Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Selasa, 20 September 2016

‎❣KISAH NYATA : Hidup Bocah Polos

‎❣KISAH NYATA : Hidup Bocah Polos
 "ZHANG TA" Menginspirasi Banyak Orang...

❣"Zhang Da" Seorg bocah yg harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia...

❣Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, "Zhang Da" harus menerima kenyataan ibunya
lari dari rumah...

❣Sang Ibu kabur karena tdk tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya...

❣Yang lebih tragis lagi, si ibu pergi karena merasa tdk sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tdk berdaya, dan tanpa harta...

❣Dan ia tdk mau menafkahi keluarganya...

❣Maka "Zhang Da" yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga...

❣Ia harus mengurus Ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang Ayah, mencuci pakaian, dan  mengobatinya, dan mengurus rumahnya. 
Yang patut dihargai, "Zhang Da" tak mau putus sekolah. Setelah mengurus Ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu...

❣Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur2 untuk berhemat...

❣Tidak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalamannya ...

❣Ketika satu tumbuhan merasa tdk cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut...

❣Sangat beruntung karena ia tidak memakan daun2
 atau jamur yang beracun...

❣Usai sekolah, dia bekerja sampingan agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah ...

❣"Zhang Da" bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu...

❣Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari...

❣"Zhang Da" ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tdk hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan...

❣Karena tdk mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntiknya ...

❣Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah...

❣Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun...

❣Rupanya kegigihan "Zhang Da" yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat...

❣Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional...

❣Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama "Zhang Da". Ternyata ia menjadi Pemenang termuda...

❣Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional...

❣"Zhang Da" si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak...

❣Dia menjawab: "Hidup ini harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan...

❣Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab," katanya...

❣Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus.

❣Pembawa acara menanyainya lagi. "Zhang Da" sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan...

❣Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana...

❣Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir...

❣Saat ini juga ada Ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" papar pembawa acara...

❣"Zhang Da" terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. "Sebut saja!" katanya menegaskan.

❣"Zhang Da" yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar...

❣Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan "Zhang Da"

❣"Saya hanya mau "Mama saya kembali" Mama kembalilah ke rumah... aku skrg bisa  membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!" ...😂

❣kata "Zhang Da" yang disambut tetesan air mata setiap penonton...😂

❣"Zhang Da" tidak meminta hadiah uang atau materi dll, dgn ketulusannya dia sangat berbakti kepada orangtuanya..

❣Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya...

❣Di mata "Zhang Da"  mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu (mama) dan kasih sayangnya, itu tidak ternilai harganya, dan tidak dpt dibeli dg apapun juga...

❣Semua di dunia ini dicari bisa dapat ... tetapi satu yg tidak bisa dicari atau diganti yaitu: MAMA.

❣Apapun kesalahan dia, atau Dosa ...dia tetap seorg Ibu... 
Surga ada dibawa telapak kaki ibu...

❣Dengan susah payah dia berjuang antara mati dan hidup hanya utk saya bisa  lahir ke dunia ini...

❣Pesan dr "Zhang Da" kasihi dan cintai ibumu, jangan sampai suatu hari nanti... engkau tidak dapat melihatnya lagi...

☝Ingat Penyesalan biasanya datang terlambat...!!!

❣Berbahagialah bila siapa yg masih mempunya Ibu, jangan sia2kan dia ...

❣Seperti saya ingin dan rindu mau ketemu ibu, tetapi dia tidak pernah kembali lagi😂 😭😂

Pesan Moral:

😭 Jangan menangisi yang sudah hilang,  👏berdoalah atas apa yang masih ada...

😭 Jangan menangisi yang sudah meninggal, 👏berdoalah atas apa yg terlahir dalam dirimu...

😭 Jangan menangisi karena orang yang  meninggalkanmu, 👏berdoalah utk yg sekarang ada bersamamu...

😭 Jangan menangisi karena orang membencimu, 👏berdoalah untuk mereka yg menyukaimu...

😭 Jangan menangisi masa lalu, 👏berdoalah utk masa kini dengan segala tantangan2nya...

😭 Jangan menangisi penderitaan, 👏berdoalah atas kebahagian yg ada...

❣Dengan segala Perkara yg ada dlm hidup kita, mulailah belajar bahwa tidak ada hal perihal yg mustahil yg tdk dapat diselesaikan...

❣teruslah maju 🚶melangkah ke depan... jangan melihat yang dibelakang ...👌
GOD bless  🙏🏼


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Jumat, 01 Juli 2016

SEJARAH GEREJA ARMENIA

Ketika Paus Fransiskus berangkat pada Jumat ini 24 Juni 2016 ke Armenia, kantor berita Vatikan menawarkan sejarah singkat Gereja di sana.

Sebuah tanah biblis, Armenia dikutip dalam Perjanjian Lama dengan nama "Kerajaan Urartu" (Ararat). Di kaki bukit pegunungannya, Nuh membudidayakan tanaman anggur dan menjadikan minuman yang memabukkan anggur yang ia hasilkan. Berkat terjemahan Armenia Injil apokrif, kita tahu nama tiga orang Majus : Melkhior, Kaspar dan Balthazar. Meskipun menurut tradisi rasul Bartolomeus dan Yudas Tadeus adalah penginjil di Armenia, ada kemungkinan itu malahan karya para misionaris Suriah dan Kapadokia. Dalam hal apapun, itu amatlah berhasil bahwa dalam tahun 301, berkat kerasulan Santo Gregorius Sang Penerang, Armenia menjadi negara pertama yang memeluk agama Kristen dan menyatakannya agama negara, bahkan sebelum Edik Milano tahun 313, yang olehnya Kekaisaran Romawi mentolerir Kekristenan, dan Edik Teodosius yang olehnya pada tahun 380 Kekaisaran Romawi mengakui Kekristenan sebagai agama negara.

Awalnya dikelompokkan bersama Gereja Metropolitan Kaisarea Kapadokia, di wilayah Romawi, Gereja Armenia menyatakan otonominya pada awal abad kelima, di bawah yurisdiksi seorang patriark yang memangku gelar Katolikos, semula dikaitkan dengan kepala sebuah jemaat Kristen di luar perbatasan Kekaisaran Romawi-Bizantium - atau lebih tepatnya, di luar yurisdiksi para patriark. Para pemimpin Gereja Armenia, Nestorian dan Georgia melestarikan gelar ini. Sejak abad ke-4 dan seterusnya lembaga-lembaga gerejawi Armenia diperkokoh dan liturgi menerima bentuknya, sangat dipengaruhi oleh ritual kuno Yerusalem. Pada saat yang sama huruf abjad Armenia lahir, secara tradisional dikaitkan dengan biarawan Mesrop (360,440), yang memungkinkannya diterjemahkan ke dalam bahasa nasional teks-teks liturgi yang sebelumnya ditulis hanya dalam bahasa Yunani dan Suriah.

Gereja Armenia dan Gereja Katolik terpecah setelah Konsili Kalsedon (451), yang menetapkan dua kodrat Kristus, manusiawi dan ilahi. Kepatuhan terhadap monofisitisme (satu kodrat) dari Gereja Armenia dikukuhkan dalam dua konsili nasional berturutan yang diadakan pada tahun 506 dan 551.

Masa keemasan arsitektur keagamaan Armenia dimulai pada abad keenam dan ketujuh, ketika sejumlah biara dibangun di pegunungan, dan pusat-pusat keagamaan dan budaya yang besar dibuat. Sebuah contoh estetika keagamaan Armenia yang tetap ada saat ini dalam bentuk salib-salib batu yang besar (Khatch'kar) yang dibentuk dari sebuah batu besar atau tugu peringatan dari batu kapur dengan sebuah salib yang besar sekali pada bagian tengahnya, dengan berbagai hiasan yang beraneka ragam.

