Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Senin, 23 Januari 2017

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK PRESIDEN KE-45 AMERIKA SERIKAT DONALD J. TRUMP PADA SAAT PELANTIKANNYA (20 Januari 2017)

Donald Trump yang mulia
Presiden Amerika Serikat
Gedung Putih
Washington DC

Atas pelantikan Anda sebagai Presiden keempat puluh lima Amerika Serikat, saya menyampaikan keinginan baik dan ramah saya dan jaminan doa saya agar Allah yang Mahakuasa sudi menganugerahkan kepada Anda kebijaksanaan dan kekuatan dalam menjalankan jabatan Anda. Pada saat keluarga manusia kita dilanda krisis kemanusiaan yang genting yang menuntut tanggapan-tanggapan politik yang berpandangan luas dan mempersatukan, saya berdoa agar keputusan-keputusan Anda sudi dipandu oleh nilai-nilai rohani dan etis yang kaya yang telah membentuk sejarah rakyat Amerika dan komitmen bangsa Anda menuju kemajuan martabat manusia dan kebebasan di seluruh dunia. Di bawah kepemimpinan Anda, semoga  tingginya mutu Amerika terus diukur terutama dengan kepeduliannya terhadap orang-orang miskin, orang-orang terlantar dan orang-orang yang membutuhkan yang, seperti Lazarus, berdiri di depan pintu kita. Dengan kepekaan-kepekaan perasaan ini, saya memohon kepada Tuhan untuk menganugerahkan Anda dan keluarga Anda, serta seluruh rakyat Amerika tercinta, berkat-Nya untuk perdamaian, kerukunan dan kemakmuran jasmani dan rohani.

FRANSISKUS

****
(Peter Suriadi - Bogor, 21 Januari 2017)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Senin, 19 Desember 2016

Sikap Pdt. Dr. Jan S.Aritonang,Ph.D atas Fatwa MUI nomor 56 tahun 2016 tetntang Hukum Menggunakan Atribut Natal

Kagum, salut dengan sikap Pdt. Dr. Jan S.Aritonang,Ph.D atas Fatwa MUI nomor 56 tahun 2016 tetntang Hukum Menggunakan Atribut natal.
Selengkapnya isi surat dimaksud sebgai berikut:

Yang  terhormat: Komisi  Fatwa  Majelis  Ulama  Indonesia  (MUI)
Jalan  Proklamasi  51,
Jakarta  Pusat  10320

Salam  sejahtera  dan  dengan  hormat,

Sehubungan dengan terbitnya Fatwa MUI nomor 56 Tahun 2016 tertanggal 14 Desember 2016, tentang Hukum Menggunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim, perkenankanlah  saya  menyampaikan  beberapa  catatan  dan  pertanyaan  berikut:

1. Di dalam judul dan butir-butir keputusan fatwa tersebut tidak secara eksplisit dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan istilah Non-Muslim adalah umat atau pemeluk agama Kristen (=Nasrani). Namun dari latar belakang dan konteks terbitnya fatwa ini dapat  dipahami  bahwa  yang  dimaksud  dengan  istilah  itu  adalah  umat  Kristen.

2. Di dalam fatwa tersebut tidak secara rinci disebut apa-apa saja yang dimaksud dengan atribut ataupun simbol keagamaan non-muslim yang dinyatakan haram, kendati pada Keputusan, butir Ketentuan Umum, dinyatakan bahwa "dalam Fatwa ini yang dimaksud dengan atribut keagamaan adalah sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan/atau umat beragama tertentu, baik terkait dengan keyakinan,  ritual  ibadah,  maupun  tradisi  dari  agama  tertentu."

3. Kendati tidak disebut secara rinci, namun dapat diduga bahwa yang dimaksud adalah pernik-pernik hiasan yang digunakan banyak orang untuk merayakan Hari Natal, misalnya: pohon terang dengan berbagai hiasannya, bintang, lonceng, topi sinterklas, topi  bertanduk  rusa,  kereta  salju,  lilin,  dsb.

4. Sampai sekarang gereja Kristen (yang terdiri dari berbagai aliran dan organisasi) belum pernah membuat konsensus tentang atribut-atribut, simbol-simbol, atau hiasan-hiasan itu. Bahkan ada juga gereja yang tidak merayakan hari Natal dan tidak menggunakan simbol salib. Atribut-atribut, simbol-simbol, atau hiasan-hiasan itu muncul dari tradisi sebagian gereja, terutama yang di Barat (Eropa dan Amerika), yang kemudian disebar ke seluruh  penjuru  dunia,  termasuk  Indonesia.

5. Produksi, penyebaran, dan perdagangan benda-benda itu tidak mempunyai hubungan langsung dengan iman Kristen, termasuk iman kepada Yesus Kristus, yang diimani umat Kristen sebagai Tuhan Allah yang menjelma menjadi manusia, serta sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia. Penyebaran, produksi, dan perdagangan benda-benda itu lebih dimotivasi oleh hasrat untuk mendapat keuntungan material; itulah sebabnya orang-orang yang terlibat di dalam aktivitas itu berasal dari berbagai penganut agama. Bahkan boleh jadi orang yang tak beragama pun ikut memproduksi dan memperdagangkannya. Karena itu saya tidak mempersoalkan atau berkeberatan kalau Komisi Fatwa MUI menyatakan bahwa menggunakan, memproduksi, menyebarkan, dan memperdagangkan  benda-benda  atau  atribut-itu  adalah  haram.

