Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Jumat, 31 Oktober 2014

Pengertian Indulgensi (Teologi)

Indulgences - pembebasan dari hukuman sementara yang disebabkan oleh dosa, yang sudah disesali dan diampuni. Penghapusan hukuman ini diberikan berkat jasa Kristus yang tanpa batas dan keikutsertaan orang-orang kudus dalam sengsara dan kemuliaanNya. Dalam sejarah Gereja zaman dulu, doa orang-orang yang menantikan kematian sebagai martir dapat mengurangi hukuman keras yang dijatuhkan kepada para pendosa yang bertobat. Pada abad keenam belas, penyalahgunaan pemberian indulgensi menyulut api reformasi. Hak untuk memberikan indulgensi pada dasarnya dipegang oleh Takhta Suci. Indulgensi penuh menghapuskan seluruh hukuman, sejau syarat-syarat untuk penerimaannya dipenuhi. Baik indulgensi sebagian maupun penuh dapat diberikan kepada orang-orang yang sudah meninggal di api penyucian. Dalam Apostolik Indulgentiarum Doctrina (1967), Paulus VI membatasi indulgensi penuh dan menekankan pentingya pertobatan pribadi dalam hati (Lih. DS 1467; KHK 929-997)


Sumber: Gerard O'Collins, SJ dan Edward G. Farrugia, SJ dalam Kamus Teologi, Kanisius: Yogyakarta 1996
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 11 September 2014

PERNYATAAN SIKAP KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA Terhadap PP No. 61 / 2014 Tentang Kesehatan Reproduksi

"Orang yang mempunyai hidup, berhak untuk hidup karena dia sudah hidup dan mempunyai hidup"
 
Hidup itu berharga dan bernilai, maka harus dijaga, dipelihara dan dibela. Sejak awal kehidupan, Allah sendirilah yang menciptakan manusia, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku" (Mazmur 139:13). Karena Allah sendiri yang menghendaki karya penciptaan ini, manusia tidak berhak untuk menghentikan Karya Agung Allah ini dengan menyingkirkannya. Apalagi, perintah Allah begitu tegas: Jangan membunuh! (Keluaran 2,30) yang tidak hanya berlaku bagi manusia yang sudah lahir namun juga mereka yang masih berada dalam kandungan.
Gereja mengakui bahwa hidup manusia dimulai sejak pembuahan dan hidup itu harus dibela dan dihormati. Segala bentuk tindakan yang mengancam sejak awal kehidupan ini secara langsung, tidak dibenarkan.
1.     Nilai hidup manusia adalah nilai intrinsik yang ada dalam dirinya, dia bernilai oleh karena dirinya sendiri tanpa ada relasinya dengan pihak lain. Kecacatan atau penyakit yang dialami seseorang tidak mengurangi nilai dan martabat manusia. Oleh karena itu, aborsi dengan alasan kecacatan atau penyakit, tidak bisa dibenarkan.
 
2.     Tindak pemerkosaan dapat menyebabkan trauma psikologis, spiritual dan sosial bagi korbannya. Yang diperlukan adalah sikap belarasa terhadap korban dan memberi bantuan dalam pelbagai hal agar yang bersangkutan bisa bangkit dari penderitaannya dan menghilangkan traumanya sehingga bisa kembali hidup bahagia. Namun keinginan untuk bahagia tidak memberikan hak kepadanya untuk membunuh orang lain. Melakukan aborsi demi mencapai kebahagiaan ibu yang mengandung akibat perkosaan sama artinya dengan menggunakan orang lain (janin) sebagai alat dan tidak menghormatinya sebagai subyek. Hal ini merupakan pelanggaran berat terhadap martabat manusia yang adalah Gambar dan Citra Allah.
 
 
 
3.     Janin adalah makluk yang "lemah,  tidak dapat membela diri, bahkan sampai tidak memiliki bentuk  minimal pembelaan, yakni dengan kekuatan tangis dan air mata bayi yang dimiliki oleh bayi yang baru lahir, yang menyentuh hati.." (Evangelium Vitae no. 58). Padahal Allah adalah pembela kehidupan, terutama mereka yang lemah, miskin dan tidak mempunyai pembela. Di sinilah muncul prinsip vulnerability, dimana orang yang kuat harus membela dan melindungi yang lemah. Selaras dengan hati Allah yang membela yang kecil, lemah dan tidak bisa membela dirinya, maka Gereja memilih untuk berpihak pada mereka dan menegaskan untuk membela kehidupan yang sudah diyakini ada sejak pembuahan.
 
