Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Jumat, 25 November 2016

Usai Sholat Jumat, Ormas Islam Kepung Gereja Katolik Santa Clara Bekasi


(Foto : Istimewa)

JAKARTA (netralitas.com) – Ormas Islam yang menamakan dirinya Majlis Silaturrahim Umat Islam Bekasi (MSUIB) hari ini, Jumat (25/11) akan mengepung Gereja Katolik Santa Clara Bekasi, usai melakukan sholat Jumat. Mereka menentang pembangunan Gereja Katolik dan menilai pembangunan gereja merupakan bentuk kemungkaran yang harus dilawan.

"Saudara-saudaraku segala upaya persuasif dan birokrasi telah kita tempuh dalam menolak pendirian Gereja Santa Clara di Jalan Kaliabang Raya Harapan Baru Bekasi Utara, akan tetapi sampai hari ini pembangunan terus berjalan," kata Koordinator unjuk rasa Ustad Suhendi Syahroni melalui selebaran.

Adapun tuduhan yang disampaikan Ormas Islam ini antara lain :

1. Gereja Katolik Santa Clara melakukan manipulasi data.

2. Gereja Katolik Santa Clara melakukan penipuan.

3. Lokasi tidak sesuai dengan perizinan.

4. Berlawanan dengan kearifan lokal.

5. Dan sederet alasan lain.

"Bukti Gereja Santa Clara tidak mengindahkan aturan pendirian yang benar dan cenderung memaksakan kehendak, bukti yang minoritas tidak menghormati yang mayoritas. Oleh karena kami mengajak saudara-saudara umat Islam melakukan aksi unjuk rasa. Mari kita luruskan kemungkaran yang sengaja diperbuat oleh walikota Bekasi dan Santa Clara. Saudaraku apakah kita akan berpangku tangan melihat kemungkaran yang ada di depan mata kita," kata Suhendi.

Seperti diketahui Walikota Bekasi Rahmat Effendi melalui keputusan yang telah disetujui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) telah menerbitkan Surat Keputusan Wali Kota yang merekomendasikan Pembangunan Gereja Katolik Santa Clara sebagai dasar terbitnya SPIMB, pada 15 Juni 2015.

Selain itu, pendirian juga memenuhi semua aspek legalitas pendirian gereja yang tertera dalam Peraturan Bersama Menag dan Mendagri (PBM) No. 9 dan 8 tahun 2006. Regulasi tersebut mensyaratkan adanya pemberian rekomendasi dari Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) setempat. Sesuai dengan verifikasi ke lapangan yang dilakukan FKUB, didapatkan bukti semua persyaratan telah terpenuhi. Antara lain izin ke warga di lingkungan sekitar gereja minimal 60 orang, serta jemaan gereja menimal 90 orang.

Adapun data akurat yang dimiliki Gereja Katolik Santa Clara antara lain :

1. Jumlah umat Gereja Katolik Santa Clara mencapai 9.422 jiwa yang tersebar di Bekasi Utara.

2. Memperoleh IMB pada Juni 2015 setelah menempuh proses selama 17 tahun.

3. Seluruh persyaratan dipenuhi dengan baik dan benar serta memiliki dokumentasi yang rapi.

4. Gereja Santa Clara bukan gereja terbesar se-Asia.

5. Luas tanahnya hanya 6.500 m2.

6. Di tanah tersebut akan dibangun gereja seluas 1.500 m2, rumah pastoran dan balai pengobatan untuk masyarakat umum.

7. Gereja adalah relokasi atau pindahan dari Ruko Wisma Asri ke tempat yang legal dan formal.

Penulis : Sigit Wibowo

Editor : Sigit Wibowo (sigitwibowo@netralitas.com)

Sumber: Netralitas.com
Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Kamis, 10 November 2016

PESAN NATAL BERSAMA PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJA DI INDONESIA (PGI) DAN KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA (KWI) Tahun 2016

"HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN, DI KOTA DAUD"
(Lukas 2:11)

Saudari-Saudara umat Kristiani di Indonesia,

Setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud" (Luk 2:11).

Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi. Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun.

Dalam perjuangan mengatasi masalah-masalah seperti itu, kehadiran Juruselamat di dunia ini memberi kekuatan bagi kita. Penyertaan-Nya menumbuhkan sukacita dan harapan kita dalam mengusahakan hidup bersama yang lebih baik. Oleh karena itu, kita merayakan Natal sambil berharap dapat menimba inspirasi, kekuatan dan semangat baru bagi pelayanan dan kesaksian hidup, serta memberi dorongan untuk lebih berbakti dan taat kepada Allah dalam setiap pilihan hidup.

Saudari-saudara terkasih,

Kita akan segera meninggalkan tahun 2016 dan masuk tahun 2017. Ada hal-hal penting yang perlu kita renungkan bersama pada peristiwa Natal ini. Sebagai warga negara kita bersyukur bahwa upaya pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia semakin memberi harapan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan yang merata. Walaupun belum sesuai dengan harapan, kita sudah menyaksikan adanya peningkatan dan perbaikan pelayanan publik, penegakan hukum, pembangunan infrastruktur, dan peningkatan kualitas pendidikan. Kita dapat memandangnya sebagai wujud nyata sukacita iman sebagaimana diwartakan oleh malaikat kepada para gembala, "aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa" (Luk 2:10).