6. Di dalam fatwa itu, pada bagian konsiderans (Mengingat dan Memperhatikan), berulang kali dikutip ayat Kitab Suci Al Qur'an, Hadits Nabi Muhammad/Rasulullah SAW, dan pendapat sejumlah tokoh Islam, yang pada pokoknya menyatakan bahwa orang-orang non-muslim itu adalah kafir. Perkenankan saya bertanya: apa/siapa yang dimaksud oleh Komisi Fatwa MUI dengan kafir? Apakah semua orang non-muslim adalah kafir, termasuk umat Kristen? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memang dikatakan bahwa kafir adalah "orang yang tidak percaya kepada Allah dan rasul-Nya". Bila  inilah  pengertiannya  maka  lebih  dari  5  milyar  penduduk  dunia  adalah  kafir.

7. Sepengetahuan saya, Nabi Muhammad SAW bergaul dengan akrab dan bersahabat dengan banyak orang Kristen (Nasrani) dan tidak pernah menyebut mereka kafir. Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW yang dikutip pada konsiderans Fatwa MUI ini pun tidak  ada  hadits  Nabi  yang  menyebut  orang  Kristen  sebagai  kafir.

8. Karena itu, bila Komisi Fatwa MUI, sehubungan dengan atribut keagamaan non-muslim, menyebut umat Kristen sebagai kafir, perlulah Komisi Fatwa MUI memberi penjelasan dan mengemukakan argumen yang kuat. Saya bersedia diundang untuk mendiskusikan hal  ini  dalam  suasana  persahabatan  dan  persaudaraan.

9. Dengan itu pula saya mengimbau Komisi Fatwa MUI agar tidak menerbitkan fatwa yang bisa ikut menambah panas suasana dan suhu kehidupan di negeri kita ini, sebaliknya menyampaikan fatwa ataupun pendapat yang mendatangkan kesejukan. Izinkanlah umat Kristen di Indonesia merayakan hari Natal (kelahiran) Yesus Kristus, yang kami yakini sebagai  Tuhan  dan  Juruselamat  dunia,  dalam  suasana  tenteram  dan  sejahtera.

Salam  hormat  teriring  doa,

Pdt.  Prof.  Jan  S.  Aritonang,  Ph.D. Guru  Besar  Sekolah  Tinggi  Teologi  Jakarta Jalan  Proklamasi  27  Jakarta  Pusat  10320 e-mail:  jansaritonang@gmail.com

cc: 
1. Persekutuan  Gereja-gereja  di  Indonesia  (PGI) 
2. Pemimpin  dan  dosen  STT Jakarta
3. Sejumlah  rekan

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Selasa, 13 Desember 2016

Teks Nota Keberatan Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) pada Sidang Pertama, Selasa,13 Desember 2016

Bapak Ketua Majelis Hakim, dan Anggota Majelis Hakim yang saya muliakan,
 
Sdr. Jaksa Penuntut Umum yang saya hormati,
 
Penasihat Hukum dan Para Hadirin yang saya hormati,
 
Pertama-tama saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Majelis Hakim atas kesempatan, yang diberikan kepada Saya.
 
Berkaitan dengan persoalan yang terjadi saat ini, dimana saya diajukan di hadapan sidang, jelas apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu,  bukan dimaksudkan untuk menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama Islam, dan juga berniat untuk menghina para Ulama. Namun ucapan itu, saya maksudkan, untuk para oknum politisi, yang memanfaatkan Surat Al-Maidah 51, secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam persaingan Pilkada.
 
Ada pandangan yang mengatakan, bahwa hanya orang tersebut dan Tuhan lah, yang mengetahui apa yang menjadi niat pada saat orang tersebut mengatakan atau melakukan sesuatu. Dalam kesempatan ini di dalam sidang yang sangat Mulia ini, saya ingin menjelaskan apa yang menjadi niat saya pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu tersebut.
 
Dalam hal ini, bisa jadi tutur bahasa saya, yang bisa memberikan persepsi, atau tafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang saya niatkan, atau dengan apa yang saya maksudkan pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu.
 
Majelis Hakim yang saya muliakan.
 
Ijinkan saya untuk membacakan salah satu Sub-judul dari buku saya, yang berjudul "Berlindung Dibalik ayat suci" ditulis pada tahun 2008. Saya harap dengan membaca tulisan di buku tersebut, niat saya yang sesungguhnya bisa dipahami dengan lebih jelas, isinya sebagai berikut, saya kutip : ​
 
Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti Pemilu, kampanye pemilihan Bupati, bahkan sampai Gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat, dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan "roh kolonialisme".
 
Ayat ini sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elit, karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung dibalik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep "seiman" memilihnya.
 
Dari oknum elit yang berlindung dibalik ayat suci agama Islam, mereka menggunakan surat Almaidah 51. Isinya, melarang rakyat, menjadikan kaum Nasrani dan Yahudi menjadi pemimpin mereka, dengan tambahan, jangan pernah memilih kafir menjadi pemimpin. Intinya, mereka mengajak agar memilih pemimpin dari kaum yang seiman.
 
