Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Jumat, 12 Februari 2016

MENJADi MANUSIA YANG BAHAGIA (Paus Fransiskus)

Alihbahasa oleh Rm. Ignatius Ismartono, SJ

"Engkau mungkin memiliki kekurangan, merasa gelisah dan kadangkala hidup tak tenteram, namun jangan lupa hidupmu adalah sebuah proyek terbesar di dunia ini. Hanya engkau yang sanggup menjaga agar tidak merosot. Ada banyak orang membutuhkanmu, mengagumimu dan mencintaimu.

Aku ingin mengingatkanmu bahwa menjadi bahagia bukan berarti memiliki langit tanpa badai, atau jalan tanpa musibah, atau bekerja tanpa merasa letih, ataupun hubungan tanpa kekecewaan. Menjadi bahagia adalah mencari kekuatan untuk memaafkan, mencari harapan dalam perjuangan, mencari rasa aman di saat ketakutan, mencari kasih di saat perselisihan.

Menjadi bahagia bukan hanya menyimpan senyum, tetapi juga mengolah kesedihan.

Bukan hanya mengenang kejayaan, melainkan juga belajar dari kegagalan.

Bukan hanya bergembira karena menerima tepuk tangan meriah, tetapi juga bergembira meskipun tak ternama.

Menjadi bahagia adalah mengakui bahwa hidup ini berharga, meskipun banyak tantangan, salah paham dan saat-saat krisis.

Menjadi bahagia bukanlah sebuah takdir, yang tak terelakkan, melainkan sebuah kemenangan bagi mereka yang mampu menyongsongnya dengan menjadi diri sendiri.

Menjadi bahagia berarti berhenti memandang diri sebagai korban dari berbagai masalah, melainkan menjadi pelaku dalam sejarah itu sendiri.

Bukan hanya menyeberangi padang gurun yang berada diluar diri kita, tapi lebih dari pada itu, mampu mencari mata air dalam kekeringan batin kita.

Menjadi bahagia adalah mengucap syukur setiap pagi atas mukjizat kehidupan.

Menjadi bahagia bukan merasa takut atas perasaan kita. Melainkan bagaimana membawa diri kita. Untuk menanggungnya dengan berani ketika diri kita ditolak.

Untuk memiliki rasa mantab ketika dikritik, meskipun kritik itu tidak adil.

Dengan mencium anak-anak, merawat orang tua, menciptakan saat-saat indah bersama sahabat-sahabat, meskipun mereka pernah menyakiti kita.

Menjadi bahagia berarti membiarkan hidup anak yang bebas, bahagia dan sederhana yang ada dalam diri kita; memiliki kedewasaan untuk mengaku "saya salah", memiliki keberanian untuk berkata "maafkan saya".

Memiliki kepekaan untuk mengutarakan "Aku membutuhkan kamu" ; memiliki kemampuan untuk berkata "Aku....

Dengan demikian hidupmu menjadi sebuah taman yang penuh dengan kesempatan untuk menjadi bahagia.

Di musim semi-mu, jadilah pecinta keriangan. Di musim dingin-mu, jadilah seorang sahabat kebijaksanaan.

Dan ketika engkau melakukan kesalahan, mulailah lagi dari awal. Dengan demikian engkau akan lebih bersemangat dalam menjalankan kehidupan.

Dan engkau akan mengerti bahwa kebahagiaan bukan berarti memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan menggunakan airmata untuk menyirami toleransi, menggunakan kehilangan untuk lebih memantabkan kesabaran, kegagalan untuk mengukir ketenangan hati, penderitaan untuk dijadikan landasaan kenikmatan, kesulitan untuk membuka jendela kecerdasan.

Jangan menyerah... Jangan berhenti menghasihi orang orang yang engkau cintai. Jangan menyerah untuk menjadi bahagia karena kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang menakjubkan.

Dan engkau adalah seorang manusia yang luarbiasa!"

- Paus Fransiskus -
(milis APIK)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

WEJANGAN PAUS FRANSISKUS DALAM AUDIENSI UMUM 10 Februari 2016 : TENTANG MEMBERIKAN KEKAYAAN KITA UNTUK BERBAGI DENGAN ORANG-ORANG MISKIN

Saudara dan saudari terkasih, selamat pagi dan selamat menjalani Prapaskah!

Baik dan juga penting memiliki Audiensi ini bertepatan pada hari Rabu Abu ini. Kita memulai perjalanan Prapaskah kita dan hari ini kita berhenti sejenak pada pranata kuno "Yubileum"; ia adalah suatu hal yang kuno, yang diperlihatkan dalam Kitab Suci. Kita menemukannya khususnya dalam Kitab Imamat, yang menyajikannya sebagai saat puncak kehidupan keagamaan dan sosial orang-orang Israel.

Setiap 50 tahun, "pada hari raya Pendamaian" (Im 25:9), ketika kerahiman Tuhan dimohonkan atas semua orang, bunyi sangkala memaklumkan sebuah peristiwa besar pembebasan. Bahkan kita baca dalam Kitab Imamat : "Kamu harus menguduskan tahun yang kelima puluh, dan memaklumkan kebebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya. Itu harus menjadi tahun Yobel bagimu, dan kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya dan kepada kaumnya [...] Dalam tahun Yobel itu kamu harus masing-masing pulang ke tanah miliknya" (25:10.13). Menurut pengaturan tersebut, jika seseorang terpaksa menjual tanah atau rumahnya, selama tahun Yobel ia bisa memilikinya kembali; dan jika seseorang telah berhutang dan, tidak mampu membayarnya, terpaksa menempatkan dirinya dalam pelayanan pemberi hutang, ia bisa kembali dengan bebas kepada keluarganya dan mendapatkan kembali semua hartanya.

Itu adalah semacam "amnesti umum", yang memperbolehkan semuanya kembali ke situasi asli mereka, dengan pembatalan semua hutang, ganti rugi tanah, dan kemungkinan untuk menikmati kebebasan kembali sebagai para anggota Umat Allah. Suatu umat yang "kudus", di mana keputusan-keputusan demikian seperti tahun Yobel disajikan untuk memerangi kemiskinan dan ketidaksetaraan, menjamin sebuah kehidupan yang layak bagi semua orang dan pembagian yang adil atas tanah yang ditinggali dan yang daripadanya ditarik nafkah. Gagasan pokoknya yakni tanah tersebut adalah sejatinya milik Allah dan telah dipercayakan kepada manusia (bdk. Kej 1:28-29), oleh karena itu tak seorang pun yang bisa membatalkan bagi dirinya kepemilikannya yang eksklusif, menciptakan situasi-situasi ketimpangan. Kita bisa memikirkan dan memikirkan kembali hari ini ini; masing-masing orang harus berpikir dalam hatinya jika ia memiliki terlalu banyak benda. Tetapi mengapa tidak meninggalkan mereka untuk orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Sepuluh persen, lima puluh persen ... saya katakan : semoga Roh Kudus mengilhami kalian masing-masing.

Dengan tahun Yobel, siapa pun yang telah menjadi miskin memiliki lagi apa yang diperlukan untuk hidup, dan siapa pun yang telah menjadi kaya mengembalikan kepada orang miskin apa yang telah ia ambil daripadanya. Tujuannya adalah sebuah masyarakat yang berlandaskan kesetaraan dan kesetiakawanan, di mana kebebasan, tanah dan uang menjadi suatu kebaikan untuk semua orang, bukan hanya untuk beberapa orang, seperti yang terjadi sekarang. Jika saya tidak salah ... kurang lebih, jumlahnya tidak yakin, tetapi 80% kekayaan umat manusia berada di tangan kurang dari 20% penduduk. Tahun Yobellah - dan saya mengatakan ini mengingat sejarah keselamatan kita - berubah, sehingga hati kita menjadi lebih besar, lebih murah hati, lebih anak Allah, dengan lebih banyak kasih. Saya akan memberitahu kalian sesuatu: jika ini dikehendaki, jika tahun Yobel tidak mencapai kantong, itu bukan Yobel. Apakah kalian telah mengerti? Dan ini ada dalam Alkitab! Paus ini tidak menciptakannya : ia ada dalam Alkitab. Tujuannya adalah - sebagaimana saya katakan - sebuah masyarakat yang berlandaskan kesetaraan dan kesetiakawanan, di mana kebebasan, tanah dan uang menjadi sebuah kebaikan untuk semua orang, bukan untuk beberapa orang. Bahkan, tahun Yobel memiliki fungsi membantu orang-orang untuk menjalani sebuah persaudaraan nyata, terdiri dari saling membantu. Kita dapat mengatakan bahwa Yobel secara biblis adalah "Yubileum kerahiman", karena ia dihayati dalam pencarian yang tulus untuk kebaikan saudara yang membutuhkan.

Pada baris yang sama, pranata-pranata lainnya dan hukum lainnya juga mengatur kehidupan Umat Allah, sehingga mereka bisa mengalami kerahiman Tuhan melalui kerahiman orang-orang tersebut. Misalnya, hukum biblis menentukan pemberian "persepuluhan" yang disediakan bagi orang-orang Lewi, yang bertanggung jawab dalam ibadah, yang tanpa tanah, dan bagi orang-orang miskin, anak yatim piatu, para janda (bdk. Ul 14:22-29). Ia menetapkan, yaitu, bahwa sepersepuluh dari apa yang dipanen, atau yang berasal dari kegiatan-kegiatan lain, diberikan kepada orang-orang yang tanpa perlindungan dan dalam keadaan membutuhkan, sehingga mendorong kondisi-kondisi kesetaraan relatif dalam suatu masyarakat yang di dalamnya semua orang harus bersikap sebagai saudara.

