Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Selasa, 25 Agustus 2015

SINODE KELUARGA DI ROMA 2015 SUDAH DIAMBANG PINTU (RP A. Sujoko MSC)

Tanggal 6 November 2014 saya pernah memposting "Keluhan Kardinal Manila Louis Tagle bahwa Pembahasan Persiapan Sinode Keluarga di Roma tidak "fair", tidak adil, tidak seimbang dan tidak representatif terhadap persoalan yang dihadiapi keluarga di dunia, khususnya di daerah Asia. Tema-tema yang dibahas hanya menyangkut seksualitas tentang perkawinan sejenis atau tidak sejenis; tentang sakramentalitas keluarga katolik yang telah bercerai dan nikah lagi bisa sambut atau tidak. Padahal masalah keluarga bukan hanya seksualitas dan sakramentalitas. Kini giliran para uskup di Benua Afrika yang menuntut supaya pembahasan Synode Keluarga Oktober 2015 nanti melakukan diskusi tentang keluarga dengan tema-tema yang lebih luas, lebih ekspansif dan juga memperhatian situasi Gereja di benua Afrika dengan iman kristiani yang baru bertobat dari kekafiran dan masih diwarnai oleh kebudayaan lokal termasuk dalam hal penghayatan tentang keluarga. Diskusi jangan hanya menyangkut masalah-masalah yang menjadi perhatian Gereja di Eropa dan Amerika Utara saja, katanya.
Joshua J McElwee dari Nairobi memberikan laporan kepada Vatican Insider sbb: "Sejumlah teolog dan Uskup dari seluruh benua Afrika berkumpul pada tgl 16 – 18 Juli 2015 lalu dan dengan terus terang meminta kepada Vatikan untuk memperluas tema-tema diskusi tentang keluarga dalam Synode bulan Oktober 2015 mendatang dengan memperhatikan keadaan keluarga-keluarga dalam budaya-budaya di seluruh dunia, termasuk di Afrika; bukan hanya memilih masalah yang menjadi perhatian Gereja Katolik versi Eropa dan Amerika Utara saja. Salah satu hal yang perlu disadari ialah bahwa Kekristenan versi Eropa itu telah mentobatkan budaya Eropa dan sekarang kekristenan di Eropa itu sendiri menghadapi masalah baru dengan tantangan zaman baru. Sedangkan budaya Afrika baru sampai pada tahap berkenalan dengan kekristenan dan umat masih berusaha untuk menyesuaikan iman kristianinya sambil tetap memelihara budaya tradisi leluhur mereka, termasuk dalam hal keluarga. Uskup Kenya menegaskan: "Jika kita sungguh-sugguh ingin menghargai keluarga-keluarga kristiani Afrika kita ini, maka kita membutuhkan kajian teologis yang serius dan mendalam tentang "Teologi Keluarga Kristiani Afrika. Kita tidak bisa hanya sekedar menerapkan model keluarga menurut ajaran kristiani yang sudah berabad-abad itu dalam situasi keluarga Afrika begitu saja". Teolog dari Uganda, Emmanuel Katongole, bahkan mengkritik Vatikan yang ia sebut sebagai " tirani yang memaksakan masalah-masalah moral"  dengan mereduksikan masalah dalam Gereja hanya menyangkut eksualitas dan kekuasaan." Nah,kalau Afrika menuntut Teologi Keluarga Kristiani Afrika" maka Asia juga membutuhkan yang sama, kerena konteks budaya dan penghayatan perkawinan di Asia, termasuk Indonesia (lebih masuk lagi dalam budaya-budaya lokal Indonesia) tidak bisa disamakan dengan orang-orang Eropa. Sedangkan model keluarga kristiani Gereja Katolik yang diberlakukan dalam Kitab Hukum Kanonik itu memang memakai "pengandaian - pengandaian" pemikiran orang Eropa, misalnya soal istilah teologis:consensus facit matrimonium (kesepakan membuat perkawinan) syarat-syarat sahnya konsensus; konsensus yang sudah sah tidak dapat ditarik kembali, dst, dst.
Pokonya, Synode Keluarga Oktober 2015 ini (mungkin) bakalan seru, panas, dinamis dan mungkin hanya bisa memberikan rambu-rambu umum, selebihnya terserah pada para uskup Gereja lokal yang mengetahui persis keadaan, kebiasaan, adat-istiadat dan budaya setempat yang menjadi darah-daging hidup umat kristiani setempat pula. Apalagi masalah keluarga adalah masalahpastoral, bukan masalah dogmatis, jadi pemecahannya juga perlu kebijaksaan pastoral yang bisa berartivariis modis bene fit. (caranya bervariasi, namun paling cocok dengan realitas).
Apalagi Paus Fransiskus telah memberikan rambu-rambu diskusinya: "Jangan takut untuk berbicara apa saja; dan harus rendah hati untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh pendapat para peserta Synode lain". Tidak boleh ada pemaksaan kehendak dan pendapat; yang ada adalah Cinta kasih Pastoral (Charitas et Cura Pastoralis) demi kebaikan keluarga-keluarga Kristiani. Mari kita doakan para peserta Synode dan Mari kita doakan semua keluarga di seluruh dunia.
 