Padahal, setelah saya tanyakan kepada teman-teman, ternyata ayat ini diturunkan pada saat adanya orang-orang muslim yang ingin membunuh Nabi besar Muhammad, dengan cara membuat koalisi dengan kelompok Nasrani dan Yahudi di tempat itu. Jadi, jelas, bukan dalam rangka memilih kepala pemerintahan, karena di NKRI, kepala pemerintahan, bukanlah kepala agama/Imam kepala. Bagaimana dengan oknum elit yang berlindung, dibalik ayat suci agama Kristen? Mereka menggunakan ayat disurat Galatia 6:10. Isinya, selama kita masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.
 
Saya tidak tahu apa yang digunakan oknum elit di Bali yang beragama Hindu, atau yang beragama Budha. Tetapi saya berkeyakinan, intinya, pasti, jangan memilih yang beragama lain atau suku lain atau golongan lain, apalagi yang ras nya lain. Intinya, pilihlah yang seiman/sesama kita (suku, agama, ras, dan antar golongan). Mungkin, ada yang lebih kasar lagi, pilihlah yang sesama kita manusia, yang lain bukan, karena dianggap kafir, atau najis, atau binatang!
 
Karena kondisi banyaknya oknum elit yang pengecut, dan tidak bisa menang dalam pesta demokrasi, dan akhirnya mengandalkan hitungan suara berdasarkan se-SARA tadi, maka betapa banyaknya, sumber daya manusia dan ekonomi yang kita sia-siakan. Seorang putra terbaik bersuku Padang dan Batak Islam, tidak mungkin menjadi pemimpin di Sulawesi. Apalagi di Papua. Hal yang sama, seorang Papua, tidak mungkin menjadi pemimpin di Aceh atau Padang.
 
Kondisi inilah yang memicu kita, tidak mendapatkan pemimpin yang terbaik dari yang terbaik. Melainkan kita mendapatkan yang buruk, dari yang terburuk, karena rakyat pemilih memang diarahkan, diajari, dihasut, untuk memilih yang se-SARA saja. Singkatnya, hanya memilih yang seiman (kasarnya yang sesama manusia).
Demikian kutipan dari buku yang saya tulis tersebut.
 
Majelis Hakim yang saya muliakan.
 
Dalam kehidupan pribadi, saya banyak berinteraksi dengan teman-teman saya yang beragama Islam, termasuk dengan keluarga angkat saya Almarhum Haji Andi Baso Amier yang merupakan keluarga muslim yang taat.
 
Selain belajar dari keluarga angkat saya, saya juga belajar dari guru-guru saya, yang taat beragama Islam dari kelas 1 SD Negeri, sampai dengan kelas 3 SMP Negeri. sehingga sejak kecil sampai saat sekarang, saya tahu harus menghormati Ayat-Ayat suci Alquran.
 
Jadi saya tidak habis pikir, mengapa saya bisa dituduh sebagai penista Agama Islam.
 
 
Saya lahir dari pasangan keluarga non-muslim, Bapak Indra Tjahaja Purnama dan Ibu Buniarti Ningsih (Tjoeng Kim Nam dan Bun Nen Caw), tetapi saya juga diangkat sebagai anak, oleh keluarga Islam asal Bugis, bernama Bapak Haji Andi Baso Amier , dan Ibu Hajjah Misribu binti Acca. Ayah angkat saya, Andi Baso Amier adalah mantan Bupati Bone, tahun 1967 sampai tahun 1970, beliau adik kandung mantan Panglima ABRI, Almarhum Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Jusuf.
 
Ayah saya dengan ayah angkat saya, bersumpah untuk menjadi saudara sampai akhir hayatnya.
 
Kecintaan kedua orangtua angkat saya kepada saya, sangat berbekas, pada diri saya, sampai dengan hari ini.
 
Bahkan uang pertama masuk kuliah S2 saya di Prasetya Mulya, dibayar oleh kakak angkat saya, Haji Analta Amir.
 
Saya seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua dan kakak angkat saya yang Islamnya sangat taat.
 
Saya sangat sedih, saya dituduh menista agama Islam, karena tuduhan itu, sama saja dengan mengatakan saya menista orang tua angkat dan saudara-saudara angkat saya sendiri, yang sangat saya sayangi, dan juga sangat sayang kepada saya. Itu sebabnya ketika Ibu angkat saya meninggal, saya ikut seperti anak kandung, mengantar dan mengangkat keranda beliau, dari ambulans sampai ke pinggir liang lahat, tempat peristirahatan terakhirnya, di Taman Pemakaman umum Karet Bivak.
 
Sampai sekarang, saya rutin berziarah ke makam Ibu angkat, di Karet Bivak. Bahkan saya tidak mengenakan sepatu atau sendal saat berziarah, untuk menghargai keyakinan dan tradisi orang tua dan saudara angkat saya itu.
 
Yang membuat saya juga selalu mengingat almarhumah Ibu angkat saya, adalah peristiwa, pada saat saya maju, sebagai calon wakil Gubernur  DKI Jakarta tahun 2012.
 
Pada hari pencoblosan, walaupun Ibu angkat saya, sedang sakit berat dalam perjalanan ke rumah sakit, dengan menggunakan mobil kakak angkat saya Haji Analta, ibu angkat saya, sengaja, meminta mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih saya. Padahal kondisinya sudah begitu kritis.
 
Dari tempat pemungutan suara, barulah beliau langsung, menuju ke rumah sakit, untuk perawatan lebih lanjut di ICU.
 
