Salam Damai Kristus,

Sebuah kontribusi para mantan frater, pastor, suster, bruder, dll bagi pembangunan kehidupan bersama yang lebih baik. Kirimkan artikel apa saja yang mau ditampilkan pada blog ini ke email: mantan.frater09@gmail.com Atas kunjungannya, terima kasih.

Senin, 07 April 2014

Pesan Paus kepada Politisi: Jadilah Mediator, bukan Makelar

PAUS Fransiskus pada Sabtu lalu (5/4) bertemu dengan sejumlah 120 politisi yang terdiri dari para walikota, pejabat publik lainnya, anggota parlemen, dan pemimpin partai politik Italia.
"Menjadi politisi adalah menjadi mediator publik. Seorang walikota, misalnya, perlu berada di tengah-tengah masyarakat. Kalau ia tidak melakukannya, bagaimana ia bisa menjadi seorang mediator yang wajib mengerti apa kebutuhan masyarakat yang diwakilinya," demikian kata Paus.
Sangatlah berbahaya, tandas Sri Paus, ketika politisi tersebut tidak menjadi mediator, tetapi menjadi 'perantara' yang bertindak seperti seorang 'makelar' dan mengambil keuntungan dari kebutuhan masyarakat.
Paus memuji para pemimpin yang menjadi mediator dan mempersembahkan hidupnya untuk mempersatukan rakyatnya, untuk kesejahteraan masyarakat, dengan mencari berbagai solusi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Paus mengakui bahwa hal itu sama sekali bukan tugas mudah. "Sering politisi merasa patah arang ketika saatnya dia pulang kerja tetapi masih banyak hal yang belum terselesaikan."
Paus menekankan bahwa tugas tersebut merupakan panggilan mereka.

Lelah yang membahagiakan
Seyogyanya pemimpin publik dan politisi pulang ke rumah dengan rasa lelah, tetapi hatinya penuh dengan cinta karena dia telah menjadi seorang mediator. "Saya berterima kasih dan mengucapkan selamat kepada politisi s yang seperti itu," senyum Paus kepada para politikus yang terlihat mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Bertindaklah seperti Yesus," saran Paus, "Yesus yang menemukan diriNya berada di kerumunan masyarakat ramai, sampai kadang dia sulit bernafas."
Masyarakat mencari Yesus karena tahu Dia akan menjawab mereka.
"Saya sungguh berharap Anda semua begitu, kelelahan berada di kerumunan rakyat yang datang mencarimu karena mereka tahu mereka bisa mengandalkanmu," pesan Paus di akhir audiensi tersebut.
Pertemuan tersebut merupakan 'kebetulan' yang indah untuk kita yang akan menentukan calon rakyat pada Pemilu Legislatif pada hari Rabu pekan ini, tanggal 9 April 2014. Mari sebarkan pesan tersebut kepada para calon legislatif kita.

Sumber: CNA
http://www.sesawi.net/2014/04/06/pesan-paus-kepada-politisi-jadilah-mediator-bukan-makelar/
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 05 April 2014

DEVOSI & NOVENA BESAR BUNDA MARIA 2014, dgn tema "Bersama MARIA Dipilih Untuk Melayani"

DEVOSI & NOVENA BESAR BUNDA MARIA 2014, dgn tema
"Bersama MARIA Dipilih Untuk Melayani".

Tanggal : 2-10 Mei 2014 (9 hari berturut-turut)
Tempat : Plaza Bapindo Lt 8, Jl. Jend. Sudirman kav 55 Jakarta Selatan
Waktu : pk. 17.30-21.00
Acara : Doa Rosario, Talkshow & Misa-Novena

Jadwal acara sbb.:
(1) Hari 1, Jumat 2 Mei,
tema: Maria dan Pilihan Hidup Untuk Melayani
Pembicara: Romo Alexander Dirdjasusanto SJ & Agus Handoyo

(2) Hari 2, Sabtu 3 Mei,
tema: Maria Teladan Hidup Bersaudara untuk Saling Melayani.
Pembicara: RD Yustinus Ardianto & Yaya Winarno Junardy

(3) Hari 3, Minggu 4 Mei,
tema: Totalitas Pelayanan Maria.
Pembicara: Mgr. Ignatius Suharyo & Dr. Mari Elka Pangestu, MA., Phd