Memang harus kita akui bahwa masih ada juga segi-segi kehidupan bersama yang harus terus kita perhatikan dan perbaiki. Misalnya, kita kadang masih menghadapi kekerasan bernuansa suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Masalah korupsi dan pungli juga masih merajalela, bahkan tersebar dari pusat hingga daerah. Kita juga menghadapi kemiskinan yang sangat memprihatinkan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa angka kemiskinan per Maret 2016 masih sebesar 28,01 juta jiwa. Keprihatinan lain yang juga memerlukan perhatian dan keterlibatan kita untuk mengatasinya adalah peredaran dan pemakaian narkoba. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2015 memperlihatkan bahwa pengguna narkoba terus meningkat jumlahnya. Pada periode Juni hingga November 2015 terjadi penambahan sebesar 1,7 juta jiwa, dari semula 4,2 juta menjadi 5,9 juta jiwa. Semakin banyaknya pengguna narkoba itu tidak lepas dari peran produsen dan pengedar yang juga bertambah.

Kita juga harus bekerja keras untuk mendewasakan dan meningkatkan kualitas demokrasi. Penyelenggaraan Pemilu merupakan salah satu sarananya, seperti Pemilihan Umum Kepala Daerah serentak (Pilkada serentak) yang akan dilaksanakan tanggal 15 Februari 2017 di 101 daerah terdiri atas 7 provinsi, 76 kabupaten, dan 18 kota. Peristiwa itu akan menjadi ujian bagi partisipasi politik masyarakat dan peningkatan kualitas pelaksana serta proses penyelenggaraan pesta demokrasi tersebut.

Tantangan-tantangan tersebut, sebagaimana juga masalah lainnya, harus kita hadapi. Jangan sampai persoalan-persoalan sosial dan kemanusiaan itu membuat kita merasa takut. Kepada kita, seperti kepada para gembala, malaikat yang mewartakan kelahiran Yesus mengatakan "jangan takut" (Luk 2:10).

Saudari-saudara terkasih,

Marilah kita jadikan tantangan-tantangan tersebut kesempatan untuk mengambil prakarsa dan peran secara lebih nyata dalam menyikapi berbagai persoalan hidup bersama ini. Kita ciptakan hidup bersama yang damai dengan terus melakukan dialog. Kita lawan korupsi dan pungli dengan ikut aktif mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran pembangunan. Kita atasi problem kemiskinan, salah satunya dengan meningkatkan semangat berbagi. Kita lawan narkoba dengan ikut mengupayakan masyarakat yang bebas dari narkoba, khususnya dengan menjaga keluarga kita terhadap bahaya barang terlarang dan mematikan itu.

Kita tingkatkan kualitas demokrasi kita melalui keterlibatan penuh tanggungjawab dengan menggunakan hak pilih dan aktif berperan serta dalam seluruh tahapan dan pelaksanaan Pilkada. Kita juga berharap agar penyelenggara Pilkada dan para calon kepala daerah menjunjung tinggi kejujuran dan bersikap sportif, menaati semua aturan yang sudah ditentukan dan aktif berperan menjaga kedamaian demi terwujudnya Pilkada yang berkualitas. Kita tolak politik uang. Jangan sampai harga diri dan kedaulatan kita sebagai pemilih kita korbankan hanya demi uang.

Kita syukuri kehadiran Yesus Kristus yang mendamaikan kembali kita dengan Allah. Inilah kebesaran kasih karunia Allah, sehingga kita layak disebut sebagai anak-anak Allah (1Yoh 2:1). Di dalam Yesus Kristus kita memperoleh hidup sejati dan memperolehnya dalam segala kelimpahan (Yoh 10:10). Kita syukuri juga berkat yang telah kita terima sepanjang tahun yang segera berlalu.

Kita sampaikan berkat sukacita kelahiran Yesus Kristus ini kepada sesama kita dan seluruh ciptaan. Kita mewujudkan karya kebaikan Allah itu melalui perhatian dan kepedulian kita terhadap berbagai keprihatinan yang ada dengan aktif mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dan yang ramah lingkungan. Dengan demikian, perayaan kelahiran Yesus Kristus ini dapat menjadi titik tolak dan dasar bagi setiap usaha kita untuk lebih memuliakan Allah dalam langkah dan perbuatan kita.

 

SELAMAT NATAL 2016  dan TAHUN BARU 2017

Jakarta, 10 November 2016

PERSEKUTUAN GEREJA-GEREJADI INDONESIA,
Pdt Dr Henriette T.H. Lebang//Ketua Umum
Pdt Gomar Gultom M.Th//Sekretaris Umum

KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,
Mgr. Ignatius Suharyo//K e t u a
Mgr. Antonius S. Bunjamin OSC//Sekretaris Jenderal


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Selasa, 20 September 2016

‎❣KISAH NYATA : Hidup Bocah Polos

‎❣KISAH NYATA : Hidup Bocah Polos
 "ZHANG TA" Menginspirasi Banyak Orang...

