Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Jumat, 06 April 2012

Kebangkitan Yesus

Resurrection - Bukan hanya berarti hidup lagi, seperti yang terjadi dengan Yairus (Mrk 5:22-24.35-43), melainkan peralihan yang dialami oleh Yesus melalui kematian ke dalam hidupNya yang sudah diubah dan abadi (Rm 1:3-4; 1Kor 15:42-50), yang menjadi jaminan bagi kebangkitan manusia dan dunia (1Kor 15:20-28).

Inti kebenaran iman ini merupakan isi pewartaan Kristiani awal (Kis 2:22-24, 32-33, 36; 1Kor 15:1-11): Allah telah membangkitkan Yesus dari kematian (Rm 10:9; 1Kor 6:14; Gal 1:1; 1Tes 1:10; lih. 1Kor 15:15).

Tradisi Perjanjian Baru yang kemudian, ajaran Gereja, dan syahadat (Yoh 10:17-18; Denzinger-Schonmetzer 359; 539) berbicara mengenai Kristus yang bangkit dengan kuasaNya sendiri.

Melalui penampakan-penampakanNya (1Kor 15:5-8; Mrk 16:7; Mat 28:9-10, 16-20) para murid yang pertama tahu bahwa Yesus sudah bangkit dari mati. Penemuan makam yang kosong oleh Maria Magdalena (mungkin bersama yang lain) berperan sebagai tanda negatif dan sekunder untuk mendukung kebangkitan (Mrk 16:1-8; Yoh 10:1-2).

Sebagai puncak wahyu ilahi (Dei Verbum 4; 17) kebangkitan Yesus yang tersalib, bersama dengan pengutusan Roh Kudus secara implisit sudah memuat kebenaran Kristiani yang dasar. Oleh karena itu, misteri Paskah tidak hanya harus diselidiki faktualitasnya, melainkan juga sebagai misteri pewahyuan, penebusan, iman, harapan, dan cinta.

(Sumber: O'Collins, Gerald,dkk., Kamus Teologi, Kanisius: Yogyakarta 1996).
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Paskah (easter/pasch/passover) - seri kamus teologi)

Paskah (easter/pasch/passover) - Pada mulanya Paskah adalah pesta keluarga Yahudi yang dirayakan pada musim semi ketika bulan purnama untuk mengenangkan pembebasan dari Mesir (Kel 12:1-28); Ul 16:1-8). Pada sore hari tanggal 14 Nissan, domba Paska dikurbankan. Dalam perjamuan paskah malam itu, orang makan roti tak beragi dengan domba yang dipanggang.
Perjamuan malam terakhir yang diadakan oleh Yesus bersama para murid menurut Injil-injil sinoptik adalah perjamuan Paska, tetapi tidak demikian halnya menurut Injil Yohanes (Yoh 18:28; 19:14).
Bagaimanapun juga, perjamuan itu ada hubungannya dengan Paska Yahudi dan Pesta Roti Tak Beragi yang berlangsung selama seminggu (Mrk 14:1-2.12-16).
Dengan demikian, orang-orang Kristiani dengan cepat memahami wafat dan kebangkitan Yesus sebagai pemenuhan pembebasan dari Mesir yang diperingati dalam Paska. Ia diimani sebagai Domba Paska yang menghapus dosa-dosa dunia (Yoh 1:29; 1Kor 5:7). Pesta ini adalah awal dan paling penting dalam tahun liturgi, yang mengenangkan kebangkitan Yesus Kristus dari maut.
Pada mulanya pesta ini dirayakan setiap hari Minggu, dan orang-orang Kristiani-Yahudi masih terus merayakan Paska Yahudi.
Ini menimbulkan perselisihan karena keyakinan Kristiani menyatakan bahwa pembebasan Israel dari Mesir sudah dipenuhi dan diatasi oleh kebangkitan Kristus (1Kor 5:7).
Kebiasaan menentukan satu hari khusus setiap tahun untuk merayakan kebangkitan, menimbulkan perselisihan antara orang-orang Kristiani di Asia Kecil yang merayakan kebangkitan pada hari Paska Yahudi (tanggal 14 bulan Nissan) dengan orang-orang Kristiani yang lain yang merayakannya pada hari Minggu sesudahnya. Perselisihan seperti itu terus berlangsung.
Gereja Ortodoks, meskipun sudah menerima pembaruan Gregorian terhadap kalender Yulianus, masih mengikuti kalender Yulianus dalam merayakan Paska.
Perkembangan ekumenis selanjutnya menghasilkan persetujuan antara Gereja Katolik Timur dengan Gereja Ortodoks mengenai tanggal perayaan Paska setiap empat tahun. Dalam kalender Gregorius, pesta Paska dirayakan antara tanggal 21 Maret dan 25 April.
(Sumber: Kamus Teologi, Kanisius: Yogyakarta, 1996)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 31 Mei 2010

CINTA DAN KERJA

Bekerja tanpa cinta, semua akan sia-sia. Ungkapan ini amat bermakna bagi semua orang yang bekerja. Untuk apa bekerja, kalau terpaksa? Untuk apa bekerja hanya karena paksaan atasan? Dengan cinta, bekerja menjadi asyik, makin hidup dan membawa kekuatan.

