Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Rabu, 27 Maret 2013

Paskah dan Revolusi Kalender Masehi

Jika Natal selalu dirayakan setiap tanggal 25 Desember tanpa membedakan hari, perayaan Paskah selalu jatuh pada hari Minggu dengan tanggal yang berbeda setiap tahun. Meski demikian, Paskah selalu jatuh antara 22 Maret dan 25 April. Tahun ini, Paskah jatuh pada 31 Maret. M Zaid Wahyudi

Penentuan Natal mengacu pada sistem penanggalan Matahari (solar). Acuannya adalah waktu yang dibutuhkan Bumi untuk mengelilingi Matahari satu putaran penuh. Adapun Paskah ditentukan berdasar sistem penanggalan Bulan-Matahari (luni-solar), paduan sistem penanggalan Matahari dan penanggalan Bulan.

Claus Tøndering dalam Frequently Asked Question about Calendars (2005) menyatakan, secara sederhana, perayaan Paskah jatuh pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama pertama, setelah Matahari melintasi titik musim semi (vernal equinox). Jika bulan purnama terjadi pada hari Minggu, Paskah jatuh pada Minggu berikut.

Ketentuan yang diambil dari keputusan Konsili Nicea tahun 325 Masehi itu dimaksudkan agar perayaan Paskah yang merupakan peringatan kebangkitan Yesus dilaksanakan pada hari dan musim yang sama dengan saat terjadinya peristiwa itu sekitar tahun 30 Masehi.

Saat itu, kalender Masehi yang digunakan mirip saat ini. Kalender ini digunakan sejak tahun 45 Sebelum Masehi di masa Julius Caesar sehingga disebut kalender Julian. Hal yang membedakan adalah panjang satu tahun ketika itu didefinisikan sebanyak 365,25 hari.

Bulan purnama yang dijadikan acuan penentuan Paskah adalah bulan purnama Paskah (Paschal full moon), bukan bulan purnama dalam perhitungan astronomi modern. "Bulan purnama Paskah jatuh pada hari terjadinya bulan purnama astronomi," kata peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Emmanuel Sungging Mumpuni, Selasa (26/3).

Dalam astronomi modern, bulan purnama merupakan satu waktu terjadinya kesegarisan antara Bulan-Bumi-Matahari. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat menyebut, bulan purnama astronomi pada Maret 2013 terjadi pada Rabu (27/3) pukul 09.27 waktu universal (16.27 WIB). Sesaat sebelum dan sesudahnya, Bulan belum atau sudah melewati fase purnama walau dalam pandangan manusia Bulan terlihat purnama.

Waktu Matahari melintasi titik musim semi berdasar Konsili Nicea ditetapkan pada 21 Maret setiap tahun. Dalam astronomi modern, waktu Matahari melintasi titik musim semi bervariasi antara 19-21 Maret. Data timeanddate.com menyebut titik musim semi 2013 terjadi pada Rabu (20/3) pukul 11.02 waktu universal atau 18.02 WIB.

Menurut Sungging, penentuan bulan purnama astronomi dan waktu Matahari melintasi titik musim semi hingga orde menit seperti saat ini perlu kemampuan memahami orbit Bulan, pergerakan Bumi, hingga gangguan benda-benda langit lain. Kemampuan ini belum dimiliki para astronom abad IV.

Namun, jika perhitungan modern dijadikan acuan, akan muncul kerumitan baru soal titik acuan untuk menentukan waktu Paskah secara global akibat perbedaan waktu antarnegara. Bulan purnama astronomi hanya terjadi pada satu waktu tertentu sehingga hanya daerah tertentu di Bumi yang bisa mengamati.

Pada abad XVI baru disadari perayaan Paskah tidak tepat sesuai ketentuan awal. Menurut LE Doggett dalam Calendars, yang mengutip P Kenneth Seidelmann dalam Explanatory Supplement to the Astronomical Almanac, mundurnya perayaan Paskah terjadi karena titik musim semi yang dijadikan acuan terjadi lebih cepat 10 hari. Artinya, saat itu tanda Matahari mencapai titik musim semi sudah terjadi, tapi waktu di kalendernya belum.

Titik musim semi merupakan penanda datangnya musim semi di belahan Bumi utara dan musim gugur di belahan Bumi selatan. Saat ini, Matahari tepat berada di atas garis khatulistiwa. Akibatnya, semua tempat di Bumi memiliki panjang waktu siang dan malam yang sama.

Dikoreksi

Untuk mengembalikan titik musim semi pada 21 Maret, Paus Gregorius XIII meniadakan tanggal 5 Oktober-14 Oktober 1582. Setelah tanggal 4 Oktober langsung diikuti tanggal 15 Oktober. "Hanya mengubah angka, tidak mengubah harinya," kata dosen sistem kalender Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto.

Selain itu, panjang satu tahun dikoreksi dari 365,25 hari menjadi 365,2425 hari. Ini dilakukan karena belakangan diketahui panjang satu tahun Matahari 365,2422 hari. Kelebihan 0,0078 hari baru terasa dalam jangka panjang. Setiap 128 tahun, jumlah hari kelebihan satu hari.

Ketentuan tahun kabisat pun diubah. Jika semula tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi empat, sistem yang baru ditambah dengan ketentuan tahun yang habis dibagi 400 untuk tahun kelipatan 100.

Untuk mengenang jasa Paus Gregorius XIII, kalender sistem baru ini dinamai kalender Gregorian. Kalender ini digunakan di seluruh dunia hingga kini.

Namun, sistem ini tidak diadopsi langsung oleh semua negara. Bahkan, Gereja Ortodoks di sejumlah negara tetap menggunakan sistem kalender Julian. Alhasil, waktu Paskah Gereja Ortodoks umumnya lebih lambat dibandingkan dengan Gereja Katolik atau Kristen Protestan.