Setelah dirawat selama 6 (enam) hari, Ibu berdoa dan berkata kepada saya dan masih terus saya  ingat dan masih akan saya ingat, kata beliau: "SAYA TIDAK RELA MATI, SEBELUM KAMU MENJADI GUBERNUR. ANAKKU, JADILAH GUBERNUR YANG MELAYANI  RAKYAT KECIL."
 
Ternyata Tuhan mengabulkan doa Ibu angkat saya.
 
Beliau berpulang tanggal 16 Oktober 2014, setelah ada kepastian Bapak Jokowi menjadi Presiden, dan saya juga sudah dipastikan menjadi Gubernur, menggantikan Bapak Jokowi. Pesan dari Ibu angkat saya selalu saya camkan , dalam menjalankan tugas saya, sebagai Gubernur DKI Jakarta.
 
Majelis Hakim yang saya muliakan.
 
Sebelum menjadi pejabat, secara pribadi, saya sudah sering menyumbang untuk pembangunan mesjid di Belitung Timur, dan kebiasaan ini, tetap saya teruskan saat saya menjabat sebagai Anggota DPRD Tingkat II Belitung Timur, dan kemudian sebagai Bupati Belitung Timur. Saya sudah menerapkan banyak program membangun Masjid, Mushollah dan Surau, dan bahkan merencanakan membangun Pesantren, dengan beberapa Kyai dari Jawa Timur. Saya pun menyisihkan penghasilan saya, sejak menjadi pejabat publik minimal 2,5% untuk disedekahkan yang di dalam Islam, dikenal sebagai pembayaran Zakat, termasuk menyerahkan hewan Qurban atau bantuan daging di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
 
Saya juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan, termasuk untuk menggaji guru-guru mengaji, dan menghajikan Penjaga Masjid/Musholla (Marbot atau Muadzin) dan Penjaga Makam.
 
Hal-hal yang telah saya lakukan di Belitung Timur, saat menjabat sebagai Bupati, saya teruskan ketika tidak menjadi Bupati lagi, sampai menjadi anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Bangka Belitung, sebagai Wakil Gubernur dan juga, sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini pun tetap saya lakukan.
 
Ketika menjadi Gubernur DKI Jakarta, saya juga membuat banyak kebijakan, diantaranya kebijakan agar di bulan Suci Ramadhan, para PNS dan honorer, bisa pulang lebih awal, dari aturan lama jam 15.00 WIB saya ubah menjadi jam 14.00 WIB, agar umat Muslim dapat berbuka puasa bersama keluarga di rumah, sholat magrib berjamaah, dan bisa tarawih bersama keluarganya.
 
Saya juga ingin melihat Balaikota mempunyai Masjid yang megah untuk PNS, sehingga bisa melaksanakan ibadahnya, ketika bekerja di Balaikota. Karena itu, Pemda membangun Masjid Fatahillah di Balaikota.
 
Di semua rumah susun (rusun) yang dibangun PEMDA, juga dibangun Masjid. Bahkan di Daan Mogot, salah satu rusun yang terbesar, kami telah membangun Masjid besar, dengan bangunan seluas 20.000 m2, agar mampu menampung seluruh umat muslim yang tinggal di rusun Daan Mogot. Kami jadikan masjid tersebut sebagai salah satu Masjid Raya di Jakarta.
 
Kami akan terus, membangun Masjid Raya/besar, di setiap rusun, kami akan terus membantu perluasan Masjid yang ada, dengan cara PEMDA akan membeli lahan yang ada di sekitar Masjid, sebagaimana beberapa kali telah saya sampaikan dalam pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh Islam maupun Pengurus Dewan Masjid Indonesia di Balaikota.
 
Para Marbot dan penjaga makam juga PEMDA Umrohkan. Kami juga membuat kebijakan bagi PNS, menjadi pendamping Haji kloter DKI Jakarta.
 
Saya berharap bisa melaksanakan amanah orang tua dan orang tua angkat saya untuk melanjutkan tugas saya sebagai Gubernur di periode yang akan datang, sehingga cita-cita saya untuk memakmurkan umat Islam di Jakarta dapat terwujud.  
 
Majelis Hakim yang saya muliakan.
 
Saya berani mencalonkan diri sebagai Gubernur, sesuai dengan amanah yang saya terima dari almarhum Gus Dur, bahwa Gubernur itu bukan pemimpin tetapi pembantu atau pelayan masyarakat.
 
Itu sebabnya, dalam pidato saya setelah pidato almarhum Gus Dur pada tahun 2007, saya juga mengatakan bahwa menjadi calon Gubernur, sebetulnya saya melamar untuk menjadi pembantu atau pelayan rakyat.
 
Apalagi, saya melihat adanya fakta, bahwa ada cukup banyak partai berbasis Islam, seperti di Kalimantan Barat, Maluku Utara, dan Solo juga mendukung calon Gubernur, Bupati, Walikota non-Islam di daerahnya.
 
Untuk itu, saya mohon ijin kepada Majelis Hakim, untuk memutar video Gus Dur yang meminta masyarakat memilih Ahok sebagai Gubernur saat Pilkada Bangka Belitung tahun 2007, yang berdurasi sekitar 9 (Sembilan) menit.
 
Majelis Hakim yang saya muliakan.
 
Saya ini hasil didikan orang tua saya, orang tua angkat saya, Ulama Islam di lingkungan saya, termasuk Ulama Besar yang sangat saya hormati, yaitu Almarhum Kyai Haji Abdurahman Wahid.
 