Pada abad kesebelas, keterbukaan terhadap Roma dimulai. Katolikos Gregorius II melakukan sebuah peziarahan ke Roma untuk menghormati relikui rasul Petrus dan Paulus, dan dalam tahun-tahun berikutnya banyak Katolikos mengakui Paus sebagai Penerus Santo Petrus. Sejak tahun 1205, sejumlah Katolikos menerima palium di Roma. Pada abad keempat belas para misionaris Fransiskan dan Dominikan tiba di Armenia dan mendirikan pusat-pusat keagamaan, tetapi masalah dengan hirarki lokal menyebabkan keretakan hubungan pada tahun 1441, tahun yang di dalamnya hirarki Armenia terbagi dua, Sis dan Etchmiadzin. Pada abad kedelapan belas ada kesadaran kembali keagamaan dan budaya berkat imam Mekhit'ar yang, setelah memeluk agama Katolik, mendirikan sebuah kongregasi di Konstantinopel tetapi dianiaya dan mencari perlindungan di pulau Santo Lazarus di Venesia. Tahun tahun 1740 sebuah sinode para uskup Armenia berkumpul di Roma untuk memilih patriark Katolik pertama ritus Armenia, yang didirikan untuk sementara waktu di Kraim, Lebanon; pada tahun 1742 sebuah kedudukan baru patriarkat Katolik Armenia dilembagakan di Bzommar, Lebanon. Ia dipindahkan ke Konstantinopel pada tahun 1866 tetapi kembali ke Bzommar pada tahun 1925, di mana ia bertahan sampai hari ini. Katolikos saat ini adalah Grégoire Pierre XX Ghabroyan, dan yurisdiksinya meluas ke seluruh umat Katolik Armenia Timur dan diaspora.

Gereja Armenia berdaulat dan mengangkat sendiri pemimpinnya, serta menetapkan dirinya sebagai apostolik karena ia menapaki asal-usulnya Rasul Tadeus dan Bartolomeus. Ia memelihara hubungan baik dalam semangat ekumenis dengan Gereja Ortodoks, Katolik dan Protestan, dan memiliki pemimpinnya sendiri, Katolikos, sepenuhnya berdaulat terhadap hierarki-hirarki gerejawi dari pengakuan-pengakuan iman lainnya. Asal usulnya berawal dari skisma Konsili Ekumenis tahun 451. Gereja Armenia menetapkan dirinya sebagai Ortodoks maupun Katolik, karena ia menganggap dirinya sebuah ungkapan iman Kristen yang benar dan sebuah uangkapan universalitas Gereja. Pada bulan Desember 1996, Santo Yohanes Paulus II dan Yang Mulia Katolikos Seluruh Armenia, Karekin II, menandatangani deklarasi bersama yang di dalamnya mereka menegaskan asal mula yang sama Gereja Armenia dan Gereja Katolik Roma.

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi dari :https://zenit.org/articles/a-history-of-the-armenian-church/)


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 29 Juni 2016

PESAN VIDEO PAUS FRANSISKUS: MENENTANG HUKUMAN MATI SEDUNIA KE-6 (OSLO - NORWEGIA, 21-23 JUNI 2016)


PESAN VIDEO PAUS FRANSISKUS UNTUK PARA PESERTA KONFERENSI MENENTANG HUKUMAN MATI SEDUNIA KE-6 (OSLO - NORWEGIA, 21-23 JUNI 2016)

Saya menyambut para penyelenggara Kongres Menentang Hukuman Mati Sedunia ini, kelompok negara-negara yang mendukungnya, terutama Norwegia sebagai negara tuan rumahnya, dan semua perwakilan pemerintah tersebut, organisasi internasional dan masyarakat sipil yang mengambil bagian di dalamnya. Saya juga menyampaikan penghargaan pribadi saya, bersama dengan laki-laki dan perempuan berkehendak baik, atas komitmen Anda untuk dunia yang bebas dari hukuman mati.

Salah satu tanda harapan yakni opini publik sedang mewujudkan perlawanan yang bertumbuh terhadap hukuman mati, bahkan sebagai sarana ketahanan sosial yang sah. Memang, saat ini hukuman mati tidak dapat diterima, namun kejahatan para terpidana gawat sifatnya. Ia adalah suatu pelanggaran terhadap tak dapat diganggu gugatnya kehidupan dan terhadap martabat manusia; ia juga bertentangan dengan rencana Allah bagi perorangan dan masyarakat, serta keadilan-Nya yang penuh kerahiman. Ia juga tidak sejalan dengan tujuan hukuman seadil apapun. Ia tidak memberikan keadilan bagi para korban, melainkan memupuk dendam. Perintah "Janganlah membunuh" memiliki nilai mutlak dan berlaku baik untuk orang yang tidak bersalah maupun orang yang bersalah.

Yubileum Luar Biasa Kerahiman adalah suatu kesempatan yang baik untuk mempromosikan seluruh dunia bentuk-bentuk rasa hormat yang sungguh lebih berkembang terhadap kehidupan dan martabat setiap orang. Tak boleh dilupakan hak yang tak dapat diganggu gugat dan yang diberikan Tuhan untuk hidup juga milik para pelaku kejahatan.

Hari ini saya akan mendorong semua orang untuk bekerja tidak hanya untuk penghapusan hukuman mati, tetapi juga untuk peningkatan kondisi narapidana, sehingga mereka sepenuhnya menghormati martabat mereka yang dipenjarakan. "Menyebabkan keadilan" tidak berarti mengusahakan hukuman untuk kepentingannya sendiri, tetapi memastikan bahwa tujuan dasar semua hukuman adalah rehabilitasi pelaku. Pertanyaan harus terhubungkan dalam kerangka yang lebih besar dari sebuah sistem peradilan pidana yang terbuka terhadap kemungkinan penempatan kembali pihak yang bersalah dalam masyarakat. Tidak ada hukuman yang pas tanpa harapan! Hukuman demi kepentingannya sendiri, tanpa ruang untuk harapan, adalah sebuah bentuk penyiksaan, bukan sebuah bentuk hukuman.

Saya percaya bahwa Kongres ini dapat memberikan dorongan baru terhadap upaya untuk menghapuskan hukuman mati. Karena alasan ini, saya mendorong semua orang ambil bagian untuk melakukan prakarsa besar ini dan saya meyakinkan mereka oleh doa-doa saya.

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi dari Radio Vatikan)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 22 Juni 2016

PESAN VATIKAN KEPADA UMAT MUSLIM DALAM RANGKA BULAN RAMADHAN

Umat Kristen dan Umat Muslim:
Penerima Manfaat dan Alat Kerahiman Ilahi

Saudara dan saudari umat Muslim yang terkasih,

1. Bulan Ramadhan dan Idul Fitri merupakan sebuah acara keagamaan yang penting bagi umat Islam di seluruh dunia, yang berfokus pada puasa, doa dan perbuatan baik, dan dihargai oleh umat Kristen, sahabat-sahabat dan sesama Anda. Atas nama Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dan umat Kristen di seluruh dunia, kami mengulurkan keinginan yang terbaik untuk puasa yang berpahala secara rohani, yang didukung oleh perbuatan baik, dan untuk pesta yang penuh sukacita.

Sebagaimana kebiasaan kami dihargai, kami ingin berbagi bersama Anda pada kesempatan ini beberapa permenungan dengan harapan memperkuat ikatan rohani yang kami bagikan.

2. Sebuah tema yang dekat dengan hati umat Muslim dan umat Kristen dan serupa adalah kerahiman.

Kita tahu bahwa baik Kekristenan maupun Islam percaya pada Allah yang berbelas kasih, yang menunjukkan kerahiman dan kasih sayang-Nya terhadap semua ciptaan-Nya, khususnya keluarga manusia. Ia menciptakan kita karena kasih yang sangat besar. Ia penuh belas kasih dalam merawat kita masing-masing, menganugerahkan kepada kita karunia-karunia yang kita butuhkan untuk kehidupan sehari-hari, seperti makanan, tempat tinggal dan keamanan. Kerahiman Allah diwujudkan dalam cara tertentu, namun, melalui pengampunan kesalahan-kesalahan kita; maka Dia adalah pribadi yang mengampuni (al-Ghafir), tetapi Dialah yang banyak dan selalu mengampuni (al-Ghafour).