Jika mengacu pada kalender Julian, Paskah Gereja Ortodoks jatuh antara 22 Maret-25 April. Namun jika dikonversi dalam kalender Gregorian, Paskah Gereja Ortodoks jatuh pada tanggal 3 April-10 Mei.
(Kompas cetak, 28 Maret 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 21 Maret 2013

Paus Ekumenis

"Tidak ada kelangsungkan hidup manusia di planet bumi ini, tanpa adanya perdamaian. Tidak ada perdamaian yang langgeng, tanpa kerukunan hidup umat beagama. Tidak ada kerukunan hidup umat beragama tanpa adanya saling pengertian dan saling menghormati. Tidak ada saling pengertian dan saling menghormati, tanpa adanya dialog." Maka dialog dan kerjasama antar umat beragama adalah mutlak perlu bagi perdamaian dunia. (Inilah gagasan dasar Proyek Etik Mondial dari Hans Küng).
 
Hari Rabu, 20 Maret 2013 kemarin Paus Fransiskus menerima puluhan perwakilan pelbagai Gereja Kristen dan agama-agama di dunia, yang hari sebelumnya hadir dalam misa inagurasi. Di antara mereka adalah Pemimpin Gereja Ortodox, Gereja Katolik Timur, Gereja Anglikan, pelbagai delegasi Protestan, termasuk Luteran, Baptis, Metodis; Perwakilan Yahudi dan Muslim, Hindu dan Buddha.
 
Paus menyapa mereka demikian:
 
Terimakasih kepada saudaraku Andreas Bartholomeus, Patriark Gereja Ortodox Timur, atas sambutannya: Terimakasih, Terimakasih. (Sapaan itu mengingatkan sapaan Paus Yohanes XXIII kepada para delegasi pengamat Protestan dalam Konsili Vatikan II: "Aku adalah Yosep saudaramu, jangan takut.") Dan Paus Fransiskus mengucapkan sapaan yang mirip dengan Paus Yohanes XXIII itu, masih dalam suasana Pesta Santo Yosep; untuk bersyukur juga atas pesta nama dari Josef  Ratzinger (Paus Benedictus XVI). Paus Fransiskus menghayati bahwa yang namanya "hermeneutic" (sebuah kata yang menjadi salah satu inti pesan Ratzinger 'hermeneutic of continuity" and hermeneutic of rapture terhadap tradisi Gereja) adalah "menafsirkan peristiwa historis yang akhir-akhir ini terjadi secara jelas mulai dari discernment Paus Benedictus XVI dalam doa yang panjang dan kemudian diambil keputusan untuk mengundurkan diri; berkumpulnya para Kardinal dan diadakannya konklave; akhirnya tanpa dihendakinya,  Kardinel Bergoglio, menjadi Paus Fransiskus, dan terus dalam peristiwa perjumpaan ekumenis yang semakin akrab, semakin saling mengerti dan menghormati, dan semakin damai, itu semua adalah "hermeneutic" iman atas tuntuan Roh Kudus. Menyadari, merasakan dan rela bekerjasama dengan tuntuan Roh Kudus itu adalah hemeneutic menurut Paus Fransiskus.
 
Dan inilah Sapaan Paus Ekumenis itu:
 
Saudara-saudariku yang terkasih.
 
Saya sungguh bahagia bertemu dengan anda semua, delegasi dari pelbagai Gereja dan pelbagai agama. Saya ingin mengucapkan terimakasih karena saudara-saudara berkenan hadir pada misa inagurasi kemarin. Di dalam diri anda saya merasakan kehadiran komunitas-komunitas yang anda wakili. Di dalam ungkapan iman ini saya merasa ambil bagian dalam suatu kemendesakan untuk berdoa bagi kesatuan seluruh umat beriman dalam Kristus, dan bersama-sama ingin menyaksikan kepenuhan realisasi kesatuan itu yang tergantung dari Tuhan dan dari kesetiaan kita dalam bekerjasama dengan-Nya.
 
Saya mengawali pelayanan kerasulan saya pada tahun ini yang sudah dicangankan oleh Pendahulu saya, Paus Benedictus XVI, sebagai Tahun Iman. Saya berkeinginan untuk melanjutkannya dan saya berharap tahun ini akan memberi inspirasi bagi perjalanan iman setiap orang. Tahun iman ini menandai ulang tahun Pembukaan Konsili Vatikan II, dan memberikan pedoman bagi peziarahan iman untuk setiap umat kristiani, yaitu: pembaruan personal relasi dengan Kristus, Putera Allah, yang wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Inti pesan konsili ialah: mewartakan kebenaran iman abadi itu kepada umat manusia zaman ini.

Bersama anda semua, saya tidak akan melupakan betapa Konsili Vatikan II sangat bermakna bagi perjalanan ekumenis kita. Saya ingin mengungkapkan lagi kata-kata dari Beato Yonahes XXIII, ketika beliau mengatakan: Gereja Katolik menganggap sebagai kewajibannya untuk bekerja secara aktif supaya terwujudlah misteri besar kesatuan itu, yang dimohonkan oleh Yesus sendiri dalam doa-Nya kepada Bapa di sorga menjelang sengsara-Nya. Gereja merasakan sukacita dalam damai, karena tahu bahwa ia secara mesra disatukan di dalam doa Yesus itu."
 
Sungguh benarlah saudara-saudariku dalam Kristus, marilah kita menyatu secara mendalam pada doa Sang Penyelamat pada Perjamuan Akhir yang memohonkan: "Semoga mereka semua bersatu". Kita mohon bantuan Bapa penuh kasih untuk menghayati iman yang telah kita terima sejak baptisan ini; dan dapat menjadi saksi iman itu dengan bebas, gembira dan berani. Semakin kita setia kepada kehendak-Nya dalam pikiran, perkataan dan perbuatan kita, maka kita akan semakin mengarah kepada kesatuan itu secara benar dan substansial.
 
Dari pihak saya sendiri, seperti juga para pendahulu saya, saya menjanjikan kuatu tekad yang bulat untuk melanjutkan dialog ekumenis ini. Dan Saya berterimakasih kepada Komisi Kapausan bagi kesatuan umat kristiani, yang atas nama saya, akan terus melanjutkan tugas mulia itu. Saya memohon kepada saudara-saudara para delegasi, untuk menyampaikan salam hangat saya kepada komunitas-komuntas kristiani yang anda wakili. Dan saya mohon doa khusus untuk saya pribadi supaya saya dapat menjadi pastor (gembala) sesuai dengan hati Kristus.
 