Bekerja adalah hakekat manusia. Manusia yang mempunyai pekerjaan akan dipandang lebih bermakna, berharga dan dihormati. Orang yang tidak bekerja, maaf, sering kurang dihormati. Dengan bekerjalah, seseorang bisa mengaktualisasikan diri untuk membangun diri, keluarga dan bangsa. Orang yang bekerja pantas makan, orang yang tidak bekerja tidak pantas makan.


Cinta adalah kekuatan tertinggi yang ada dalam diri manusia. Dengan cinta, kekerasan dilembutkan, kekakuan dicairkan. Demikian pula dalam hal pekerjaan, dengan cinta pekerjaan menjadi baik dan selesai memuaskan. Dengan cinta manusia melihat segalanya menjadi indah.


Maka patut direnungkan, bekerja tanpa cinta adalah sia-sia, kurang bermakna. Tanpa cinta, pekerjaan tidak berjalan dengan baik. Kekuatan cinta dan martabat pekerjaan dalam diri manusia merupakan kekuatan sinergis untuk membangun diri, keluarga, komunitas dan bangsa. Kiranya cinta menjiwai hidup kita semua karena cinta itu sendiri berasal dari SANG CINTA yaitu Allah atau Tuhan.


Minggu, 30 Mei 2010

BILA DOA BELUM DIKABULKAN

Ketika sedang mengikuti acara pembinaan rohani di sebuah hotel di pantai Anyer Banten pada akhir Mei 2010 ini, saya tertarik dengan pernyataan-pernyataan atau paparan seorang pastor, Albert Damean, MSC. Kalimat pernyataan itu berbunyi, “Iman bertumbuh bukan karena adanya mukjizat atau kalau doa kita langsung dikabulkan, tetapi percayalah bahwa Tuhan itu setia dalam segala suka dan duka kita”.

Kalimat itu menyentuh, dan saya tuliskan besar-besar dicatatanku. Pengalaman selama ini, ketika doa dikabulkan atau terjadi mukjizat dalam hidup seseorang, orang betapa bersemangat berdoa dan hidup, namun jika sebaliknya yang terjadi, doa tidak dikabulkan dan mukjizat tidak terjadi, orang menjadi malas berdoa, putus asa, berontak, dan tidak pernah lagi pergi ke tempat ibadat. Kalimat itu menguatkan saya dalam perjalanan hidup saya.


Sekiranya pun, bila doa kita tidak dikabulkan, maka saya harus bertanya kepada diri sendiri, apakah salah saya? Maka lebih baiklah banyak mengucapkan doa ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan daripada mengutuk atau memberontak.


Bersyukur atas hal-hal kecil yang ada pada hidup kita, atas kesehatan, atas orang tua dan sanak saudara, atas kebaikan orang lain, pekerjaan yang ada, dll, menunjukkan bahwa kita sudah menerima rahmat dan mukjizat dari Tuhan. Ingatlah dan percayalah bahwa Tuhan itu setia dalam suka dan duka kita, meski kita tidak setia. Itu yang saya rasakan.

Minggu, 28 Februari 2010

Mahatma Gandhi: “Saya Bisa Gila bila…”