Sujoko msc


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Minggu, 09 Agustus 2015

Sejarah Komunitas Katolik Kontemporer (AZYUMARDI AZRA)

Sejarah umat beragama di Indonesia masih langka, khususnya komunitas Katolik Indonesia. Kita beruntung mendapat sumbangan sangat penting dari Karel Steenbrink, Guru Besar (Emeritus) Universitas Utrecht, Belanda, yang dengan tekun dan cermat menuliskan sejarah umat Katolik di Indonesia secara komprehensif.

Karya cukup masif ini merupakan buku ketiga Steenbrink tentang subyek ini. Sebelumnya ia menulis Catholics in Indonesia 1808-1942. A Documented History, Vol I: A Modest Recovery 1808-1900 (2003) dan Catholics in Indonesia 1808-1942. A Documented History, Vol II: The Spectacular Growth of a Self-Confident Minority, 1903-1942 (2007). Meski menjadi bagian ketiga dari trilogi, buku Catholics in Independent Indonesiadapat dipandang dan dibaca sebagai buku independen, terlepas dari kedua buku terdahulu.

Buku yang komprehensif membahas umat "Katolik Indonesia" (terma yang digunakan Steenbrink secara bebas dengan "Katolik di Indonesia") ini dapat dikatakan ditulis "orang dalam" (from within). Steenbrink, penganut Katolik yang saleh, memang memulai karier akademisnya dengan melakukan penelitian disertasi doktor tentang pesantren, madrasah, dan sekolah (1970-74). Ia kemudian kembali ke Indonesia mengajar di IAIN Jakarta dan IAIN Yogyakarta (1981-1988).

Selama kurun waktu itu ia menyebut dirinya hanya "marjinal" di lingkungan Katolik. Baru pada pertengahan 1990-an, ia memulai persiapan riset dan penulisan sejarah Katolik di Indonesia. Kesempatan ini datang ketika ia mulai bertugas di IIMO, Institut Ekumene dan Misiologi, di Universitas Utrecht.

Meski begitu, Karel Steenbrink mengakui, karya-karyanya tentang sejarah Katolik Indonesia ditulis tidak dari lingkaran dalam gereja (insider) yang menentukan misi dan visi gereja. Sebaliknya, ditulis seorang pengamat luar yang menghabiskan karier aktifnya di Indonesia sebagai dosen di sejumlah perguruan tinggi Islam. Walau demikian, ia menegaskan, dari latar belakang [agamanya yang Katolik], Steenbrink merasa memiliki pengetahuan memadai, simpati dan empati pada komunitas Katolik untuk dapat otoritatif menulis tentang sejarah Katolik di Indonesia.

Karya Profesor (Emeritus) Steenbrink ini dalam banyak hal lebih daripada sekadar sejarah Gereja Katolik deskriptif. Buku ini juga bukan hanya menyangkut orang-orang Katolik di Indonesia. Namun, buku ini dapat dikatakan sebagai "sejarah sosial" (social history) komunitas Katolik di negeri ini dalam kaitan dengan lingkungan lebih luas yang mengitarinya. Kenyataan Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim, baik langsung maupun tidak, memengaruhi cara pandang, doktrin sosial gereja atau para fungsionaris Katolik (pastor misalnya) yang bukan tanpa perdebatan di lingkungan Gereja Katolik Indonesia.

Sejarah sosial

Dalam paradigma sejarah sosial dan lingkungan lebih luas, karya ini mencakup pembahasan, misalnya, tentang agama dalam politik Indonesia di antara Pancasila dan syariah [Islam], basis sekuler agama [Katolik] dalam pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kesejahteraan; masalah internal gereja; spiritualitas clergy (pastor dan suster);social engagement dan spiritualitas penganut awam (lay); dan para pemikir kreatif, penulis, dan artis. Pembahasan juga mencakup wacana dan perdebatan teologis di lingkungan teolog dan intelektual Katolik.

