menyentuh dan mendalam. Mata adalah salah satu
organ penting dalam tubuh kita. Mata merupakan jendela baik untuk melihat ke luar maupun untuk melihat ke dalam. Lewat mata kita dapat melihat apa yang ada di luar kita. Kalau mata kita baik, kita dapat menangkap pemandangan di luar kita dengan jelas. Di lain pihak, lewat mata kita, orang dapat melihat apa yang ada di dalam hati kita. Kalau mata kita merah, orang menangkap  bahwa dalam hati kita bergelora kemarahan. Kalau mata kita sembab, orang menangkap bahwa hati kita sedang gundah. Kalau mata kita berbinar-binar, orang menangkap bahwa ada suka cita di dalam hati kita.

Mengingat pentingnya mata, maka kita perlu menjaga dan memanfaatkan mata
dengan baik. Mata yang selalu diarahkan kepada hal-hal baik akan mencerminkan kebaikan. Maka, biasakanlah menyimak hal-hal yang baik.

Sebaliknya, mata yang selalu diarahkan kepada hal-hal yang buruk akan
mencerminkan keburukan. Maka, jagalah mata dengan baik, jangan sampai senang
memelototi hal-hal yang tidak baik.

Ketiga poin ini jika renungkan dan dilaksnakan dengan baik-baik, maka akan membawa kita kepada suka cita. Integritas kita sebagai orang beriman pun makin teguh. Kita bisa menjadi saksi Kristus bagi orang-orang di sekitar kita dengan cara mendahuluan kebenaran Allan.
Kita sadar betapa Allah sangat mengasihi kita. Sebab Allah menegaskan carilah harta surgawi, sama dengan carilah lebih dulu kebenaran Allah, maka kebahagian akan  dilimpahkan Tuhan bagi kita. Allah tidak menghendaki anak-anaknya kuatir akan kelaparan, sebab itu Ia menyediakanNya bagi kita dengan berbagai cara yang dikehendakinya. Yang dituntut dari kita adalah iman yang teguh akan kebenaran Allah. AMIN