3. Menggarisbawahi pentingnya kerahiman, Paus Fransiskus mencanangkan Tahun Yubileum Kerahiman yang dirayakan dari 8 Desember 2015 hingga 20 November 2016. Dalam hal ini beliau mengatakan : "Di sinilah ... alasan untuk Yubileum : karena ini adalah waktu untuk kerahiman. Ia adalah waktu yang menguntungkan untuk menyembuhkan luka-luka, suatu waktu untuk tidak jemu-jemunya menjumpai semua orang yang sedang menunggu untuk melihat dan menjamah dengan tangan mereka tanda-tanda kedekatan Allah, suatu waktu untuk menawarkan semua orang, semua orang, jalan pengampunan dan pendamaian" ("Homili", 11 April 2015).

Peziarahan (haji) Anda ke tempat-tempat suci, terutama Mekkah dan Madinah, tentunya merupakan waktu khusus bagi Anda untuk mengalami kerahiman Allah. Bahkan, aspirasi-aspirasi terkenal yang dialamatkan kepada para peziarah Muslim di antaranya adalah : "Saya berharap pada Anda sebuah peziarahan yang terberkati, upaya-upaya yang patut dipuji dan pengampunan dosa-dosa Anda". Melakukan sebuah peziarahan untuk mendapatkan pengampunan Allah atas dosa-dosa, baik untuk orang hidup maupun orang mati, benar-benar merupakan praktek lazim yang kentara di antara orang-orang percaya.

4. Kita, umat Kristen dan umat Muslim, dipanggil untuk melakukan yang terbaik dalam meneladan Allah. Ia, Sang Maharahim, meminta kita untuk murah hati dan penyayang terhadap orang lain, terutama mereka yang membutuhkan apapun. Demikian juga Ia memanggil kita untuk saling mengampuni.

Ketika kita melihat ke atas umat manusia saat ini, kita disedihkan melihat begitu banyak korban perseteruan dan kekerasan - di sini kita memikirkan khususnya orang-orang tua, serta anak-anak dan perempuan, terutama mereka yang menjadi korban perdagangan manusia dan banyak orang yang menderita kemiskinan, penyakit, bencana alam dan pengangguran.

5. Kita tidak bisa menutup mata kita dengan kenyataan-kenyataan ini, atau berpaling dari penderitaan-penderitaan ini. Memang benar bahwa situasi seringkali sangat rumit dan bahwa penyelesaiannya melebihi kemampuan kita. Sangatlah penting, oleh karena itu, agar semua bekerja sama dalam membantu mereka yang membutuhkan. Adalah sumber harapan besar ketika kita mengalami atau mendengar umat Muslim dan umat Kristen bergandengan tangan membantu orang-orang yang membutuhkan. Ketika kita bergandengan tangan, kita mengindahkan perintah penting dalam agama-agama kita masing-masing dan menunjukkan keluar kerahiman Allah, sehingga menawarkan kesaksian yang lebih dapat dipercaya, secara individu maupun komunal, kepada keyakinan kita.

Semoga Allah yang Mahapenyayang dan Mahakuasa membantu kita untuk menjalani selalu sepanjang jalan kebaikan dan kasih sayang!

6. Kami menggabungkan keinginan baik kami yang penuh doa pada keinginan Paus Fransiskus untuk berkat yang melimpah selama bulan Ramadhan dan untuk sukacita Idul Fitri yang abadi.

Selamat Pesta untuk Anda semua!

Dari Vatikan, 10 Juni 2016

Jean-Louis Kardinal Tauran
Presiden

Uskup Miguel Ángel Ayuso Guixot, M.C.C.I.
Sekretaris


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Senin, 06 Juni 2016

PARA IMAM DIPANGGIL UNTUK MENGIKUTI TELADAN KRISTUS SANG GEMBALA YANG BAIK

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS (MISA UNTUK YUBILEUM PARA IMAM) 3 Juni 2016 : PARA IMAM DIPANGGIL UNTUK MENGIKUTI TELADAN KRISTUS SANG GEMBALA YANG BAIK


Bacaan Ekaristi : Yeh 34:11-16; Mzm 23; Rm 5:5b-11; Luk 15:3-7

Perayaan Yubileum untuk Para Imam pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus ini mengajak kita semua beralih pada hati, akar dan dasar terdalam setiap orang, fokus kehidupan afektif kita dan, dalam sebuah kata, pokoknya yang sesungguhnya. Hari ini kita merenungkan dua hati : Hati Sang Gembala yang Baik dan hati kita sendiri sebagai para imam.

Hati Sang Gembala yang Baik bukan hanya hati yang menunjukkan kita kerahiman, tetapi adalah kerahiman itu sendiri. Di sana kasih Bapa bersinar; di sana aku mengetahui aku disambut dan dipahami sebagaimana adanya; di sana, dengan segala dosa dan keterbatasanku, aku mengetahui kepastian bahwa aku dipilih dan dikasihi. Merenungkan hati itu, aku memperbaharui cinta pertamaku : kenangan waktu itu ketika Tuhan menjamah jiwaku dan memanggilku untuk mengikuti-Nya, kenangan akan sukacita telah menebarkan jala kehidupan kita di atas lautan sabda-Nya (bdk. Luk 5:5).

Hati Sang Gembala yang Baik mengatakan kepada kita bahwa kasih-Nya tak terbatas; ia tidak pernah terkuras dan tidak pernah berhenti. Di sana kita melihat pemberian diri-Nya yang tak terhingga dan tak terbatas; di sana kita menemukan sumber kasih yang setia dan lemah lembut itu yang membebaskan dan menjadikan orang lain bebas; di sana kita terus menemukan kembali bahwa Yesus mengasihi kita "bahkan sampai pada kesudahan" (Yoh 13:1), tanpa pernah memaksa.

Hati Sang Gembala yang Baik menjangkau kita, terutama orang-orang yang paling jauh. Di sana jarum kompas-Nya secara tak terelakkan menunjukkan, di sana kita melihat "kelemahan" tertentu kasih-Nya, yang ingin merangkul semua orang dan tidak seorangpun hilang.

Merenungkan Hati Kristus, kita dihadapkan dengan pertanyaan mendasar dari kehidupan imami kita : Ke manakah hatiku terarah? Pelayanan kita sering penuh rencana, rancangan dan kegiatan : dari katekese hingga liturgi, hingga karya amal, hingga komitmen pastoral dan administrasi. Di tengah-tengah semua ini, kita masih harus bertanya kepada diri kita : Apakah hatiku dimajukan, ke manakah ia terarah, harta apakah yang ia cari? Karena sebagaimana yang dikatakan Yesus : "Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Mat 6:21).

Harta agung Hati Yesus ada dua : Bapa dan diri kita. Hari-hari-Nya terbagi antara doa kepada Bapa dan menjumpai orang-orang. Demikian juga hati para imam Kristus mengenal hanya dua arah : Tuhan dan umat-Nya. Hati imam adalah hati yang tertusuk kasih Tuhan. Karena alasan ini, ia tidak lagi memandang dirinya sendiri, tetapi berpaling kepada Allah dan saudara-saudaranya. Ia bukan lagi "hati yang sedang berdebar-debar", terpikat oleh keinginan sesaat, menghindari perbedaan pendapat dan mencari kepuasan kecil. Sebaliknya, ia adalah hati yang berakar kuat di dalam Tuhan, dihangatkan oleh Roh Kudus, terbuka dan tersedia untuk saudara dan saudari kita.

Untuk membantu hati kita terbakar dengan amal kasih Yesus Sang Gembala yang Baik, kita bisa melatih diri kita dengan melakukan tiga hal yang disarankan kepada kita oleh bacaan-bacaan hari ini : mencari, menyertakan dan bersukacita.