Yang selalu berpesan, menjadi pejabat publik sejatinya adalah menjadi pelayan masyarakat. Sebagai pribadi yang tumbuh besar di lingkungan umat Islam, tidaklah mungkin saya mempunyai niat untuk melakukan penistaan Agama Islam dan menghina para Ulama, karena sama saja, saya tidak menghargai, orang-orang yang saya hormati dan saya sangat sayangi.
 
Majelis Hakim yang saya muliakan.
 
Apa yang saya sampaikan di atas, adalah kenyataan yang sungguh-sungguh terjadi. Dan saya juga berharap penjelasan saya ini, bisa membuktikan tidak ada niat saya, untuk melakukan penistaan terhadap Umat Islam, dan penghinaan terhadap para Ulama. Atas dasar hal tersebut, bersama ini saya mohon, agar Majelis Hakim yang Mulia, dapat mempertimbangkan Nota Keberatan saya ini, dan selanjutnya memutuskan, menyatakan dakwaan Saudara Jaksa Penuntut Umum tidak dapat diterima, atau batal demi hukum. sehingga saya dapat kembali, melayani warga Jakarta dan membangun kota Jakarta.
 
Majelis Hakim yang Mulia, terima kasih atas perhatiannya. Kepada Jaksa Penuntut Umum, serta Penasehat Hukum, saya juga ucapkan terima kasih.
 
 
Jakarta, 13 Desember 2016
Hormat saya,
 
 
 
 
Basuki Tjahaja Purnama

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Jumat, 25 November 2016

Usai Sholat Jumat, Ormas Islam Kepung Gereja Katolik Santa Clara Bekasi


(Foto : Istimewa)

JAKARTA (netralitas.com) – Ormas Islam yang menamakan dirinya Majlis Silaturrahim Umat Islam Bekasi (MSUIB) hari ini, Jumat (25/11) akan mengepung Gereja Katolik Santa Clara Bekasi, usai melakukan sholat Jumat. Mereka menentang pembangunan Gereja Katolik dan menilai pembangunan gereja merupakan bentuk kemungkaran yang harus dilawan.

"Saudara-saudaraku segala upaya persuasif dan birokrasi telah kita tempuh dalam menolak pendirian Gereja Santa Clara di Jalan Kaliabang Raya Harapan Baru Bekasi Utara, akan tetapi sampai hari ini pembangunan terus berjalan," kata Koordinator unjuk rasa Ustad Suhendi Syahroni melalui selebaran.

Adapun tuduhan yang disampaikan Ormas Islam ini antara lain :

1. Gereja Katolik Santa Clara melakukan manipulasi data.

2. Gereja Katolik Santa Clara melakukan penipuan.

3. Lokasi tidak sesuai dengan perizinan.

4. Berlawanan dengan kearifan lokal.

5. Dan sederet alasan lain.

"Bukti Gereja Santa Clara tidak mengindahkan aturan pendirian yang benar dan cenderung memaksakan kehendak, bukti yang minoritas tidak menghormati yang mayoritas. Oleh karena kami mengajak saudara-saudara umat Islam melakukan aksi unjuk rasa. Mari kita luruskan kemungkaran yang sengaja diperbuat oleh walikota Bekasi dan Santa Clara. Saudaraku apakah kita akan berpangku tangan melihat kemungkaran yang ada di depan mata kita," kata Suhendi.

Seperti diketahui Walikota Bekasi Rahmat Effendi melalui keputusan yang telah disetujui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) telah menerbitkan Surat Keputusan Wali Kota yang merekomendasikan Pembangunan Gereja Katolik Santa Clara sebagai dasar terbitnya SPIMB, pada 15 Juni 2015.

Selain itu, pendirian juga memenuhi semua aspek legalitas pendirian gereja yang tertera dalam Peraturan Bersama Menag dan Mendagri (PBM) No. 9 dan 8 tahun 2006. Regulasi tersebut mensyaratkan adanya pemberian rekomendasi dari Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) setempat. Sesuai dengan verifikasi ke lapangan yang dilakukan FKUB, didapatkan bukti semua persyaratan telah terpenuhi. Antara lain izin ke warga di lingkungan sekitar gereja minimal 60 orang, serta jemaan gereja menimal 90 orang.

Adapun data akurat yang dimiliki Gereja Katolik Santa Clara antara lain :

1. Jumlah umat Gereja Katolik Santa Clara mencapai 9.422 jiwa yang tersebar di Bekasi Utara.

2. Memperoleh IMB pada Juni 2015 setelah menempuh proses selama 17 tahun.

3. Seluruh persyaratan dipenuhi dengan baik dan benar serta memiliki dokumentasi yang rapi.

4. Gereja Santa Clara bukan gereja terbesar se-Asia.

5. Luas tanahnya hanya 6.500 m2.

6. Di tanah tersebut akan dibangun gereja seluas 1.500 m2, rumah pastoran dan balai pengobatan untuk masyarakat umum.

7. Gereja adalah relokasi atau pindahan dari Ruko Wisma Asri ke tempat yang legal dan formal.

Penulis : Sigit Wibowo

Editor : Sigit Wibowo (sigitwibowo@netralitas.com)

Sumber: Netralitas.com
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Kamis, 10 November 2016

PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) DAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) Tahun 2016

"HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN, DI KOTA DAUD"
(Lukas 2:11)

Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia,

Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud" (Luk 2:11).

Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi. Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun.