Ada juga hukum mengenai "buah pertama". Apa ini? Bagian pertama dari panen, bagian yang paling berharga, adalah untuk dibagikan dengan orang-orang Lewi dan dengan orang-orang asing (bdk. Ul 18:4-5; 26:1-11), yang tidak memiliki ladang, sehingga bagi mereka juga tanah akan menjadi sumber nutrisi dan kehidupan. "Tanah jangan dijual mutlak, karena Akulah pemilik tanah itu, sedang kamu adalah orang asing dan pendatang bagi-Ku", demikianlah firman TUHAN (Im 25:23). Kita semua tamu Tuhan, dengan pengharapan tanah air surgawi kita (bdk. Ibr 11:13-16; 1 Ptr 2:11), dipanggil untuk menyebabkan dunia, yang menerima kita, layak huni dan manusiawi. Dan berapa banyak "buah pertama" orang yang beruntung bisa memberi orang yang berada dalam kesulitan! Berapa banyak buah pertama! Buah pertama tidak hanya dari lahan tetapi dari setiap produk kerja, upah, tabungan, begitu banyak benda yang dimiliki dan yang kadang-kadang terbuang. Hal ini juga terjadi hari ini. Begitu banyak surat tiba di Amal Kasih Apostolik dengan sedikit uang : "Ini adalah bagian dari gajiku untuk membantu orang lain". Dan hal ini indah; membantu orang lain, lembaga-lembaga kesejahteraan, rumah-rumah sakit, rumah-rumah peristirahatan ..; memberikan juga untuk orang-orang asing, orang-orang yang adalah orang-orang asing dan sedang melintas. Yesus sedang melintas di Mesir.

Dan, pada kenyataannya, memikirkan hal ini, Kitab Suci menyerukan dengan desakan untuk menanggapi dengan murah hati terhadap permintaan untuk pinjaman, tanpa berarti perhitungan dan tanpa mengambil bunga yang tak masuk akal : "Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya" (Im 25:35-37). Ajaran ini selalu tepat waktu. Berapa banyak keluarga yang berada di jalan, para korban riba! Tolong, marilah kita berdoa agar selama tahun Yubileum ini Tuhan mengambil dari seluruh hati kita keinginan untuk memiliki lebih banyak - riba. Agar kita kembali menjadi murah hati, luar biasa. Berapa banyak situasi riba kita terpaksa lihat dan berapa banyak penderitaan dan kesedihan mendalam mereka membawa keluarga! Dan begitu sering, dalam keputusasaan, berapa banyak orang akhirnya bunuh diri karena mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dan tidak memiliki harapan, mereka tidak memiliki tangan yang diulurkan untuk membantu mereka; hanya tangan yang datang untuk membuat mereka membayar bunga. Riba adalah sebuah dosa besar; ia adalah sebuah dosa yang berseru kepada Allah. Tuhan, sebaliknya, telah menjanjikan berkat-Nya kepada orang yang membuka tangannya untuk memberikan dengan kemurahan (bdk. Ul 15:10). Ia akan memberi kalian dua kali lipat, mungkin bukan dalam bentuk uang tetapi dalam hal-hal lain, tetapi Tuhan akan selalu memberi kalian dua kali lipat.

Saudara dan saudari terkasih, pesan biblis sangat jelas : membuka diri sendiri dengan keberanian untuk berbagi, dan inilah kerahiman! Dan jika kita menginginkan kerahiman dari Allah, kita harus mulai mengamalkannya. Ia adalah hal ini : kita mulai mengamalkannya di antara sesama warga, di antara keluarga, di antara bangsa-bangsa, di antara benua-benua. Berkontribusi menghasilkan suatu tanah tanpa sarana-sarana miskin untuk membangun suatu masyarakat tanpa diskriminasi, yang berlandaskan kesetiakawanan yang mengarah kepada berbagi apa yang ia miliki, dalam penyaluran sumber daya yang didirikan pada persaudaraan dan keadilan. Terima kasih.

[Sambutan dalam Bahasa Italia]

Saya memberikan sambutan ramah kepada umat berbahasa Italia. Saya menyambut khususnya para Direksi Keuskupan Karya Misioner Kepausan; para Suster Fransiskan Yang Dikandung Tanpa Noda dari Lipari; Lembaga Tese Mani dan para guru agama dari Keuskupan Concordia-Pordenone. Saya menyambut kelompok-kelompok paroki dan para siswa Sekolah Arca dari Legnano dan Don Luigi Monza dari Cislago. Saya menasihati kalian untuk menghidupkan kembali iman dengan melintasi Pintu Suci, menjadi para saksi kasih Tuhan dengan karya-karya nyata amal kasih.

Besok lusa saya akan memulai Apostolik Perjalanan saya ke Meksiko, tetapi pertama saya akan pergi ke Havana untuk bertemu saudaraku yang terkasih Kyrill. Saya mempercayakan kepada doa seluruh pertemuan dengan Patriark Kyrill serta perjalanan ke Meksiko.

Sebuah pikiran khusus tertuju kepada orang-orang muda, orang-orang sakit dan para pengantin baru. Hari ini, Rabu Abu, perjalanan Prapaskah dimulai. Orang-orang muda yang terkasih, saya mengharapkan kalian akan menghayati saat rahmat ini sebagai sebuah pembalikan kepada Bapa yang penuh kerahiman, yang menanti semua orang dengan tangan terbuka. Orang-orang sakit yang terkasih, saya mendorong kalian untuk menawarkan penderitaan kalian untuk pertobatan mereka yang tinggal jauh dari Allah; dan saya mengajak kalian, para pengantin baru yang terkasih, untuk membangun keluarga baru kalian pada batu karang kasih ilahi yang kokoh.

SERUAN

Besok, Peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes, adalah Hari Orang Sakit Sedunia ke-24, yang akan memiliki puncak perayaannya di Nazaret. Dalam Pesan tahun ini kita merenungkan peran yang tak tergantikan dari Maria di Pernikahan Kana : "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (Yoh 2:5). Merenungkan perhatian Maria adalah kelembutan Allah dan kebaikan yang besar sekali dari Yesus yang penuh kerahiman. Saya mengundang untuk mendoakan orang-orang sakit dan mendapati mereka merasakan kasih kita. Semoga kelembutan Maria itu sendiri hadir dalam kehidupan begitu banyak orang yang berada di samping orang-orang sakit, mampu melihat kebutuhan mereka, juga orang-orang yang paling tak terlihat, karena melihat dengan mata penuh kasih.

*****
(Peter Suriadi - Bogor, 11 Februari 2016)



Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Kamis, 11 Februari 2016

PESAN BAPA SUCI PAUS FRANSISKUS UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-24 - 11 Februari 2016

Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria:

"Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu" (Yoh 2:5)

 

Saudari-saudara terkasih,

Hari Orang Sakit Sedunia ke-24 memberi saya kesempatan khusus untuk mendekatkan diri kepada Anda, sahabat-sahabat terkasih yang sakit, dan kepada mereka yang merawat Anda.

Tahun ini, karena Hari Orang Sakit akan dirayakan dengan khidmat di Tanah Suci, saya ingin menawarkan sebuah renungan dari Injil tentang pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11), dimana Yesus melakukan mukjizat-Nya yang pertama melalui campur tangan Ibunda-Nya. Tema yang dipilih – Mempercayakan diri kepada Yesus yang berbelas kasih seperti Maria: "Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu" (Yoh 2:5) – sungguh sesuai dengan semangat Yubileum Agung Kerahiman. Perayaan Ekaristi Hari Orang Sakit ini akan dilaksanakan pada tanggal 11 Februari 2016, pada peringatan liturgis Santa Perawan Maria dari Lourdes, di Nazaret, dimana "Sang Sabda telah menjadi daging dan tinggal di antara kita" (Yoh 1:14). Di Nazaret, Yesus memulai misi keselamatan-Nya, dengan menerapkan kepada diri-Nya kata-kata Nabi Yesaya, sebagaimana diceritakan Penginjil Lukas: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan bagi orang-orang tahanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang" (Luk 4:18-19).

Penyakit, di atas semuanya penyakit yang berat, selalu menempatkan keberadaan manusia dalam krisis dan membawa serta pertanyaan yang begitu dalam. Tanggapan pertama kita bisa jadi merupakan satu pemberontakan: Mengapa ini terjadi padaku? Kita dapat merasa putus asa, berpikir bahwa semuanya telah hilang, bahwa semua hal dalam hidup ini  tidak mempunyai arti lagi.

Dalam situasi-situasi ini, iman kepada Allah pada satu sisi diuji, namun pada waktu yang sama dapat menyatakan semua sumber daya positifnya. Bukan karena iman menyebabkan penyakit, rasa sakit, atau pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, menghilang, tetapi karena iman menawarkan kunci yang membantu kita dapat menemukan makna terdalam dari apa yang sedang kita alami; sebuah kunci yang membantu kita melihat bagaimana penyakit dapat menjadi jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada Yesus yang berjalan di sisi kita, yang dibebani oleh salib. Dan kunci ini diberikan kepada kita oleh Maria, Bunda kita, yang telah lebih dulu mengenal jalan ini.

Pada pesta perkawinan di Kana, Maria adalah perempuan bijaksana yang melihat masalah serius bagi kedua mempelai: anggur, simbol sukacita pesta, telah habis. Maria mengetahui adanya kesulitan, dalam beberapa hal menyelesaikan dengan caranya sendiri, dan bertindak dengan cepat dan hati-hati. Dia tidak sekedar menonton, dalam waktu singkat menemukan dimana letak masalahnya, tetapi lebih dari itu, dia berpaling kepada Yesus dan mengajukan kepada-Nya persoalan yang nyata: "Mereka kehabisan anggur" (Yoh 2:3). Dan ketika Yesus mengatakan padanya bahwa sekarang belum tiba waktunya bagi Dia untuk menyatakan diri-Nya (bdk. Ayat 4), Maria mengatakan kepada para pelayan: "Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu" (ayat 5). Kemudian Yesus melakukan mukjizat, mengubah air menjadi anggur, anggur yang dengan seketika menjadi anggur yang terbaik dalam keseluruhan pesta. Pelajaran apa yang dapat kita tarik dari misteri pesta perkawinan di Kana ini bagi Hari Orang Sakit Sedunia?