Mencari. Nabi Yehezkiel mengingatkan kita bahwa Allah sendiri pergi keluar mencari domba-domba-Nya (Yeh 34:11,16). Seperti yang dikatakan Injil, Ia "pergi mencari yang sesat itu" (Luk 15:4), tanpa takut akan resiko. Tanpa menunda, Ia meninggalkan padang rumput dan hari kerja biasanya. Ia tidak menunda pencarian. Ia tidak berpikir : "Aku telah melakukan cukup untuk hari ini; aku akan mengkhawatirkannya besok". Sebaliknya, Ia segera menemukan satu domba yang hilang itu; hati-Nya cemas sampai Ia menemukan satu domba yang hilang itu. Setelah menemukannya, Ia melupakan kelelahan-Nya dan menempatkan domba-domba di bahu-Nya, penuh kepuasan.

Hati tersebut adalah hati yang mencari - hati yang tidak menyisihkan waktu dan ruang sebagai bersifat pribadi, hati yang tidak cemburu akan waktu tenangnya yang sah dan tidak pernah menuntut agar ia dibiarkan sendirian. Seorang gembala seturut hati Allah tidak melindungi daerah nyamannya; ia tidak khawatir untuk melindungi nama baiknya, melainkan, tanpa takut kritik, ia bersedia mengambil resiko dalam berusaha meneladan Tuhannya.

Seorang gembala seturut hati Allah memiliki hati cukup bebas untuk mengesampingkan kekhawatirannya sendiri. Ia tidak hidup dengan memperhitungkan perolehannya atau berapa lama ia telah bekerja : ia bukanlah seorang akuntan Roh, tetapi orang Samaria yang baik yang mencari mereka yang membutuhkan. Bagi kawanan domba ia adalah seorang gembala, bukan seorang penyelia, dan ia mengabdikan dirinya untuk perutusan bukan lima puluh atau enam puluh persen, tetapi dengan seluruh yang ia miliki. Dalam pencarian, ia menemukan, dan ia menemukan karena ia mengambil resiko. Ia tidak berhenti ketika kecewa dan ia tidak menyerah kepada kelelahan. Memang, ia bersikeras dalam berbuat baik, diurapi dengan sikap keras kepala ilahi yang tidak kehilangan pandangan terhadap seorang pun. Ia tidak hanya menjaga pintunya terbuka, tetapi ia juga pergi untuk mencari orang-orang yang tidak lagi ingin memasukinya. Seperti setiap orang Kristen yang baik, dan sebagai teladan bagi setiap orang Kristen, ia terus-menerus pergi keluar dari dirinya sendiri. Episentrum hatinya berada di luar dirinya. Ia tidak ditarik oleh "aku"-nya sendiri, tetapi oleh "Engkau" Allah dan oleh "kita" para pria dan wanita lainnya.

Menyertakan. Kristus mengasihi dan mengenal domba-domba-Nya. Ia memberikan hidup-Nya bagi mereka, dan tidak ada orang asing bagi-Nya (Yoh 10:11-14). Kawanan domba-Nya adalah keluarga-Nya dan hidup-Nya. Ia bukan seorang atasan yang ditakuti oleh kawanan domba-Nya, tetapi seorang gembala yang berjalan bersama mereka dan memanggil mereka dengan nama (Yoh 10:3-4). Ia ingin mengumpulkan domba-domba yang belum menjadi kawanan-Nya (Yoh 10:16).

Demikian juga dengan imam Kristus. Ia diurapi untuk umatnya, bukan memilih rancangan-rancangannya sendiri tetapi menjadi dekat dengan pria dan wanita yang sesungguhnya yang telah dipercayakan Allah kepadanya. Tidak ada orang yang dikecualikan dari hatinya, doanya atau senyumannya. Dengan tatapan dan hati yang penuh kasih kebapaan, ia menyambut dan menyertakan semua orang, dan jika berkali-kali ia harus memperbaiki, itu adalah untuk menarik orang lebih dekat. Ia tidak berdiri terpisah dari siapapun, tetapi selalu siap untuk mengotori tangannya. Sebagai seorang pelayan persekutuan yang ia rayakan dan hayati, ia tidak menunggu salam dan pujian dari orang lain, tetapi adalah orang pertama yang menjangkau, menolak pergunjingan, penghakiman dan kedengkian. Ia mendengarkan dengan sabar masalah-masalah umat-Nya dan menyertai mereka, menabur pengampunan Allah dengan kasih sayang yang murah hati. Ia tidak memarahi mereka yang berkeliaran atau kehilangan arah mereka, tetapi selalu siap membawa mereka kembali dan mengatasi kesulitan dan perselisihan.

Bersukacita. Allah "penuh sukacita" (bdk. Luk 15:5). Sukacita-Nya dilahirkan dari pengampunan, dari kehidupan yang dibangkitkan dan diperbarui, dari anak-anak yang hilang yang menghirup sekali lagi udara rumah yang manis. Sukacita Yesus Sang Gembala yang Baik bukanlah sukacita bagi diri-Nya sendiri, tetapi sukacita bagi orang lain dan bersama orang lain, sukacita kasih yang sejati. Inilah juga sukacita imam. Ia diubah oleh kerahiman yang ia berikan secara cuma-cuma. Dalam doa ia menemukan penghiburan Allah dan menyadari bahwa tidak ada yang lebih kuat daripada kasih-Nya. Dengan demikian ia mengalami kedamaian batin, dan bahagia menjadi saluran kerahiman, membawa pria dan wanita semakin dekat dengan Hati Allah. Kesedihan baginya bukanlah sesuatu yang biasa, tetapi hanya sebuah langkah di sepanjang jalan; kekerasan adalah asing baginya, karena ia adalah seorang gembala seturut hati Allah yang lembut.

Para imam yang terkasih, dalam perayaan Ekaristi kita menemukan kembali setiap hari jatidiri kita sebagai para gembala. Dalam setiap Misa, semoga kita benar-benar menjadikan kata-kata kita sendiri kata-kata Kristus : "Inilah tubuh-Ku, yang diberikan kepadamu". Inilah arti kehidupan kita; dengan kata-kata ini, dengan cara yang nyata kita sehari-hari dapat memperbaharui janji-janji yang kita buat pada tahbisan imamat kita. Saya berterima kasih kepada kalian semua karena mengatakan "ya" untuk memberikan kehidupan kalian dalam persatuan dengan Yesus: karena dalam hal inilah ditemukan sumber sukacita kita yang murni.

*****
(Peter Suriadi - Bogor, 3 Juni 2016)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 20 April 2016

PANDANGAN GEREJA KATOLIK TENTANG KESETARAAN ANTARA PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI (Ignatius L. Madya Utama)

Oleh : Ignatius L. Madya Utama, S.J.[1]

Kerap dikatakan bahwa di hadapan Allah baik perempuan maupun laki-laki adalah setara, namun di dalam institusi-institusi manusiawi kesetaraan tersebut hanyalah sebuah wacana. Benarkah demikian? Untuk mencari jawab atas pertanyaan tersebut –atau lebih tepat, untuk mewujudkan cita-cita kesetaraan tersebut– mungkin ada manfaatnya untuk melihat apakah yang diajarkan oleh Gereja Katolik mengenai hal ini.

Pada bagian pertama dari tulisan ini, Anda kami ajak untuk melihat apakah yang dimaksudkan dengan kesetaraan dalam pandangan Gereja Katolik. Pada bagian kedua, akan kami sajikan "tindakan-tindakan" yang dapat merusak kesetaraan tersebut dan bagaimana –menurut Gereja Katolik– hal itu harus diatasi. Beberapa bahan bacaan pilihan akan kami sajikan pada akhir tulisan ini bagi Anda semua yang masih ingin memperdalam persoalan ini.

I. KESETARAAN ANTARA PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI

Untuk mengerti apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang keseta-raan antara perempuan dan laki-laki, paling sedikit ada tiga dokumen penting yang perlu kita lihat: Alkitab, dokumen Konsili Vatikan II dan beberapa dokumen yang ditulis oleh almarhum Paus Yohanes Paulus II.