Dalam perjuangan mengatasi masalah-masalah seperti itu, kehadiran Juruselamat di dunia ini memberi kekuatan bagi kita. Penyertaan-Nya menumbuhkan sukacita dan harapan kita dalam mengusahakan hidup bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, kita merayakan Natal sambil berharap dapat menimba inspirasi, kekuatan dan semangat baru bagi pelayanan dan kesaksian hidup, serta memberi dorongan untuk lebih berbakti dan taat kepada Allah dalam setiap pilihan hidup.

Saudari-saudara terkasih,

Kita akan segera meninggalkan tahun 2016 dan masuk tahun 2017. Ada hal-hal penting yang perlu kita renungkan bersama pada peristiwa Natal ini. Sebagai warga negara kita bersyukur bahwa upaya pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia semakin memberi harapan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata. Walaupun belum sesuai dengan harapan, kita sudah menyaksikan adanya peningkatan dan perbaikan pelayanan publik, penegakan hukum, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas pendidikan. Kita dapat memandangnya sebagai wujud nyata sukacita iman sebagaimana diwartakan oleh malaikat kepada para gembala, "aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa" (Luk 2:10).

Memang harus kita akui bahwa masih ada juga segi-segi kehidupan bersama yang harus terus kita perhatikan dan perbaiki. Misalnya, kita kadang masih menghadapi kekerasan bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Masalah korupsi dan pungli juga masih merajalela, bahkan tersebar dari pusat hingga daerah. Kita juga menghadapi kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan per Maret 2016 masih sebesar 28,01 juta jiwa. Keprihatinan lain yang juga memerlukan perhatian dan keterlibatan kita untuk mengatasinya adalah peredaran dan pemakaian narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015 memperlihatkan bahwa pengguna narkoba terus meningkat jumlahnya. Pada periode Juni hingga November 2015 terjadi penambahan sebesar 1,7 juta jiwa, dari semula 4,2 juta menjadi 5,9 juta jiwa. Semakin banyaknya pengguna narkoba itu tidak lepas dari peran produsen dan pengedar yang juga bertambah.

Kita juga harus bekerja keras untuk mendewasakan dan meningkatkan kualitas demokrasi. Penyelenggaraan Pemilu merupakan salah satu sarananya, seperti Pemilihan Umum Kepala Daerah serentak (Pilkada serentak) yang akan dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017 di 101 daerah terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Peristiwa itu akan menjadi ujian bagi partisipasi politik masyarakat dan peningkatan kualitas pelaksana serta proses penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut.

Tantangan-tantangan tersebut, sebagaimana juga masalah lainnya, harus kita hadapi. Jangan sampai persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan itu membuat kita merasa takut. Kepada kita, seperti kepada para gembala, malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus mengatakan "jangan takut" (Luk 2:10).

Saudari-saudara terkasih,

Marilah kita jadikan tantangan-tantangan tersebut kesempatan untuk mengambil prakarsa dan peran secara lebih nyata dalam menyikapi berbagai persoalan hidup bersama ini. Kita ciptakan hidup bersama yang damai dengan terus melakukan dialog. Kita lawan korupsi dan pungli dengan ikut aktif mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran pembangunan. Kita atasi problem kemiskinan, salah satunya dengan meningkatkan semangat berbagi. Kita lawan narkoba dengan ikut mengupayakan masyarakat yang bebas dari narkoba, khususnya dengan menjaga keluarga kita terhadap bahaya barang terlarang dan mematikan itu.

Kita tingkatkan kualitas demokrasi kita melalui keterlibatan penuh tanggungjawab dengan menggunakan hak pilih dan aktif berperan serta dalam seluruh tahapan dan pelaksanaan Pilkada. Kita juga berharap agar penyelenggara Pilkada dan para calon kepala daerah menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap sportif, menaati semua aturan yang sudah ditentukan dan aktif berperan menjaga kedamaian demi terwujudnya Pilkada yang berkualitas. Kita tolak politik uang. Jangan sampai harga diri dan kedaulatan kita sebagai pemilih kita korbankan hanya demi uang.

Kita syukuri kehadiran Yesus Kristus yang mendamaikan kembali kita dengan Allah. Inilah kebesaran kasih karunia Allah, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah (1Yoh 2:1). Di dalam Yesus Kristus kita memperoleh hidup sejati dan memperolehnya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Kita syukuri juga berkat yang telah kita terima sepanjang tahun yang segera berlalu.

Kita sampaikan berkat sukacita kelahiran Yesus Kristus ini kepada sesama kita dan seluruh ciptaan. Kita mewujudkan karya kebaikan Allah itu melalui perhatian dan kepedulian kita terhadap berbagai keprihatinan yang ada dengan aktif mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dan yang ramah lingkungan. Dengan demikian, perayaan kelahiran Yesus Kristus ini dapat menjadi titik tolak dan dasar bagi setiap usaha kita untuk lebih memuliakan Allah dalam langkah dan perbuatan kita.

 

SELAMAT NATAL 2016  dan TAHUN BARU 2017

Jakarta, 10 November 2016

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJADI INDONESIA,
Pdt Dr Henriette T.H. Lebang//Ketua Umum
Pdt Gomar Gultom M.Th//Sekretaris Umum

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,
Mgr. Ignatius Suharyo//K e t u a
Mgr. Antonius S. Bunjamin OSC//Sekretaris Jenderal


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Selasa, 20 September 2016

‎❣KISAH NYATA : Hidup Bocah Polos

‎❣KISAH NYATA : Hidup Bocah Polos
 "ZHANG TA" Menginspirasi Banyak Orang...