Pesta perkawinan di Kana merupakan suatu gambaran Gereja: di pusatnya ada Yesus yang dalam belaskasih-Nya mengerjakan suatu  tanda; di sekitar Yesus ada para murid, buah-buah pertama dari komunitas yang baru; serta di samping Yesus dan para murid ada Maria, Ibu pemelihara dan pendoa. Maria ambil bagian dalam kegembiraan orang kebanyakan dan membantunya untuk tumbuh; dia menjadi perantara dengan Puteranya atas nama kedua mempelai dan semua tamu yang diundang. Yesus juga tidak menolak permintaan ibu-Nya. Betapa besar harapan yang ada dalam peristiwa itu bagi kita semua! Kita memiliki seorang Ibu yang lemah lembut dan yang selalu waspada, seperti Puteranya; sebuah hati yang penuh kasih keibuan, seperti Dia; tangan-tangan yang ingin membantu, seperti tangan-tangan Yesus yang memecah-mecah roti bagi mereka yang lapar, menjamah yang sakit dan menyembuhkan mereka. Semua ini memenuhi kita dengan kepercayaan dan membuka hati kita bagi rahmat dan belaskasih Kristus.

Kepengantaraan Maria membuat kita mengalami penghiburan yang membuat rasul Paulus memuliakan Allah: "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah. Sebab sama seperti kami mendapat bagian berlimpah-limpah dalam kesengsaraan Kristus, demikian pula oleh Kristus kami menerima penghiburan berlimpah-limpah" (2Kor 1:3-5). Maria adalah Ibu "penghiburan" yang menghibur anak-anaknya.

Di Kana ciri khas Yesus dan misi-Nya terlihat dengan jelas: Dia datang untuk menolong mereka yang berada dalam kesulitan dan yang kekurangan. Memang, di medan pelayanan mesianis-Nya, Dia menyembuhkan banyak orang dari berbagai penyakit, kelemahan-kelemahan dan roh-roh jahat, memberi penglihatan pada yang buta, membuat orang yang lumpuh berjalan, memulihkan kesehatan dan martabat bagi mereka yang lepra, membangkitkan yang mati, dan mewartakan kabar baik kepada orang miskin (bdk. Luk 7:21-22). Permintaan Maria pada pesta perkawinan, yang didorong oleh Roh Kudus pada hati keibuannya, dengan jelas memperlihatkan bukan hanya kekuasaan Yesus sebagai Juru Selamat tetapi juga belas kasih-Nya.

Dalam keprihatinan Maria, kita menyaksikan pantulan kelembutan hati Allah. Kelembutan hati yang sama ini hadir di dalam hidup semua orang yang memberi perhatian kepada orang sakit dan memahami kebutuhan-kebutuhan mereka, bahkan kepada orang-orang yang paling tidak mendapat perhatian, karena mereka memandang orang-orang sakit dan yang tidak mendapat perhatian dengan mata yang penuh cinta. Sedemikian sering seorang ibu menunggui anaknya yang sakit di samping pembaringannya, atau seorang anak yang merawat orangtua yang sudah lanjut usia, atau seorang cucu yang prihatin terhadap kakek-neneknya, menyerahkan doa mereka ke dalam tangan Bunda kita! Untuk orang-orang yang kita cintai yang menderita karena suatu penyakit, kita pertama-tama memohon untuk kesehatan mereka. Yesus sendiri memperlihatkan kehadiran Kerajaan Allah secara khusus melalui penyembuhan-penyembuhan-Nya: "Pergi dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik" (Mat 11:4-5). Tetapi kasih yang dihidupi oleh iman membuat kita memohon bagi mereka sesuatu yang lebih besar daripada kesehatan jasmani: kita memohon kedamaian, ketentraman di dalam hidup yang datang dari hati dan merupakan rahmat Allah, buah dari Roh Kudus, rahmat dari Bapa yang tidak pernah menolak mereka yang memohon kepada-Nya dengan penuh kepercayaan.

Dalam adegan di Kana, selain Yesus dan Ibu-Nya, ada "pelayan-pelayan", yang kepada mereka Maria katakan: "Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu" (Yoh 2:5). Tentu saja, mukjizat tersebut sebagai karya Kristus; bagaimanapun, Dia ingin menggunakan bantuan manusia dalam melakukan mukjizat ini. Dia dapat membuat anggur yang secara langsung ada di gentong-gentong. Namun Dia ingin mengandalkan  kerjasama manusia, karena itu Dia meminta pelayan-pelayan untuk mengisi gentong-gentong itu dengan air. Betapa indah dan menyenangkan Tuhan menjadi pelayan  bagi orang lain! Ini lebih daripada apa pun yang membuat kita seperti Yesus, yang "datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani" (Mrk 10:45). Orang-orang yang tak dikenal ini  di dalam Injil  mengajarkan kepada kita suatu hal besar. Tidak sekedar memperlihatkan mereka taat, tetapi mereka taat dengan sepenuh hati: mereka mengisi gentong-gentong sampai penuh (bdk. Yoh 2:7). Mereka percaya pada bunda-Nya dan segera mengerjakannya dengan baik apa yang diminta untuk mereka kerjakan, tanpa mengeluh, tanpa berpikiran macam-macam.

Pada Hari Orang Sakit Sedunia ini marilah kita memohon kepada Yesus di dalam belas kasih-Nya, melalui perantaraan Maria, Ibunda-Nya dan Ibu kita, untuk melimpahkan kepada kita kesiapsediaan yang sama untuk melayani mereka yang membutuhkan, dan secara khusus, saudari-saudara kita yang lemah. Kadang-kadang pelayanan ini terasa melelahkan dan membebani, namun kita tentu yakin bahwa Tuhan pasti akan mengubah upaya-upaya manusiawi kita menjadi sesuatu yang ilahi. Kita juga dapat menjadi tangan, lengan dan hati yang membantu Allah untuk melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, yang begitu sering tersembunyi. Kita juga, entah sehat atau sakit, dapat mempersembahkan beban hidup dan penderitaan-penderitaan kita seperti air yang memenuhi gentong-gentong pada pesta perkawinan di Kana dan diubah menjadi anggur terbaik. Dengan diam-diam membantu mereka yang menderita, seperti dalam penyakitnya sendiri, kita memikul salib harian kita di atas bahu kita dan mengikuti Sang Guru (bdk. Luk 9:23). Meskipun begitu pengalaman penderitaan akan selalu merupakan sebuah misteri, Yesus membantu kita untuk mengungkapkan maknanya.

Jika kita mampu belajar mentaati kata-kata Maria, yang mengatakan: "Lakukanlah apa pun yang Dia katakan padamu", Yesus akan selalu mengubah air kehidupan kita menjadi anggur yang berharga. Demikian Hari Orang Sakit Sedunia ini, yang dirayakan secara khidmat di Tanah Suci, akan membantu memenuhi harapan yang saya nyatakan dalam Bulla Tahun Yubileum Agung Kerahiman: 'Saya percaya bahwa Tahun Yubelium Agung yang merayakan kerahiman Allah ini akan membantu perkembangan perjumpaan dengan (Yudaisme dan Islam) dan dengan tradisi-tradisi mulia agama lain; semoga hal ini membuka kita pada dialog yang lebih sungguh-sungguh lagi sehingga kita saling mengenal dan mengerti satu sama lain dengan lebih baik; semoga hal ini mengikis setiap bentuk kepicikan pikiran dan sikap kurang hormat, serta menyingkirkan setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi' (Misericordiae Vultus, 23). Setiap rumah sakit dan rumah perawatan dapat menjadi sebuah tanda yang kelihatan dan menjadi tempat untuk mempromosikan budaya perjumpaan dan perdamaian, di mana pengalaman sakit dan menderita, disertai dengan bantuan yang profesional dan semangat persaudaraan, membantu mengatasi setiap keterbatasan dan keterpecahan.

Untuk ini kita diberi teladan oleh dua orang suster religius yang dikanonisasi pada akhir Mei yang lalu: Santa Maria-Alphonsine Danil Ghattas dan Santa Maria dari Baouardy Yesus Tersalib, keduanya puteri dari Tanah Suci. Yang pertama adalah seorang saksi kesabaran/kelembutan dan kesatuan, yang memberi kesaksian yang jelas mengenai pentingnya tanggungjawab kepada satu sama lain, dengan hidup saling melayani. Yang kedua, seorang perempuan yang rendah hati dan buta huruf, yang patuh pada Roh Kudus dan menjadi sebuah sarana perjumpaan dengan dunia muslim.

Kepada semua yang membantu orang sakit dan menderita, saya menyatakan harapan yang saya yakini bahwa mereka akan mengambil inspirasi dari Maria, Bunda Kerahiman. "Semoga kemanisan ketenangannya menjaga kita di dalam Tahun Suci ini, sehingga kita semua dapat menemukan kembali sukacita dari kelembutan hati Allah (ibid, 24), mengijinkannya tinggal di dalam hati kita dan menyatakannya dalam tindakan-tindakan kita! Marilah kita mempercayakan pencobaan-pencobaan dan kesengsaraan-kesengsaraan kita kepada Perawan Maria, bersama dengan sukacita dan penghiburan kita. Marilah memohon kepadanya untuk mengalihkan mata belaskasihnya ke arah kita, khususnya di kala sakit, dan menjadikan kita pantas memandang, wajah kerahiman Yesus Puteranya, kini dan selamanya!

Teriring doa untuk Anda semua, saya melimpahkan Berkat Apostolik.