Bagian besar yang kedua karya ini adalah survei wilayah yang mengungkapkan pergumulan komunitas Katolik di suatu tempat. Misalnya Flores, Timor dan Sumba, Papua, Maluku, Minahasa dan Toraja, Kalimantan, Jawa dan Bali, serta "diaspora" Sumatera. Komunitas Katolik di tiap wilayah ini menghadapi masalah tersendiri yang tidak selalu mudah diselesaikan Gereja.

Sebagai sejarah sosial, bagian yang absen dari karya ini antara lain kehidupan sehari-hari (history of daily life) orang Katolik, baik fungsionaris maupun awam. Jika sejarah sehari-hari ini tercakup, pasti lebih menambah pengetahuan kita tentang bagaimana seorang warga Katolik menjalani kehidupan sehari-hari dalam berbagai segi. Walau begitu, ada sejumlah kepingan anekdot yang diberikan Steenbrink, terutama tentang "konflik" di antara pimpinan Gereja (clergy) dengan kalangan awam dalam isu tertentu sehingga karya ini tidak menjadi semacam institutional historyGereja Katolik di Indonesia.

Pergumulan kontemporer

Tujuan utama buku ini, menurut Steenbrink, adalah untuk memperlihatkan bagaimana Gereja Katolik bisa bertahan sepanjang masa rezim Presiden Soekarno (1945-1965). Selanjutnya tentang bagaimana Gereja memperoleh kembali dinamika baru selama masa "kebangkitan agama" (religious revival) yang merupakan bagian penting dalam perjalanan sejarah agama di Indonesia pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Beberapa kebijakan Presiden Soeharto menimbulkan perdebatan dan pergumulan di lingkungan gereja dan komunitas Katolik. Hal ini mencakup misalnya tentang Pancasila sebagai "asas tunggal" (UU N0 8 Tahun 1985) dan ketentuan pengajaran agama oleh guru seagama dengan murid (UU No 2 Tahun 1989, kemudian juga No 23, 2003). Menghadapi UU semacam itu, tidak jarang Gereja Katolik terpaksa bersikap defensif.

Gereja Katolik antara 1985-1998 kian berada dalam posisi defensif. Menurut Steenbrink, sikap ini terkait dengan "kebangkitan kepercayaan diri kaum Muslim' pada satu pihak dan "lenyapnya signifikansi komunitas Katolik" pada pihak lain. Perkembangan ini kemudian juga terkait dengan "rekonsiliasi" Presiden Soeharto dengan masyarakat Muslim yang antara lain ditandai dengan restu Soeharto pada pendirian ICMI di bawah kepemimpinan BJ Habibie yang kala itu menjabat posisi Menteri Riset dan Teknologi dalam kabinet.

Steenbrink juga mencatat, sepanjang masa Soeharto, sejumlah besar SD dan SMP Katolik harus ditutup karena Pemerintah Orde Baru sangat ekspansif mengembangkan sekolah-sekolah negeri. Komunitas Katolik sendiri juga tidak mampu lagi mendanai semua sekolahnya.

Pergumulan Gereja dan umat Katolik terus berlanjut sejak masa reformasi. Konflik komunal berbau agama meletup di beberapa tempat menimbulkan gangguan kerukunan umat beragama. Steenbrink juga mencatat, perda-perda yang mencoba menerapkan syariah secara parsial juga menjadi pembicaraan hangat di lingkungan gereja.

Sementara pergumulan Gereja Katolik berlanjut, karya Steenbrink sangat layak dan penting diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dengan begitu, masyarakat lintas agama Indonesia dapat memahami Gereja Katolik secara komprehensif dan lebih akurat.

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Agustus 2015, di halaman 12 dengan judul "Sejarah Komunitas Katolik Kontemporer".


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 29 April 2015

"DARURAT GADGET"

Hampir Semua Keluarga di Indonesia "DARURAT GADGET"

⛔��⛔��⛔��⛔��⛔


☝1. Dulu, keBersamaan begitu Indah. Suami istri bisa saling Menatap wajah.
Tapi sekarang semua berubah krn Gadget. 
Saat menatap wajah, ternyata pasangan Anda sedang menatap gadget.


�� 2. Saat makan bersama, dulu bisa saling ber-cakap2. 
�� Kini, semua berubah..❗
Tangan kanan pegang Sendok, tangan kiri pegang Gagdet.


�� 3. Saat bersama di ruang tamu.
Dulu, saling bertanya khabar antar angg keluarga. 
Sekarang..❓ 
Anak main game di Tablet, Ayah sibuk melayani klien di BBM, dan Ibu sedang asyik bersosialita di facebook.