Sekarang saya ingin menyapa para wakil terhormat dari masyarakat Yahudi yang dengannya kami terkait erat secara spiritual sejak semula sesuai rencana Allah di dalam iman para bapa bangsa, Musa dan para nabi (Nostra Aetate no. 4).
 
Saya juga ingin menyapa dengan hangat para sahabat terkasih dari pelbagai tradisi religius; pertama-tama umat Muslim, yang menyembah Allah yang hidup dan penuh kasih dan selalu memanjatkan doa-doa kepada-Nya. Saya sungguh mengapresiasi kehadiran anda sekalian, dan di sini saya melihat secara jelas kerinduan yang semakin kuat untuk kepercayaan timbal balik dan kerjasama demi kebaikan umum umat manusia.
 
Gereja Katolik menyadari pentingnya memajukan persaudaraan dan hormat di antara para pemeluk tradisi keagamaan; saya ulangi lagi: pentingnya memajukan persaudaraan dan hormat di antara para pemeluk pelbagai tradisi keagamaan.

Kita dapat berbuat banyak untuk mereka yang kurang beruntung, untuk mereka yang lemah dan menderita, untuk mengusahakan keadilan, memajukan rekonsiliasi dan membangun kedamaian.
 
Marilah kita bersama-sama mempertahankan di dalam kehidupan umat manusia di dunia ini suatu kehausan akan Dia yang Mutlak, dan tidak membiarkan visi tentang pribadi manusia yang direduksi dalam satu dimensi saja, yakni ke dalam apa yang ia produksi dan ia konsumsi. Inilah bahaya terbesar pada zaman kita. Kita tahu betapa banyak kejahatan telah dilakukan dalam sejarah umat manusia dengan cara menghapuskan dimensi spiritual dan Allah. Kita dipanggil untuk menjadi saksi dari keterbukaan asali manusia kepada yang Transenden itu tertanam di dalam sanubari manusia. Dalam semangat itu kita merasa dekat dengan semua orang yang berkehendak baik dan menghargai martabat manusia, membangun kehidupan bersama yang damai dan menjaga serta merawat alam ciptaan.
 
Dear friends, thank you for your presence. To all, I offer my cordial and fraternal greetings.
 
Pax et Bonum
Fransiscus
(Di-copas dari milis Mitra Hukum)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 20 Maret 2013

Paus Fransiskus Serukan Persahabatan Antaragama

Paus Fransiskus, Rabu (20/3/2013), menyerukan "persahabatan dan rasa respek" di antara semua agama dan kepercayaan di dunia. Pernyataan ini disampaikan Paus dalam pertemuan dengan perwakilan agama-agama besar dunia di Vatikan.

Gereja Katolik Roma, lanjut Paus, akan terus mempromosikan persahabatan dan rasa saling menghormati antara semua pemeluk agama.

"Kita bisa berbuat banyak untuk mereka yang miskin, mereka yang lemah, mereka yang menderita, serta mempromosikan rekonsiliasi dan perdamaian," ujar Paus Fransiskus.

Para tokoh agama dari Kristen Ortodoks, Yahudi, dan Islam terlihat dalam pertemuan yang digelar sehari setelah inaugurasi Paus Fransiskus ini.

"Semua agama harus bersatu untuk melawan hal paling berbahaya saat ini, yaitu menilai manusia dari apa yang mereka produksi dan konsumsi," lanjut Paus asal Argentina itu.

Lebih lanjut, Paus mengatakan, dia juga merasakan "kedekatan" dengan orang-orang yang mengaku tak beragama, tetapi sedang mencari kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Yang semuanya, tambah Paus, ada dalam diri Tuhan.

"Saya sangat menghargai kehadiran Anda semua dan saya melihat ini sebagai sebuah tanda saling respek dan kerja sama untuk kebaikan manusia," kata Paus kepada para tokoh agama yang hadir di Vatikan.

Sementara itu, kepada denominasi Kristen lainnya, Paus menegaskan, dia tetap akan melanjutkan dialog dengan mereka.
Dengan pihak Yahudi, Paus juga mengutarakan keinginannya untuk melanjutkan dialog yang dimulai sejak Konsili Vatikan II pada 1960-an.
(Kompas.com)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 19 Maret 2013

Terjemahan Homili Paus Fransiskus: Hari Raya Santo Yosef

From: Bs Mardiatmadja
Sent: 19 Maret 2013 20:29
To: gembala_baik@yahoogroups.com
Cc: ApiKatolik@yahoogroups.com; renungandoa@yahoogroups.com;
rohani@yahoogroups.com
Subject: Re: [gembala_baik] Profil Paus Fransiskus

Para saudari dan saudara semua,

seorang sahabat memberikan terjemahan homili Paus Fransiskus dalam Instalasinya tadi siang: silakan mendalaminya; dan sebisa mungkin
melaksanakannya. Maklum, Beliau Paus kita:

"Saya berterimakasih kepada Tuhan karena dapat merayakan misa untuk
mengawali masa pontifikat saya pada pesta Santo Yosep, suami Perawan Maria
dan pelindung Gereja Universal. Adalah sebuah kebetulan yang kaya makna, dan juga pesta nama dari Pendahulu saya yang terhormat: kami dekat dalam doa, penuh afeksi dan syukur.

Saya sampaikan salam hangat kepada saudara-saudara Kardinal dan para uskup, para imam dan para diakon, para religius dan semua awam. Saya sampaikan terimakasih atas kehadiran dari para wakil dari Gereja-Gereja yang lain dan komunitas-komunitas eklesial, juga perwakilan dari komunitas Yahudi dan dari komunitas-komunitas religius lain. Salam hangat saya juga kepada para pemimpin negara dan pemerintahan, kepada delegat resmi dari banyak negara di dunia dan juga Korps Diplomatik.