4.     Dalam Kitab Hukum Kanonik / KHK (Codex Iuris Canonici - CIC) ditegaskan: "Bagi mereka yang menganjurkan, mendorong dan melakukan tindakan aborsi, sesuai dengan Hukum Gereja, mereka terkena ekskomunikasi latae sententiae" (KHK 1398). Ekskomunikasi langsung atau otomatis.
 
Demikianlah pernyataan sikap kami terhadap PP No. 61/2014 tentang Kesehatan Reproduksi yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Kami menolak pemberlakuan pasal 31 dan 34 yang menguraikan tentang pengecualian aborsi yang diakibatkan oleh indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan.
 
Jakarta, 5 September 2014
P R E S I D I U M
Konferensi WALIGEREJA  INDONESIA,
 
 
Mgr. Ignatius Suharyo
K e t u a
Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Jenderal
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 06 September 2014

Sekilas Sejarah BULAN KITAB SUCI NASIONAL

Bulan September biasanya, Gereja Katolik Indonesia memasuki Bulan Kitab Suci Nasional. Pimpinan Gereja menganjurkan umat Katolik menjadi lebih akrab dengan Kitab Suci dengan berbagai cara, sehingga dengan demikian umat semakin tangguh dan mendalam imannya daam menghadapi kerumitan dan kesulitan hidup dewasa ini.

*Selintas Sejarah*

Pada bulan September telah dikhususkan oleh Gereja Katolik Indonesa sebagai
Bulan Kitab Suci Nasional. Di setiap keuskupan dilakukan berbagai kegiatan
untuk mengisi bulan ini, mulai di lingkungan, wilayah, paroki, biara,
maupun di kelompok-kelompok kategorial. Misalnya, lomba baca KS, pendalaman
KS di lingkungan, pameran buku, dan sebagainya. Terutama pada hari Minggu
pertama bulan itu, kita merayakan hari Minggu Kitab Suci Nasional. Perayaan
Ekaristi berlangsung secara meriah, diadakan perarakan khusus untuk KS, dan
KS ditempatkan di tempat yang istimewa. Sejak kapan tradisi Bulan Kitab
Suci Nasional ini berawal? Untuk apa?

Untuk mengetahui latar belakang diadakannya BKSN ini kita perlu menengok
kembali Konsili Vatikan II. Salah satu dokumen yang dihasilkan oleh KV II
yang berbicara mengenai KS adalah Dei Verbum. Dalam Dei Verbum para bapa
Konsili menganjurkan agar jalan masuk menuju Kitab Suci dibuka lebar-lebar
bagi kaum beriman (DV 22). Konsili juga mengajak seluruh umat beriman untuk
tekun membaca KS. Bagaimana jalan masuk itu dibuka? Pertama-tama, dengan
menerjemahkan KS ke dalam bahasa setempat, dalam hal ini Bahasa Indonesia.
Usaha ini sebenarnya telah dimulai sebelum KV II dan Gereja Katolik telah
selesai menerjemahkan seluruh KS, baik PL maupun PB. Namun, KV II
menganjurkan agar diusahakan terjemahan KS ekumenis, yakni terjemahan
bersama oleh Gereja Katolik dan Gereja Protestan. Mengikuti anjuran KV II
ini, Gereja Katolik Indonesia mulai "meninggalkan" terjemahan PL dan PB
yang merupakan hasil kerja keras para ahli Katolik, dan memulai kerja sama
dengan Lembaga Alkitab Indonesia. Dengan demikian, mulailah pemakaian KS
terjemahan bersama, yang merupakan terjemahan resmi yang diakui baik oleh
Gereja Katolik maupun Gereja-gereja Protestan di Indonesia. Yang membedakan
hanyalah Kitab-Kitab Deuterokanonika yang diakui termasuk dalam KS oleh
Gereja Katolik namun tidak diakui oleh Gereja-gereja Protestan.