❣"Zhang Da" Seorg bocah yg harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia...

❣Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, "Zhang Da" harus menerima kenyataan ibunya
lari dari rumah...

❣Sang Ibu kabur karena tdk tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya...

❣Yang lebih tragis lagi, si ibu pergi karena merasa tdk sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tdk berdaya, dan tanpa harta...

❣Dan ia tdk mau menafkahi keluarganya...

❣Maka "Zhang Da" yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga...

❣Ia harus mengurus Ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang Ayah, mencuci pakaian, dan  mengobatinya, dan mengurus rumahnya. 
Yang patut dihargai, "Zhang Da" tak mau putus sekolah. Setelah mengurus Ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu...

❣Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur2 untuk berhemat...

❣Tidak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalamannya ...

❣Ketika satu tumbuhan merasa tdk cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut...

❣Sangat beruntung karena ia tidak memakan daun2
 atau jamur yang beracun...

❣Usai sekolah, dia bekerja sampingan agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah ...

❣"Zhang Da" bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu...

❣Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari...

❣"Zhang Da" ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tdk hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan...

❣Karena tdk mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntiknya ...

❣Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah...

❣Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun...

❣Rupanya kegigihan "Zhang Da" yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat...

❣Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional...

❣Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama "Zhang Da". Ternyata ia menjadi Pemenang termuda...

❣Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional...

❣"Zhang Da" si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak...

❣Dia menjawab: "Hidup ini harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan...

❣Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab," katanya...

❣Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus.

❣Pembawa acara menanyainya lagi. "Zhang Da" sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan...

❣Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana...

❣Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir...

❣Saat ini juga ada Ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!" papar pembawa acara...

❣"Zhang Da" terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. "Sebut saja!" katanya menegaskan.

❣"Zhang Da" yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar...

❣Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan "Zhang Da"

❣"Saya hanya mau "Mama saya kembali" Mama kembalilah ke rumah... aku skrg bisa  membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!" ...😂

❣kata "Zhang Da" yang disambut tetesan air mata setiap penonton...😂

❣"Zhang Da" tidak meminta hadiah uang atau materi dll, dgn ketulusannya dia sangat berbakti kepada orangtuanya..

❣Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya...

❣Di mata "Zhang Da"  mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu (mama) dan kasih sayangnya, itu tidak ternilai harganya, dan tidak dpt dibeli dg apapun juga...

❣Semua di dunia ini dicari bisa dapat ... tetapi satu yg tidak bisa dicari atau diganti yaitu: MAMA.

❣Apapun kesalahan dia, atau Dosa ...dia tetap seorg Ibu... 
Surga ada dibawa telapak kaki ibu...

❣Dengan susah payah dia berjuang antara mati dan hidup hanya utk saya bisa  lahir ke dunia ini...

❣Pesan dr "Zhang Da" kasihi dan cintai ibumu, jangan sampai suatu hari nanti... engkau tidak dapat melihatnya lagi...

☝Ingat Penyesalan biasanya datang terlambat...!!!

❣Berbahagialah bila siapa yg masih mempunya Ibu, jangan sia2kan dia ...

❣Seperti saya ingin dan rindu mau ketemu ibu, tetapi dia tidak pernah kembali lagi😂 😭😂

Pesan Moral:

😭 Jangan menangisi yang sudah hilang,  👏berdoalah atas apa yang masih ada...

😭 Jangan menangisi yang sudah meninggal, 👏berdoalah atas apa yg terlahir dalam dirimu...

😭 Jangan menangisi karena orang yang  meninggalkanmu, 👏berdoalah utk yg sekarang ada bersamamu...

😭 Jangan menangisi karena orang membencimu, 👏berdoalah untuk mereka yg menyukaimu...

😭 Jangan menangisi masa lalu, 👏berdoalah utk masa kini dengan segala tantangan2nya...

😭 Jangan menangisi penderitaan, 👏berdoalah atas kebahagian yg ada...

❣Dengan segala Perkara yg ada dlm hidup kita, mulailah belajar bahwa tidak ada hal perihal yg mustahil yg tdk dapat diselesaikan...

❣teruslah maju 🚶melangkah ke depan... jangan melihat yang dibelakang ...👌
GOD bless  🙏🏼


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Jumat, 01 Juli 2016

SEJARAH GEREJA ARMENIA

Ketika Paus Fransiskus berangkat pada Jumat ini 24 Juni 2016 ke Armenia, kantor berita Vatikan menawarkan sejarah singkat Gereja di sana.