(4) Hari 4, Senin 5 Mei,
tema: Melayani Dalam Bimbingan Roh Kudus.
Pembicara: Romo Alexander Erwin Santoso, MSF & Ferry Lubis

(5) Hari 5, Selasa 6 Mei,
tema: Pelayanan Maria, Penyerahan Total. Pembicara: Romo Albertus Purnomo, OFM

(6) Hari 6, Rabu 7 Mei,
tema: Maria dan Talenta Melayani.
Pembicara: Romo Yusuf Edi Mulyono, SJ & Fransisca Andana Okasanawati

(7) Hari 7, Kamis 8 Mei,
tema: Bersama Maria Melayani Bumi.
Pembicara: Romo Peter Kurniawan Subagyo, OMI & Margaretha Denok Marty Astuti

(8) Hari 8, Jumat 9 Mei,
tema: Melayani yang Tersisih.
Pembicara: Romo Benedictus Hari Juliawan, SJ & Bruder Petrus Partono

(9) Hari 9, Sabtu 10 Mei,
tema: Diutus untuk Melayani.
Pembicara: Romo Al. Andang Binawan, SJ & Prof. Dr. Maria Farida Indrati, S.H., M.Hum.

Mohon ini dianggap sebagai UNDANGAN.
Untuk kalangan sendiri.
TANPA DIPUNGUT BIAYA.
Bagi yang berkenan menjadi donatur:
No Rek Panitia Devosi Maria:
BCA - KCP Summitmas,
Rek No. 538-503-4412
a/n. LID Da Lopez / R Prakoso

Sumber: milis APIK
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Rabu, 02 April 2014

PESAN PAUS FRANSISKUS  PADA HARI DOA SEDUNIA UNTUK PANGGILAN KE-51 

11 Mei 2014 – Hari Minggu Paskah IV
 Tema: Panggilan, Saksi Terhadap Kebenaran

 
Saudara-saudari yang terkasih,

1.         Injil mengatakan bahwa "Yesus berkeliling ke semua kota dan desa….. Ketika melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: 'Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.'" (Mat.9:35-38). Sabda Yesus tersebut mengejutkan kita, karena kita semua tahu bahwa biasanya hal terpenting pertama-tama membajak, menebarkan benih dan menanam; kemudian ketika tiba saatnya menuai panenan yang berlimpah-ruah. Namun sebaliknya Yesus langsung berkata bahwa "tuaian memang banyak". Siapa yang telah melakukan proses itu semua? Hanya ada satu jawabannya, yaitu Allah. Sangat jelas sekali bahwa ladang yang Yesus maksudkan adalah manusia, yaitu kita semua. Dan tindakan yang tepat-guna sehingga menghasilkan "buah berlimpah" adalah rahmat Allah sendiri, yaitu persatuan dengan Allah (bdk. Yoh. 15:5). Oleh karena itu doa yang Yesus minta dari pihak Gereja adalah perhatian terhadap kebutuhan akan pertambahan jumlah orang yang melayani Kerajaan-Nya. Santo Paulus, salah seorang dari "pelayan-pelayan Allah", tak kenal lelah membatikan dirinya bagi penyebaran Injil dan kelahiran Gereja. Dia adalah seorang Rasul, yang sadar sebagai seorang yang memiliki pengalaman akan misteri Allah yang menyelamatkan dan bagaimana rahmat Allah adalah sumber dari setiap panggilan, sembari mengingatkan umat kristiani di Korintus: "Kamu adalah ladang Allah" (1 Kor.3:9). Itulah sebabnya pertama-tama muncul rasa kagum dari dalam hati kita atas tuaian yang berlimpah yang hanya dapat dianugerahkan sendiri oleh Allah; kemudian rasa syukur atas kasih yang selalu mendahului kita; dan akhirnya sembah bakti atas karya yang telah Dia sempurnakan, yang menuntut persetujuan kita dalam melaksanakannya bersama Dia dan demi Dia.