 

Dari Vatikan, 15 September 2015

Pada Peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita

 

FRANSISKUS

 

 

 




Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 03 Februari 2016

WAWANCARA PAUS FRANSISKUS DENGAN ASIA TIMES (28 Januari 2016) : PERJUMPAAN DICAPAI MELALUI DIALOG

Berikut adalah wawancara dilakukan oleh Francesco Sisci, kolumnis Asia Times dan peneliti senior Universitas Renmin Tiongkok, pada tanggal 28 Januari 2016 di Vatikan, dan menandai pertama kalinya wawancara Paus berkenaan dengan Tiongkok dan rakyatnya.

**********

Francesco Sisci : Apakah Tiongkok bagi Anda? Bagaimana Anda membayangkan Tiongkok menjadi seperti seorang pemuda, mengingat bahwa Tiongkok, untuk Argentina, bukanlah Timur tetapi Barat jauh? Apakah artinya Matteo Ricci bagi Anda?

Paus Fransiskus : Bagi saya, Tiongkok selalu menjadi titik acuan kebesaran. Sebuah negara besar. Tetapi lebih dari sebuah negara, sebuah budaya besar, dengan kebijaksanaan yang tak habis-habisnya. Bagi saya, sebagai seorang anak, setiap kali saya membaca apapun tentang Tiongkok, ia memiliki kemampuan untuk mengilhami kekaguman saya. Saya memiliki kekaguman untuk Tiongkok. Kemudian saya melihat ke dalam kehidupan Matteo Ricci dan saya melihat bagaimana orang ini merasakan hal yang sama dengan cara yang persis dengan yang saya lakukan, kekaguman, dan bagaimana ia mampu masuk ke dalam dialog dengan budaya besar ini, dengan kebijaksanaan kuno ini. Ia mampu "menjumpai"-nya.

Ketika saya masih muda, dan Tiongkok dibicarakan, kita memikirkan Tembok Besar. Sisanya tidak dikenal di tanah air saya. Tetapi ketika saya semakin memandang masalah ini, saya memiliki pengalaman perjumpaan yang sangat berbeda, dalam waktu dan cara, dengan yang dialami oleh Ricci. Namun saya menemukan sesuatu yang saya tidak diharapkan. Pengalaman Ricci mengajarkan kita bahwa perlu untuk masuk ke dalam dialog dengan Tiongkok, karena merupakan akumulasi kebijaksanaan dan sejarah. Ia adalah negeri yang terberkati dengan banyak hal. Dan Gereja Katolik, yang salah satu tugasnya adalah menghormati semua peradaban, sebelum peradaban ini, saya akan mengatakan, memiliki kewajiban untuk menghormatinya dengan modal "R" huruf besar. Gereja memiliki potensi besar untuk menerima budaya.

Suatu hari saya memiliki kesempatan untuk melihat lukisan-lukisan besar Yesuit lainnya, Giuseppe Castiglione - yang juga memiliki virus Yesuit
 (tertawa). Castiglione tahu bagaimana mengungkapkan keindahan, pengalaman keterbukaan dalam dialog: menerima dari orang lain dan pemberian dirinya pada sebuah panjang gelombang yang "beradab" dari peradaban. Ketika saya mengatakan "beradab", saya tidak memaksudkan hanya peradaban yang "berpendidikan", tetapi juga peradaban yang saling berjumpa. Juga, saya tidak tahu apakah itu benar tetapi mereka mengatakan bahwa Marco Polo adalah orang yang membawa mie pasta ke Italia (tertawa). Jadi Tiongkoklah yang menemukan diri mereka. Saya tidak tahu apakah ini benar. Tetapi saya mengatakan ini sambil lalu.

Ini adalah kesan yang saya miliki, hormat yang besar. Dan lebih dari ini, ketika saya melintasi Tiongkok untuk pertama kalinya, saya diberitahu di dalam pesawat : "dalam waktu sepuluh menit kita akan memasuki wilayah udara Tiongkok, dan kirimkan ucapan Anda". Saya mengakui bahwa saya merasa sangat emosional, sesuatu yang tidak biasanya terjadi pada saya. Saya berpindah untuk terbang di atas kekayaan besar budaya dan kebijaksanaan ini.

Francesco Sisci : Tiongkok, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun sejarahnya, yang muncul dari lingkungannya sendiri dan membuka terhadap dunia, menciptakan tantangan-tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi dirinya sendiri dan bagi dunia. Anda telah berbicara tentang perang dunia ketiga yang secara sembunyi-sembunyi sedangmeningkat : tantangan-tantangan apa saja sekarang ini yang terjadi dalam pencaharian bagi perdamaian?

Paus Fransiskus : Menjadi takut tidak pernah merupakan seorang penasehat yang baik. Rasa takut bukanlah seorang penasehat yang baik. Jika seorang ayah dan seorang ibu penuh rasa takut ketika mereka memiliki seorang anak remaja, mereka tidak akan tahu bagaimana menanganinya dengan baik. Dengan kata lain, kita tidak seharusnya takut akan tantangan-tantangan apapun, karena semua orang, pria dan wanita, memiliki di dalam diri mereka kemampuan untuk menemukan jalan keberadaan bersama, rasa hormat dan saling mengagumi. Dan jelas bahwa begitu banyak budaya dan begitu banyak kebijaksanaan, dan di samping itu, begitu banyak pengetahuan teknis - kita hanya memikirkan teknik-teknik obat kuno - tidak dapat tetap terkurung di dalam negeri; mereka cenderung untuk memperluas, menyebarkan, berkomunikasi. Manusia cenderung untuk berkomunikasi, sebuah peradaban cenderung untuk berkomunikasi. Jelaslah bahwa ketika komunikasi terjadi dengan nada agresif untuk membela diri, maka perang terjadi. Tetapi saya tidak akan takut. Menjaga keseimbangan perdamaian merupakan sebuah tantangan besar. Di sini kita memiliki nenek Eropa, seperti yang saya katakan di Strasbourg. Ia muncul sehingga ia bukan lagi Bunda Eropa. Saya berharap ia akan dapat merebut kembali peran itu. Dan ia menerima dari negeri kuno ini sebuah kontribusi yang semakin kaya. Dan sehingga perlu menerima tantangan dan menjalankan resiko menyeimbangkan pertukaran ini untuk perdamaian. Dunia Barat, dunia Timur dan Tiongkok semuanya memiliki kemampuan untuk menjaga keseimbangan perdamaian dan kekuatan untuk melakukannya. Kita harus menemukan jalan, selalu melalui dialog; tidak ada cara lain (Beliau membuka tangannya seolah-olah membentangkan sebuah pelukan)

Perjumpaan dicapai melalui dialog. Keseimbangan perdamaian yang sesungguhnya diwujudkan melalui dialog. Dialog tidak berarti bahwa kita berakhir dengan kompromi, setengah kue untuk Anda dan setengah lainnya untuk saya. Inilah apa yang terjadi di Yalta dan kita melihat hasilnya. Tidak, dialog berarti : lihatlah, kita telah sampai ke titik ini, saya boleh setuju atau tidak, tetapi mari kita berjalan bersama-sama; inilah apa artinya membangun. Dan kue tetap utuh, berjalan bersama-sama. Kue milik semua orang, ia adalah umat manusia, budaya. Membelah kue, seperti di Yalta, berarti membagi umat manusia dan budaya ke dalam potongan-potongan kecil. Dan budaya dan umat manusia tidak dapat dibelah ke dalam potongan-potongan kecil. Ketika saya berbicara tentang kue besar ini saya mengartikannya dalam arti positif. Setiap orang memiliki pengaruh untuk menanggung kebaikan bersama semua orang (Paus Fransiskus tersenyum dan bertanya : "Saya tidak tahu apakah contoh kue jelas untuk Tiongkok", saya mengangguk : "Saya kira demikian").

Francesco Sisci : Tiongkok telah mengalami selama beberapa dekade terakhir tragedi-tragedi tanpa pembanding. Sejak tahun 1980 Tiongkok telah mengorbankan apa yang selalu paling mereka sayangi, anak-anak mereka. Bagi rakyat Tiongkok ini adalah luka-luka yang sangat serius. Antara lain, hal ini telah meninggalkan kekosongan besar dalam hati nurani mereka dan entah bagaimana kebutuhan yang sangat mendalam untuk berdamai dengan diri mereka sendiri dan mengampuni diri mereka sendiri. Dalam Tahun Kerahiman pesan apa yang dapat Anda tawarkan kepada rakyat Tiongkok?

Paus Fransiskus : Penuaan penduduk dan umat manusia sedang terjadi di banyak tempat. Di sini, di Italia tingkat kelahiran hampir di bawah nol, dan di Spanyol juga, lebih atau kurang. Situasi di Prancis, dengan kebijakan bantuannya kepada keluarga-keluarga, membaik. Dan jelas bahwa penduduk-penduduk menua. Mereka menua dan mereka tidak memiliki anak. Di Afrika, misalnya, melihat anak-anak di jalan-jalan merupakan sebuah kenikmatan. Di sini, di Roma, jika Anda berjalan-jalan, Anda akan melihat sangat sedikit anak-anak. Mungkin di balik hal ini ada rasa takut yang sedang mengarah kepada Anda, persepsi yang keliru, bukan hanya kita akan jatuh di belakang, tetapi kita akan jatuh ke dalam kesengsaraan, sehingga oleh karena itu, marilah kita tidak memiliki anak.