1. Pemahaman Alkitabiah

Kitab Suci pertama yang berbicara tentang kesetaraan antara perempuan dan laki-laki adalah kitab Kejadian, dalam kisah penciptaan. Dalam Kitab Kejadian bab 1 (yang ditulis sekitar abad ke-5 seb. Mas.) diungkapkan bahwa manusia –laki-laki dan perempuan– diciptakan oleh Allah sebagai "gambar dan rupa-Nya" sendiri (Kej 1:27). Karena perempuan dan laki-laki diciptakan dalam "keserupaan" dengan Allah, maka mereka memiliki martabat yang sama dalam segala aspeknya. Versi lain dari kisah penciptaan manusia terdapat dalam bab 2 dari kitab yang sama (yang ditulis sekitar 3 abad lebih awal dari pada bab 1). Dikisahkan bahwa laki-laki diciptakan oleh Allah lebih dahulu dan diambil dari tanah ('adamah); sedangkan perempuan diciptakan setelah laki-laki dan diambil dari tulang rusuk laki-laki, agar perempuan menjadi "penolong" yang sepadan dengan laki-laki. Menyadari bahwa perempuan yang dibawa oleh Allah ke hadapannya, ternyata setara dengan dirinya, maka laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya untuk dapat bersatu dengan perempuan.

Mengikuti pendapat Stefania Cantore, dari kedua kisah tersebut dapat disimpulkan bahwa selain menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempu-an dengan martabat yang sama, Allah juga membuat mereka mampu untuk berelasi dalam kesetaraan, kesalingan dan ketimbal-balikan, serta dalam suasana yang harmonis (bdk. Kej 2:8-25) (Cantore, 1992: 35). Sedangkan Susan Niditch mengatakan bahwa dengan menciptakan manusia sebagai perempuan dan laki-laki sebagai cermin bagi dirinya sendiri, Allah tidak membuat pembedaan martabat maupun derajat di antara keduanya. Dengan kata lain, kendati perempuan diciptakan sesudah laki-laki, tidak ada maksud untuk menempatkan perempuan sebagai makhluk ciptaan kelas dua atau lebih rendah derajatnya dari pada laki-laki (Niditch, 1995: 16).

Impian Allah seperti diungkapkan dalam Kitab Kejadian tersebut dalam perjalanan waktu –khususnya karena pola hidup patriarkal baik dalam keluarga, agama maupun masyarakat– mengalami kehancuran. AdalahYesus –sebagai wujud kehadiran Allah yang membebaskan (di tengah) umat-Nya– mencoba memulihkan dan mewujudkan impian tersebut dalam hidup dan karya-Nya. Di kala tradisi Yudaisme hanya memperbolehkan orang laki-laki dewasa menjadi murid seorang Rabbi untuk mempelajari Kitab Taurat, Yesus juga memberi hak yang sama kepada para perempuan untuk menjadi murid-murid-Nya (bdk.Injil Lukas 10:38-42). Dan ketika masyarakat menganggap bahwa kaum perempuan tidak dapat berpikir jernih, dan karenanya suara mereka tidak perlu didengar-kan, Yesus justru belajar dari seorang perempuan "kafir" sehingga Ia mamahami bahwa tugas pengutusan-Nya untuk mewartakan karya keselamatan Allah diperuntukkan bagi semua orang (bdk.Injil Matius 15:21-28; Injil Markus7:24-30). Dan di dalam masyarakat di mana kaum perempuan tidak diperbolehkan memberikan kesaksian di muka pengadilan (karena, katanya, mereka itu tidak dapat dipercaya!), setelah kebangkitan-Nya, Yesus justru mempercayakan kepada para perempuan untuk mewartakan dan memberikan kesaksian akan peristiwa agung dan sangat penting dalam sejarah keselamatan kepada para murid lainnya: kebangkitan-Nya dari kematian (bdk. Mt 28:7-10; Mk 16:7-8; Lk 23:9-10; Yoh 20:17-18).

Apa yang dicita-citakan oleh Allah dan diwujudkan oleh Yesus menjadi keyakinan dasar para pengikut Yesus. Hal ini nampak dalam kidung upacara pembaptisan yang mengungkapkan identitas mereka sebagai para pengikut Kristus. Dalam surat Santo Paulus kepada jemaat diGalatiatertulis:

Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. Dalam hal initidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki danperempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Yesus Kristus(Galatia 3:26-28).

Apa yang terungkap dalam kutipan di atas merupakan pola hidup dan pola berelasi alternatif, yang sangat kontras dengan praktik-praktik dalam masyarakat Yahudi, Romawi, maupun Yunani yang begitu patriarkal. Di dalam jemaat-jemaat Kristiani semua praktik patriarkal –entah itu pembedaan berdasarkan previlese religius, status sosial maupun gender– tidak dapat diterima lagi. Ungkapan "tidak ada lagi laki-laki danperempuan" (Galatia 3:28) juga mengacu pada Kitab Kejadian 1:27 yang mengatakan: "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-lakidanperempuan diciptakan-Nya mereka." Hal ini penting, sebab pada zaman Paulus –selain sudah ada praktik-praktik ketidakadilan berdasarkan previlese religius, status sosial dangender– juga ada seorang teolog besar, Philo dari Alexandria, yang mulai menafsirkan ungkapan dalam Kitab Kejadian 1:27 itu dalam kerangka pemikiran helenistik. Menurut Philo, kisah penciptaan itu merupakan metafor tentang adanya dua unsur di dalam diri manusia: rasionali-tas (yang digambarkan dengan figur laki-laki) dan rasa-perasaan (yang dilam-bangkan dengan figur perempuan). Tafsir ini segera menimbulkan perpecahan di kalangan jemaat Kristiani. Dengan latar belakang seperti ini, bagian dari pernyataan baptisan "tidak ada laki-laki danperempuan" merupakan ungkapan iman bahwa segala macam konflik, keterpecahan dan pembedaan dapat disem-buhkan dan diatasi dalam Yesus Kristus.

2. Ajaran Konsili Vatikan II

Konsili Vatikan II, dalam dokumennyaKonstitusi Pastoral Tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini –atau lebih dikenal dengan Gaudium et Spes (=GS)– mengatakan bahwa semua orang diciptakan dalam citra Allah. Mereka memiliki kodrat dan asal-usul yang sama. Mereka memiliki kesetaraan dasariah. Kesetaraan tersebut harus semakin diakui. Oleh karenanya, "segala bentuk diskriminasi yang me-nyangkut hak-hak asasi manusia, entah yang bersifat sosial atau budaya, berdasarkan jenis kelamin, suku, warna kulit, kondisi sosial, bahasa atau agama, harus diatasi dan disingkirkan, karena bertentangan dengan rencana Allah" (GS, 29).

Lebih lanjut Konsili Vatikan II mengatakan bahwa kendati terdapat perbedaan-perbedaan yang wajar antara laki-laki dan perempuan, namun martabat mereka yang sama sebagai pribadi menuntut agar kita berusaha untuk mewujudkan kondisi hidup yang lebih fair dan lebih manusiawi (GS, 29). Akibatnya, Konsili Vatikan II memandang "kesenjangan ekonomi dan sosial yang berlebihan antara individu dan bangsa-bangsa merupakan sumber skandal dan bertentangan dengan keadilan sosial, keadilan, martabat manusia, serta perdamaian sosial dan internasional" (GS, 29).

Selanjutnya Konsili Vatikan II menegaskan bahwa bila kaum perempuan masih belum diakui wewenangnya untuk dengan bebas memilih suaminya, menentukan jalan hidupnya, atau untuk menempuh pendidikan dan meraih kebudayaan seperti yang mereka inginkan (GS, 29), wajarlah kalau "Kaum perempuan menuntut kesetaraan dengan kaum laki-laki berdasarkan hukum dan keadilan (equity) maupun dalam kenyataan, bila kesetaraan itu belum mereka peroleh" (GS, 9).