2.        Sering kali kita berdoa dengan kata-kata seperti Pemazmur: "Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya." (Mzm.100:3); atau "TUHAN telah memilih Yakub bagi-Nya, Israel menjadi milik kesayangan-Nya." (Mzm. 135:4). Kita adalah milik "kepunyaan" Allah bukan dalam arti kita sebagai budak-Nya, melainkan mengacu pada makna suatu ikatan yang kuat, yang menyatukan kita dengan Allah dan dengan sesama satu sama lainnya, sesuai dengan perjanjian kekal, karena "untuk selama-lamanya kasih setia-Nya" (Mzm.136). Dalam konteks panggilan Nabi Yeremia, misalnya, Allah mengingatkan kita bahwa Dia terus-menerus memperhatikan kita masing-masing, agar firman-Nya terlaksana di dalam diri kita. Gambaran ini diumpamakan seperti sebatang dahan pohon badam yang mengeluarkan bunga paling awal, yang mengungkapkan kelahiran kembali kehidupan pada musim Semi (bdk. Yer. 1:11-12). Segala sesuatu berasal dari Allah dan merupakan rahmat: dunia, kehidupan, kematian, masa kini, dan masa yang akan datang, tetapi – sebagaimana dijanjikan oleh Rasul (Paulus) – "kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah"(1 Kor. 3:23). Karena itu, model kepemilikan Allah dijelaskan demikian: menjadi milik Allah itu timbul dari suatu relasi yang unik dan personal dengan Yesus, berkat Sakramen Baptis yang kita terima dulu, menjadikan kita dilahirkan kembali dalam kehidupan yang baru. Oleh karena itu, Kristus sendirilah yang terus menerus memanggil kita melalui Firman-Nya untuk menaruh iman kita kepada-Nya, mengasihi-Nya "dengan segenap hati, dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan kita" (Mrk.12:33).Maka, setiap panggilan, meskipun melalui berbagai jalan, selalu menuntut suatu exodus (keluar dari) diri sendiri agar dapat memusatkan hidup seseorang hanya kepada Kristus dan kepada Injil-Nya. Baik dalam kehidupan berkeluarga maupun dalam hidup religius, demikian juga dalam kehidupan imamat, kita harus melampaui cara berfikir dan cara bertindak yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Hal ini merupakan suatu "exodus yang menghantar kita pada suatu perjalanan sembah-bakti kepada Tuhan dan pelayanan kepada-Nya dalam diri saudara-saudari kita" (Kata Sambutan kepada Persatuan Internasional Para Superior Jendral, 8 Mei 2013). Karena itu, kita semua dipanggil untuk sembah-bakti kepada Yesus dalam hati kita (1 Pet. 3:15) agar dapat membiarkan diri kita disentuh oleh denyut rahmat yang terkandung dalam benih Sabda, yang harus tumbuh dalam diri kita dan diubah menjadi suatu pelayanan konkrit kepada sesama kita. Kita tidak perlu takut: Allah mengawal karya tangan-Nya dengan kasih dan kuasa-Nya dalam setiap tahap kehidupan kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita! Dia menyelesaikan rencana-Nya bagi kita di dalam hati, dan karena itu Dia berharap menerimannya dengan persetujuan dan kerjasama kita.

3.        Dewasa ini juga, Yesus tinggal dan setiap hari menyusuri lorong-lorong kehidupan kita, agar Dia dapat menjumpai setiap orang, mulai dari yang paling kecil-hina dan menyembuhkan kita dari setiap kelemahan dan penyakit. Saya memberi perhatian kepada orang-orang yang telah menyediakan diri dengan sebaik-baiknya untuk mendengar suara Kristus yang diperdengarkan di dalam Gereja dan memahami panggilan mereka masing-masing. Saya mengajak Anda untuk mendengarkan dan mengikuti Yesus serta membiarkan diri Anda diubah dari dalam (secara rohani) oleh firman-Nya, yang adalah "roh dan kehidupan" (Yoh.6:62). Maria, ibu Yesus dan bunda kita, juga memberi pesan kepada kita: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu.!" (Yoh. 2:5). Hal ini akan membantu Anda untuk mengambil bagian dalam suatu peziarahan bersama yang memungkinkan Anda untuk menghasilkan energi-energi yang paling baik di dalam diri Anda dan sekitar Anda. Panggilan adalah buah yang masak/matang berkat pengolahan ladang (diri manusia-red) secara baik, yaitu saling mengasihi yang kemudian menjadi saling melayani, dalam perspektif suatu kehidupan gerejani yang otentik. Tidak mungkin panggilan itu muncul sendiri atau ada bagi dirinya sendiri. Panggilan itu mengalir dari hati Allah dan tumbuh-kembang di tanah yang baik dari umat beriman, yaitu di dalam pengalaman kasih persaudaraan. Bukankah Yesus pernah bersabda: "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."(Yoh.13:35)?