�� 4. Saat berada di dlm gereja dulu mendengarkan kotbah. Tak ada yg dirisaukan. 
Sekarang..❓
Duduk di gereja di depan pendeta.. Wajah menunduk.. Mata serius menatap gagdet dan tangan sibuk mengetik Keypad..


�� 5. Saat berada di dlm kamar, harusnya bisa asyik becanda dgn pasangan. ��
Tapi sekarang..❓


�� Yg satu menghadap tembok dgn tangan meraba screen gagdet, yg satu lagi juga melakukan hal yg sama.


�� 6. Saat berkunjung ke rumah sdr, dulu bisa becanda ketawa ketiwi.
Sekarang..❓
Meski perjalanan Jauh sdh ditempuh, smpe tiba di lokasi juga dihabiskan waktu utk Sibuk dgn gagdet sendiri.


�� 7. Bertamu di rumah orang, dulu disambut dgn wajah ceria dan bahagia. 
Ramah bisa ngobrol banyak hal. 
Sekarang...❓ 
Bertamu di rumah orang, disambi dgn membalas sms, menerima telp dan whatsap-an, sembari sekedar menjawab obrolan kita dengan ...
"oh gt ya.. iya.. Oh, bener itu. Owh." Garing.....��


�� 8. Sehabis doa dulu bisa tenang dan baca alkitab. Hati bisa connect ke ALLAH langsung. 
Kini..❓ 
Setelah doa, langsung meRogoh saku, gagdet pun diKeluarkan.


��9. Dulu, saat pasangan Curhat soal hatinya, dan pikiran Siap mendengarkan. Sekarang....❓
�� Saat pasangan curhat, Konsentrasi pada gadget, sedangkan telinga Pura2 mendengar.


�� 10. Saat anak mengeluh sesuatu, dulu kita jongkok memposisikan wajah kita tepat di wajahnya. 
Anak merasa disayang dan diperhatikan. 
Sekarang...❓
☝"Aduuhh Nak.. mama sedang sibuk. Masa gitu saja ngeluh, sih." Sembari ngetik obrolan di sosmed.
Bgmn dgn Kita? ����

kalau ini terjadi padamu,bertobat lah.�� have a blessed ..



Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

PESAN PRO LIFE DARI ST. YOHANES PAULUS II, PAUS BENEDIKTUS XVI DAN PAUS FRANSISKUS

St. Yohanes Paulus II (Ensiklik Evangelium Vitae): "Penerimaan aborsi dan eutanasia dalam pandangan populer, dalam perilaku dan bahkan dalam hukum sendiri menandakan dengan jelas adanya krisis kesadaran moral yang sangat berbahaya sekali. Orang semakin tidak mampu membedakan antara yang baik dan jahat, juga bila hak atas hidup dipertaruhkan. Mengingat gawatnya situasi itu, sekarang lebih dari sebelumnya, dibutuhkan keberanian untuk menatap kebenaran, dan membicarakan hal itu blak-blakan, tanpa menuruti kompromi-kompromi yang mengenakkan atau godaan yang mengelabui diri."

Paus Benediktus XVI (Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2013): "Jalan untuk mewujudkan kebaikan bersama dan perdamaian adalah pertama-tama menghormati hidup manusia dalam banyak aspeknya, mulai dari pembuahan, pertumbuhannya, sampai pada kematiannya yang alami. Hidup seutuhnya adalah puncak dari perdamaian: sehingga, siapa saja menginginkan perdamaian tidak dapat mentolerir serangan-serangan dan kejahatan-kejahatan melawan kehidupan." 

Paus Fransiskus (Pesan untuk Perkumpulan Dokter Katolik): "Praktek Aborsi, Eutanasia dan Bayi tabung adalah sikap belas-kasih yang palsu. Ideologi yang mendominasi saat ini menganggap aborsi sebagai bantuan kepada wanita, eutanasia sebagai sikap bermartabat, dan keberhasilan ilmu untuk "memproduksi" anak dilihat sebagai suatu hak daripada menerimanya sebagai karunia. Tetapi semua itu adalah sikap belas-kasih yang palsu." 