Kitab Suci telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, namun umat
Katolik Indonesia belum mengenalnya, dan belum mulai membacanya. Mengingat
hal itu, Lembaga Biblika Indonesia, yang merupakan Lembaga dari KWI untuk
kerasulan Kitab Suci, mengadakan sejumlah usaha untuk memperkenalkan KS
kepada umat dan sekaligus mengajak umat untuk mulai membaca KS. Hal ini
dilakukan antara lain dengan mengemukakan gagasan sekaligus mengambil
prakarsa untuk mengadakan Hari Minggu Kitab Suci secara nasional. LBI
mengusulkan dan mendorong agar keuskupan-keuskupan dan paroki-paroki
seluruh Indonesia mengadakan ibadat khusus dan kegiatan-kegiatan sekitar KS
pada Hari Minggu tertentu.

LBI telah dua kali mencobanya. Pada tahun 1975 dalam rangka menyambut
terbitnya Alkitab lengkap ekumenis, LBI menyarankan agar setiap paroki
mengadakan Misa Syukur pada bulan Agustus. Bahan-bahan liturgi dan
saran-saran kegiatan yang dapat dilakukan beberapa bulan sebelumnya
dikirimkan ke keuskupan-keuskupan. Percobaan kedua dilakukan pada tahun
1976. Akhir Mei 1976 dikirimkan bahan-bahan langsung kepada pastor-pastor
paroki untuk Hari Minggu Kitab Suci tanggal 24/25 Juli 1976, ditambah
lampiran contoh pendalaman, leaflet, tawaran bahan diskusi, dan lain-lain.

Walaupun dua kali percobaan itu tidak menghasilkan buah melimpah seperti
yang diharapkan, LBI toh meyakini bahwa HMKS harus diteruskan dan
diusahakan, dengan tujuan sebagai berikut:

*1. Untuk mendekatkan dan memperkenalkan umat dengan sabda Allah. KS juga
diperuntukkan bagi umat biasa, tidak hanya untuk kelompok tertentu dalam
Gereja. Mereka dipersilahkan melihatnya dari dekat, mengenalnya lebih akrab
sebagai sumber dari kehidupan iman mereka. *
*2. Untuk mendorong agar umat memiliki dan menggunakannya. Melihat dan
mengagumi saja belum cukup. Umat perlu didorong untuk memilikinya paling
sedikit setiap keluarga mempunyai satu kitab suci di rumahnya. Dengan
demikian, umat dapat membacanya sendiri untuk memperdalam iman
kepercayaannya sendiri. *

Dalam sidang MAWI 1977 para uskup menetapkan agar satu Hari Minggu tertentu
dalam tahun gerejani ditetapkan sebagai Hari Minggu Kitab Suci Nasional.
Hari Minggu yang dimaksudkan adalah Hari Minggu Pertama September. Dalam
perkembangan selanjutnya keinginan umat untuk membaca dan mendalami KS
semakin berkembang. Satu Minggu dirasa tidak cukup lagi untuk mengadakan
kegiatan-kegiatan seputar Kitab Suci. Maka, kegiatan-kegiatan ini
berlangsung sepanjang Bulan September dan bulan ke-9 ini sampai sekarang
menjadi Bulan Kitab Suci Nasional

YM Seto Marsunu
Sekretaris Lembaga Biblika Indonesia (LBI)

Sumber :
http://indonesia.ucanews.com/2014/09/02/sekilas-sejarah-bulan-kitab-suci-nasional
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 03 Juli 2014

Kondisi Jakarta kian Menegangkan

Untuk kalangan sendiri


Berita dari Indonesia:

Kondisi Jakarta kian menegangkan, dan kondisi lapangan semakin kacau dengan teror, banjir uang suap bagi pembelian suara, dan aneka manipulasi kubu Prabowo. Di beberapa daerah Bogor, misalnya, tarif yang ditawarkan kubu Prabowo kepada seorang pemilih bahkan mencapai 1 juta rupiah.

Banyak saksi-saksi tentang berbagai bentuk manipulasi itu mau bicara ke
para wartawan dan berbagai manipulasi itu akan terus-menerus diledakkan secara publik. Juga banyak para resi dan penatua negeri ini yang
kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun karena kelicikan dan ketidakjujuran kubu Prabowo, seperti Rm Magnis S.J., Goenawan Mohamad, Buya Syafii Maarif, dll.

Mengingat pilihan berdasarkan prinsip Ajaran Gereja sudah sedemikian jelas
(yaitu mencegah Prabowo), maka para uskup akan memandu dengan lebih
eksplisit ke mana pilihan umat mesti diarahkan, meskipun tanpa harus
menyebut nama, dalam tahap genting ini.