Ada masyarakat-masyarakat lainnya yang telah memilih sebaliknya. Sebagai contoh, selama perjalanan saya ke Albania, saya terkejut menemukan bahwa usia rata-rata penduduk adalah sekitar 40 tahun. Ada terdapat negara-negara muda; Saya pikir Bosnia dan Herzegovina adalah sama. Negara-negara yang telah menderita dan memilih menjadi kaum muda. Lalu ada masalah pekerjaan. Sesuatu yang tidak dimiliki Tiongkok, karena ia memiliki kemampuan untuk menawarkan pekerjaan baik di pedesaan maupun di perkotaan. Dan memang benar, masalah bagi Tiongkok tidak memiliki anak seharusnya sangat menyakitkan; karena piramida ini kemudian terbalik dan seorang anak harus menanggung beban ayah, ibu, kakek dan neneknya. Dan ini melelahkan, menuntut, membingungkan. Ini bukan cara alami. Saya memahami bahwa Tiongkok telah membuka kemungkinan-kemungkinan tentang hal ini ke depan.

Francesco Sisci: Bagaimana seharusnya tantangan-tantangan keluarga-keluarga di Tiongkok ini dihadapi, mengingat bahwa mereka menemukan diri mereka dalam proses perubahan besar dan tidak lagi sesuai dengan model tradisional keluarga Tiongkok?

Paus Fransiskus : Mengambil tema tersebut, dalam Tahun Kerahiman, apa pesan yang bisa saya berikan kepada rakyat Tiongkok? Sejarah dari suatu bangsa selalu merupakan sebuah jalan. Suatu bangsa berkali-kali berjalan lebih cepat, berkali-kali lebih lambat, berkali-kali ia berhenti, berkali-kali ia membuat sebuah kesalahan dan berjalan sedikit mundur, atau mengambil jalan yang salah dan harus menelusuri kembali langkah-langkahnya untuk mengikuti cara yang benar. Tetapi ketika suatu bangsa bergerak maju, hal ini tidak mengkhawatir saya karena itu berarti mereka sedang membuat sejarah. Dan saya percaya bahwa rakyat Tiongkok sedang bergerak maju dan ini adalah kebesaran mereka. Ia berjalan, seperti semua penduduk, melalui terang dan bayangan. Memandang pada yang terakhir ini - dan mungkin fakta tidak memiliki anak menciptakan sebuah kerumitan - mengambil tanggung jawab untuk jalannya sendiri adalah sehat. Nah, kita telah mengambil rute ini, sesuatu di sini tidak bekerja sama sekali, maka sekarang kemungkinan-kemungkinan lain terbuka. Isu-isu lain ikut bermain : keegoisan dari beberapa sektor kaya yang lebih suka tidak memiliki anak, dan sebagainya. Mereka harus mengambil tanggung jawab untuk jalan mereka sendiri. Dan saya akan berjalan lebih jauh : jangan getir, tetapi berdamailah dengan jalan Anda sendiri, bahkan jika Anda telah membuat kesalahan. Saya tidak bisa mengatakan sejarah saya buruk, agar saya membenci sejarah saya (Paus Fransiskus memberi saya sebuah pandangan yang menyelusup)

Tidak, setiap orang harus berdamai dengan sejarahnya sebagai jalannya sendiri, dengan keberhasilannya dan kesalahannya. Dan pendamaian dengan sejarahnya sendiri ini membawa banyak kedewasaan, banyak pertumbuhan. Di sini saya akan menggunakan kata yang disebutkan dalam pertanyaan : kerahiman. Bagi seseorang memiliki kerahiman terhadap dirinya sendiri adalah menyehatkan, bukanlah sadis atau masokis. Itu salah. Dan saya akan mengatakan hal yang sama untuk suatu bangsa : bagi sebuah penduduk menjadi penuh kerahiman terhadap dirinya sendiri adalah menyehatkan. Dan kemuliaan jiwa ini ... saya tidak tahu apakah menggunakan kata pengampunan atau tidak, saya tidak tahu. Tetapi menerima bahwa ini adalah jalan saya, tersenyum, dan terus berjalan. Jika kita lelah dan berhenti, kita dapat menjadi getir dan korup. Dan, ketika kita bertanggung jawab atas jalan kita sendiri, menerimanya apa adanya, hal ini memungkinkan kekayaan sejarah dan budayanya muncul, bahkan di saat-saat sulit.

Dan bagaimana hal itu dapat diizinkan muncul? Di sini kita kembali ke pertanyaan pertama : dalam dialog dengan dunia sekarang ini. Berdialog tidak berarti bahwa saya menyerahkan diri saya, karena berkali-kali ada bahaya, dalam dialog di antara berbagai negara, agenda-agenda tersembunyi, yaitu, penjajahan budaya. Perlunya mengenali kebesaran rakyat Tiongkok, yang selalu mempertahankan budaya mereka. Dan budaya mereka - saya tidak sedang berbicara tentang ideologi-ideologi yang mungkin ada di masa lalu - budaya mereka tidak terkena.

Francesco Sisci :Pertumbuhan ekonomi negara berlangsung dengan kecepatan yang luar biasa tetapi ini juga membawa bersamanya bencana manusia dan lingkungan yang sedang diperjuangkan Beijing untuk digumuli dan diselesaikan. Pada saat yang sama, mengejar efisiensi kerja yang sedang membebani keluarga-keluarga dengan biaya baru : kadang-kadang anak-anak dan orang tua yang terpisah karena tuntutan pekerjaan. Pesan apakah yang dapat Anda berikan kepada mereka?

Paus Fransiskus : Saya merasa agak seperti seorang "ibu mertua" yang memberikan nasihat tentang apa yang harus dilakukan (tertawa). Saya akan menyarankan suatu realisme yang sehat; kenyataan yang harus diterima dari manapun ia datang. Ini adalah kenyataan kita; seperti dalam sepak bola, penjaga gawang harus menangkap bola dari mana pun ia datang. Kenyataan yang harus diterima apa adanya. Jadilah nyata. Ini adalah kenyataan kita. Pertama-tama, saya harus berdamai dengan kenyataan. Saya tidak menyukainya, saya menentangnya, ia membuat saya menderita, tetapi jika saya tidak datang untuk berdamai dengannya, saya tidak akan bisa berbuat apa-apa. Langkah kedua adalah bekerja untuk membesut kenyataan dan mengubah arahnya.

Sekarang, Anda melihat bahwa ini adalah saran-saran sederhana, agak biasa. Tetapi menjadi seperti burung unta, yang menyembunyikan kepalanya di pasir agar tidak melihat kenyataan, atau tidak menerimanya, tidak ada penyelesaian. Kalau begitu, marilah kita membahas, marilah kita terus mencari, marilah kita terus berjalan, selalu di jalan, bergerak. Air sungai murni karena ia mengalir ke depan; air tergenang menjadi mandeg. Perlunya menerima kenyataan seperti itu, tanpa menyamarkannya, tanpa menyulingnya, dan menemukan cara untuk membesutnya. Nah, di sini adalah sesuatu yang sangat penting. Jika hal ini terjadi pada sebuah perusahaan yang telah bekerja selama dua puluh tahun dan ada krisis bisnis, maka ada beberapa jalan kreativitas untuk membesutnya. Sebaliknya, ketika itu terjadi di sebuah negara kuno, dengan usia tua sejarahnya, kebijaksanaan kunonya, kreativitas kunonya, maka ketegangan tercipta di antara masalah sekarang dan masa lalu kekayaan kuno ini. Dan ketegangan ini membawa keberhasilan ketika ia melihat masa depan. Saya percaya bahwa kekayaan besar Tiongkok saat ini terletak pada melihat ke masa depan dari sekarang yang ditopang oleh kenangan masa lalu budayanya. Hidup dalam ketegangan, tidak dalam penderitaan, dan ketegangan di antara masa lalunya yang sangat kaya dan tantangan masa kini yang harus dibawa ke luar ke masa depan; yaitu, kisah tidak berakhir di sini.

Francesco Sisci : Pada kesempatan Tahun Baru Cina mendatang, Tahun Monyet, apakah Anda ingin mengirim ucapan kepada rakyat Tiongkok, kepada pihak berwenang dan Presiden Xi Jinping?

Paus Fransiskus : Pada malam Tahun Baru, saya ingin menyampaikan keinginan saya yang terbaik dan salam kepada Presiden Xi Jinping dan seluruh rakyat Tiongkok. Dan saya ingin mengungkapkan harapan saya agar mereka tidak pernah kehilangan kesadaran sejarah mereka menjadi sebuah bangsa yang besar, dengan sejarah kebijaksanaan yang besar, dan agar mereka memiliki banyak untuk ditawarkan kepada dunia. Dunia memandang kebijaksanaan besar milik Anda ini. Dalam Tahun Baru ini, dengan kesadaran ini, semoga Anda terus berjalan maju untuk membantu dan bekerja sama dengan semua orang dalam merawat rumah kita bersama dan rakyat kita bersama. Terima kasih!

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi dari situs Asia Times : http://atimes.com/2016/02/at-exclusive-pope-francis-urges-world-not-to-fear-chinas-rise/)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

WAWANCARA PAUS FRANSISKUS DENGAN ASIA TIMES (28 Januari 2016) : PERJUMPAAN DICAPAI MELALUI DIALOG

Berikut adalah wawancara dilakukan oleh Francesco Sisci, kolumnis Asia Times dan peneliti senior Universitas Renmin Tiongkok, pada tanggal 28 Januari 2016 di Vatikan, dan menandai pertama kalinya wawancara Paus berkenaan dengan Tiongkok dan rakyatnya.

**********

Francesco Sisci : Apakah Tiongkok bagi Anda? Bagaimana Anda membayangkan Tiongkok menjadi seperti seorang pemuda, mengingat bahwa Tiongkok, untuk Argentina, bukanlah Timur tetapi Barat jauh? Apakah artinya Matteo Ricci bagi Anda?