(Shirley Hadisandjaja)

(APIK)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Senin, 27 April 2015

Surat Uskup Agung Mgr. Ignatius Suharyo Untuk para Imam di KAJ: “GEREJA KATOLIK MENOLAK HUKUMAN MATI”

Surat Uskup Agung

Untuk para Imam di KAJ

Para Rama yth,

  1. Pada hari-hari ini, televisi, koran dan mass media lain, penuh dengan berita mengenai hukuman mati. Saya pribadi amat sedih setiap kali melihat atau membaca berita itu dan diberitakan dengan cara yang bagi saya mencederai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam suasana seperti ini saya mengajak para Rama untuk menjelaskan kepada umat pandangan Gereja mengenai hal ini dan mengajak mereka berdoa untuk para terpidana.
  2. Katekismus Gereja Katolik menyatakan : Pembelaan kesejahteraan umum masyarakat menuntut agar penyerang dihalangi untuk menyebabkan kerugian. Karena alasan ini, maka ajaran Gereja sepanjang sejarah mengakui keabsahan hak dan kewajiban dari kekuasan politik yang sah, menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan beratnya kejahatan, tanpa mengecualikan hukuman mati dalam kejadian-kejadian yang serius (KGK 2266). Menurut Katekismus ini, hukuman mati diperbolehkan dalam kasus-kasus yang sangat parah kejahatannya. Namun, apabila terdapat cara lain untuk melindungi masyarakat dari penyerang yang tidak berperi-kemanusiaan, cara-cara lain ini lebih dipilih daripada hukuman mati karena cara-cara ini dianggap lebih menghormati harga diri seorang manusia dan selaras dengan tujuan kebaikan bersama (bdk KGK 2267). Di sini terjadi peralihan tentang konsep hukuman mati bagi Gereja. KGK 2267 ini diambil dari ensiklik Paus Yohanes Paulus II Evangelium Vitae.
  3. Dalam ensiklik Evangelium Vitae yang diterbitkan tahun 1995, Paus Yohanes Paulus II menghapuskan status persyaratan untuk keamanan publik dari hukuman mati ini dan menyatakan bahwa, dalam masyarakat modern saat ini, hukuman mati tidak dapat didukung keberadaannya. Berikut kutipannya:

"Adalah jelas bahwa untuk tercapainya maksud-maksud ini, jenis dan tingkat hukuman harus dengan hati-hati dievaluasi dan diputuskan, dan tidak boleh dilaksanakan sampai ekstrim dengan pembunuhan narapidana, kecuali dalam kasus-kasus keharusan yang absolut: dengan kata lain, ketika sudah tidak mungkin lagi untuk melaksanakan hal lain untuk membela masyarakat luas. Selanjutnya ditegaskan, Namun demikian, dewasa ini, sebagai hasil dari perkembangan yang terus menerus dalam hal pengaturan sistem penghukuman, kasus-kasus sedemikian (kasus-kasus yang mengharuskan hukuman mati) adalah sangat langka, jika tidak secara praktis disebut sebagai tidak pernah ada." (EV 56). Dengan demikian Gereja Katolik tidak mendukung hukuman mati.

  1. Salah satu orang yang sudah dijatuhi hukuman mati adalah Mary Jane Fiesta Veloso orang Katolik dari Filipina, berumur 30 tahun, ibu dari dua anak Sekolah Dasar. Sejak berumur 14 tahun, Mary Jane bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya, ia menjadi tenaga kerja wanita Filipina di Malaysia. Di situ, ibu agen tenaga kerja menghadiahi Mary Jane sebuah koper; dan kemudian agen tenaga kerja menugasi Mary Jane, menemui seorang teman di Yogya. Di situ, polisi menemukan bahan narkoba amat banyak, tersembunyi dalam dinding koper lapis dua. Mary Jane bersikeras: tidak tahu menahu mengenai isi koper itu. Tidak ada bukti untuk menuduh Mary Jane bahwa bohong. Namun semua pengadilan di Indonesia mempidana Ibu Mary Jane dengan hukuman mati. Kini permintaan untuk peninjauan kembali, telah ditolak; maka bersama sembilan orang terpinda Mary Jane menghadapi eksekusi.
  2. Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia sekarang ini juga sedang meng-advokasi seorang yang sudah dijatuhi hukuman mati dalam kasus yang serupa. Menurut kesaksian keluarga dan saksi-saksi lain, aparat salah menangkap orang.
  3. Saya minta para Rama semua untuk mengajak seluruh umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta berdoa bagi Ibu Mary Jane dan kesembilan orang lain, juga untuk negara kita dan Gereja di Indonesia.

Doa ini mohon dipanjatkan di seluruh Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta dalam DOA UMAT PADA HARI MINGGU kalau dan setelah eksekusi mati jadi dilaksanakan. Kita tetap berdoa, agar eksekusi mati tidak dilaksanakan dan selanjutnya hukuman mati dihapuskan dari sistem hukum di Indonesia.