Sebuah tanah biblis, Armenia dikutip dalam Perjanjian Lama dengan nama "Kerajaan Urartu" (Ararat). Di kaki bukit pegunungannya, Nuh membudidayakan tanaman anggur dan menjadikan minuman yang memabukkan anggur yang ia hasilkan. Berkat terjemahan Armenia Injil apokrif, kita tahu nama tiga orang Majus : Melkhior, Kaspar dan Balthazar. Meskipun menurut tradisi rasul Bartolomeus dan Yudas Tadeus adalah penginjil di Armenia, ada kemungkinan itu malahan karya para misionaris Suriah dan Kapadokia. Dalam hal apapun, itu amatlah berhasil bahwa dalam tahun 301, berkat kerasulan Santo Gregorius Sang Penerang, Armenia menjadi negara pertama yang memeluk agama Kristen dan menyatakannya agama negara, bahkan sebelum Edik Milano tahun 313, yang olehnya Kekaisaran Romawi mentolerir Kekristenan, dan Edik Teodosius yang olehnya pada tahun 380 Kekaisaran Romawi mengakui Kekristenan sebagai agama negara.

Awalnya dikelompokkan bersama Gereja Metropolitan Kaisarea Kapadokia, di wilayah Romawi, Gereja Armenia menyatakan otonominya pada awal abad kelima, di bawah yurisdiksi seorang patriark yang memangku gelar Katolikos, semula dikaitkan dengan kepala sebuah jemaat Kristen di luar perbatasan Kekaisaran Romawi-Bizantium - atau lebih tepatnya, di luar yurisdiksi para patriark. Para pemimpin Gereja Armenia, Nestorian dan Georgia melestarikan gelar ini. Sejak abad ke-4 dan seterusnya lembaga-lembaga gerejawi Armenia diperkokoh dan liturgi menerima bentuknya, sangat dipengaruhi oleh ritual kuno Yerusalem. Pada saat yang sama huruf abjad Armenia lahir, secara tradisional dikaitkan dengan biarawan Mesrop (360,440), yang memungkinkannya diterjemahkan ke dalam bahasa nasional teks-teks liturgi yang sebelumnya ditulis hanya dalam bahasa Yunani dan Suriah.

Gereja Armenia dan Gereja Katolik terpecah setelah Konsili Kalsedon (451), yang menetapkan dua kodrat Kristus, manusiawi dan ilahi. Kepatuhan terhadap monofisitisme (satu kodrat) dari Gereja Armenia dikukuhkan dalam dua konsili nasional berturutan yang diadakan pada tahun 506 dan 551.

Masa keemasan arsitektur keagamaan Armenia dimulai pada abad keenam dan ketujuh, ketika sejumlah biara dibangun di pegunungan, dan pusat-pusat keagamaan dan budaya yang besar dibuat. Sebuah contoh estetika keagamaan Armenia yang tetap ada saat ini dalam bentuk salib-salib batu yang besar (Khatch'kar) yang dibentuk dari sebuah batu besar atau tugu peringatan dari batu kapur dengan sebuah salib yang besar sekali pada bagian tengahnya, dengan berbagai hiasan yang beraneka ragam.

Pada abad kesebelas, keterbukaan terhadap Roma dimulai. Katolikos Gregorius II melakukan sebuah peziarahan ke Roma untuk menghormati relikui rasul Petrus dan Paulus, dan dalam tahun-tahun berikutnya banyak Katolikos mengakui Paus sebagai Penerus Santo Petrus. Sejak tahun 1205, sejumlah Katolikos menerima palium di Roma. Pada abad keempat belas para misionaris Fransiskan dan Dominikan tiba di Armenia dan mendirikan pusat-pusat keagamaan, tetapi masalah dengan hirarki lokal menyebabkan keretakan hubungan pada tahun 1441, tahun yang di dalamnya hirarki Armenia terbagi dua, Sis dan Etchmiadzin. Pada abad kedelapan belas ada kesadaran kembali keagamaan dan budaya berkat imam Mekhit'ar yang, setelah memeluk agama Katolik, mendirikan sebuah kongregasi di Konstantinopel tetapi dianiaya dan mencari perlindungan di pulau Santo Lazarus di Venesia. Tahun tahun 1740 sebuah sinode para uskup Armenia berkumpul di Roma untuk memilih patriark Katolik pertama ritus Armenia, yang didirikan untuk sementara waktu di Kraim, Lebanon; pada tahun 1742 sebuah kedudukan baru patriarkat Katolik Armenia dilembagakan di Bzommar, Lebanon. Ia dipindahkan ke Konstantinopel pada tahun 1866 tetapi kembali ke Bzommar pada tahun 1925, di mana ia bertahan sampai hari ini. Katolikos saat ini adalah Grégoire Pierre XX Ghabroyan, dan yurisdiksinya meluas ke seluruh umat Katolik Armenia Timur dan diaspora.

Gereja Armenia berdaulat dan mengangkat sendiri pemimpinnya, serta menetapkan dirinya sebagai apostolik karena ia menapaki asal-usulnya Rasul Tadeus dan Bartolomeus. Ia memelihara hubungan baik dalam semangat ekumenis dengan Gereja Ortodoks, Katolik dan Protestan, dan memiliki pemimpinnya sendiri, Katolikos, sepenuhnya berdaulat terhadap hierarki-hirarki gerejawi dari pengakuan-pengakuan iman lainnya. Asal usulnya berawal dari skisma Konsili Ekumenis tahun 451. Gereja Armenia menetapkan dirinya sebagai Ortodoks maupun Katolik, karena ia menganggap dirinya sebuah ungkapan iman Kristen yang benar dan sebuah uangkapan universalitas Gereja. Pada bulan Desember 1996, Santo Yohanes Paulus II dan Yang Mulia Katolikos Seluruh Armenia, Karekin II, menandatangani deklarasi bersama yang di dalamnya mereka menegaskan asal mula yang sama Gereja Armenia dan Gereja Katolik Roma.