Dalam Injil kita mendengar bahwa "Yosep berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya." (Mat.1,24). Dalam kata-kata tersebut, telah ditunjukkan misi yang dipercayakan Tuhan kepada Yosep, yaitu menjadi custos, penjaga. Penjaga dari siapa? Maria dan Yesus; namun sesungguhnya juga penjagaan yang melebar kepada Gereja, seperti digarisbawahi beato Yohanes Paulus II: "Santo Yosep, seperti telah merawat Maria dengan penuh kasih dan mendedikasikan dirinya dengan gembira dalam mendidik Yesus, demikian pula dia menjaga dan
melindungi tubuh mistikNya, Gereja, di mana Santa Perawan Maria adalah figur dan model (Esort. Ap. Redemptoris Custos, 1).

Bagaimana Yosep melaksanakan penjagaan ini? Dengan diskresi, dengan kerendahan hati, dalam keheningan, namun dengan kehadiran yang konstan dan kesetiaan yang total, juga ketika beliau tidak dapat memahami. Dari perkawinan dengan Maria sampai kepada episode ketika Yesus berumur 12 tahun di Bait Allah di Yerusalem, beliau menemani dengan sungguh dengan penuh kasih setiap momen. Sebagai suami dari Maria, beliau selalu berada di sisinya dalam untung dan malang, dalam perjalanan ke Bethelem untuk sensus dan pada saat yang mencemaskan dan menggembirakan ketika Maria melahirkan; di tengah drama pengungsian ke Mesir dan saat kebingungan mencari Putranya
di Bait Allah; kemudian dalam hidup harian di Nazaret, di bengkel, saat dia
mengajari Yesus bekerja.

Lalu menambahkan: "Bagaimana Yosep menghidupi panggilannya untuk menjaga Maria, Yesus dan Gereja? Dengan selalu memperhatikan Tuhan, terbuka pada tanda-tandaNya, siap sedia pada rencanaNya, dan bukan kepada rencananya sendiri; itulah yang diminta Tuhan kepada Daud, seperti kita dengarkan dalam bacaan pertama.: Tuhan tidak menghendaki sebuah rumah yang dibangun oleh
manusia, namun menghendaki kesetiaan kepada SabdaNya, kepada rencanaNya, dan Tuhan sendirilah yang membangun rumah, namun dari batu-batu hidup yang ditandai oleh RohNya. Dan Yosep adalah "penjaga", karena tahu bagaimana mendengarkan Tuhan, membiarkan dirinya dibimbing oleh kehendakNya, dan karena hal inilah dia menjadi lebih peka terhadap orang-orang yang
dipercayakan kepadanya, tahu bagaimana membaca kejadian-kejadian dengan realisme dan perhatian kepada hal-hal yang mengelilinginya, dan tahu
bagaimana mengambil keputusan yang lebih bijaksana. Pada pribadinya,
sahabat-sahabat terkasih, kita melihat bagaimana menjawab panggilan Tuhan, dengan kesiapsiagaan, dengan kesigapan, namun kita lihat juga inti dari panggilan Kristen: Kristus! Marilah kita jaga Kristus dalam hidup kita,
untuk menjaga orang-orang lain, untuk menjaga ciptaan.

Panggilan untuk menjaga, namun demikian, -berlanjut- tidak hanya melibatkan kita orang Kristen, melainkan memiliki dimensi yang mendahuluinya, yaitu secara sederhana bersifat manusiawi, mengarah pada semuanya. Jadi: menjaga seluruh ciptaan, keindahan dari ciptaan, seperti dikatakan dalam Kitab Kejadian, dan seperti yang ditunjukkan oleh santo Fransiskus Asisi: memiliki rasa hormat kepada setiap ciptaan Tuhan, dan pada setiap lingkungan di mana kita hidup. Dengan kata lain: menjaga orang-orang, memelihara semuanya, setiap pribadi, dengan cinta, secara khusus pada kanak-kanak, orang-orang lanjut usia, mereka yang paling lemah dan seringkali berada di pinggir hati kita. Artinya: memelihara satu dengan yang lain di dalam keluarga: para pasangan saling menjaga satu dengan yang lain, lalu orang tua merawat anak-anak, dan pada saat yang bersamaan anak-anak menjadi penjaga dari orang tua. Lebih lanjut: menghidupi persahabatan dengan ketulusan, yang merupakan
saling menjaga dalam kepercayaan, dalam respek dan dalam kebaikan.

Akhirnya, semua dipercayakan dalam penjagaan manusia, dan merupakan sebuah tanggung jawab yang melibatkan semua. Jadilah kalian para penjaga dari karunia-karunia Tuhan!

Ketika manusia kurang bertanggungjawab untuk menjaga, ketika kita tidak merawat ciptaan dan saudara-saudara kita, di situlah terdapat ruang bagi kerusakan dan hati yang mengeras. Di dalam setiap babak sejarah, sayangnya, selalu ada "Herodes" yang merencanakan kematian, merusak dan menodai wajah
lelaki dan wanita.

Saya mohon dengan sangat, kepada mereka yang memiliki peran dan tanggung jawab di bidang ekonomi, politik atau sosial, kepada semua orang, lelaki dan perempuan yang berkehendak baik: kita ini "penjaga" ciptaan, rencana Tuhan yang tersirat di dalam alam, penjaga orang lain, lingkungan; jangan biarkan tanda-tanda kehancuran dan kematian menemani perjalanan dunia kita! Namun untuk "menjaga" kita harus memelihara diri kita sendiri! Marilah kita ingat bahwa kebencian, keirihatian, dan kesombongan mengotori kehidupan! Menjaga
berarti memperhatikan perasaan-perasaan kita, hati kita, karena benar-benar dari sanalah intensi-intensi baik atau buruk keluar: intensi yang membangun atau merusak! Kita tidak perlu takut pada kebaikan dan juga kelemahlembutan!