Paus Fransiskus : Bagi saya, Tiongkok selalu menjadi titik acuan kebesaran. Sebuah negara besar. Tetapi lebih dari sebuah negara, sebuah budaya besar, dengan kebijaksanaan yang tak habis-habisnya. Bagi saya, sebagai seorang anak, setiap kali saya membaca apapun tentang Tiongkok, ia memiliki kemampuan untuk mengilhami kekaguman saya. Saya memiliki kekaguman untuk Tiongkok. Kemudian saya melihat ke dalam kehidupan Matteo Ricci dan saya melihat bagaimana orang ini merasakan hal yang sama dengan cara yang persis dengan yang saya lakukan, kekaguman, dan bagaimana ia mampu masuk ke dalam dialog dengan budaya besar ini, dengan kebijaksanaan kuno ini. Ia mampu "menjumpai"-nya.

Ketika saya masih muda, dan Tiongkok dibicarakan, kita memikirkan Tembok Besar. Sisanya tidak dikenal di tanah air saya. Tetapi ketika saya semakin memandang masalah ini, saya memiliki pengalaman perjumpaan yang sangat berbeda, dalam waktu dan cara, dengan yang dialami oleh Ricci. Namun saya menemukan sesuatu yang saya tidak diharapkan. Pengalaman Ricci mengajarkan kita bahwa perlu untuk masuk ke dalam dialog dengan Tiongkok, karena merupakan akumulasi kebijaksanaan dan sejarah. Ia adalah negeri yang terberkati dengan banyak hal. Dan Gereja Katolik, yang salah satu tugasnya adalah menghormati semua peradaban, sebelum peradaban ini, saya akan mengatakan, memiliki kewajiban untuk menghormatinya dengan modal "R" huruf besar. Gereja memiliki potensi besar untuk menerima budaya.

Suatu hari saya memiliki kesempatan untuk melihat lukisan-lukisan besar Yesuit lainnya, Giuseppe Castiglione - yang juga memiliki virus Yesuit
 (tertawa). Castiglione tahu bagaimana mengungkapkan keindahan, pengalaman keterbukaan dalam dialog: menerima dari orang lain dan pemberian dirinya pada sebuah panjang gelombang yang "beradab" dari peradaban. Ketika saya mengatakan "beradab", saya tidak memaksudkan hanya peradaban yang "berpendidikan", tetapi juga peradaban yang saling berjumpa. Juga, saya tidak tahu apakah itu benar tetapi mereka mengatakan bahwa Marco Polo adalah orang yang membawa mie pasta ke Italia (tertawa). Jadi Tiongkoklah yang menemukan diri mereka. Saya tidak tahu apakah ini benar. Tetapi saya mengatakan ini sambil lalu.

Ini adalah kesan yang saya miliki, hormat yang besar. Dan lebih dari ini, ketika saya melintasi Tiongkok untuk pertama kalinya, saya diberitahu di dalam pesawat : "dalam waktu sepuluh menit kita akan memasuki wilayah udara Tiongkok, dan kirimkan ucapan Anda". Saya mengakui bahwa saya merasa sangat emosional, sesuatu yang tidak biasanya terjadi pada saya. Saya berpindah untuk terbang di atas kekayaan besar budaya dan kebijaksanaan ini.

Francesco Sisci : Tiongkok, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun sejarahnya, yang muncul dari lingkungannya sendiri dan membuka terhadap dunia, menciptakan tantangan-tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi dirinya sendiri dan bagi dunia. Anda telah berbicara tentang perang dunia ketiga yang secara sembunyi-sembunyi sedangmeningkat : tantangan-tantangan apa saja sekarang ini yang terjadi dalam pencaharian bagi perdamaian?

Paus Fransiskus : Menjadi takut tidak pernah merupakan seorang penasehat yang baik. Rasa takut bukanlah seorang penasehat yang baik. Jika seorang ayah dan seorang ibu penuh rasa takut ketika mereka memiliki seorang anak remaja, mereka tidak akan tahu bagaimana menanganinya dengan baik. Dengan kata lain, kita tidak seharusnya takut akan tantangan-tantangan apapun, karena semua orang, pria dan wanita, memiliki di dalam diri mereka kemampuan untuk menemukan jalan keberadaan bersama, rasa hormat dan saling mengagumi. Dan jelas bahwa begitu banyak budaya dan begitu banyak kebijaksanaan, dan di samping itu, begitu banyak pengetahuan teknis - kita hanya memikirkan teknik-teknik obat kuno - tidak dapat tetap terkurung di dalam negeri; mereka cenderung untuk memperluas, menyebarkan, berkomunikasi. Manusia cenderung untuk berkomunikasi, sebuah peradaban cenderung untuk berkomunikasi. Jelaslah bahwa ketika komunikasi terjadi dengan nada agresif untuk membela diri, maka perang terjadi. Tetapi saya tidak akan takut. Menjaga keseimbangan perdamaian merupakan sebuah tantangan besar. Di sini kita memiliki nenek Eropa, seperti yang saya katakan di Strasbourg. Ia muncul sehingga ia bukan lagi Bunda Eropa. Saya berharap ia akan dapat merebut kembali peran itu. Dan ia menerima dari negeri kuno ini sebuah kontribusi yang semakin kaya. Dan sehingga perlu menerima tantangan dan menjalankan resiko menyeimbangkan pertukaran ini untuk perdamaian. Dunia Barat, dunia Timur dan Tiongkok semuanya memiliki kemampuan untuk menjaga keseimbangan perdamaian dan kekuatan untuk melakukannya. Kita harus menemukan jalan, selalu melalui dialog; tidak ada cara lain (Beliau membuka tangannya seolah-olah membentangkan sebuah pelukan)

Perjumpaan dicapai melalui dialog. Keseimbangan perdamaian yang sesungguhnya diwujudkan melalui dialog. Dialog tidak berarti bahwa kita berakhir dengan kompromi, setengah kue untuk Anda dan setengah lainnya untuk saya. Inilah apa yang terjadi di Yalta dan kita melihat hasilnya. Tidak, dialog berarti : lihatlah, kita telah sampai ke titik ini, saya boleh setuju atau tidak, tetapi mari kita berjalan bersama-sama; inilah apa artinya membangun. Dan kue tetap utuh, berjalan bersama-sama. Kue milik semua orang, ia adalah umat manusia, budaya. Membelah kue, seperti di Yalta, berarti membagi umat manusia dan budaya ke dalam potongan-potongan kecil. Dan budaya dan umat manusia tidak dapat dibelah ke dalam potongan-potongan kecil. Ketika saya berbicara tentang kue besar ini saya mengartikannya dalam arti positif. Setiap orang memiliki pengaruh untuk menanggung kebaikan bersama semua orang (Paus Fransiskus tersenyum dan bertanya : "Saya tidak tahu apakah contoh kue jelas untuk Tiongkok", saya mengangguk : "Saya kira demikian").

Francesco Sisci : Tiongkok telah mengalami selama beberapa dekade terakhir tragedi-tragedi tanpa pembanding. Sejak tahun 1980 Tiongkok telah mengorbankan apa yang selalu paling mereka sayangi, anak-anak mereka. Bagi rakyat Tiongkok ini adalah luka-luka yang sangat serius. Antara lain, hal ini telah meninggalkan kekosongan besar dalam hati nurani mereka dan entah bagaimana kebutuhan yang sangat mendalam untuk berdamai dengan diri mereka sendiri dan mengampuni diri mereka sendiri. Dalam Tahun Kerahiman pesan apa yang dapat Anda tawarkan kepada rakyat Tiongkok?

Paus Fransiskus : Penuaan penduduk dan umat manusia sedang terjadi di banyak tempat. Di sini, di Italia tingkat kelahiran hampir di bawah nol, dan di Spanyol juga, lebih atau kurang. Situasi di Prancis, dengan kebijakan bantuannya kepada keluarga-keluarga, membaik. Dan jelas bahwa penduduk-penduduk menua. Mereka menua dan mereka tidak memiliki anak. Di Afrika, misalnya, melihat anak-anak di jalan-jalan merupakan sebuah kenikmatan. Di sini, di Roma, jika Anda berjalan-jalan, Anda akan melihat sangat sedikit anak-anak. Mungkin di balik hal ini ada rasa takut yang sedang mengarah kepada Anda, persepsi yang keliru, bukan hanya kita akan jatuh di belakang, tetapi kita akan jatuh ke dalam kesengsaraan, sehingga oleh karena itu, marilah kita tidak memiliki anak.

Ada masyarakat-masyarakat lainnya yang telah memilih sebaliknya. Sebagai contoh, selama perjalanan saya ke Albania, saya terkejut menemukan bahwa usia rata-rata penduduk adalah sekitar 40 tahun. Ada terdapat negara-negara muda; Saya pikir Bosnia dan Herzegovina adalah sama. Negara-negara yang telah menderita dan memilih menjadi kaum muda. Lalu ada masalah pekerjaan. Sesuatu yang tidak dimiliki Tiongkok, karena ia memiliki kemampuan untuk menawarkan pekerjaan baik di pedesaan maupun di perkotaan. Dan memang benar, masalah bagi Tiongkok tidak memiliki anak seharusnya sangat menyakitkan; karena piramida ini kemudian terbalik dan seorang anak harus menanggung beban ayah, ibu, kakek dan neneknya. Dan ini melelahkan, menuntut, membingungkan. Ini bukan cara alami. Saya memahami bahwa Tiongkok telah membuka kemungkinan-kemungkinan tentang hal ini ke depan.

Francesco Sisci: Bagaimana seharusnya tantangan-tantangan keluarga-keluarga di Tiongkok ini dihadapi, mengingat bahwa mereka menemukan diri mereka dalam proses perubahan besar dan tidak lagi sesuai dengan model tradisional keluarga Tiongkok?