Ketika saya iseng-iseng membaca buku Dale Carnegie (Gramedia, 1995), saya menemukan beberapa pendapat para tokoh penting dalam sejarah dunia tentang hidup beriman dan berpegang teguh pada pegangan hidup keagamaan.
Ibarat sebuah kapal laut di pelabuhan, ia membutuhkan jangkar di pelabuhan. Karena dengan jankar, kapal bisa kokoh meskipun ada badai, angin, ombak menghalau dia. Demikian pula, sebuah rumah yang dibangun di atas pasir akan gambang roboh bila hujan datang.
Terkait dengan masalah pegangan hidup, Carl Jung pernah berkata, “Selama tiga puluh tahun terakhir ini banyak orang berkonsultasi pada saya. Mereka datang dari segala penjuru dunia, terutama dari negara-negara yang sudah maju peradabannya. Ratusan pasien telah saya tangani. Semua pasien yang sudah setengah umur ke atas, yaitu yang usianya lebih dari 35 tahun, rata-rata menderita sakit keagamaan. Dengan perkataan lain dapat saya katakan bahwa mereka jatuh sakit karena mereka tidak memiliki lagi hal-hal yang diajarkan oleh agama. Dan tak seorang pun dari mereka dapat disembuhkan kembali kecuali kalau mereka dapat memiliki kembali pegangan hidup agamanya”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Willian James: “Iman adalah salah satu kekuatan hidup manusia. Tanpa iman hidup manusia akan hancur sama sekali”.
Yang lebih menarik lagi, seorang Mahatma Gandhi, pemimpin besar India melihat bahwa peran doa amat penting dalam kelangsungan hidupnya. Dalam bukunya seperti dikutip Dale Carnegie, ia menulis, “Tanpa doa saya pasti sudah lama gila”.Memlihat pemaknaan atas doa atau iman, atau agama dalam hidup mereka, maka kita pun disadarkan atas realitas hidup. Berangkat dari pengalaman mereka, sudah saatnya kita belajar memaknai hidup dan berpegang teguh pada iman atau doa atau agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Maka hidup kita menjadi tidak hancur. Ibarat orang yang mendirikan rumah di atas batu, akan kokoh kuat, karena pondasinya kuat.


Jumat, 13 November 2009

MENGENAL YESUS BERARTI BERANI BERUBAH

Bahan Bacaan: Matius 11:11-15
Saudari/I yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Mengenal atau mengetahui sesuatu berarti harus berani berubah sesuai dengan pengetahuannya itu. Sejauh mana anda, kita mengenal Yesus?

Ada sebuah cerita dari Anton de Mello SJ tentang seorang Komunis (Atheis), seorang ateis yang berubah menjadi Katolik. Temannya si atheis bertanya untuk menguji iman temannya yang sudah menjadi Katolik: selama kamu masuk Katolik: Yesus lahir dimana? Berapa usia ketika Yesus disalibkan? Berapa kali berkhotbah? Orang itu menjadwab: saya tidak tahu dan jawabnya selalu saya tidak tahu.

Kawannya yang sudah jadi katolik berkomentar: bagaimana seperti itu pengikut Kristus? Orang itu menjawab: saya tidak tahu banyak tentang Kristus, namun dulu keluargaku semrawut, mabuk, judi, banyak utang, namun sekarang utang-utangku sudah lunas, berhenti judi dan pemabuk, keluarga jadi bahagia, setiap sore istrinya tidak sabar menanti saya pulang kerja. Itu semua berkat Kristus. Sebanyak itulah saya tahu tentang Kristus. Pesan pencerita adalah : “Mengetahui sesuatu, berarti berani berubah”

Saudara/I dalam Kristus
Bacaan Injil yang kita dengar berbicara tentang pusat iman kita yaitu Yesus Kristus yang diutus Allah. Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Ia lebih besar dari Yohanes Pembaptis. KedatanganNya sendiri dipersiapkan Yohanes Pembaptis agar semua orang bertobat. Namun banyak orang tidak percaya dan tidak mendengarkan Yesus Kristus. Dalam Injil Matius kita mendengar tentang pekerjaan Yesus Kristus yang luar biasa: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.

Untuk kita: apakah kita mengenal Yesus? Ingatlah bahwa mengenal Yesus berarti harus berani berubah menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Paling tidak kita mempunyai iman akan Yesus, Sang Penyelamat dan Sang Penyembuh jiwa manusia. Yesus pernah berkata kepada Bartimeus: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkanmu!” Yesus mengatakan itu setelah Bartimeus sembuh karena mempunyai iman.
Saudara/I dalam Kristus,Bagi kehidupan dan permasalahan kita: pengetahuan kita tidaklah cukup. Imanlah yang menyelamatkan kita. Barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. AMIN

Senin, 07 September 2009

Bekerja dan Berbuah dalam “Pokok Anggur Yang Benar”

Saya mengutip pernyataan Ir. Ciputra, seorang pengusaha dan wirausahawan, demikian, “Seorang wirausahawan adalah seorang yang mampu mengubah sampah menjadi emas”. Artinya membuat sesuatu yang tidak berarti lagi bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai tambah untuk dijual.

Pernyataan Pak Ciputra tadi berangkat dari keprihatinan mendalam atas bangsa Indonesia yang belum memiliki banyak pengusaha dan wirausahawan. Masyarakat Indonesia banyak menjadi pengangguran karena mentalitas dan jiwa usaha masih rendah.