Di sini, saya ingin menambahkan satu hal: merawat, menjaga memerlukan
kebaikan, perlu dihidupi dengan kelemahlembutan. Di dalam Injil, Santo Yosep muncul sebagai lelaki yang kuat, pemberani, pekerja, namun di dalam jiwanya muncul kelemahlembutan yang besar, yang bukan keutamaan orang yang lemah,melainkan sebaliknya, menunjukkan kekuatan dari jiwa dan kapasitas dari
perhatian, belarasa, dan keterbukaan yang sejati kepada orang lain,
kapasitas untuk mencintai. Kita tidak perlu takut pada kebaikan dan
kelemahlembutan!

Hari ini, bersamaan dengan pesta Santo Yosep kita merayakan dimulainya pelayanan dari uskup Roma yang baru, penerus Santo Petrus, yang melibatkan juga sebuah kekuasaan. Tentu, Yesus Kristus telah memberikan kekuasaan kepada Petrus, namun kekuasaan macam apakah itu? Tiga pertanyaan tentang cinta dari Yesus kepada Petrus diikuti oleh tiga undangan: gembalakanlah
domba-dombaku! Janganlah pernah kita lupakan bahwa kekuasaan yang sebenarnya adalah pelayanan dan bahwa Paus ketika menjalankan kekuasaan mesti memasuki
semakin dalam pelayanan itu, yang memiliki puncaknya yang bersinar dalam salib; harus melihat pada pelayanan Santo Yosep yang rendah hati, konkret, kaya akan iman, dan juga bagaimana beliau membuka tangannya untuk menjaga
seluruh Umat Allah dan mengumpulkan dengan afeksi dan kelemahlembutan seluruh kemanusiaan, khususnya yang paling miskin, paling lemah, paling
kecil, semuanya yang digambarkan oleh Matius di dalam penghakiman terakhir tentang kasih: mereka yang lapar, haus, orang asing, telanjang, sakit, di dalam penjara (cfr. Mat. 25, 31-46). Hanya mereka yang melayani dengan cinta, yang mampu menjaga!

Dalam bacaan kedua, Santo Paulus berbicara tentang Abraham yang "percaya, teguh dalam pengharapan sekalipun tidak ada dasar untuk berharap" (Rm. 4, 18). Teguh dalam pengharapan, meskipun tidak ada dasar untuk berharap! Juga saat ini, di hadapan gelapnya langit, kita perlu untuk melihat cahaya pengharapan dan memberikan diri kita sendiri sebagai harapan dan menyelipkan
cahaya harapan di tengah begitu banyaknya awan, dan membawa hangatnya harapan! Dan bagi orang beriman, bagi kita orang Kristen, seperti Abraham, seperti Santo Yosep, harapan yang kita bawa, memiliki Tuhan sebagai horison, yang terlihat di dalam Kristus, yang memiliki fondasi dalam batu yang adalah Tuhan sendiri.

Menjaga Yesus bersama Maria, menjaga seluruh ciptaan, menjaga setiap pribadi, terutama yang paling miskin, menjaga diri kita sendiri: inilah
pelayanan yang harus dilakukan oleh Uskup Roma, namun kita semua juga
dipanggil untuk itu, untuk menyalakan bintang harapan: marilah kita jaga
dengan cinta semua yang telah diberikan Tuhan kepada kita! Saya memohon dengan perantaraan Perawan Maria, Santo Yosep, Santo Petrus dan Paulus, santo Fransiskus, agar Roh Kudus menemani pelayanan saya, dan kepada Anda sekalian saya mohon: doakanlah saya. Amin!"
(Milis ApiKatolik)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 18 Maret 2013

Lambang dari Paus Fransiskus

(Terjemahan oleh: Shirley Hadisandjaja)


PERISAI
Pada bagian-bagian yang penting, Paus Fransiskus telah memutuskan untuk tetap menggunakan bagian depan dari lambangnya, yang dipilih sejak dari pentahbisannya sebagai uskup dan ditandai oleh sebuah kesederhanaan yang jelas.

Di atas Perisai biru ditandai dengan simbol martabat kepausan, sama seperti yang diambil oleh pendahulunya Benediktus XVI (mitra ditempatkan di antara kunci silang dari emas dan perak, yang diikat oleh tali merah). Di bagian atas, berdiri lambang dari Ordo asal Paus, yaitu Serikat Yesus: matahari bersinar dan terbakar dengan huruf merah IHS, monogram dari Kristus. Di atas Huruf H ada salib; pada ujungnya, tiga paku hitam.
Di bagian bawah, ada bintang dan bunga narwastu. Bintang, menurut tradisi heraldik kuno, melambangkan Perawan Maria, Bunda Kristus dan Bunda Gereja;  sedangkan bunga narwastu menunjukkan St. Yosef, pelindung Gereja Universal. Memang dalam tradisi ikonografi Hispanik, St. Yosef digambarkan memegang di tangannya sebuah dahan dari bunga narwastu. Dengan menempatkan gambar-gambar itu di perisai, Sri Paus ingin mengekspresikan pengabdian khusus kepada Santa Perawan Maria dan St. Yosef.

MOTO

Moto dari Bapa Suci Fransiskus diambil dari Homili St. Bede* imam Mulia (Om. 21, CCL 122, 149-151), yang, mengomentari kisah Injil pemanggilan St. Matius menulis: "Vidit ergo lesus publicanum et quia miserando atque eligendo vidit, ait illi Sequere me" (Yesus melihat seorang penagih pajak dan saat Ia menatapnya dengan perasaan kasih dan memilihnya, Ia berkata kepadanya: Ikutlah aku).
Homili ini merupakan penghargaan kepada kemurahan Allah dan diulang dalam Ibadat Harian pada Pesta St. Matius. Memiliki makna tertentu dalam kehidupan dan kenyataan spiritual Sri Paus, pada pesta St. Matius tahun 1953, pemuda Jorge Bergoglio mengalami pada usia 17 tahun, dengan cara yang sangat istimewa, kehadiran penuh kasih Allah dalam hidupnya. Setelah mengaku dosa, ia merasa hatinya tersentuh dan merasa turunnya Rahmat Allah, yang denganmata kasih yang lembut, ia dipanggil kepada hidup beriman, mengikuti teladan St. Ignatius Loyola.