Paus Fransiskus : Mengambil tema tersebut, dalam Tahun Kerahiman, apa pesan yang bisa saya berikan kepada rakyat Tiongkok? Sejarah dari suatu bangsa selalu merupakan sebuah jalan. Suatu bangsa berkali-kali berjalan lebih cepat, berkali-kali lebih lambat, berkali-kali ia berhenti, berkali-kali ia membuat sebuah kesalahan dan berjalan sedikit mundur, atau mengambil jalan yang salah dan harus menelusuri kembali langkah-langkahnya untuk mengikuti cara yang benar. Tetapi ketika suatu bangsa bergerak maju, hal ini tidak mengkhawatir saya karena itu berarti mereka sedang membuat sejarah. Dan saya percaya bahwa rakyat Tiongkok sedang bergerak maju dan ini adalah kebesaran mereka. Ia berjalan, seperti semua penduduk, melalui terang dan bayangan. Memandang pada yang terakhir ini - dan mungkin fakta tidak memiliki anak menciptakan sebuah kerumitan - mengambil tanggung jawab untuk jalannya sendiri adalah sehat. Nah, kita telah mengambil rute ini, sesuatu di sini tidak bekerja sama sekali, maka sekarang kemungkinan-kemungkinan lain terbuka. Isu-isu lain ikut bermain : keegoisan dari beberapa sektor kaya yang lebih suka tidak memiliki anak, dan sebagainya. Mereka harus mengambil tanggung jawab untuk jalan mereka sendiri. Dan saya akan berjalan lebih jauh : jangan getir, tetapi berdamailah dengan jalan Anda sendiri, bahkan jika Anda telah membuat kesalahan. Saya tidak bisa mengatakan sejarah saya buruk, agar saya membenci sejarah saya (Paus Fransiskus memberi saya sebuah pandangan yang menyelusup)

Tidak, setiap orang harus berdamai dengan sejarahnya sebagai jalannya sendiri, dengan keberhasilannya dan kesalahannya. Dan pendamaian dengan sejarahnya sendiri ini membawa banyak kedewasaan, banyak pertumbuhan. Di sini saya akan menggunakan kata yang disebutkan dalam pertanyaan : kerahiman. Bagi seseorang memiliki kerahiman terhadap dirinya sendiri adalah menyehatkan, bukanlah sadis atau masokis. Itu salah. Dan saya akan mengatakan hal yang sama untuk suatu bangsa : bagi sebuah penduduk menjadi penuh kerahiman terhadap dirinya sendiri adalah menyehatkan. Dan kemuliaan jiwa ini ... saya tidak tahu apakah menggunakan kata pengampunan atau tidak, saya tidak tahu. Tetapi menerima bahwa ini adalah jalan saya, tersenyum, dan terus berjalan. Jika kita lelah dan berhenti, kita dapat menjadi getir dan korup. Dan, ketika kita bertanggung jawab atas jalan kita sendiri, menerimanya apa adanya, hal ini memungkinkan kekayaan sejarah dan budayanya muncul, bahkan di saat-saat sulit.

Dan bagaimana hal itu dapat diizinkan muncul? Di sini kita kembali ke pertanyaan pertama : dalam dialog dengan dunia sekarang ini. Berdialog tidak berarti bahwa saya menyerahkan diri saya, karena berkali-kali ada bahaya, dalam dialog di antara berbagai negara, agenda-agenda tersembunyi, yaitu, penjajahan budaya. Perlunya mengenali kebesaran rakyat Tiongkok, yang selalu mempertahankan budaya mereka. Dan budaya mereka - saya tidak sedang berbicara tentang ideologi-ideologi yang mungkin ada di masa lalu - budaya mereka tidak terkena.

Francesco Sisci :Pertumbuhan ekonomi negara berlangsung dengan kecepatan yang luar biasa tetapi ini juga membawa bersamanya bencana manusia dan lingkungan yang sedang diperjuangkan Beijing untuk digumuli dan diselesaikan. Pada saat yang sama, mengejar efisiensi kerja yang sedang membebani keluarga-keluarga dengan biaya baru : kadang-kadang anak-anak dan orang tua yang terpisah karena tuntutan pekerjaan. Pesan apakah yang dapat Anda berikan kepada mereka?

Paus Fransiskus : Saya merasa agak seperti seorang "ibu mertua" yang memberikan nasihat tentang apa yang harus dilakukan (tertawa). Saya akan menyarankan suatu realisme yang sehat; kenyataan yang harus diterima dari manapun ia datang. Ini adalah kenyataan kita; seperti dalam sepak bola, penjaga gawang harus menangkap bola dari mana pun ia datang. Kenyataan yang harus diterima apa adanya. Jadilah nyata. Ini adalah kenyataan kita. Pertama-tama, saya harus berdamai dengan kenyataan. Saya tidak menyukainya, saya menentangnya, ia membuat saya menderita, tetapi jika saya tidak datang untuk berdamai dengannya, saya tidak akan bisa berbuat apa-apa. Langkah kedua adalah bekerja untuk membesut kenyataan dan mengubah arahnya.

Sekarang, Anda melihat bahwa ini adalah saran-saran sederhana, agak biasa. Tetapi menjadi seperti burung unta, yang menyembunyikan kepalanya di pasir agar tidak melihat kenyataan, atau tidak menerimanya, tidak ada penyelesaian. Kalau begitu, marilah kita membahas, marilah kita terus mencari, marilah kita terus berjalan, selalu di jalan, bergerak. Air sungai murni karena ia mengalir ke depan; air tergenang menjadi mandeg. Perlunya menerima kenyataan seperti itu, tanpa menyamarkannya, tanpa menyulingnya, dan menemukan cara untuk membesutnya. Nah, di sini adalah sesuatu yang sangat penting. Jika hal ini terjadi pada sebuah perusahaan yang telah bekerja selama dua puluh tahun dan ada krisis bisnis, maka ada beberapa jalan kreativitas untuk membesutnya. Sebaliknya, ketika itu terjadi di sebuah negara kuno, dengan usia tua sejarahnya, kebijaksanaan kunonya, kreativitas kunonya, maka ketegangan tercipta di antara masalah sekarang dan masa lalu kekayaan kuno ini. Dan ketegangan ini membawa keberhasilan ketika ia melihat masa depan. Saya percaya bahwa kekayaan besar Tiongkok saat ini terletak pada melihat ke masa depan dari sekarang yang ditopang oleh kenangan masa lalu budayanya. Hidup dalam ketegangan, tidak dalam penderitaan, dan ketegangan di antara masa lalunya yang sangat kaya dan tantangan masa kini yang harus dibawa ke luar ke masa depan; yaitu, kisah tidak berakhir di sini.

Francesco Sisci : Pada kesempatan Tahun Baru Cina mendatang, Tahun Monyet, apakah Anda ingin mengirim ucapan kepada rakyat Tiongkok, kepada pihak berwenang dan Presiden Xi Jinping?

Paus Fransiskus : Pada malam Tahun Baru, saya ingin menyampaikan keinginan saya yang terbaik dan salam kepada Presiden Xi Jinping dan seluruh rakyat Tiongkok. Dan saya ingin mengungkapkan harapan saya agar mereka tidak pernah kehilangan kesadaran sejarah mereka menjadi sebuah bangsa yang besar, dengan sejarah kebijaksanaan yang besar, dan agar mereka memiliki banyak untuk ditawarkan kepada dunia. Dunia memandang kebijaksanaan besar milik Anda ini. Dalam Tahun Baru ini, dengan kesadaran ini, semoga Anda terus berjalan maju untuk membantu dan bekerja sama dengan semua orang dalam merawat rumah kita bersama dan rakyat kita bersama. Terima kasih!

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi dari situs Asia Times : http://atimes.com/2016/02/at-exclusive-pope-francis-urges-world-not-to-fear-chinas-rise/)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Selasa, 26 Januari 2016

PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK MASA PRAPASKAH 2016

"Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan" (Mat 9:13). Karya-karya kerahiman pada jalan Yubileum

1. Maria, Citra Gereja Yang Berevangelisasi Karena Ia Terevangelisasi

Dalam Bulla Indiksi Yubileum Luar Biasa Kerahiman, saya memohon agar "masa Prapaskah dalam Tahun Yubileum ini dihayati secara lebih intens sebagai momen istimewa untuk merayakan dan mengalami kerahiman Allah" (Misericordiae Vultus, 17). Dengan menyerukan untuk mendengarkan dengan penuh perhatian sabda Allah dan mendorong prakarsa "24 Jam Bagi Tuhan", saya berusaha menekankan keutamaan mendengarkan penuh doa terhadap sabda Allah, terutama sabda kenabian-Nya. Kerahiman Allah adalah sebuah pemberitaan yang dibuat bagi dunia, sebuah pemberitaan yang mana setiap orang Kristiani dipanggil untuk mengalaminya secara langsung. Karena alasan ini, selama masa Prapaskah saya akan mengutus para Misionaris Kerahiman sebagai sebuah tanda nyata bagi semua orang kedekatan dan pengampunan Allah.

Setelah menerima Kabar Baik yang dikatakan kepadanya oleh malaikat Gabriel, Maria, dalam Magnificat-nya, secara kenabian melantungkan kerahiman Allah yang dengan jalan tersebut Allah memilih dia. Perawan Nazaret, yang bertunangan dengan Yosef, oleh karena itu menjadi ikon sempurna Gereja yang berevangelisasi, karena ia, dan terus, terevangelisasi oleh Roh Kudus, yang membuat rahimnya yang perawan berbuah. Dalam tradisi kenabian, kerahiman semata-mata terkait - bahkan pada taraf etimologis - dengan rahim keibuan (rahamim) dan kebaikan yang berlimpah, setia dan penuh kasih sayang (hesed) yang ditampilkan di dalam hubungan pernikahan dan keluarga.