  1. Berikut usul doa umat itu :

I. PadaMu, ya Allah kehidupan, kami mengarahkan hati untuk mendapatkan kekuatan dan andalan dalam kebimbangan kami, untuk memperoleh terang kalau kami buta, kecewa dan marah, untuk dapat menghirup perikemanusiaan dalam perseteruan kami.

L. Ya Allah, dari kelimpahan hidup-Mu Engkau menciptakan segala yang hidup.

U. Bangkitkanlah tanggungjawab kami untuk memelihara kehidupan dan mengalahkan kekerasan.

L. Ya Allah, dengan tekun dan setia Engkau berbagi kehidupan dengan umat manusia; dan Yesus, utusan-Mu, Engkau bangkitkan, setelah Dia dihukum oleh bangsa-Nya dan dieksekusi oleh yang berkuasa.

U. Gerakkanlah kebersamaan kami dengan solidaritas dan jiwailah pemimpin-pemimpin kami, supaya mereka mempersatukan kami, tanpa mengorbankan hidup siapa pun.

L. Ya Allah, Engkau menggairahkan umat-Mu menjadi pembawa kabar gembira dan penjaring dalam lingkungan persaudaraan.

U. Semoga dengan kekuatan-Mu, jemaat beriman menjadi tempat terbuka dan mampu memberi maaf kepada saudara-saudara yang bersalah dan para pemimpin umat menjadi pembela dan pendamping mereka yang terhukum.

L. Ya Allah, dengan mengenakan hukuman mati, negara kami mau melawan semua ulah yang memusnahkan hidup dan merusak perikemanusiaan. Namun tindakan ini tidak menyelesaikan masalah-masalah kami dan hanya menambahkan kekerasan.

U. Bimbinglah kami, para warga dan para pemimpin, untuk menemukan dan menempuh jalan persaudaraan untuk semua.

L. Ya Allah yang kekal, demi hukum positif, Ibu Mary Jane dan sembilan orang senasib dia, harus meninggalkan kami dan meninggal dunia karena dihukum mati.

U. Ya Allah yang adil, sambutlah mereka semua dalam keadilan-Mu dan penuhilah hidup mereka dengan kemuliaan-Mu.

I. Demikianlah permohonan kami, ya Allah, demi Yesus Kristus yang taat sampai mati di salib dan yang Engkau tinggikan di sisi-Mu, menjadi pengantara kami dan semua orang.

U.  Amin.

8. Sementara itu kampanye untuk menghapus hukuman mati di Indonesia akan terus dilancarkan, meskipun kita tahu perjuangan ini akan memakan waktu, tenaga, pengorbanan yang tidak sedikit. Kita dukung berbagai komunitas yang dengan gigih, memperjuangkan penghapusan hukuman mati, tanpa kecewa kalau gagal.

9. Terima kasih atas kerjasama para Rama sekalian. Semoga hidup manusia semakin dihormati dan martabatnya semakin dijunjung tinggi.

Selamat Paskah,
+ I. Suharyo



Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 07 Januari 2015

Paus Fransiskus: Saya Percaya Tuhan, tetapi Bukan Tuhan Katolik

Paus Fransiskus kembali membuat pernyataan yang mencengangkan. Dalam wawancara dengan harian terbitan Italia, La Repubblica, Paus asal Argentina itu menjelaskan keyakinannya akan Tuhan.


"Saya percaya akan Tuhan, tetapi bukan (kepada) Tuhan Katolik," kata Paus kepada pendiri dan mantan editor harian La Repubblica, Eugenio Scalfari.

Scalfari yang sudah cukup terkejut mendapatkan kesempatan wawancara pribadi dengan Paus, semakin terkejut dengan pernyataan itu. Lalu, Scalfari meminta Paus untuk mengelaborasi pernyataannya itu.

"Tuhan bukan Katolik. Tuhan adalah universal, dan kita adalah umat Katolik karena cara kita memuja Dia," ujar Paus.

Lebih jauh Paus Fransiskus menjelaskan bahwa sebagai pemimpin umat Katolik, dia memercayai Tuhan dan Yesus Kristus sebagai inkarnasi Tuhan.

"Yesus adalah guru dan pemimpin saya. Tetapi Tuhan, Bapa, adalah cahaya dan Sang Pencipta. Itulah yang saya yakini. Apakah menurut Anda keyakinan kita jauh berbeda?" tanya Paus kepada Scalfari.