Setelah dipilih sebagai uskup, Yang Mulia Bapa Uskup Bergoglio, dalam kenangan akan peristiwa yang menandai awal konsakrasi totalnya kepada Tuhan dalam GerejaNya, memutuskan untuk memilih, sebagai motto dan cara hidup, pernyataan St. Bede "miserando atque eligendo" (memilih dengan perasaan kasih) yang diinginkannya untuk diulang sebagai lambang kepausan.
Copyright © L'Osservatore Romano
* St. Bede adalah Doktor Gereja Katolik, seorang imam Mulia, biarawan, ahli sejarah dan Orang Kudus Anglosakson, yang hidup di Biara Benediktin St. Petrus dan Paulus di Wearmouth, Inggris. Dante Aligheri, penulis ternama Italia, mengutip dirinya dalam karyanya yang terkenal Divina Commedia.

Powered by Telkomsel BlackBerry®


Minggu, 17 Maret 2013

Paus Fransiskus dan Teori Pendulum (Yustinus Prastowo)

Salam,

Terpilihnya Kardinal Jorge Mario Bergoglio sebagai Paus baru menggantikan Paus Benediktus XVI sungguh karunia yang patut disyukuri. Bergoglio yang mengambil nama Fransiskus ini langsung menyedot perhatian dunia, menjadi objek analisis, dan catatan perjalanan hidupnya ditilik kembali. Anak
seorang imigran Italia yang sempat mengenyam pendidikan di bidang kimia dan belajar filsafat di Jerman ini memang luar biasa. Bersahaja sejak kecil, menjadi pastor yang dekat dengan umat, tak canggung mengkritik presiden Argentina, juga menjaga jarak dengan koleganya yang aktif di Teologi Pembebasan yang pada 1970-an hingga 1980-an sangat populer di Amerika Latin.

Richard Mc Brien eklesiolog asal Amerika Serikat dan Giancarlo Ziola,
jurnalis Italia - keduanya ahli di bidang sejarah kepausan pernah memaparkan apa yang mereka sebut "pendulum law" atau hukum pendulum (berayun) sebagai pisau analisis psikologi konklaf dan kepausan.

Tak semudah yang kita duga, aspek psikologis berperan penting dalam menentukan pilihan termasuk bagaimana pendulum itu berayun, dari pilihan terhadap Paus yang pro pada perubahan ke Paus yang pro kepada stabilitas. Jika perubahan dirasa terlalu kencang, orientasi pilihan umumnya diarahkan pada kandidat yang lebih tenang, dan sebaliknya jika kondisi Gereja mengalami stagnasi, pilihan biasanya dijatuhkan pada kandidat yang diharapkan memiliki visi perubahan.

Hal ini misalnya tampak pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20 ketika Gereja mencari pengganti Paus Leo XIII yang terkenal progresif, berpikiran terbuka, dan secara personal adalah pribadi yang menyenangkan.

Dalam kegamangan menapak awal abad ke-20 yang diwarnai ketegangan dan kecurigaan terhadap modernisme, bayang-bayang perang dunia akan berkecamuk, dan senjakala otoritas agama di Eropa, pada 1903 pilihan berikutnya jatuh pada Giuseppe Sarto, menjadi Paus Pius X yang sangat konservatif, anti-modernisme, dan oleh pemerintah Italia dijuluki "the most intransigent of the intransigents". Pada era ini Gereja Katolik berhadap-hadapan dengan modernisme dan dunia sekular, yang melahirkan pemikir2 ateis seperti Karl Marx, Friedrich Nietzsche, dan bersemainya teori volusi Darwinian yang anti metafisika (dan agama). Dekrit penting di era ini adalah Lamentabili dan Pascendi Dominici Gregis.

Kelak kita akan ingat Uskup Marcel Lefebvre yang tidak setuju dengan hasil Konsili Vatikan II dan mendirikan Komunitas Pius X. Lefebvre dan para ultra-tradisionalis menyebut masa sesudah Pius X sebagai sede vacante.

Pendulum kemudian berayun ketika 1914 konklaf memilih Giacomo della Chiesa (Benediktus XV), seorang moderat yang dapat dibilang sebagai anti-tesis Pius X. Benedktus XV mengakhiri sikap anti-modern dan anti-Protestantisme Pius X dengan mengatakan "Cukuplah saya katakan bahwa Kristen itu nama saya, dan Katolik adalah nama fam saya." Perstasi di masa ini adalah diundangkannya Kitab Hukum Kanonik pada 1917.

Pada 1922 Benediktus XV wafat dan diselenggarakan konklaf. Pendulum mulai kembali berayun dalam tegangan: pendukung Pius X dan pendukung Benediktus XV, yang sebagian besar adalah pendukung Kardinal Rampolla, tangan kanan Paus Leo XIII. Dalam proses pemilihan yang menegangkan dan menghasilkan perkubuan yang tajam, akhirnya
bukan Pietro Gasparri maupun Merry del Val yang terpilih tetapi Achille
Ratti.

Masa ini adalah konklaf terlama di abad ke-20: 5 hari dan 14 putaran. Achille Ratti terpilih dan mengambil nama Pius XI, bertahta hingga 1939. Pius XI adalah paus yang relatif moderat, tanpa gejolak dan jarang membuat keputusan progresif. Pencapaian besar Pius XI adalah didirikannya Kota Vatikan sebagai negara berdaulat dan merdeka pada 1929 dan menulis ensiklik Quadragesimo Anno (1931) sebagai kenangan terhadap Rerum Novarum
yang ditulis Leo XIII. Sikap Pius XI cukup menarik karena pada 1928 beliau mengutuk ekumenisme dalam ensiklik Mortalium Animos dan mengutuk kontrasepsi dalam Casti Conubii.