Pada tahun 2008 lalu, ada lowongan CPNS 950 orang untuk direbut oleh pencari kerja sebanyak 39.622 orang pencari kerja. Sungguh tragis. Kebanyakan orang Indonesia masih lebih memilih menjadi PNS dibandingkan menjadi pekerja lain di luar PNS. Bahkan ladang dan sawah rela dijual demi menjadi PNS.

Mentalitas harus diubah
Bisa dimaklumi keadaan demikian, selama penjajahan 350 tahun, 12-14 generasi bangsa Indonesia hidup tanpa ada pendidikan wirausaha. Jiwa berwirausaha itu masih rendah hingga pada jaman sekarang ini, dan di tempat ini.

Sudah saatnya kita harus mengubah mental dan paradigma berpikir orang Indonesia yang cenderung mencari pekerjaan dengan menjadi PNS. Pekerjaan menjadi PNS bukanlah satu-satunya pekerjaan yang menjanjikan, masih banyak lagi pekerjaan yang menjanjikan seperti menjadi pedagang, petani dan yang tidak kalah menantangnya adalah menjadi pengusaha atau wirausahawan.

Barangkali ada yang bertanya, apakah dengan berlatar belakang bukan pendidikan usaha atau wirausaha, seseorang bisa menjadi pengusaha atau pekerja di luar PNS? Saya menjawab, BISA! Hal ini sudah terbukti dari pengalaman sejarah. Orang yang berasal dari desa terpencil dan seorang yang miskin, banyak berhasil di daerah perantauaan. Mereka bisa sukses menjadi pengusaha hanya dengan modal daya juang, kerja keras, mau kerja apa saja, daya inovasi dan daya saing yang tinggi.

Berjuang dan Tinggal Dalam Pokok Anggur
Sekali lagi saya katakan, alumnus Sekolah apapaun yang tidak terkait dengan bidang ekonomi dan bidang usaha bisa menjadi pengusaha atau wirausahawan. Kita semua adalah orang beriman. Kita semua adalah murid Yesus Kristus. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kita Yesus Kristus. Yesus meneguhkan kita, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh 15:4)

Bagi kita pengikut Kristus, Yesus adalah Pokok Anggur yang benar dan Bapa di surga adalah Pengusahanya (bdk. Yoh 15:1). Kita semua adalah ranting-ranting dari pokok anggur, dan Bapa di surga adalah manajer atau pengelolanya.

Berangkat dari penderitaan
Ir. Ciputra adalah seorang pengikut Kristus. Titik balik ia menjadi pengusaha dan wirausaha adalah waktu ayahnya meninggal ketika ia berusia 14 tahun yang menyebabkan ia mengambil alih kehidupan dan tanggung jawab ekonomi atas keluarganya. Berbagai pekerjaan dilakoninya demi menjadi tulang punggung keluarga. Sampai dewasa ia tidak pernah mengecap pendidikan wirausaha, ia hanya pernah menimba ilmu arsitektur di ITB Bandung. Berkat kerja keras dan perjuangannya, ia menjadi pengusaha properti dan konsultan dimana-mana.

Saya yakin, Ir. Ciputra dapat menjalani perjuangan dan penderitaan hidup dengan sabar dan disiplin, karena ia tinggal di dalam Pokok Anggur, di dalam Yesus Kristus sehingga ia berbuah banyak.

Berbuah Banyak
Sekarang Ir.Ciputra hendak membagikan buah-buah yang ia hasilkan kepada bangsa Indonesia. Ia bercita-cita hendak mewujudkan Indonesia Makmur dalam 25 tahun mendatang dengan menciptakan insan-insan pengusaha sebanyak mungkin di Indonesia lewat Citra Foundation yang didirikannya. Di sanalah orang-orang diajarkan bagaimana mengubah kotoran menjadi emas.

Peluang menjadi insan wirausaha atau pengusaha dewasa ini semakin luas seiring dengan berkembangnya alat teknologi informasi dan era industri kreatif sekarang. Yang dibutuhkan adalah kemauan, daya juang, kerja keras, inovasi, dan daya juang tinggi.

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa mengubah mentalitas dan paradigma berpikir kita menuju manusia unggul, dibutuhkan adanya kemauan, keberanian, usaha dan disiplin yang tinggi yang disertai dengan kesetiaan untuk tinggal di dalam Pokok Anggur yang benar. Jika demikian, kita akan bisa mengubah sampah menjadi emas!