Paus berusia 76 tahun ini menambahkan, dia tak selalu sepakat dengan apa yang selama ini menjadi standar Gereja Katolik.

"Pandangan Vatikan sentris telah mengabaikan dunia di sekitar kita. Saya tak sepakat dengan cara ini, dan saya akan lakukan apa pun untuk mengubahnya," Paus menegaskan.

Sejak terpilih menjadi pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus terbukti menjadi seorang Paus beraliran liberal. Bahkan dia bersikap lebih lunak terhadap hal-hal yang selama ini ditentang keras Vatikan seperti homoseksualitas dan ateisme.

Sumber: ‎http://internasional.kompas.com/read/2013/10/08/2338024/Paus.Fransiskus.Saya.Percaya.Tuhan.tetapi.Bukan.Tuhan.Katolik# 


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 26 November 2014

Pesan Natal Bersama KWI-PGI Tahun 2014: Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga



BERJUMPA DENGAN ALLAH DALAM KELUARGA

“Mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu” (Luk 2:16)



Dalam perayaan Natal tahun ini, kami mengajak seluruh umat Kristiani untuk menyadari kehadiran Allah di dalam keluarga dan bagaimana keluarga berperan penting dalam sejarah keselamatan. Putera Allah menjadi manusia. Dialah Sang Imanuel; Tuhan menyertai kita. Ia hadir di dunia dan terlahir sebagai Yesus dalam keluarga yang dibangun oleh pasangan saleh Maria dan Yusuf.

Melalui keluarga kudus tersebut, Allah mengutus Putera Tunggal-Nya ke dalam dunia yang begitu dikasihi-Nya. Ia datang semata-mata untuk menyelamatkan manusia dari kekuasaan dosa. Setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi akan memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16-17).



Natal: KelahiranPutera Allah dalamKeluarga

Kelahiran Yesus menguduskan keluarga Maria dan Yusuf dan menjadikannya sumber sukacita yang mengantar orang berjumpa dengan Allah. Gembala datang bergegas menjumpai keluarga Maria, Yusuf, dan Yesus yang terbaring dalam palungan. Perjumpaan itu menyebabkan mereka pulang sebagai kawanan yang memuliakan Allah (Luk 2: 20). Orang-orang Majus dari Timur sampai pada Yesus dengan bimbingan bintang, tetapi pulang dengan jalan yang ditunjukkan Allah dalam mimpi (Mat 2: 12). Perjumpaan dengan Yesus menyebabkan orientasi hidup para gembala dan Majus berubah. Mereka kini memuji Allah dan mengikuti jalan-Nya.

Natal merupakan sukacita bagi keluarga karena Sumber Sukacita memilih hadir di dunia melalui keluarga. Sang Putera Allah menerima dan menjalani kehidupan seorang manusia dalam suatu keluarga. Melalui keluarga itu pula, Ia tumbuh dan berkembang sebagai manusia yang taat pada Allah sampai mati di kayu salib. Di situlah Allah yang selalu beserta kita turut merasakan kelemahan-kelemahan kita dan kepahitan akibat dosa walaupun ia tidak berdosa (bdk. Ibr. 4:15).

Keluarga sebagai Tanda Kehadiran Allah

Allah telah mempersatukan suami-istri dalam ikatan perkawinan untuk membangun keluarga kudus. Mereka dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran Allah bagi satu sama lain dalam ikatan setia dan bagi anak-anaknya dalam hubungan kasih. Keluarga merekapun menjadi tanda kehadiran Allah bagi sesama. Berkat perkawinan Kristen, Yesus, yang dahulu hadir dalam keluarga Maria dan Yusuf, kini hadir juga dalam keluarga kita masing-masing. Allah yang bertahta di surga tetap hadir dalam keluarga dan menyertai para orangtua dan anak-anak sepanjang hidup.

Dalam keluarga, sebaiknya Firman Tuhan dibacakan dan doa diajarkan. Sebagai tanggapan atas Firman-Nya, seluruh anggota keluarga bersama-sama menyampaikan doa kepada Allah, baik yang berupa pujian, ucapan syukur, tobat, maupun permohonan. Dengan demikian, keluarga bukan hanya menjadi rumah pendidikan, tetapi juga sekolah doa dan iman bagi anak-anak.

Dalam Perjanjian Lama kita melihat bagaimana Allah yang tinggal di surga hadir dalam dunia manusia. Kita juga mengetahui bahwa lokasi yang dipergunakan untuk beribadah disebut tempat kudus karena Allah pernah hadir dan menyatakan diri di tempat itu untuk menjumpai manusia. Karena Sang Imanuel lahir dalam suatu keluarga, keluargapun menjadi tempat suci. Di situlah Allah hadir. Keluarga menjadi ”bait suci”, yaitu tempat pertemuan manusia dengan Allah.