Paus Pius XI wafat pada tahun 1939 dan diadakan konklaf. Masa pemerintahan Pius XI yang cukup panjang mungkin meredakan polarisasi warisan masa-masa sebelumnya. Konklaf hanya berlangsung 2 hari dan 3 putaran - tersingkat pada abad modern ini dan memilih Eugenio Pacelli yang mengambil nama Pius XII.

Enam bulan pasca pelantikannya, pecahlah Perang Dunia II. Pius XII sendiri adalah pribadi yang kharismatik, teolog ulung dan administrator yang handal. Ensiklik terkenal di masanya adalah Divino Afflante Spiritu (1943) yang merintis upaya tafsir Alkitab sesuai perkembangan ilmu hermeneutika dan eksegese. Lalu ensiklik Mystici Corporis yang mengantisipasi Lumen Gentium di Konsili Vatikan II, dan terakhir Mediator Dei, yang diabdikan untuk pembaruan liturgi. Titik balik muncul ketika pada 1950 ensiklik Humani Generis diterbitkan dan berisi kritik terhadap pandangan-pandangan modern dan baru yang berkembang baik di bidang teologi maupun sains. Para teolog aliran nouvelle thelogiae dilarang membuat publikasi, termasuk ilmuwan Jesuit Teilhard de Chardin.

Pius XII secara mengejutkan wafat pada 1958 dan diadakan konklaf. Dua
kardinal terkenal dan berpengaruh pada masa itu adalah Kardinal Ruffini dan Kardinal Ottaviani, ada juga Kardinal Lercarlo dari Bologna. Berlangsung 4 hari dan 11 putaran, konklaf memilih Kardinal Angelo Roncalli sebagai paus baru. Nama yang hampir tak diperhitungkan. Yohanes XIII, nama yang diambil, justru menjadi pembaharu. Beliau mengumumkan akan diadakannya Konsili Vatikan II dan berlangsung hingga 1965. Beliau seorang yang terbuka, periang, lucu, dan terkenal karena pelayanan pastoralnya.

Hal penting di konklaf 1958 adalah diunggulkannya Uskup Agung Giovanni Montini sebagai
paus padahal belum diangkat sebagai kardinal. Muncul dugaan Pius XII memang kurang sreg dengan Montini. Anugerah Yohanes XXIII untuk sahabatnya Montini adalah mengangkatnya sebagai kardinal dan melempangkan jalan sebagai penggantinya pada konklaf 1963. Paulus VI, demikian beliau mengambil nama adalah paus yang brilian dan tenang. Diplomasi politiknya cukup bagus. Dua ensiklik pentingnya adalah Humanae Vitae tentang teologi moral dan Populorum Progressio, kenangan terhadap Rerum Novarum.

Sebelum meninggal pada 1978 Paulus VI telah menyiapkan kandidat yang akan meneruskan kepemimpinannya karena sengitnya perkubuan di Kuria. Beliau menyiapkan Luciani Albino yang terpilih menjadi paus baru dan hanya
bertahta dua bulan, dan kemudian konklaf selanjutnya memilih Uskup Krakow Karol Wojtyla. Mengambil nama Yohanes Paulus II, Wojtyla adalah paus yang bertahta paling lama di era modern yaitu 27 tahun.

Tak hanya kharismatik, beliau juga memimpin peruntuhan Komunisme, menulis banyak ensiklik penting dari Laborem Execerns, Redemptoris Mater, Solicitudo Rei Socialis, Evangelium Vitae, hingga Fides et Ratio. Wafat pada 2005, JP II meninggalkan banyak warisan berharga sekaligus berbagai persoalan yang selama ini tak pernah diselesaikan: sex abuse, skandal keuangan Vatikan, tuntutan tahbisan perempuan, dll. 2005, konklaf berlangsung dua hari dan memunculkan kandidat kuat di putaran pertama: Kardinal Carlo Martini, Uskup Agung Milan, Kardinal Ratzinger, Kardinal Camillo Ruini, dan Kardinal Bergoglio.

Pada putaran berikutnya Kardinal Ratzinger unggul diikuti Kardinal Bergoglio. Bersahabat sejak 1970-an dengan Wojtyla, Ratzinger adalah Prefek Kongregasi untuk Doktrin Iman yang bertugas menjaga ajaran Gereja, membuat notifikasi dan palang pintu ortodoksi.

Boleh dikatakan Ratzingerlah pendamping dan penyeimbang
Wojtyla. Brilian sebagai teolog sejak muda, ketika berusia 35 tahun beliau
menjadi Profesor Teologi Sistematik di Universitas Freiburg dan menjadi
peritus untuk Kardinal Frings dari Cologne. Beliau bertahta selama 8 tahun dan menulis tiga ensiklik penting dan monumental: Deus Caritas Est, Spe Salvi, dan Caritas in Veritate. Tiga ensiklik yang ditulis tematik secara terbalik sesuai 3 pilar Kristianitas: kasih, harapan, dan iman.

Beliau mundur pada Februari 2013 dan mengumumkan sede vacante. Konklaf 2013 yang banyak dinanti akhirnya memilih Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires Argentina sebagai Paus baru. Jesuit pertama yang menjadi paus, paus pertama dari benua Amerika, dan paus pertama yang memakai nama Fransiskus.

Lalu apa?

Jika mengikuti penuturan Kardinal Timothy Dolan dan Kardinal Christoph
Schoenborn, pilihan kepada Bergoglio adalah arah yang jelas sesuai perbincangan pendahuluan pra konklaf. Ini terkait kemendesakan Gereja Katolik melakukan pembenahan internal (ad intra) dan revitalisasi misi
keluar (ad extra). Usai selama 35 tahun Gereja Katolik dipimpin mendunia oleh sosok kharismatik JP II dan teolog ulung Benediktus XVI, kini saatnya Gereja Katolik berayun dalam pendulum baru: orientasi pastoral. Pengalaman sebagai gembala di dunia ketiga, lekat dengan isu kemiskinan, berpengalaman menghadapi aneka tantangan politik lokal, regional dan global, Paus Fransiskus adalah pembaharu yang hadir pada situasi yang tepat. Jika pembacaan tanda-tanda zaman dilakukan, mungkin saja kehadiran Bergoglio mirip dengan kehadiran Roncalli: sama-sama berusia 76 tahun, periang, humoris, berlatar pastoral. Tentu saja kita menantikan program konkret Paus
Fransiskus.