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi dari :https://zenit.org/articles/a-history-of-the-armenian-church/)


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 29 Juni 2016

PESAN VIDEO PAUS FRANSISKUS: MENENTANG HUKUMAN MATI SEDUNIA KE-6 (OSLO - NORWEGIA, 21-23 JUNI 2016)


PESAN VIDEO PAUS FRANSISKUS UNTUK PARA PESERTA KONFERENSI MENENTANG HUKUMAN MATI SEDUNIA KE-6 (OSLO - NORWEGIA, 21-23 JUNI 2016)

Saya menyambut para penyelenggara Kongres Menentang Hukuman Mati Sedunia ini, kelompok negara-negara yang mendukungnya, terutama Norwegia sebagai negara tuan rumahnya, dan semua perwakilan pemerintah tersebut, organisasi internasional dan masyarakat sipil yang mengambil bagian di dalamnya. Saya juga menyampaikan penghargaan pribadi saya, bersama dengan laki-laki dan perempuan berkehendak baik, atas komitmen Anda untuk dunia yang bebas dari hukuman mati.

Salah satu tanda harapan yakni opini publik sedang mewujudkan perlawanan yang bertumbuh terhadap hukuman mati, bahkan sebagai sarana ketahanan sosial yang sah. Memang, saat ini hukuman mati tidak dapat diterima, namun kejahatan para terpidana gawat sifatnya. Ia adalah suatu pelanggaran terhadap tak dapat diganggu gugatnya kehidupan dan terhadap martabat manusia; ia juga bertentangan dengan rencana Allah bagi perorangan dan masyarakat, serta keadilan-Nya yang penuh kerahiman. Ia juga tidak sejalan dengan tujuan hukuman seadil apapun. Ia tidak memberikan keadilan bagi para korban, melainkan memupuk dendam. Perintah "Janganlah membunuh" memiliki nilai mutlak dan berlaku baik untuk orang yang tidak bersalah maupun orang yang bersalah.

Yubileum Luar Biasa Kerahiman adalah suatu kesempatan yang baik untuk mempromosikan seluruh dunia bentuk-bentuk rasa hormat yang sungguh lebih berkembang terhadap kehidupan dan martabat setiap orang. Tak boleh dilupakan hak yang tak dapat diganggu gugat dan yang diberikan Tuhan untuk hidup juga milik para pelaku kejahatan.

Hari ini saya akan mendorong semua orang untuk bekerja tidak hanya untuk penghapusan hukuman mati, tetapi juga untuk peningkatan kondisi narapidana, sehingga mereka sepenuhnya menghormati martabat mereka yang dipenjarakan. "Menyebabkan keadilan" tidak berarti mengusahakan hukuman untuk kepentingannya sendiri, tetapi memastikan bahwa tujuan dasar semua hukuman adalah rehabilitasi pelaku. Pertanyaan harus terhubungkan dalam kerangka yang lebih besar dari sebuah sistem peradilan pidana yang terbuka terhadap kemungkinan penempatan kembali pihak yang bersalah dalam masyarakat. Tidak ada hukuman yang pas tanpa harapan! Hukuman demi kepentingannya sendiri, tanpa ruang untuk harapan, adalah sebuah bentuk penyiksaan, bukan sebuah bentuk hukuman.

Saya percaya bahwa Kongres ini dapat memberikan dorongan baru terhadap upaya untuk menghapuskan hukuman mati. Karena alasan ini, saya mendorong semua orang ambil bagian untuk melakukan prakarsa besar ini dan saya meyakinkan mereka oleh doa-doa saya.

(dialihbahasakan oleh Peter Suriadi dari Radio Vatikan)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Rabu, 22 Juni 2016

PESAN VATIKAN KEPADA UMAT MUSLIM DALAM RANGKA BULAN RAMADHAN

Umat Kristen dan Umat Muslim:
Penerima Manfaat dan Alat Kerahiman Ilahi

Saudara dan saudari umat Muslim yang terkasih,

1. Bulan Ramadhan dan Idul Fitri merupakan sebuah acara keagamaan yang penting bagi umat Islam di seluruh dunia, yang berfokus pada puasa, doa dan perbuatan baik, dan dihargai oleh umat Kristen, sahabat-sahabat dan sesama Anda. Atas nama Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama dan umat Kristen di seluruh dunia, kami mengulurkan keinginan yang terbaik untuk puasa yang berpahala secara rohani, yang didukung oleh perbuatan baik, dan untuk pesta yang penuh sukacita.

Sebagaimana kebiasaan kami dihargai, kami ingin berbagi bersama Anda pada kesempatan ini beberapa permenungan dengan harapan memperkuat ikatan rohani yang kami bagikan.