3. Ajaran Almarhum Paus Yohanes Paulus II

Almarhum Paus Yohanes Paulus II (selanjutnya disingkat JP II) sungguh meyakini bahwa perempuan memiliki martabat yang sederajat dengan laki-laki. Kesetaraan martabat antara laki-laki dan perempuan ini dilandaskan pada kenyataan bahwa mereka diciptakan oleh Allah sendiri menurut citra dan keserupaan dengan diri-Nya (bdk. Kej 1:26-27). Apa yang ditandaskan oleh JP II ini sangat penting, sebab selama berabad-abad Gereja mengikuti pandangan Thomas Aquinas (1225-1274) dalam melihat perempuan. Dengan mengadopsi pandangan Aristoteles (384/3-322 seb. Mas.), Aquinas meyakini bahwa perem-puan adalah seorang "misbegotten male" yang keberadaannya hanya dibutuh-kan demi membantu laki-laki untuk melahirkan anak-anak.

Berdasarkan kesetaraan martabat sebagai citra Allah ini, baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup berkeluarga, menggereja, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sekaligus JP II mengingatkan bahwa "kesetaraan martabat" tidak identik dengan "kesamaan dengan" laki-laki. Kesetaraan martabat ini akan mencapai kepenuhannya ketika perempuan dan laki-laki mampu untuk hidup dalamkomunio dengan satu sama lain, dengan saling menerima dan saling memberikan diri, dengan saling membantu dan bekerjasama untuk mewujudkan kesejah-teraan bersama bagi seluruh ciptaan Allah. JP II mengatakan bahwa dengan diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan menurut citra dan keserupaan dengan Allah mereka dipanggil untuk hidup bagi satu sama lain secara timbal balik. Lebih lajut JP II mengatakan bahwa dalam diri perempuan, laki-laki memperoleh mitra, dengannya ia dapat berdialog dalam kesetaraan yang lengkap.

JP II juga menandaskan bahwa kesetaraan ini harus benar-benar diusaha-kan menjadi sebuah pengalaman nyata dalam segala bidang kehidupan; antara lain, mendapatkan gaji sama untuk pekerjaan yang sama, perlindungan bagi para ibu yang bekerja, fairnessdalam hal kenaikan jenjang karier, kesetaraan suami-istri menyangkut hak-hak dalam hidup keluarga, serta pengakuan terhadap segala sesuatu yang menyangkut hak dan kuajiban warga negara dalam negara yang demokratis, mempunyai akses untuk memiliki harta serta mengelola aset-aset yang dimilikinya, dan dapat ikut ambil bagian dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan proses-proses untuk mengarahkan kehidupan masyarakat.

II. PENGRUSAKAN MARTABAT KAUM PEREMPUAN

Almarhum Yohanes Paulus II juga mengakui bahwa dalam kenyataannya martabat kaum perempuan kerap tidak diakui dan bahkan diinjak-injak. Sebagai akibat dari pengkondisian sosial dan kultural, banyak perempuan tidak dapat menya-dari sepenuhnya martabat mereka. Tidak jarang kaum perempuan justru dipinggirkan dari kehidupan masyarakat dan bahkan direduksikan kedalam perbudakan. Kerapkali mereka tidak mendapatkan kesempatan yang sama (dengan laki-laki) untuk memperoleh pendidikan, direndahkan, dan sumbangan intelektual mereka tidak dipedulikan atau tidak dihargai. Martabat perempuan juga dilanggar oleh mentalitas yang memandang mereka bukan sebagai pribadi melainkan sebagai barang, sebagai objek perdagangan. Demikian pula berbagai macam bentuk diskriminasi terhadap parempuan –khususnya diskriminasi terhadap para istri yang tidak mempunyai anak, para janda, para perempuan yang diceraikan oleh suami mereka, serta para ibu yang tidak dinikahi– sungguh merendahkan martabat perempuan. Mereka juga masih mengalami banyak diskriminasi di bidang pendidikan, pelayanan kesehatan maupun pekerjaan. Martabat perempuan juga direndahkan ketika perempuan (dewasa maupun anak-anak) dipaksa untuk bekerja hanya dengan upah kecil atau bahkan tanpa upah sama sekali, tanpa hak-hak perburuhan, tanpa jaminan keamanan. Martabat mereka juga direndahkan ketika para perempuan hanya dihargai karena penampilan fisik mereka dan bukan karena skill, profesionalisme, kemampuan intelektual maupun kepekaan hati mereka yang sangat dalam. Demikian pula martabat mereka direndahkan lewat eksploitasi seksual, dan ketika mereka –karena kengawuran dan tidak adanya tanggungjawab seksual– dipaksa untuk mengakhiri hidup janin yang tidak mereka kehendaki. Martabat mereka juga direndahkan ketika para perempuan (khususnya yang masih muda) dipaksa atau "ditarik" oleh organisasi-organisasi yang tidak bertanggungjawab kedalam emigrasi klasdestin, sehingga tidak sedikit dari mereka yang terdampar dalam situasi yang sungguh merendahkan martabat: pelacuran.

Berhadapan dengan seluruh situasi seperti ini, almarhum mengatakan bahwa tidaklah mudah untuk menunjuk siapa yang paling bertanggungjawab dalam hal ini, sebab sudah berabad-abad berbagai macam pengkondisian sosio-kultural telah membentuk cara berpikir dan bertindak secara demikian. Namun, kalau dalam konteks historis tertentu ternyata tidak sedikit anggota Gereja yang terlibat dalam tindakan ini, dengan tulus hati JP II mohon maaf.

Mengalami kondisi dan perlakuan seperti itu, menurut JP II, kaum perempuan memiliki hak untuk mendesak agar martabat mereka dihormati. Dan dalam waktu yang bersamaan mereka juga mempunyai kuajiban untuk memper-juangkan agar martabat semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, ditegakkan. Sekaligus JP II mengingatkan kaum perempuan agar dalam mengusahakan pembebasan diri dari semuanya itu, jangan sampai mereka membiarkan diri mengalami "maskulinisasi terhadap perempuan"; sebaliknya mereka perlu menegakkan "feminisme baru" dengan menolak model dominasi yang selama ini dilakukan oleh kaum laki-laki dan tidak menjadikannya sebagai cara bertindak mereka.

Selanjutnya JP II meminta agar pemerintah dan organisasi-organisasi lainnya bekerja lebih efektif untuk memberikan jaminan legal bagi terwujudnya martabat dan hak-hak perempuan. Demikian pula negara-negara perlu mengatasi berbagai macam situasi yang merintangi dilakukannya pengakuan, penghormatan serta penghargaan terhadap martabat serta kompetensi kaum perempuan. Beliau juga mengimbau agar semua negara serta institusi-institusi internasional mengusahakan semua cara agar kaum perempuan memperoleh kembali perhargaan yang penuh atas martabat dan peran mereka. Imbauan juga ditujukan kepada komunitas-komunitas gerejawi agar para migran beserta dengan keluarga mereka mendapatkan tempat sebagai rumah mereka.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa JP II sungguh meyakini bahwa martabat [dan panggilan] perempuan –maupun laki-laki– berakar pada hati Allah sendiri, dan dalam kondisi keberadaan manusia martabat tersebut erat terkait dengan "kesatuan dari dua pribadi." Sebagai konsekuensinya, setiap laki-laki mesti bertanya diri apakah setiap perempuan telah diperlakukan sebagaico-subjectdari keberadaannya di dunia ini dan tidak dijadikan objekbagi kenikmat-an dan eksploitasi. Demikian pula dominasi tidak dibenarkan karena merupa-kan ancaman yang dapat menghancurkan baik kesetaraan martabat antara perempuan dan laki-laki maupun martabat mereka masing-masing. Khususnya dalam hidup perkawinan, JP II mengatakan bahwa perempuan tidak dapat menjadi 'objek' dari 'dominasi' dan 'milik' laki-laki.

BUKAN KATA AKHIR

Mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan memang tidak mudah; juga –dan mungkin lebih-lebih– dalam Gereja. "Tempat" yang paling tepat untuk memulainya adalah diri kita sendiri serta lingkungan di mana kita hidup. Di "tempat-tempat" itulah kita perlu membuang semua bentuk ketidak-setaraan dan mulai membangun kesetaraan. Dan karena kesetaraan antara perempuan dan laki-laki memiliki banyak segi, maka perwujudannyapun menuntut kerjasama dari berbagai macam pihak dan bidang; oleh karenanya kerjasama dalam jejaring merupakan suatu keharusan.