4.        Saudara-saudariku yang terkasih, "standar tinggi kehidupan kristiani" ini (bdk. Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Novo Millennio Ineunte, 31), kadang-kadang akan berbenturan dengan gelombang kehidupan dan karena itu menghadapi aneka batu sandungan, baik di luar maupun di dalam diri kita. Yesus sendiri telah mengingatkan kita: benih yang baik dari firman Allah sering kali dirampas oleh si Jahat, terhalang oleh goncangan dan himpitan aneka persoalan dan godaan duniawi (bdk. Mat. 13:19-22). Semua kesulitan tersebut dapat melemahkan kita, membuat kita mundur ke belakang di jalan-jalan yang sepintas nampaknya menyenangkan. Namun demikian, kegembiraan sejati dari mereka yang dipanggil terdiri dari iman dan pengalaman bersama dengan Dia yang adalah Tuhan, Dia yang adalah setia, dan bersama Dia, kita dimampukan untuk  melangkah maju, menjadi murid-murid dan saksi-saksi kasih Allah, yang membuka hati untuk hal-hal yang besar dan luar biasa. "Kita orang-orang Kristen bukan dipilih oleh Tuhan untuk hal-hal kecil; doronglah terus menuju prinsip-prinsip yang paling tinggi-luhur. Pancangkan hidupmu pada cita-cita yang mulia!" (Khotbah Misa Kudus dan Pelayanan Sakramen Penguatan, 28 April 2013). Saya minta Anda, para Uskup, para imam, kaum religius dan jemaat-jemaat serta keluarga-keluarga Kristiani untuk merancang pastoral panggilan, dengan arahan sebagai berikut: mendampingi kaum muda di jalan-jalan kekudusan yang, karena jalan-jalan tersebut bersifat personal, "dipanggil untuk suatu pelatihan yang tulus-murni dalam kekudusan' sehingga memampukan mereka menyelaraskan diri dengan kebutuhan setiap orang. Pelatihan ini harus memadukan sumber-sumber yang diberikan kepada setiap orang baik oleh pribadi-pribadi yang berpandangan tradisional dan kelompok pendukungnya, maupun bentuk-bentuk dukungan model terbaru oleh asosiasi-asosiasi dan gerakan-gerakan tertentu yang sudah dikenal oleh Gereja" (Novo Millenio Ineunte, 31).
Karena itu, marilah kita bangun hati kita menjadi "tanah yang subur", dengan cara mendengarkan, menerima dan menghayati Sabda, dan karenanya dapat menghasilkan buah-buahnya. Semakin kita bersatu dengan Yesus melalui doa, Kitab Suci, Ekaristi, Sakramen-sakramen yang kita rayakan dan kita hayati dalam Gereja dan dalam persaudaraan, maka akan semakin tumbuh dalam diri kita suatu sukacita kerja-sama dengan Allah dalam pelayanan bagi Kerajaan-Nya, yaitu Kerajaan kasih dan kebenaran, Kerajaan Keadilan dan Perdamaian. Dan tuaian akan berlimpah ruah, sepadan dengan rahmat yang telah kita terima dalam hidup kita secara lembut. Dengan harapan ini, sambil memohon Anda untuk mendoakan saya, dengan hati tulus saya menganugerahkan segenap Berkat Apostolik saya.
 
Dari Vatikan, 15 Januari 2014
PAUS FRANSISKUS
 
Sumber: http://www.kkindonesia.org/
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sabtu, 22 Maret 2014

PTUN Batalkan Izin Pendirian Gereja St Stanilaus (Kostka Kranggan, Kota Bekasi)

Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung  membatalkan surat keputusan Walikota Bekasi tentang izin mendirikan bangunan Gereja Katolik St Stanislaus Kostka Kranggan, Kota Bekasi. Majelis mengabulkan seluruh gugatan belasan warga Kranggan Pasar, Kecamatan Jatisampurna dalam sidang, Kamis 20 Maret 2014.
"Membatalkan surat izin pelaksanaan pembangunan Gereja St Stanislaus Kostka Kranggan. Agar tergugat mencabut surat izin pelaksanaan pembangunan Gereja St Stanislaus Kostka,"ujar Ketua Majelis Edi Firmasnyah.  Majelis juga  menolak eksepsi tergugat Walikota Bekasi dan tergugat intervensi pihak Gereja.
Dalam amar putusan, Majelis menyatakan bahwa terdapat dukungan warga berupa pemberian tanda tangan persetujuan atas pendirian gereja tanpa paksaan. "Dukungan tersebut pun sudah diverifikasi tanpa iming-iming duit,"kata Hakim Anggota Alan Bashir.
Majelis juga menilai pihak Gereja dianggap melakuan tindakan tidak patut karena meminta persetujuan secara tidak terbuka dengan mendatangi rumah warga satu per satu. Sosialisasi, kata Alan, harus secara terbuka bukannya dengan cara sembunyi-sembunyi. Majelis juga menilai pemerintah tidak memfasilitasi sosialisasi pendirian gereja. Hal itu memicu disharmoni.
"Karena itu pemerintah (Kota Bekasi) telah melanggar asas-asas pemerintahan yang baik dalam menerbitkan izin pendirian Gereja St Stanislaus sehingga cacat hukum. Dan oleh karenanya gugatan para penggugat harus dikabulkan,"ujar Alan.
Sebelum memvonis, Majelis juga sempat membacakan perbedaan pendapat diantara hakim. Hakim Anggota II Nelvi Christin berbeda pendapat dengan Hakim Edi dan Hakim Alan. Nelvi menilai prosedur perizinan pembangunan Gereja Stanislaus sejatinya sudah sesuai dengan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2006 tentang pendirian rumah ibadah.
Panitia Pembangunan Gereja misalnya, kata Nelvi, telah meminta dukungan minimal 90 jemaat dan minimal 60 warga setempat. Dukungan tersebut, kata dia, sudah diverifikasi tanpa ada yang keberatan. Kalaupun setelah verifikasi kesepakatan terjadi pencabutan dukungan, maka itu tak bisa dilakukan secara sepihak.
"Prosedur sudah sah dilakukan sesuai aturan berlaku. Dengan demikian telah penerbitan izin pembangunan Gereja St Stanislaus sudah memenuhi asas-asas pemerintahan yang baik. Maka gugatan penggugat harus ditolak,"ujar Nelvi. Kalaupun masih ada yang keberatan maka pemerintah harus mengupayakan cara untuk menjaga keharmonisan.
Putusan Majelis tak ayal membuat para jemaat Gereja Stanislaus yang duduk di salah satu lajur kursi pengunjung tercenung. Sebaliknya sejumlah warga kontra dan perwakilan Ormas yang hadir di ruang sidang langsung bersuka cita dan bertakbir. Para warga berjubah putih ini lantas mengabarkan putusan Majelis kepada rekan mereka yang sejak pagi berdemo di luar Gedung Pengadilan.
ERICK P. HARDI

Sumber:
http://id.berita.yahoo.com/ptun-batalkan-izin-pendirian-gereja-st-stanilaus-113106151.html
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Surat dari TIM KUASA HUKUM GEREJA ST. STANISLAUS KOSTKA KRANGGAN -LBH Jakarta, LBH Bandung, The Indonesian Legal Resource Center (ILRC), YLBHI

Yth. Rekan-rekan media.

Salam sejahtera kami sampaikan. Semoga pemberitahuan dan kabar ini menjumpai rekan-rekan sekalian dalam kondisi sehat walafiat.

Pagi ini ratusan masa aksi berkumpul dan mendemo gereja St. Stanislaus Kostka, Kranggan. Mereka memaksa menghentikan pembangunan gereja, dan mengancam merusak serta menghancurkan bangunan gereja. Masa berpotensi melakukan tindakan melawan hukum.

Hal tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi: Kamis 20 Mrt 2014 lalu, Majelis Hakim PTUN Bandung dalam putusannya mengabulkan gugatan 13 orang penggugat (bagian dari FUI bekasi) untuk membatalkan SIPMB (Surat Ijin Pelaksanaan Mendirikan Bangunan) gereja St. Stanislaus Kostka, Kranggan. Namun dalam putusannya terdapat pendapat berbeda dari satu orang Majelis Hakim, yang pada intinya menyatakan bahwa SIPMB gereja Stanislaus Kostka telah diterbitkan sesuai dengan prosedur yang diatur dalam Peraturan Bersama 2 Menteri tentang Pendirian Rumah Ibadah dan Peraturan Walikota Bekasi yang menjadi turunannya.