Dari kondisi dan assessment lapangan, wilayah2 yang sangat memprihatinkan
(karena umat masih bingung) mencakup juga wilayah Toraja dan Manado. Jawa Barat juga sangat kritis, karena Gubernur yang orang PKS (golongan Islam fundamentalis/garis keras) mengerahkan seluruh bupati, camat dan lurah.

Sementara itu dulu kabar dari Jakarta. Mohon doa selalu bagi kami dan
teman2 yang terus-menerus berjuang mencegah ketidakwarasan meremuk
tanah-air penjelmaan ini. Terimakasih.

In Christo,
B. Herry-Priyono, SJ.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 01 Juli 2014

Kok Prabowo Sekarang Sepertinya Menjadi Tumpuan Pihak Islam Garis Keras (RM.Magnis Suseno SJ)

From: RM.Magnis Suseno SJ :Pilpres
Jakarta, 29 Juni 2014
Franz Magnis-Suseno SJ

Saudara-saudari, pertama, saya mohon maaf kalau kiriman ini yang jelas
berpihak, tidak berkenan, apalagi di masa puasa. Namun beberapa hari
sebelum pilpres saya merasa terdorong sharing kekhawatiran saya. Saya
mau menjelaskan dengan terus terang mengapa saya tidak mungkin memberi
suara saya kepada Bapak Prabowo Subiyanto.

Masalah saya bukan dalam program Prabowo. Saya tidak meragukan bahwa
Pak Prabowo, sama seperti Pak Joko Widodo, mau menyelamatkan bangsa
Indonesia. Saya tidak meragukan bahwa ia mau mendasarkan diri pada
Pancasila. Saya tidak menuduh Beliau antipluralis. Saya tidak
meragukan iktikat baik Prabowo sendiri.

Yang bikin saya khawatir adalah lingkungannya. Kok Prabowo sekarang
sepertinya menjadi tumpuan pihak Islam garis keras. Seakan-akan apa
yang sampai sekarang tidak berhasil mereka peroleh mereka harapkan
bisa berhasil diperoleh andaikata saja Prabowo menjadi presiden?
Adalah Amien Rais yang membuat jelas yang dirasakan oleh garis keras
itu: Ia secara eksplisit menempatkan kontes Prabowo - Jokowi dalam
konteks perang Badar, yang tak lain adalah perang suci Nabi Muhammad
melawan kafir dari Makkah yang menyerang ke Madinah mau menghancurkan umat Islam yang masih kecil! Itulah bukan slip of the tongue Amien Rais, memang itulah bagaimana mereka melihat pemilihan presiden mendatang. Mereka melihat Prabowo sebagai panglima dalam perang melawan kafir. Entah Prabowo sendiri menghendakinya atau tidak.
Dilaporkan ada masjid-masjid di mana dikhotbahkan bahwa coblos Jokowi
adalah haram. Bukan hanya PKS dan PPP yang merangkul Prabowo, FPI saja
merangkul. Mengapa?

Saya bertanya: Kalau Prabowo nanti menjadi presiden karena dukungan
pihak-pihak garis keras itu: Bukankah akan tiba pay-back-time,
bukankah akan tiba saatnya di mana ia harus bayar kembali hutang itu?
Bukankah rangkulan itu berarti bahwa Prabowo sudah tersandera oleh
kelompok-kelompok garis keras itu?

Lalu kalimat gawat dalam Manifesto Perjuangan Gerindra: "Negara
dituntut untuk menjamin kemurnian ajaran agama yang diakui dari segala
bentuk penistaan dan penyelewengan dari ajaran agama". Kalimat itu
jelas pertentangan dengan Pancasila karena membenarkan penindasan
terhadap Achmadiyah, kaum Syia, Taman Eden dan kelompok-kelompok
kepercayaan. Sesudah diprotes Dr. Andreas Yewangoe, Ketua PGI, Pak
Hashim, adik Prabowo, sowan pada Pak Yewangoe dan mengaku bahwa
kalimat itu memang keliru, bahwa Prabowo 2009 sudah mengatakan harus
diperbaiki dan sekarang sudah dihilangkan. Akan tetapi sampai tanggal
25 Juni lalu kalimat itu tetap ada di Manifesto itu di website resmi
Gerindra. Bukankah itu berarti bahwa Hashim tidak punya pengaruh nyata
atas Gerindra maupun Prabowo?