DAFTAR BACAAN PILIHAN

Børresen, Kari Elisabeth. 1995.Subdordination and Equivalence. The Nature and Role of Woman in Augustine and Thomas Aquinas. Kampen: Kok Pharos Publishing House.

Cantore, Stefania. 1992. "Women in Christianity. A Biblical Approach." Dalam NN. Women In Society According to Islam dan Christianity. Acts of a Muslim-Christian Colloquium Organized jointly by The Pontifical Council for Interreligious Dialogue (Vatican City) and The Royal Academy for Islamic Civilization Research Al Albait Foundation (Amman). Rome, Italy: 24-26 June 1992, pp. 33-47.

John Paul II. 1994. Amanat Apostolis Familiaris Consortio Paus Yohanes Paulus II tentang Keluarga Kristiani Dalam Dunia Modern. Yogyakarta: Penerbit Kanisius & Komisi Pendampingan Keluarga Keuskupan Agung Semarang.

_________. 1988. "Apostolic Letter on the Dignity and Vocation of Women,Mulieris Dignitatem." Origins18 (October 6, 1988): 261, 163-283.

_________. 1988. Post-synodal Apostolic Exhortation on the Vocation and the Mission of the Lay Faithful in the Church and in the World,Christifideles Laici.Washington, D.C.: USCC.

Konferensi Waligereja Indonesia. 1996. Pedoman Gereja Katolik Indonesia. Sidang Agung KWI–Umat Katolik 1995. Cetakan Ketiga. Jakarta: Konferensi Waligereja Indonesia.

_________. 2004. Surat Gembala Konferensi Waligereja Indonesia 2004 tentang "Kesetaraan Perempuan dan Laki-laki sebagai Citra Allah." Jakarta: Sekretariat Jenderal Konferensi Waligreja Indonesia.

Konsili Vatikan II. 1993. Dokumen Konsili Vatikan II. Terjemahan: R. Hardawiryana. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI & Obor.

Madya Utama, Ignatius L. 2003. "Memahami Salib dan Keselamatan dari Perspektif Orang Tertindas."Hidup 57 (20 April 2003): 20-21.

_________. 2005. "Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam Perspektif Agama Kristiani."Diskursus 4 (April 2005): 59-80.

Marucci, Carl J., ed. 1997. Serving the Human Family. The Holy See at the Major United Nations Conferences.New York City: The Path to Peace Foundation.

Miller, J. Michael, ed. 1996. The Encyclicals of John Paul II. Huntington, Indiana: Our Sunday Visitor Publishing Division Our Sunday Visitor, Inc.

Newsom, Carol A. and Sharon H. Ringe, eds. 1998.Women's Bible Commentary. Expanded Edition with Apocrypha. Louisville: Westminster John Knox Press.

Radford Ruether, Rosemary. 1993.Sexism and God-Talk. Toward a Feminist Theology. With a New Introduction. Boston: Beacon Press.

Schüssler Fiorenza, Elizabeth. 1993.Discipleship of Equals. A Critical Feminist Ekklesia-logy of Liberation. New York: Crossroad.

Schüssler Fiorenza, Elizabeth and Mary Shawn Copeland, eds. 1994. Violence Against Women. Concilium 1994/1. London/Maruknoll, N.J.: SCM Press/Orbis Books.

Niditch, Susan. "Genesis." Dalam Renita J. Weems. 1995.Battered Love. Marriage, Sex, and Violence in the Hebrew Prophets. Minneapolis: Fortress Press.


[1] Penulis adalah Ketua Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyaraka, Jakarta.


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

SURAT GEMBALA PAUS FRANSISKUS PADA HARI KOMUNIKASI SOSIAL SEDUNIA KE 50 TAHUN 2016: KOMUNIKASI DAN KERAHIMAN

Saudara dan saudari terkasih,

TAHUN SUCI Kerahiman mengajak kita semua untuk merefleksikan keterkaitan antara komunikasi dan kerahiman. Gereja, dalam kesatuan dengan Kristus sebagai penjelmaan yang hidup dari Bapa Yang Maha Rahim, dipanggil untuk mewujudkan kerahiman sebagai ciri khas dari seluruh diri dan perbuatannya. Apa yang kita katakan dan cara kita mengatakannya, setiap kata dan sikap kita, harus mengungkapkan kemurahan, kelembutan dan pengampunan Allah bagi semua orang. Kasih, pada hakikatnya, adalah komunikasi; kasih mengarah kepada keterbukaan dan kesediaan untuk berbagi. Jika hati dan tindakan kita diilhami oleh kasih insani, kasih ilahi, maka komunikasi kita akan disentuh oleh kuasa Allah sendiri.

Sebagai putra dan putri Allah, kita dipanggil untuk berkomunikasi dengan semua orang, tanpa kecuali. Dengan caranya yang khusus, perkataan dan perbuatan Gereja dimaksudkan seluruhnya untuk menyampaikan kerahiman, menjamah hati orang-orang dan mendukung perjalanan manusia menuju kepenuhan hidup seperti yang dimaksudkan Bapa ketika mengutus Yesus Kristus ke dunia. Ini berarti bahwa kita sendiri haruslah bersedia menerima kehangatan Bunda Gereja dan berbagi kehangatan itu dengan orang lain, sehingga Yesus dapat dikenal dan dikasihi. Kehangatan itulah yang memberi hakikat kepada sabda iman; melalui pewartaan dan kesaksian kita, sabda iman itu menyalakan "percikan api" yang memberi mereka kehidupan.

Komunikasi memiliki kekuatan untuk mempertemukan, menciptakan perjumpaan dan penyertaan, dan dengan demikian memperkaya manusia. Betapa indahnya ketika orang-orang memilih kata-kata dan melakukan perbuatan dengan penuh kepekaan, agar bisa terhindar dari kesalahpahaman, untuk menyembuhkan kenangan-kenangan yang terluka dan membangun perdamaian dan keharmonisan. Kata-kata dapat mempertemukan pribadi-pribadi, antar anggota keluarga, kelompok-kelompok sosial dan bangsa-bangsa. Hal ini bisa terjadi di dunia nyata maupun dunia digital. Perkataan dan perbuatan kita seharusnya diungkapkan dan dilakukan untuk membantu kita semua agar terbebas dari lingkaran setan untuk selalu menyalahkan dan membalas dendam yang terus menerus menghantui manusia baik secara pribadi maupun dalam komunitasnya, yang pada akhirnya memicu ungkapan-ungkapan kebencian. Perkataan orang-orang Kristen haruslah menjadi sebuah dukungan terus menerus bagi komunitas dan bahkan dalam hal di mana manusia harus mengutuk kejahatan dengan tegas, hal ini seharusnya tidak sampai memutus relasi dan komunikasi.
Karena alasan inilah, saya ingin mengajak semua orang yang berkehendak baik untuk menemukan kembali daya kuasa kerahiman guna menyembuhkan relasi yang terluka dan memulihkan perdamaian dan kerukunan dalam keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas. Kita semua mengetahui bagaimana luka-luka lama dan dendam kesumat dapat menjerat manusia dalam menghalangi komunikasi dan rekonsiliasi. Hal yang sama terjadi juga dalam relasi antar bangsa-bangsa. Di setiap situasi, kerahiman selalu mampu menciptakan cara baru untuk berbicara dan berdialog. Shakespeare merumuskannya dengan elok ketika ia berujar: "Kualitas kerahiman tak terkekang. Ia turun bagai hujan lembut yang menetes dari langit di atas ke bumi di bawah. Kerahiman membawa berkat ganda: ia memberkati dia yang memberi dan dia yang menerima" (Saudagar Venisia, Lakon IV, Adegan I).
Bahasa politik dan diplomatik kita akan berhasil dengan baik jika terinspirasi oleh kerahiman, yang tidak pernah kehilangan harapan. Saya meminta mereka yang mengemban tanggung jawab kelembagaan dan politik dan mereka yang diberi amanat untuk membentuk pendapat publik, untuk tetap memperhatikan secara khusus cara berkomunikasi kepada orang-orang yang berpikir atau bertindak secara berbeda, atau orang-orang yang mungkin telah melakukan kesalahan. Sangatlah mudah menyerah pada godaan untuk mengeksploitasi situasi-situasi seperti itu yang‎ dapat menyulut api kecurigaan, ketakutan dan kebencian. Sebaliknya, diperlukan keberanian untuk membimbing orang-orang menuju proses rekonsiliasi. Keberanian positif dan kreatif seperti itulah yang sebenarnya menawarkan penyelesaian nyata atas berbagai perseteruan yang mengesumat serta membuka peluang untuk membangun perdamaian abadi. "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan" (Mat. 5:7), "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Mat 5:9).