Namun dalam putusannya Majelis Hakim dengan tegas dan jelas "menolak" permohonan penggugat (bagian dr masa aksi yang hadir hari ini) untuk melakukan penundaan pelaksanaan pembangunan gereja St. Stanislaus Kostka, Kranggan.

Putusan Majelis Hakim PTUN Bandung ini sangat menyedihkan. Karena pada faktanya pihak gereja telah memenuhi seluruh persyaratan administratif yang diwajibkan. Bahkan juga memperoleh persetujuan dari minimal 60 orang warga setempat. Sosialisasi pun telah dilakukan oleh pihak kelurahan.

Sampai detik ini putusan Majelis Hakim belum memiliki kekuatan hukum tetap. Pihak Tergugat (pemkot Bekasi) dan Tergugat II Intervensi (pihak gereja) akan melakukan upaya banding ke PT TUN (Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara).

Umat gereja St. Stanislaus Kostka saat ini berada dalam kondisi was-was. Mengingat negara telah berulang kali gagal memberikan perlindungan kepada warga negara dalam menjalankan kebebasan beragama & berkeyakinannya.

Dengan ini kami meminta kesediaan rekan-rekan media untuk memberikan dukungan kepada pihak umat gereja St. Stanislaus Kostka, Kranggan dengan melakukan peliputan lapangan atas kondisi yang sedang berlangsung.

Demikian undangan meliput ini kami sampaikan. Salam kebebasan beragama dan bekeyakinan.

Hormat kami,
Jakarta, 22 Maret 2014

TIM KUASA HUKUM GEREJA ST. STANISLAUS KOSTKA KRANGGAN
-LBH Jakarta, LBH Bandung, The Indonesian Legal Resource Center (ILRC), YLBHI-

Contact Person: Atika (LBH Jakarta) +6281383399078, Wawan (Gereja St. Stanislaus Kostka, Kranggan) 0811198392.

Berkah Dalem

Edwin Gregorius

Makin Beriman,  makin bersaudara dan makin Berbela Rasa

Berbagi dengan hati dan nothing to lose melakukan kebaikan serta berkat

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Minggu, 16 Maret 2014

Paus Fransiskus, 16 Maret 2014. MENDENGARKAN DAN MENJALANKAN FIRMAN TUHAN

Dalam doa Angelus hari Minggu Prapaskah ke-2, sambil mengingatkan Injil yang mengisahkan peristiwa perubahan wajah Yesus di Gunung Tabor, Paus Fransiskus mengajak umat beriman untuk melanjutkan masa Prapaskah dengan mendengarkan dan menjalankan Firman Tuhan Yesus dengan penuh iman dan kemurahan hati.

Bapa Suci menunjukkan dua hal penting dari peristiwa Perubahan wajah Yesus: pendakian dan pendaratan. Kata Paus: "Kita perlu menyisihkan diri, mendaki gunung dalam sebuah ruang yang hening, untuk menemukan diri kita sendiri dan memahami lebih baik lagi Sabda Tuhan. Tapi kita tidak bisa tinggal diam di sana! Perjumpaan dengan Allah di dalam doa mendorong kita kembali untuk "turun dari gunung" dan kembali ke darat, ke dataran rendah, di mana kita berjumpa dengan banyak saudara-saudari yang kelelahan oleh karena kesulitan hidup, penyakit, ketidakadilan, ketidakpedulian, kemiskinan material dan spiritual". 
Paus melanjutkan: "Kepada saudara-saudari kita yang mengalami kesulitan, kita dipanggil untuk membawa buah-buah dari pengalaman yang telah kita alami bersama Allah, dan membagikan kepada mereka harta-harta dari rahmat Tuhan yang telah kita terima serta membawa Firman Tuhan."

"Saat kita mendengarkan Sabda Yesus, kita mengindahkan Sabda Yesus dan menyimpannya di dalam hati, Sabda itu bertumbuh. Bagaimanakah Sabda itu bertumbuh? Dengan membagikannya kepada sesama! Sabda Kristus di dalam diri kita tumbuh ketika kita mewartakannya, ketika kita membagikannya kepada sesama! Dan ini merupakan hidup Kristen. Ini adalah misi untuk semua Gereja, untuk semua orang yang telah dibaptis, untuk kita semua: mendengarkan Yesus dan membagikannya kepada orang lain. 