2. Sebuah tema yang dekat dengan hati umat Muslim dan umat Kristen dan serupa adalah kerahiman.

Kita tahu bahwa baik Kekristenan maupun Islam percaya pada Allah yang berbelas kasih, yang menunjukkan kerahiman dan kasih sayang-Nya terhadap semua ciptaan-Nya, khususnya keluarga manusia. Ia menciptakan kita karena kasih yang sangat besar. Ia penuh belas kasih dalam merawat kita masing-masing, menganugerahkan kepada kita karunia-karunia yang kita butuhkan untuk kehidupan sehari-hari, seperti makanan, tempat tinggal dan keamanan. Kerahiman Allah diwujudkan dalam cara tertentu, namun, melalui pengampunan kesalahan-kesalahan kita; maka Dia adalah pribadi yang mengampuni (al-Ghafir), tetapi Dialah yang banyak dan selalu mengampuni (al-Ghafour).

3. Menggarisbawahi pentingnya kerahiman, Paus Fransiskus mencanangkan Tahun Yubileum Kerahiman yang dirayakan dari 8 Desember 2015 hingga 20 November 2016. Dalam hal ini beliau mengatakan : "Di sinilah ... alasan untuk Yubileum : karena ini adalah waktu untuk kerahiman. Ia adalah waktu yang menguntungkan untuk menyembuhkan luka-luka, suatu waktu untuk tidak jemu-jemunya menjumpai semua orang yang sedang menunggu untuk melihat dan menjamah dengan tangan mereka tanda-tanda kedekatan Allah, suatu waktu untuk menawarkan semua orang, semua orang, jalan pengampunan dan pendamaian" ("Homili", 11 April 2015).

Peziarahan (haji) Anda ke tempat-tempat suci, terutama Mekkah dan Madinah, tentunya merupakan waktu khusus bagi Anda untuk mengalami kerahiman Allah. Bahkan, aspirasi-aspirasi terkenal yang dialamatkan kepada para peziarah Muslim di antaranya adalah : "Saya berharap pada Anda sebuah peziarahan yang terberkati, upaya-upaya yang patut dipuji dan pengampunan dosa-dosa Anda". Melakukan sebuah peziarahan untuk mendapatkan pengampunan Allah atas dosa-dosa, baik untuk orang hidup maupun orang mati, benar-benar merupakan praktek lazim yang kentara di antara orang-orang percaya.

4. Kita, umat Kristen dan umat Muslim, dipanggil untuk melakukan yang terbaik dalam meneladan Allah. Ia, Sang Maharahim, meminta kita untuk murah hati dan penyayang terhadap orang lain, terutama mereka yang membutuhkan apapun. Demikian juga Ia memanggil kita untuk saling mengampuni.

Ketika kita melihat ke atas umat manusia saat ini, kita disedihkan melihat begitu banyak korban perseteruan dan kekerasan - di sini kita memikirkan khususnya orang-orang tua, serta anak-anak dan perempuan, terutama mereka yang menjadi korban perdagangan manusia dan banyak orang yang menderita kemiskinan, penyakit, bencana alam dan pengangguran.

5. Kita tidak bisa menutup mata kita dengan kenyataan-kenyataan ini, atau berpaling dari penderitaan-penderitaan ini. Memang benar bahwa situasi seringkali sangat rumit dan bahwa penyelesaiannya melebihi kemampuan kita. Sangatlah penting, oleh karena itu, agar semua bekerja sama dalam membantu mereka yang membutuhkan. Adalah sumber harapan besar ketika kita mengalami atau mendengar umat Muslim dan umat Kristen bergandengan tangan membantu orang-orang yang membutuhkan. Ketika kita bergandengan tangan, kita mengindahkan perintah penting dalam agama-agama kita masing-masing dan menunjukkan keluar kerahiman Allah, sehingga menawarkan kesaksian yang lebih dapat dipercaya, secara individu maupun komunal, kepada keyakinan kita.

Semoga Allah yang Mahapenyayang dan Mahakuasa membantu kita untuk menjalani selalu sepanjang jalan kebaikan dan kasih sayang!

6. Kami menggabungkan keinginan baik kami yang penuh doa pada keinginan Paus Fransiskus untuk berkat yang melimpah selama bulan Ramadhan dan untuk sukacita Idul Fitri yang abadi.

Selamat Pesta untuk Anda semua!

Dari Vatikan, 10 Juni 2016

Jean-Louis Kardinal Tauran
Presiden

Uskup Miguel Ángel Ayuso Guixot, M.C.C.I.
Sekretaris


Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.

Senin, 06 Juni 2016

PARA IMAM DIPANGGIL UNTUK MENGIKUTI TELADAN KRISTUS SANG GEMBALA YANG BAIK

HOMILI PAUS FRANSISKUS DALAM MISA HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS (MISA UNTUK YUBILEUM PARA IMAM) 3 Juni 2016 : PARA IMAM DIPANGGIL UNTUK MENGIKUTI TELADAN KRISTUS SANG GEMBALA YANG BAIK


Bacaan Ekaristi : Yeh 34:11-16; Mzm 23; Rm 5:5b-11; Luk 15:3-7

Perayaan Yubileum untuk Para Imam pada Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus ini mengajak kita semua beralih pada hati, akar dan dasar terdalam setiap orang, fokus kehidupan afektif kita dan, dalam sebuah kata, pokoknya yang sesungguhnya. Hari ini kita merenungkan dua hati : Hati Sang Gembala yang Baik dan hati kita sendiri sebagai para imam.