Saya sangat berharap agar cara berkomunikasi kita, seperti juga pelayanan kita sebagai gembala Gereja, jangan sampai memberi kesan kekuasaan yang angkuh nan jaya atas seorang musuh, atau menistakan orang-orang yang dianggap sebagai pecundang yang mudah dicampakkan. Kerahiman dapat membantu meringankan berbagai kesulitan hidup dan memberi kehangatan kepada mereka yang hanya mengenal dinginnya penghakiman. Semoga cara kita berkomunikasi membantu mengatasi pola pikir yang dengan tegas memisahkan orang-orang berdosa dari orang-orang benar. Kita bisa dan harus menilai aneka situasi keberdosaan - seperti tindak kekerasan, korupsi dan eksploitasi - akan tetapi kita tidak boleh menghakimi pribadi-pribadi, karena hanya Allahlah yang mampu melihat ke kedalaman hati manusia. Menjadi tugas kita untuk memperingatkan dan menegur mereka yang berbuat salah serta mengecam kejahatan dan ketidakadilan dari tindakan-tindakan tertentu, untuk membebaskan para korban dan membangkitkan mereka yang telah jatuh. lnjil Yohanes mengatakan kepada kita bahwa "kebenaran itu akan memerdekakan kamu" (Yoh 8:32). Kebenaran itu pada akhirnya ialah Kristus sendiri, kerahiman-Nya yang lembut menjadi tolok ukur untuk menakar cara kita menyatakan kebenaran dan mencela ketidakadilan. Tugas utama kita adalah menegakkan kebenaran di dalam kasih (bdk. Ef 4:15). Hanya perkataan yang diucapkan dengan kasih yang disertai dengan kelembutan dan kerahiman mampu menjamah hati kita yang sarat dosa. Kata-kata dan tindakan-tindakan yang keras dan moralistik cenderung semakin mengasingkan orang-orang yang ingin kita tuntun kepada pertobatan dan kebebasan, sehingga semakin memperkuat rasa penolakan dan sikap bertahan mereka.

Sebagian pihak merasa bahwa visi tentang sebuah masyarakat yang berakar pada kerahiman adalah idealisme tanpa harapan atau kebaikan yang berlebihan. Tetapi marilah kita mencoba dan mengingat kembali pengalaman kita yang pertama tentang relasi, di dalam keluarga kita. Orangtua kita mengasihi kita dan menghargai kita karena siapa kita dan bukan karena kemampuan dan pencapaian kita. Para orangtua secara alamiah menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka, namun kasih itu tidak pernah bergantung pada pemenuhan atas syarat-syarat tertentu. Rumah keluarga adalah salah satu tempat di mana kita selalu diterima (bdk. Luk 15:11-32). Saya ingin mendorong setiap orang untuk melihat masyarakat bukan sebagai sebuah forum di mana orang-orang yang tidak saling mengenal bersaing dan berupaya tampil di puncak, tetapi terlebih sebagai sebuah rumah atau sebuah keluarga, di mana pintu selalu terbuka dan setiap orang merasa diterima.

Untuk mewujudkan hal itu, maka pertama-tama kita harus mendengarkan. Berkomunikasi berarti berbagi, dan berbagi menuntut sikap mendengarkan dan menerima. Mendengarkan bermakna lebih dalam dari sekedar mendengar. Mendengar adalah tentang menerima informasi, sedangkan mendengarkan adalah tentang komunikasi yang mensyaratkan kedekatan dan keakraban. Mendengarkan memungkinkan kita melakukan hal-hal yang benar, dan tidak sekadar menjadi penonton, pengguna atau pemakai yang pasif. Mendengarkan juga berarti mampu berbagi aneka persoalan dan keraguan, berjalan beriringan, membuang semua tuntutan akan kekuasaan mutlak serta mendayagunakan berbagai kemampuan dan karunia kita demi melayani kesejahteraan umum.

Mendengarkan bukanlah hal yang mudah. Acapkali lebih mudah untuk berpura-pura tuli. Mendengarkan berarti mengindahkan, kerelaan untuk memahami, menghargai, menghormati dan merenungkan apa yang orang lain katakan. Mendengarkan melibatkan semacam kemartiran atau pengorbanan diri, tatkala kita berusaha untuk meneladan Musa di hadapan semak bernyala: kita harus menanggalkan kasut kita ketika berdiri di "tanah yang kudus" perjumpaan kita dengan orang yang berbicara kepadaku (bdk. Kel 3:5). Memahami cara untuk mendengarkan adalah sebuah karunia yang besar, maka karunia itulah yang perlu kita mohonkan dan kemudian dengan segenap daya dan tenaga kita coba melaksanakannya.
Surat elektronik, pesan teks singkat, jejaring sosial dan percakapan daring (dalam jaringan, online) dapat juga menjadi bentuk-bentuk komunikasi insani seutuhnya. Bukanlah teknologi yang menentukan apakah komunikasi itu asli atau tidak, melainkan hati dan kemampuan manusia untuk secara bijak memanfaatkan sarana-sarana yang dimiliki. Pelbagai jejaring sosial dapat memperlancar relasi dan memajukan kesejahteraan masyarakat, namun jejaring sosial itu juga dapat menyebabkan pertentangan dan perpecahan yang lebih dalam di antara pribadi-pribadi dan kelompok-kelompok. Dunia digital adalah ruang umum terbuka, sebuah tempat pertemuan di mana kita bisa saling mendukung atau menjatuhkan, terlibat dalam diskusi sarat makna atau melakukan serangan yang tidak jujur. Saya berdoa agar Tahun Yubileum ini, yang dihayati dalam kerahiman, "dapat membuka diri kita kepada dialog yang lebih bersungguh-sungguh sehingga kita bisa mengenal dan memahami satu sama lain dengan lebih baik: dan ini bisa melenyapkan berbagai bentuk kepicikan dan sikap kurang hormat, dan menghilangkan setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi" (Misericordiae Vultus, 23). Internet dapat membantu kita untuk menjadi warga negara yang lebih baik. Akses ke jaringan digital membawa sebuah tanggung jawab atas sesama kita yang tidak kita lihat namun benar-benar nyata, dan yang memiliki martabat yang mesti dihormati. Internet dapat digunakan secara bijak untuk membangun sebuah masyarakat yang sehat dan terbuka untuk berbagi.

Komunikasi, di mana pun dan bagaimana pun bentuknya, telah membuka aneka cakrawala yang lebih luas bagi banyak orang. Komunikasi adalah sebuah karunia Allah yang menuntut sebuah tanggung jawab besar. Saya ingin merujuk pada kekuatan komunikasi ini sebagai "kedekatan". Perjumpaan antara komunikasi dan kerahiman akan sangat bermanfaat ketika sampai pada tahap di mana perjumpaan itu menghasilkan sebuah kedekatan yang peduli, memberi rasa nyaman, menyembuhkan, menyertai dan merayakan. Dalam sebuah dunia yang hancur, terbelah, dan bertentangan, berkomunikasi dengan kerahiman berarti membantu menciptakan sebuah kedekatan yang sehat, bebas dan bersaudara di antara anak-anak Allah dengan segenap saudara dan saudari kita dalam satu keluarga umat manusia.

Diberikan di Vatikan, 24 Januari 2016

Paus Fransiskus

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.