❣"Zhang Da" Seorg bocah yg harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia...

❣Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, "Zhang Da" harus menerima kenyataan ibunya
lari dari rumah...

❣Sang Ibu kabur karena tdk tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya...

❣Yang lebih tragis lagi, si ibu pergi karena merasa tdk sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tdk berdaya, dan tanpa harta...

❣Dan ia tdk mau menafkahi keluarganya...

❣Maka "Zhang Da" yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga...

❣Ia harus mengurus Ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang Ayah, mencuci pakaian, dan  mengobatinya, dan mengurus rumahnya. 
Yang patut dihargai, "Zhang Da" tak mau putus sekolah. Setelah mengurus Ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu...

❣Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur2 untuk berhemat...

❣Tidak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalamannya ...

❣Ketika satu tumbuhan merasa tdk cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut...

❣Sangat beruntung karena ia tidak memakan daun2
 atau jamur yang beracun...

❣Usai sekolah, dia bekerja sampingan agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah ...

❣"Zhang Da" bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu...

❣Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari...

❣"Zhang Da" ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tdk hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan...

❣Karena tdk mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntiknya ...

❣Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah...

❣Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun...

❣Rupanya kegigihan "Zhang Da" yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat...

❣Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional...

❣Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama "Zhang Da". Ternyata ia menjadi Pemenang termuda...

❣Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional...

❣"Zhang Da" si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak...

❣Dia menjawab: "Hidup ini harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan...

❣Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab," katanya...

❣Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus.

❣Pembawa acara menanyainya lagi. "Zhang Da" sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan...

❣Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana...

❣Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir...

❣Saat ini juga ada Ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" papar pembawa acara...

❣"Zhang Da" terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. "Sebut saja!" katanya menegaskan.

❣"Zhang Da" yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar...

❣Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan "Zhang Da"

❣"Saya hanya mau "Mama saya kembali" Mama kembalilah ke rumah... aku skrg bisa  membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!" ...😂

❣kata "Zhang Da" yang disambut tetesan air mata setiap penonton...😂

❣"Zhang Da" tidak meminta hadiah uang atau materi dll, dgn ketulusannya dia sangat berbakti kepada orangtuanya..

❣Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya...

❣Di mata "Zhang Da"  mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu (mama) dan kasih sayangnya, itu tidak ternilai harganya, dan tidak dpt dibeli dg apapun juga...

❣Semua di dunia ini dicari bisa dapat ... tetapi satu yg tidak bisa dicari atau diganti yaitu: MAMA.

❣Apapun kesalahan dia, atau Dosa ...dia tetap seorg Ibu... 
Surga ada dibawa telapak kaki ibu...

❣Dengan susah payah dia berjuang antara mati dan hidup hanya utk saya bisa  lahir ke dunia ini...

❣Pesan dr "Zhang Da" kasihi dan cintai ibumu, jangan sampai suatu hari nanti... engkau tidak dapat melihatnya lagi...

☝Ingat Penyesalan biasanya datang terlambat...!!!

❣Berbahagialah bila siapa yg masih mempunya Ibu, jangan sia2kan dia ...

❣Seperti saya ingin dan rindu mau ketemu ibu, tetapi dia tidak pernah kembali lagi😂 😭😂

Pesan Moral:

😭 Jangan menangisi yang sudah hilang,  👏berdoalah atas apa yang masih ada...

😭 Jangan menangisi yang sudah meninggal, 👏berdoalah atas apa yg terlahir dalam dirimu...

😭 Jangan menangisi karena orang yang  meninggalkanmu, 👏berdoalah utk yg sekarang ada bersamamu...

😭 Jangan menangisi karena orang membencimu, 👏berdoalah untuk mereka yg menyukaimu...

😭 Jangan menangisi masa lalu, 👏berdoalah utk masa kini dengan segala tantangan2nya...

😭 Jangan menangisi penderitaan, 👏berdoalah atas kebahagian yg ada...

❣Dengan segala Perkara yg ada dlm hidup kita, mulailah belajar bahwa tidak ada hal perihal yg mustahil yg tdk dapat diselesaikan...

❣teruslah maju 🚶melangkah ke depan... jangan melihat yang dibelakang ...👌
GOD bless  🙏🏼


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Jumat, 01 Juli 2016

SEJARAH GEREJA ARMENIA

Ketika Paus Fransiskus berangkat pada Jumat ini 24 Juni 2016 ke Armenia, kantor berita Vatikan menawarkan sejarah singkat Gereja di sana.

Sebuah tanah biblis, Armenia dikutip dalam Perjanjian Lama dengan nama "Kerajaan Urartu" (Ararat). Di kaki bukit pegunungannya, Nuh membudidayakan tanaman anggur dan menjadikan minuman yang memabukkan anggur yang ia hasilkan. Berkat terjemahan Armenia Injil apokrif, kita tahu nama tiga orang Majus : Melkhior, Kaspar dan Balthazar. Meskipun menurut tradisi rasul Bartolomeus dan Yudas Tadeus adalah penginjil di Armenia, ada kemungkinan itu malahan karya para misionaris Suriah dan Kapadokia. Dalam hal apapun, itu amatlah berhasil bahwa dalam tahun 301, berkat kerasulan Santo Gregorius Sang Penerang, Armenia menjadi negara pertama yang memeluk agama Kristen dan menyatakannya agama negara, bahkan sebelum Edik Milano tahun 313, yang olehnya Kekaisaran Romawi mentolerir Kekristenan, dan Edik Teodosius yang olehnya pada tahun 380 Kekaisaran Romawi mengakui Kekristenan sebagai agama negara.