Hati Sang Gembala yang Baik bukan hanya hati yang menunjukkan kita kerahiman, tetapi adalah kerahiman itu sendiri. Di sana kasih Bapa bersinar; di sana aku mengetahui aku disambut dan dipahami sebagaimana adanya; di sana, dengan segala dosa dan keterbatasanku, aku mengetahui kepastian bahwa aku dipilih dan dikasihi. Merenungkan hati itu, aku memperbaharui cinta pertamaku : kenangan waktu itu ketika Tuhan menjamah jiwaku dan memanggilku untuk mengikuti-Nya, kenangan akan sukacita telah menebarkan jala kehidupan kita di atas lautan sabda-Nya (bdk. Luk 5:5).

Hati Sang Gembala yang Baik mengatakan kepada kita bahwa kasih-Nya tak terbatas; ia tidak pernah terkuras dan tidak pernah berhenti. Di sana kita melihat pemberian diri-Nya yang tak terhingga dan tak terbatas; di sana kita menemukan sumber kasih yang setia dan lemah lembut itu yang membebaskan dan menjadikan orang lain bebas; di sana kita terus menemukan kembali bahwa Yesus mengasihi kita "bahkan sampai pada kesudahan" (Yoh 13:1), tanpa pernah memaksa.

Hati Sang Gembala yang Baik menjangkau kita, terutama orang-orang yang paling jauh. Di sana jarum kompas-Nya secara tak terelakkan menunjukkan, di sana kita melihat "kelemahan" tertentu kasih-Nya, yang ingin merangkul semua orang dan tidak seorangpun hilang.

Merenungkan Hati Kristus, kita dihadapkan dengan pertanyaan mendasar dari kehidupan imami kita : Ke manakah hatiku terarah? Pelayanan kita sering penuh rencana, rancangan dan kegiatan : dari katekese hingga liturgi, hingga karya amal, hingga komitmen pastoral dan administrasi. Di tengah-tengah semua ini, kita masih harus bertanya kepada diri kita : Apakah hatiku dimajukan, ke manakah ia terarah, harta apakah yang ia cari? Karena sebagaimana yang dikatakan Yesus : "Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Mat 6:21).

Harta agung Hati Yesus ada dua : Bapa dan diri kita. Hari-hari-Nya terbagi antara doa kepada Bapa dan menjumpai orang-orang. Demikian juga hati para imam Kristus mengenal hanya dua arah : Tuhan dan umat-Nya. Hati imam adalah hati yang tertusuk kasih Tuhan. Karena alasan ini, ia tidak lagi memandang dirinya sendiri, tetapi berpaling kepada Allah dan saudara-saudaranya. Ia bukan lagi "hati yang sedang berdebar-debar", terpikat oleh keinginan sesaat, menghindari perbedaan pendapat dan mencari kepuasan kecil. Sebaliknya, ia adalah hati yang berakar kuat di dalam Tuhan, dihangatkan oleh Roh Kudus, terbuka dan tersedia untuk saudara dan saudari kita.

Untuk membantu hati kita terbakar dengan amal kasih Yesus Sang Gembala yang Baik, kita bisa melatih diri kita dengan melakukan tiga hal yang disarankan kepada kita oleh bacaan-bacaan hari ini : mencari, menyertakan dan bersukacita.

Mencari. Nabi Yehezkiel mengingatkan kita bahwa Allah sendiri pergi keluar mencari domba-domba-Nya (Yeh 34:11,16). Seperti yang dikatakan Injil, Ia "pergi mencari yang sesat itu" (Luk 15:4), tanpa takut akan resiko. Tanpa menunda, Ia meninggalkan padang rumput dan hari kerja biasanya. Ia tidak menunda pencarian. Ia tidak berpikir : "Aku telah melakukan cukup untuk hari ini; aku akan mengkhawatirkannya besok". Sebaliknya, Ia segera menemukan satu domba yang hilang itu; hati-Nya cemas sampai Ia menemukan satu domba yang hilang itu. Setelah menemukannya, Ia melupakan kelelahan-Nya dan menempatkan domba-domba di bahu-Nya, penuh kepuasan.

Hati tersebut adalah hati yang mencari - hati yang tidak menyisihkan waktu dan ruang sebagai bersifat pribadi, hati yang tidak cemburu akan waktu tenangnya yang sah dan tidak pernah menuntut agar ia dibiarkan sendirian. Seorang gembala seturut hati Allah tidak melindungi daerah nyamannya; ia tidak khawatir untuk melindungi nama baiknya, melainkan, tanpa takut kritik, ia bersedia mengambil resiko dalam berusaha meneladan Tuhannya.