Terus terang, saya merasa ngeri kalau negara kita dikuasai oleh orang
yang begitu semangat dirangkul dan diharapkan oleh, serta berhutang
budi kepada, kelompok-kelompok ekstremis yang sekarang saja sudah
semakin menakutkan.

Lagi pula, sekarang para mantan yang mau membuka aib Prabowo dikritik.
Tetapi yang perlu dikritik adalah bahwa kok baru saja sekarang orang
bicara. Bukankah kita berhak mengetahui latar belakang para calon
pemimpin kita? Prabowo sendiri tak pernah menyangkal bahwa penculikan
dan penyiksaan sembilan aktivis yang kemudian muncul kembali, yang
menjadi alasan ia diberhentikan dari militer, memang tanggungjawabnya.
Prabowo itu melakukannya atas inisiatifnya sendiri. Saya bertanya: Apa
kita betul-betul mau menyerahkan negara ini ke tangan orang yang kalau
ia menganggapnya perlu, tak ragu melanggar hak asasi orang-orang yang
dianggapnya berbahaya? Apa jaminan bahwa Prabowo akan taat
undang-undang dasar dan undang-undang kalau dulu ia merasa tak terikat oleh ketaatan di militer?

Aneh juga, Gerindra menganggap bicara tentang hak-hak asasi manusia
sebagai barang usang. Padahal sesudah reformasi hak-hak asasi manusia justru diakarkan ke dalam undang-undang dasar kita agar kita tidak kembali ke masa di mana orang dapat dibunuh begitu saja, ditangkap dan ditahan tanpa proses hukum.

Jakarta, 25 Juni 2014

Franz Magnis-Suseno SJ
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 18 Juni 2014

Pemilu dan Perjuangan bagi Kebaikan-Bersama (Panduan Memilih dalam Pemilihan Umum 9 Juli 2014)

A.    Mengapa Keterlibatan dalam Pemilu bagian Perjuangan Iman Kristiani?

1.  Kita beriman kepada Tuhan yang menjelma. Tuhan yang menjelma dalam diri Jesus Kristus itulah yang kita ikuti. Dialah Tuhan yang tinggal di antara kita dan terlibat memperjuangkan kondisi dunia bagi kebaikan-bersama, apapun suku, ras, agama, dan golongan.

2. Kondisi Indonesia dengan segala masalahnya dewasa ini adalah "tanah-air penjelmaan" kita. Di tanah-air penjelmaan inilah kita dipanggil untuk memperjuangkan kebaikan-bersama. Kita mengungkapkan iman dengan doa, novena, adorasi, dsb, sedangkan kita mewujudkan iman melalui aksi konkret memperbaiki kondisi kehidupan-bersama di Indonesia.

3.  Memilih presiden/wakil-presiden yang tepat adalah bagian integral aksi konkret perwujudan iman kita dalam memperbaiki kondisi kehidupan-bersama di Indonesia.

 

B.     Apa Prinsip Ajaran Gereja yang Memandu Pilihan Kita?

1.  Gereja minta kita memilih berdasarkan prinsip kebaikan-bersama (the common good), yaitu "Keseluruhan kondisi sosial yang memberdayakan dan memungkinkan semua warga, entah sebagai kelompok atau pribadi, mencapai kepenuhan hidup yang optimal dan secara optimal" (Gaudium et Spes #26). Maka, Ibu Gereja meminta kita memilih calon presiden dan wakil-presiden yang paling mendekati cita-cita perwujudan kebaikan-bersama itu.

2.  Kalau 'kebaikan-bersama' sulit dipahami, kita dapat memahami melalui kebalikannya, yaitu 'keburukan-bersama'. Keburukan-bersama adalah kondisi masyarakat yang ditandai keluasan korupsi, kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia, penyingkiran kaum miskin dan kaum minoritas, perusakan lingkungan, penculikan, intoleransi agama, perampokan sumber alam, militerisme dan kediktatoran, dsb.

3.  Gereja minta kita untuk tidak memilih calon presiden dan wakil-presiden yang berpotensi menciptakan keburukan-bersama itu. Mana di antara 2 calon presiden yang layak kita pilih?