Tantangan Keluarga Masa Kini

Perubahan cepat dan perkembangan dahsyat dalam berbagai bidang bukan hanya memberi manfaat, tetapi juga membawa akibat buruk pada kehidupan keluarga. Kita jumpai banyak masalah keluarga yang masih perlu diselesaikan, seperti kemiskinan, pendidikan anak, kesehatan, rumah yang layak, kekerasan dalam rumah tangga, ketagihan pada minuman dan obat-obatan terlarang, serta penggunaan alat komunikasi yang tidak bijaksana. Apalagi ada produk hukum dan praktek bisnis yang tidak mendukung kehidupan seperti pengguguran, pelacuran, dan perdagangan manusia. Permasalahan-permasalahan tersebut mudah menyebabkan konflik dalam keluarga. Sementara itu, banyak orang cenderung mencari selamat sendiri; makin mudah menjadi egois dan individualis.

Dalam keadaan tersebut, keluhuran dan kekudusan keluarga mendapat tantangan serius. Nilai-nilai luhur yang mengekspresikan hubungan cinta kasih, kesetiaan, dan tanggungjawab bisa luntur. Saat-saat kudus untuk beribadat dan merenungkan Sabda Allah mungkin pudar. Kehadiran Allah bisa jadi sulit dirasakan. Waktu-waktu bersama untuk makan, berbicara, dan berekreasipun menjadi langka. Pada saat itu, sukacita keluarga yang menjadi dasar bagi perkembangan pribadi, kehidupan menggereja, dan bermasyarakat tak mudah dialami lagi.

Natal: Undangan Berjumpa dengan Allah dalamKeluarga

Natal adalah saat yang mengingatkan kita akan kehadiran Allah melalui Yesus dalam keluarga. Natal adalah kesempatan untuk memahami betapa luhurnya keluarga dan bernilai- nya hidup sebagai keluarga karena di situlah Tuhan yang dicari dan dipuji hadir. Keluarga sepatutnya menjadi bait suci di mana kesalahan diampuni dan luka-luka disembuhkan.

Natal menyadarkan kita akan kekudusan keluarga. Keluarga sepantasnya menjadi tempat di mana orang saling menguduskan dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan dan saling mengasihi dengan cara peduli satu sama lain. Para anggotanya hendaknya saling mengajar dengan cara berbagi pengetahuan dan pengalaman yang menyelamatkan. Mereka sepatutnya saling menggembalakan dengan memberi teladan yang baik, benar, dan santun.

Natal mendorong kita untuk meneruskan sukacita keluarga sebagai rumah bagi setiap orang yang sehati-sejiwa berjalan menuju Allah, saling berbagi satu sama lain hingga merekapun mengalami kesejahteraan lahir dan batin. Natal mengundang keluarga kita untuk menjadi oase yang menyejukkan, di mana Sang Juru Selamat lahir. Di situlah sepantasnya para anggota keluarga bertemu dengan Tuhan yang bersabda: ”Datanglah kepadaKu, kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat 11: 29) Dalam keluarga di mana Yesus hadir, yang letih disegarkan, yang lemah dikuatkan, yang sedih mendapat penghiburan, dan yang putus asa diberi harapan.

Kami bersyukur atas perjuangan banyak orang untuk membangun keluarga Kristiani sejati, di mana Allah dijumpai. Kami berdoa bagi keluarga yang mengalami kesulitan supaya diberi kekuatan untuk membuka diri agar Yesus pun lahir dan hadir dalam keluarga mereka.

Marilah kita menghadirkan Allah dan menjadikan keluarga kita sebagai tempat layak untuk kelahiran Sang Juru Selamat. Di situlah keluarga kita menjadi rahmat dan berkat bagi setiap orang; kabar sukacita bagi dunia.


SELAMAT NATAL 2014 DAN TAHUN BARU 2015



Jakarta, 21 November 2014

Atas nama

Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, Konferensi Waligereja Indonesia,

Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe                    Mgr. Ignatius Suharyo
Ketua Umum                                                K e t u a

Pdt. Gomar Gultom                                     Mgr. Johannes Pujasumarta
Sekretaris Umum                                        Sekretaris Jenderal

Sumber: http://www.mirifica.net/2014/11/26/pesan-natal-bersama-kwi-pgi-tahun-2014/