Jangan lupa: dalam pekan ini, dengarkanlah Yesus!

Veni Sancte Spiritus, Veni per Mariam.

(Shirley Hadisandjaja)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Selasa, 25 Februari 2014

DIALOG ANTAR-IMAN: Empat Pemuda Perancis Menjelajah Dunia

BAGI sebagian orang, empat pemuda Perancis—Samuel Grzybowski, Ismael Medjdoub, Josselin Rieth, dan Victor Grezes—ini melakukan suatu hal impian: berkelana keliling dunia. Namun, ada tambahan yang membuat perjalanan anak-anak muda berusia 19-21 tahun ini lebih mengasyikkan daripada sekadar keliling dunia: ini perjalanan antar-iman atau interfaith tour, sebuah perjalanan dengan makna.

Berangkat dari Paris delapan bulan lalu, mereka (seorang Muslim, seorang Katolik, seorang ateis, dan seorang agnostik) mengunjungi Eropa, Timur Tengah, Afrika, dan Asia sebelum ke Australia, Amerika Selatan dan Amerika Utara dan kembali ke Paris akhir April. Mereka tinggal seminggu sampai sebulan di sebuah negara, bertemu, berbincang, dan mewawancara orang-orang yang terlibat dalam ikhtiar antar-iman. Setiap Rabu, mereka melaporkan ringkasan perjalanan pekan itu dalam artikel dan video berdurasi sekitar tiga menit yang dipasang di laman perjalanan tersebut, www.interfaithtour.com.

Grzybowski (20), mahasiswa sejarah Universitas Sorbonne, Paris, mengatakan bahwa proyek ini merupakan gagasan tiga pihak, yaitu SparkNews, lembaga yang mengembangkan jurnalisme berdampak yang menawarkan solusi; Coexister, sebuah gerakan muda antar-iman Perancis; dan anak-anak muda petualang.

Ada tiga tujuan proyek ini, kata anak muda yang juga Ketua Coexister itu, yaitu meningkatkan kesadaran akan ikhtiar antar-iman, menghubungkan para pelaku ikhtiar itu, dan riset.

Dua tujuan pertama bisa dilakukan sementara mereka melakukan perjalanan keliling dunia itu, sedangkan tujuan ketiga akan diupayakan sepulangnya mereka dengan membawa begitu banyak bahan mentah. "Ketika di Nairobi, kami menemukan para pelaku ikhtiar antar-iman itu tidak saling kenal, padahal tempat mereka berdekatan. Kami berupaya saling menghubungkan para pelaku itu," ujar mereka.

Adanya seorang ateis dan seorang agnostik dalam tim mereka, dijelaskan oleh Grezes dan Rieth, yang mengatakan bahwa populasi Perancis terbagi tiga hampir sama besar, yaitu orang yang beragama, orang yang agnostik, dan orang yang ateis. "Jadi penting bagi kami untuk terlibat dalam proyek ini. Ikhtiar antar-iman adalah sebuah alat untuk membangun kohesi sosial di Perancis dan ketiga kelompok itu harus diikutsertakan," kata mereka. "Proyek ini sangat sekuler. Gagasannya adalah bagaimana tetap mempertahankan identitas diri dan menghormati identitas orang lain sepenuhnya."

Dalam perbincangan mengenai pengalaman perjalanan mereka di Institut Francais Indonesia di Jakarta, Selasa pagi, anak-anak muda yang telah sepekan di Jakarta itu ditanya di mana hubungan antar-iman sangat harmonis. Grzybowski menyebut tiga tempat, di antaranya Burkina Faso, negara di Afrika Tengah yang dikelilingi negara-negara berkonflik. Negara dengan lebih dari 60 kelompok sosiokultural berbeda itu hidup bersama dengan damai antara lain dengan kebiasaan "kerabat bercanda" (parente a plaisanterie) mereka. Lewat hubungan bercanda, konflik diredakan, kegembiraan ditingkatkan, dan kohesi sosial dirasakan. (DIah marsidi)

Sumber: Kompas cetak edisi 26 Februari 2014
Powered by Telkomsel BlackBerry®