 

C.    Siapa yang harus Kita Pilih dalam Pemilu 9 Juli 2014?

1.  Adalah kebodohan mencoblos berdasar penampilan, sebab penampilan hanyalah kesan sesaat. Sama bodohnya memilih karena diberi uang. Kita tidak seharusnya mencoblos karena percaya janji kampanye, sebab janji-janji kampanye mudah lenyap setelah kampanye usai. Rumusan visi & misi calon presiden/wakil-presiden juga bukan dasar yang meyakinkan untuk memilih, sebab rumusan visi & misi mudah dipesan dan berubah setelah Pemilu. Memilih berdasarkan hasil debat capres/cawapres juga bukan cara bijak untuk memilih, sebab cara tampil dalam debat merupakan hasil polesan sejenak (make-up) dan berisi deretan janji serta slogan.

2.  Cara paling bijak untuk memilih adalah berdasarkan bukti habitus kepemimpinan. Habitus kepemimpinan adalah kebiasaan perilaku memimpin. Mana di antara 2 calon yang selama ini telah terbukti punya kebiasaan memimpin dengan perhatian pada kesejahteraan/kemaslatan rakyat biasa? Cukuplah habitus kepemimpinan itu terbukti pada lingkup kota. Sebab, dia yang setia dalam hal kecil juga akan setia dalam perkara besar – dia yang telah teruji dan terbukti setia pada lingkup kepemimpinan kota juga lebih mungkin setia dalam urusan sebesar negara.

3. Bukti habitus kepemimpinan itulah kunci kita dalam memilih. Kebiasaan perilaku manusia tak mudah berubah! Dia yang dulu punya kebiasaan otoriter, melanggar hak asasi, menculik, korup dan menipu juga akan memerintah dengan otoriter, melanggar hak asasi, menculik, korup, dsb. Sebaliknya, dia yang telah terbukti punya kebiasaan memimpin dengan dedikasi pada rakyat, demokratis dan tidak korup juga akan memimpin Indonesia dengan habitus yang sama. Ingat, dia yang telah setia memimpin dengan habitus luhur atas sebuah kota juga akan setia memimpin sebuah negara. Sosok itulah yang harus kita pilih dalam Pemilu 9 Juli 2014.

Milis: apik
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 12 Juni 2014

Paus Fransiskus: Sepak Bola Ajarkan Tiga Hal Penting

Paus Fransiskus, dikenal sebagai seorang penggila sepak bola dan dia juga pernah menjadi pesepak bola amatir masa mudanya di Argentina.

Sehingga, tak heran jika pada Kamis (12/6/2014), Paus Fransiskus menggunakan momen pembukaan Piala Dunia 2014 di Brasil untuk menyampaikan pesannya.

"Saya berharap semua orang menikmati Piala Dunia yang indah dan dimainkan dalam semangat persahabatan sejati," kata Paus lewat akun Twitter-nya.

Paus juga membuat pesan video dalam bahasa Portugis yang kemudian ditayangkan stasiun televisi Brasil, Rete Globo. Dalam pesan video itu Paus berharap Piala Dunia menjadi ajang solidaritas antarmanusia.

"Saya berharap Piala Dunia akan menjadi ajang solidaritas antarmanusia yang menyadari diri mereka adalah bagian dari keluarga manusia yang unik," tambah Paus.

Paus menambahkan dia juga berharap turnamen ini akan tetap menjadi sebuah ajang pertandingan, kesempatan dialog, sarana untuk saling memahami dan memperkaya kehidupan.

Lebih lanjut Paus menambahkan, sepak bola mengajarkan tiga hal yang bisa mendorong terciptanya perdamaian dan solidaritas.

Ketiga hal penting itu, menurut Paus adalah perlunya latihan dan kerja keras untuk mencapai tujuan, pentingnya fair play dan kerja sama serta keharusan untuk menghormati lawan.

"Untuk menang, seseorang harus mengatasi inidividualisme, egoisme, sebuah bentuk rasisme, intoleransi dan manipulasi manusia," kata Paus.

Kerakusan, kata Paus, dalam sepak bola dan kehidupan sehari-hari menjadi sebuah penghalang terbesar.

"Jangan biarkan siapapun meninggalkan masyarakat dan merasa terbuang. Katakan tidak terhadap pemisahan! Katakan tidak terhadap rasisme!"

Sumber: http://internasional.kompas.com/read/2014/06/12/1736329/Paus.Fransiskus.Sepak.Bola.Ajarkan.Tiga.Hal.Penting
Powered by Telkomsel BlackBerry®