Awalnya dikelompokkan bersama Gereja Metropolitan Kaisarea Kapadokia, di wilayah Romawi, Gereja Armenia menyatakan otonominya pada awal abad kelima, di bawah yurisdiksi seorang patriark yang memangku gelar Katolikos, semula dikaitkan dengan kepala sebuah jemaat Kristen di luar perbatasan Kekaisaran Romawi-Bizantium - atau lebih tepatnya, di luar yurisdiksi para patriark. Para pemimpin Gereja Armenia, Nestorian dan Georgia melestarikan gelar ini. Sejak abad ke-4 dan seterusnya lembaga-lembaga gerejawi Armenia diperkokoh dan liturgi menerima bentuknya, sangat dipengaruhi oleh ritual kuno Yerusalem. Pada saat yang sama huruf abjad Armenia lahir, secara tradisional dikaitkan dengan biarawan Mesrop (360,440), yang memungkinkannya diterjemahkan ke dalam bahasa nasional teks-teks liturgi yang sebelumnya ditulis hanya dalam bahasa Yunani dan Suriah.

Gereja Armenia dan Gereja Katolik terpecah setelah Konsili Kalsedon (451), yang menetapkan dua kodrat Kristus, manusiawi dan ilahi. Kepatuhan terhadap monofisitisme (satu kodrat) dari Gereja Armenia dikukuhkan dalam dua konsili nasional berturutan yang diadakan pada tahun 506 dan 551.

Masa keemasan arsitektur keagamaan Armenia dimulai pada abad keenam dan ketujuh, ketika sejumlah biara dibangun di pegunungan, dan pusat-pusat keagamaan dan budaya yang besar dibuat. Sebuah contoh estetika keagamaan Armenia yang tetap ada saat ini dalam bentuk salib-salib batu yang besar (Khatch'kar) yang dibentuk dari sebuah batu besar atau tugu peringatan dari batu kapur dengan sebuah salib yang besar sekali pada bagian tengahnya, dengan berbagai hiasan yang beraneka ragam.

Pada abad kesebelas, keterbukaan terhadap Roma dimulai. Katolikos Gregorius II melakukan sebuah peziarahan ke Roma untuk menghormati relikui rasul Petrus dan Paulus, dan dalam tahun-tahun berikutnya banyak Katolikos mengakui Paus sebagai Penerus Santo Petrus. Sejak tahun 1205, sejumlah Katolikos menerima palium di Roma. Pada abad keempat belas para misionaris Fransiskan dan Dominikan tiba di Armenia dan mendirikan pusat-pusat keagamaan, tetapi masalah dengan hirarki lokal menyebabkan keretakan hubungan pada tahun 1441, tahun yang di dalamnya hirarki Armenia terbagi dua, Sis dan Etchmiadzin. Pada abad kedelapan belas ada kesadaran kembali keagamaan dan budaya berkat imam Mekhit'ar yang, setelah memeluk agama Katolik, mendirikan sebuah kongregasi di Konstantinopel tetapi dianiaya dan mencari perlindungan di pulau Santo Lazarus di Venesia. Tahun tahun 1740 sebuah sinode para uskup Armenia berkumpul di Roma untuk memilih patriark Katolik pertama ritus Armenia, yang didirikan untuk sementara waktu di Kraim, Lebanon; pada tahun 1742 sebuah kedudukan baru patriarkat Katolik Armenia dilembagakan di Bzommar, Lebanon. Ia dipindahkan ke Konstantinopel pada tahun 1866 tetapi kembali ke Bzommar pada tahun 1925, di mana ia bertahan sampai hari ini. Katolikos saat ini adalah Grégoire Pierre XX Ghabroyan, dan yurisdiksinya meluas ke seluruh umat Katolik Armenia Timur dan diaspora.

Gereja Armenia berdaulat dan mengangkat sendiri pemimpinnya, serta menetapkan dirinya sebagai apostolik karena ia menapaki asal-usulnya Rasul Tadeus dan Bartolomeus. Ia memelihara hubungan baik dalam semangat ekumenis dengan Gereja Ortodoks, Katolik dan Protestan, dan memiliki pemimpinnya sendiri, Katolikos, sepenuhnya berdaulat terhadap hierarki-hirarki gerejawi dari pengakuan-pengakuan iman lainnya. Asal usulnya berawal dari skisma Konsili Ekumenis tahun 451. Gereja Armenia menetapkan dirinya sebagai Ortodoks maupun Katolik, karena ia menganggap dirinya sebuah ungkapan iman Kristen yang benar dan sebuah uangkapan universalitas Gereja. Pada bulan Desember 1996, Santo Yohanes Paulus II dan Yang Mulia Katolikos Seluruh Armenia, Karekin II, menandatangani deklarasi bersama yang di dalamnya mereka menegaskan asal mula yang sama Gereja Armenia dan Gereja Katolik Roma.

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi dari :https://zenit.org/articles/a-history-of-the-armenian-church/)


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.