Seorang gembala seturut hati Allah memiliki hati cukup bebas untuk mengesampingkan kekhawatirannya sendiri. Ia tidak hidup dengan memperhitungkan perolehannya atau berapa lama ia telah bekerja : ia bukanlah seorang akuntan Roh, tetapi orang Samaria yang baik yang mencari mereka yang membutuhkan. Bagi kawanan domba ia adalah seorang gembala, bukan seorang penyelia, dan ia mengabdikan dirinya untuk perutusan bukan lima puluh atau enam puluh persen, tetapi dengan seluruh yang ia miliki. Dalam pencarian, ia menemukan, dan ia menemukan karena ia mengambil resiko. Ia tidak berhenti ketika kecewa dan ia tidak menyerah kepada kelelahan. Memang, ia bersikeras dalam berbuat baik, diurapi dengan sikap keras kepala ilahi yang tidak kehilangan pandangan terhadap seorang pun. Ia tidak hanya menjaga pintunya terbuka, tetapi ia juga pergi untuk mencari orang-orang yang tidak lagi ingin memasukinya. Seperti setiap orang Kristen yang baik, dan sebagai teladan bagi setiap orang Kristen, ia terus-menerus pergi keluar dari dirinya sendiri. Episentrum hatinya berada di luar dirinya. Ia tidak ditarik oleh "aku"-nya sendiri, tetapi oleh "Engkau" Allah dan oleh "kita" para pria dan wanita lainnya.

Menyertakan. Kristus mengasihi dan mengenal domba-domba-Nya. Ia memberikan hidup-Nya bagi mereka, dan tidak ada orang asing bagi-Nya (Yoh 10:11-14). Kawanan domba-Nya adalah keluarga-Nya dan hidup-Nya. Ia bukan seorang atasan yang ditakuti oleh kawanan domba-Nya, tetapi seorang gembala yang berjalan bersama mereka dan memanggil mereka dengan nama (Yoh 10:3-4). Ia ingin mengumpulkan domba-domba yang belum menjadi kawanan-Nya (Yoh 10:16).

Demikian juga dengan imam Kristus. Ia diurapi untuk umatnya, bukan memilih rancangan-rancangannya sendiri tetapi menjadi dekat dengan pria dan wanita yang sesungguhnya yang telah dipercayakan Allah kepadanya. Tidak ada orang yang dikecualikan dari hatinya, doanya atau senyumannya. Dengan tatapan dan hati yang penuh kasih kebapaan, ia menyambut dan menyertakan semua orang, dan jika berkali-kali ia harus memperbaiki, itu adalah untuk menarik orang lebih dekat. Ia tidak berdiri terpisah dari siapapun, tetapi selalu siap untuk mengotori tangannya. Sebagai seorang pelayan persekutuan yang ia rayakan dan hayati, ia tidak menunggu salam dan pujian dari orang lain, tetapi adalah orang pertama yang menjangkau, menolak pergunjingan, penghakiman dan kedengkian. Ia mendengarkan dengan sabar masalah-masalah umat-Nya dan menyertai mereka, menabur pengampunan Allah dengan kasih sayang yang murah hati. Ia tidak memarahi mereka yang berkeliaran atau kehilangan arah mereka, tetapi selalu siap membawa mereka kembali dan mengatasi kesulitan dan perselisihan.

Bersukacita. Allah "penuh sukacita" (bdk. Luk 15:5). Sukacita-Nya dilahirkan dari pengampunan, dari kehidupan yang dibangkitkan dan diperbarui, dari anak-anak yang hilang yang menghirup sekali lagi udara rumah yang manis. Sukacita Yesus Sang Gembala yang Baik bukanlah sukacita bagi diri-Nya sendiri, tetapi sukacita bagi orang lain dan bersama orang lain, sukacita kasih yang sejati. Inilah juga sukacita imam. Ia diubah oleh kerahiman yang ia berikan secara cuma-cuma. Dalam doa ia menemukan penghiburan Allah dan menyadari bahwa tidak ada yang lebih kuat daripada kasih-Nya. Dengan demikian ia mengalami kedamaian batin, dan bahagia menjadi saluran kerahiman, membawa pria dan wanita semakin dekat dengan Hati Allah. Kesedihan baginya bukanlah sesuatu yang biasa, tetapi hanya sebuah langkah di sepanjang jalan; kekerasan adalah asing baginya, karena ia adalah seorang gembala seturut hati Allah yang lembut.

Para imam yang terkasih, dalam perayaan Ekaristi kita menemukan kembali setiap hari jatidiri kita sebagai para gembala. Dalam setiap Misa, semoga kita benar-benar menjadikan kata-kata kita sendiri kata-kata Kristus : "Inilah tubuh-Ku, yang diberikan kepadamu". Inilah arti kehidupan kita; dengan kata-kata ini, dengan cara yang nyata kita sehari-hari dapat memperbaharui janji-janji yang kita buat pada tahbisan imamat kita. Saya berterima kasih kepada kalian semua karena mengatakan "ya" untuk memberikan kehidupan kalian dalam persatuan dengan Yesus: karena dalam hal inilah ditemukan sumber sukacita kita yang murni.

*****
(Peter Suriadi - Bogor, 3 Juni 2016)

Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Telkomsel network.