Tentu saja Teori Pendulum hanyalah upaya ilmuwan dan analis untuk
merekonstruksi fakta historis. Boleh jadi ini sekedar analisis post-factum.
Namun bentangan sejarah yang berayun dan dinamis ini berguna untuk membaca masa depan Gereja.

Tetapi dari pesan yang disampaikan, beliau jelas menegaskan sikap optimis
pada dunia, ajakan beriman dengan gembira, dan dorongan mawas diri.

Kita semua berdoa untuk Paus Fransiskus semoga Gereja Katolik semesta kembali dapat menegaskan orientasinya, menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan merumuskan pondasi yang kokoh bagi generasi mendatang. Peringatannya cukup
jelas: tanpa mewartakan iman akan Tuhan, seluruh aksi karitatif itu tak
ubahnya menjadikan Gereja seperti LSM internasional. Gereja tak pernah
kehilangan harapan karena hidup dari penyertaan Roh Kudus dan dinamika umat yang mendewasa. Kita patut berbangga dan lebih-lebih bersedia terlibat sesuai talenta kita.

salam

Yustinus Prastowo

Sumber:

1. What Happened at Vatican II karya John O Malley
2. Conclave karya John L Allen,Jr
3. Trent What Happened karya John O Malley
4. Church Council: A Brief History karya Norman P Tanner
5. A Brief History of Vatican II karya Giuseppe Alberigo
(Milis ApiKatolik)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Jumat, 15 Maret 2013

20 Fakta Seputar Paus Fransiskus

Banyak hal yang belum diketahui soal Paus Fransiskus dari Argentina. Berikut 20 fakta unik Paus pertama dari Amerika Latin ini.

1. Jorge Mario Bergoglio, lahir 17 Desember 1936 di Buenos Aires. Ayahnya adalah seorang pekerja kereta api berdarah Italia.

2. Ayahnya, Mario Jorge, beremigrasi ke Argentina dari kawasan Piedmont, Italia.

3. Paus Fransiskus sangat lancar berbahasa Italia, Jerman, dan Spanyol. Dia juga bisa berbicara dalam bahasa Inggris, Perancis, dan Portugis.

4. Paus Fransiskus kehilangan salah satu paru-parunya akibat infeksi di masa remajanya.

5. Beliau adalah penggemar tarian tango. "Saya suka tango dan saya suka berdansa saat masih muda," katanya kepada Francesca Ambrogetti dan Sergio Rubin, penulis biografinya, El Jesuita.

6. Paus Fransiskus ternyata pernah memiliki kekasih di masa remajanya. "Dia adalah salah satu kelompok gadis yang kerap berdansa dengan saya. Namun, kemudian saya menemukan panggilan religius saya," kata Fransiskus dalam biografinya.

7. Dia bahkan pernah menjadi penjaga keamanan di Buenos Aires untuk menambah uang sakunya sebagai pelajar.

8. Paus Fransiskus adalah penggemar klub sepak bola San Lorenzo yang berlaga di Liga Argentina. Klub ini adalah klub Argentina pertama yang memenangkan dua gelar dalam satu musim pada 1972.

9. Lukisan favoritnya adalah The White Crucifixion karya Marc Chagall pada 1938. Lukisan itu menampilkan Yesus yang tengah disalib mengenakan selendang doa yang menunjukkan Dia adalah seorang Yahudi. Lukisan ini awalnya juga menampilkan seorang prajurit dengan lambang swastika Nazi di lengannya tengah membakar sebuah sinagoga.

10. Film favorit Paus adalah Babette's Feast (1987), sebuah drama produksi Denmark, arahan Gabriel Axel.

11. Dia belajar filsafat di Universitas Katolik Buenos Aires dan meraih gelar master bidang Kimia dari Universitas Buenos Aires.

12. Dia pernah mengajar sastra, psikologi, filsafat, dan teologi sebelum menjadi Uskup Agung Buenos Aires.

13. Dia menjabat Uskup Agung Buenos Aires sejak 1998-2013. Semasa menjabat Kardinal Bergoglio, ia dikenal selalu mencoba memberikan contoh baik untuk orang lain. Dia tidak mau mengenakan jubah mewah seorang uskup dan lebih memilih jubah sederhana seorang pastor biasa.

14. Dia ikut menulis buku "Sobre el Cielo y la Tierra" (Di Surga dan Bumi).

15. Dia selalu menggunakan transportasi umum seperti bus. Dia sangat jarang menggunakan taksi atau mobil pribadi saat bepergian. Dia juga tinggal di sebuah flat kecil bersama seorang pastor tua dan memasak makanannya sendiri. Padahal, dia bisa tinggal di salah satu apartemen Keuskupan Buenos Aires dan memiliki seorang juru masak.

16. Dia ditunjuk menjadi Kardinal Argentina pada 2001 oleh Paus Yohanes Paulus II.

17. Dalam konklaf 2005, dia menjadi runner up di bawah Paus Benediktus XVI. Fransiskus diduga menjadi korban "kampanye hitam" anggota ordo Jesuit lain yang lebih liberal, yang mengatakan Fransiskus tidak pernah tersenyum.

18. Paus Fransiskus berangkat ke Roma untuk mengikuti konklaf menumpang pesawat kelas ekonomi.

19. Paus Fransiskus adalah Paus non-Eropa pertama sejak Gregorius III yang terpilih pada 731.

20. Bergoglio memilih nama Fransiskus, bukan Fransiskus I. "Beliau akan menjadi Fransiskus I jika sudah ada Fransiskus II," kata juru bicara Vatikan, Federico Lombardi. Paus Yohanes Paulus I, menyematkan sendiri angka "I" di belakang namanya.
(Kompas.com - 15 Maret 2013)
Powered by Telkomsel BlackBerry®