2. Perjanjian Allah Dengan Umat Manusia : Sebuah Sejarah Kerahiman

Misteri kerahiman ilahi terungkap dalam sejarah perjanjian antara Allah dan Israel umat-Nya. Allah menunjukkan diri-Nya sesungguhnya kaya dalam kerahiman, sesungguhnya siap memperlakukan umat-Nya dengan kelembutan dan kasih sayang yang mendalam, terutama pada saat-saat tragis tersebut ketika perselingkuhan memutuskan ikatan perjanjian, yang kemudian perlu disahkan dengan lebih tegas dalam keadilan dan kebenaran. Di sinilah kisah kasih sejati, yang di dalamnya Allah memerankan ayah dan suami yang dikhianati, sementara Israel memerankan anak dan mempelai yang tidak setia. Gambaran-gambaran rumah tangga ini - seperti dalam kasus Hosea (bdk. Hos 1-2) - menunjukkan sejauh mana Allah ingin mengikatkan diri-Nya kepada umat-Nya.

Kisah kasih ini memuncak dalam penjelmaaan Putra Allah. Dalam Kristus, Bapa mencurahkan keluar kerahiman-Nya yang tak terbatas bahkan menjadikan-Nya "kerahiman yang menjelma" (Misericordiae Vultus, 8) Sebagai seorang manusia, Yesus dari Nazaret adalah seorang putra Israel yang sejati; Ia mewujudkan pendengaran sempurna itu yang dibutuhkan setiap orang Yahudi dengan Shema, yang hari ini juga merupakan jantung perjanjian Allah dengan Israel : "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ul 6:4-5). Sebagai Putra Allah, Ia adalah Sang Mempelai Laki-laki yang melakukan segalanya untuk memenangkan kasih mempelai perempuan-Nya, yang kepadanya Ia terikat oleh kasih tanpa syarat yang menjadi kelihatan dalam pesta pernikahan yang kekal.

Inilah jantung sesungguhnya kerygma apostolik, yang di dalamnya kerahiman ilahi memegang tempat sentral dan fundamental. Ia adalah "keindahan kasih Allah yang menyelamatkan yang terwujud dalam Yesus Kristus yang telah wafat dan bangkit dari antara orang mati" (Evangelii Gaudium, 36), pemberitaan pertama itu yang "kita harus dengar lagi dan lagi dengan cara yang berbeda, pemberitaan yang kita harus wartakan dengan satu atau lain cara sepanjang proses katekese, pada setiap tingkat dan saat" (Evangelii Gaudium, 164). Kerahiman "mengungkapkan cara Allah menjangkau orang berdosa, menawarkan kepadanya sebuah kesempatan baru memandang diri-Nya, bertobat, dan percaya" (Misericordiae Vultus, 21), dengan demikian memulihkan hubungannya dengan Dia. Dalam Yesus yang disalibkan, Allah menunjukkan keinginan-Nya untuk mendekat kepada orang-orang berdosa, meskipun mereka mungkin jauh telah menyimpang daripada-Nya. Dengan cara ini Ia berharap untuk melunakkan hati mempelai perempuan-Nya yang keras.

3. Karya-karya Kerahiman

Kerahiman Allah mengubah hati manusia; ia memungkinkan kita, melalui pengalaman kasih yang setia, menjadi penuh kerahiman pada gilirannya. Dalam sebuah mukjizat yang sesungguhnya baru, kerahiman ilahi bersinar keluar dalam kehidupan kita, mengilhami kita masing-masing untuk mengasihi sesama kita dan untuk mengabdikan diri kita terhadap apa yang disebut tradisi Gereja karya-karya kerahiman rohani dan jasmani. Karya-karya ini mengingatkan kita bahwa iman menemukan ungkapan dalam tindakan-tindakan nyata sehari-hari yang dimaksudkan untuk membantu sesama kita dalam tubuh dan jiwa : dengan memberi makan, mengunjungi, menghibur dan memberi mereka petunjuk. Pada hal-hal tersebut kita akan hakimi. Karena alasan ini, saya mengungkapkan harapan saya agar "umat Kristiani sudi merenungkan karya-karya kerahiman jasmani dan rohani, ini akan menjadi suatu cara untuk membangunkan kembali hati nurani kita, yang terlalu sering tumbuh membosankan dalam rupa kemiskinan, dan masuk lebih dalam ke jantung Injil di mana orang miskin memiliki pengalaman khusus akan kerahiman Allah" (Misericordiae Vultus, 15). Karena dalam orang miskin, daging Kristus "menjadi kelihatan dalam daging orang-orang yang tersiksa, orang-orang yang remuk redam, orang-orang yang terhukum, orang-orang yang kurang gizi, dan orang-orang yang terasing ... untuk diakui, dijamah, dan dirawat oleh kita" (Misericordiae Vultus, 15). Ia adalah misteri yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menyebabkan skandal dari perluasan waktu penderitaan Anak Domba yang tak berdosa, semak terbakar dari kasih yang cuma-cuma. Di hadapan kasih ini, kita bisa, seperti Musa, melepas kasut kita (bdk. Kel 3:5), terutama ketika orang-orang miskin adalah saudara atau saudari kita di dalam Kristus yang sedang menderita karena iman mereka.

Dalam terang kasih ini, yang sekuat kematian (bdk. Kid 8:6), orang-orang miskin yang sebenarnya terungkap sebagai orang-orang yang menolak untuk melihat diri mereka seperti itu. Mereka menganggap diri mereka kaya, namun mereka sebenarnya orang-orang yang paling miskin dari antara orang-orang miskin. Hal ini karena mereka adalah budak-budak dosa, yang membawa mereka menggunakan kekayaan dan kekuasaan bukan untuk melayani Allah dan orang lain, tetapi menahan di dalam hati mereka rasa yang mendalam bahwa mereka juga hanya para pengemis yang miskin. Semakin besar kekuasaan dan kekayaan mereka, kebutaan dan penipuan ini semakin bisa bertumbuh. Ia bahkan bisa mencapai titik menjadi buta terhadap Lazarus yang mengemis di depan pintu mereka (bdk. Luk 16:20-21). Lazarus, orang miskin tersebut, adalah sosok Kristus, yang melalui orang-orang miskin sangat memohon pertobatan kita. Dengan demikian, ia mewakili kemungkinan pertobatan yang Allah tawarkan kepada kita dan yang mungkin kita gagal melihat orang-orang miskin.

Kebutaan seperti itu sering disertai dengan khayalan yang membanggakan kemahakuasaan kita sendiri, yang mencerminkan dengan cara yang jahat "kamu akan menjadi seperti Allah" yang bersifat iblis (Kej 3:5) yang merupakan akar dari segala dosa. Khayalan ini dapat juga mengambil bentuk-bentuk sosial dan politik, seperti yang ditunjukkan oleh sistem totaliter abad kedua puluh, dan, di zaman kita sendiri, oleh ideologi pemikiran yang memonopoli dan teknosains, yang akan membuat Allah tidak relevan dan mengecilkan manusia menjadi bahan baku untuk dieksploitasi. Khayalan ini juga dapat terlihat dalam tatanan-tatanan penuh dosa yang terkait dengan sebuah model pembangunan palsu yang berdasarkan berhala uang, yang mengarah kepada kurangnya perhatian terhadap nasib orang-orang miskin pada pihak pribadi-pribadi dan masyarakat-masyarakat kaya, mereka menutup pintu-pintu mereka, bahkan menolak melihat orang-orang miskin.

Bagi kita semua, kemudian, masa Prapaskah dalam Tahun Yubileum ini adalah waktu yang menguntungkan untuk mengatasi keterasingan keberadaan kita dengan mendengarkan sabda Allah dan dengan mengamalkan karya-karya kerahiman. Dalam karya-karya kerahiman jasmani kita menjamah daging Kristus dalam saudara dan saudari kita yang perlu diberi makan, diberi pakaian, dilindung, dikunjungi; dalam karya-karya kerahiman rohani - nasehat, petunjuk, pengampunan, teguran dan doa - kita menjamah secara lebih langsung kedosaan kita sendiri. Karya-karya kerahiman jasmani maupun rohani harus tidak pernah terpisah. Dengan menjamah daging Yesus yang disalibkan dalam orang-orang yang sedang menderita, orang-orang berdosa dapat menerima karunia menyadari bahwa mereka juga miskin dan membutuhkan. Dengan mengambil jalan ini, "orang-orang angkuh", "orang-orang berkuasa" dan "orang-orang kaya" yang dibicarakan dalam Magnificat juga dapat dipeluk dan dengan tidak pantas dikasihi oleh Tuhan yang disalibkan yang telah mati dan bangkit untuk mereka. Kasih ini sendiri adalah jawaban terhadap kerinduan untuk kebahagiaan dan kasih yang tak terbatas itu yang kita pikir kita dapat puaskan dengan berhala pengetahuan, kekuasaan dan kekayaan. Namun bahaya selalu tinggal sehingga dengan penolakan terus menerus untuk membuka pintu hati mereka bagi Kristus yang mengetuk mereka dalam orang-orang miskin, orang-orang angkuh, kaya dan berkuasa akhirnya akan mengutuk diri mereka sendiri dan terjun ke dalam jurang kesendirian kekal yang adalah neraka. Kata-kata tajam Abraham berlaku untuk mereka dan untuk kita semua : "Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu" (Luk 16:29). Mendengarkan penuh perhatian seperti itu akan dengan paling baik mempersiapkan kita untuk merayakan kemenangan akhir atas dosa dan kematian dari Sang Mempelai Laki-laki, yang sekarang telah bangkit, yang ingin memurnikan Tunangan-Nya dalam pengharapan akan kedatangan-Nya.

Marilah kita tidak memboroskan masa Prapaskah ini, sehingga menguntungkan sebuah waktu untuk pertobatan! Kita memohon hal ini melalui perantaraan keibuan Perawan Maria, yang, di hadapan kebesaran kerahiman Allah yang dianugerahkan secara cuma-cuma atasnya, adalah orang pertama yang mengakui kerendahan dirinya (bdk. Luk 1:48) dan menyebut dirinya hamba Tuhan (bdk. Luk 1:38).

Dari Vatikan, 4 Oktober 2015
Pesta Santo Fransiskus Asisi

FRANSISKUS

*******

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.