I love philosophy

Senin, 31 Mei 2010

CINTA DAN KERJA

Bekerja tanpa cinta, semua akan sia-sia. Ungkapan ini amat bermakna bagi semua orang yang bekerja. Untuk apa bekerja, kalau terpaksa? Untuk apa bekerja hanya karena paksaan atasan? Dengan cinta, bekerja menjadi asyik, makin hidup dan membawa kekuatan.

Bekerja adalah hakekat manusia. Manusia yang mempunyai pekerjaan akan dipandang lebih bermakna, berharga dan dihormati. Orang yang tidak bekerja, maaf, sering kurang dihormati. Dengan bekerjalah, seseorang bisa mengaktualisasikan diri untuk membangun diri, keluarga dan bangsa. Orang yang bekerja pantas makan, orang yang tidak bekerja tidak pantas makan.


Cinta adalah kekuatan tertinggi yang ada dalam diri manusia. Dengan cinta, kekerasan dilembutkan, kekakuan dicairkan. Demikian pula dalam hal pekerjaan, dengan cinta pekerjaan menjadi baik dan selesai memuaskan. Dengan cinta manusia melihat segalanya menjadi indah.


Maka patut direnungkan, bekerja tanpa cinta adalah sia-sia, kurang bermakna. Tanpa cinta, pekerjaan tidak berjalan dengan baik. Kekuatan cinta dan martabat pekerjaan dalam diri manusia merupakan kekuatan sinergis untuk membangun diri, keluarga, komunitas dan bangsa. Kiranya cinta menjiwai hidup kita semua karena cinta itu sendiri berasal dari SANG CINTA yaitu Allah atau Tuhan.


Minggu, 30 Mei 2010

BILA DOA BELUM DIKABULKAN

Ketika sedang mengikuti acara pembinaan rohani di sebuah hotel di pantai Anyer Banten pada akhir Mei 2010 ini, saya tertarik dengan pernyataan-pernyataan atau paparan seorang pastor, Albert Damean, MSC. Kalimat pernyataan itu berbunyi, “Iman bertumbuh bukan karena adanya mukjizat atau kalau doa kita langsung dikabulkan, tetapi percayalah bahwa Tuhan itu setia dalam segala suka dan duka kita”.

Kalimat itu menyentuh, dan saya tuliskan besar-besar dicatatanku. Pengalaman selama ini, ketika doa dikabulkan atau terjadi mukjizat dalam hidup seseorang, orang betapa bersemangat berdoa dan hidup, namun jika sebaliknya yang terjadi, doa tidak dikabulkan dan mukjizat tidak terjadi, orang menjadi malas berdoa, putus asa, berontak, dan tidak pernah lagi pergi ke tempat ibadat. Kalimat itu menguatkan saya dalam perjalanan hidup saya.


Sekiranya pun, bila doa kita tidak dikabulkan, maka saya harus bertanya kepada diri sendiri, apakah salah saya? Maka lebih baiklah banyak mengucapkan doa ucapan syukur dan pujian kepada Tuhan daripada mengutuk atau memberontak.


Bersyukur atas hal-hal kecil yang ada pada hidup kita, atas kesehatan, atas orang tua dan sanak saudara, atas kebaikan orang lain, pekerjaan yang ada, dll, menunjukkan bahwa kita sudah menerima rahmat dan mukjizat dari Tuhan. Ingatlah dan percayalah bahwa Tuhan itu setia dalam suka dan duka kita, meski kita tidak setia. Itu yang saya rasakan.

Minggu, 28 Februari 2010

Mahatma Gandhi: “Saya Bisa Gila bila…”

Ketika saya iseng-iseng membaca buku Dale Carnegie (Gramedia, 1995), saya menemukan beberapa pendapat para tokoh penting dalam sejarah dunia tentang hidup beriman dan berpegang teguh pada pegangan hidup keagamaan.
Ibarat sebuah kapal laut di pelabuhan, ia membutuhkan jangkar di pelabuhan. Karena dengan jankar, kapal bisa kokoh meskipun ada badai, angin, ombak menghalau dia. Demikian pula, sebuah rumah yang dibangun di atas pasir akan gambang roboh bila hujan datang.
Terkait dengan masalah pegangan hidup, Carl Jung pernah berkata, “Selama tiga puluh tahun terakhir ini banyak orang berkonsultasi pada saya. Mereka datang dari segala penjuru dunia, terutama dari negara-negara yang sudah maju peradabannya. Ratusan pasien telah saya tangani. Semua pasien yang sudah setengah umur ke atas, yaitu yang usianya lebih dari 35 tahun, rata-rata menderita sakit keagamaan. Dengan perkataan lain dapat saya katakan bahwa mereka jatuh sakit karena mereka tidak memiliki lagi hal-hal yang diajarkan oleh agama. Dan tak seorang pun dari mereka dapat disembuhkan kembali kecuali kalau mereka dapat memiliki kembali pegangan hidup agamanya”.

Hal senada juga diungkapkan oleh Willian James: “Iman adalah salah satu kekuatan hidup manusia. Tanpa iman hidup manusia akan hancur sama sekali”.
Yang lebih menarik lagi, seorang Mahatma Gandhi, pemimpin besar India melihat bahwa peran doa amat penting dalam kelangsungan hidupnya. Dalam bukunya seperti dikutip Dale Carnegie, ia menulis, “Tanpa doa saya pasti sudah lama gila”.Memlihat pemaknaan atas doa atau iman, atau agama dalam hidup mereka, maka kita pun disadarkan atas realitas hidup. Berangkat dari pengalaman mereka, sudah saatnya kita belajar memaknai hidup dan berpegang teguh pada iman atau doa atau agama sesuai dengan keyakinan masing-masing. Maka hidup kita menjadi tidak hancur. Ibarat orang yang mendirikan rumah di atas batu, akan kokoh kuat, karena pondasinya kuat.


Jumat, 13 November 2009

MENGENAL YESUS BERARTI BERANI BERUBAH

Bahan Bacaan: Matius 11:11-15
Saudari/I yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,
Mengenal atau mengetahui sesuatu berarti harus berani berubah sesuai dengan pengetahuannya itu. Sejauh mana anda, kita mengenal Yesus?

Ada sebuah cerita dari Anton de Mello SJ tentang seorang Komunis (Atheis), seorang ateis yang berubah menjadi Katolik. Temannya si atheis bertanya untuk menguji iman temannya yang sudah menjadi Katolik: selama kamu masuk Katolik: Yesus lahir dimana? Berapa usia ketika Yesus disalibkan? Berapa kali berkhotbah? Orang itu menjadwab: saya tidak tahu dan jawabnya selalu saya tidak tahu.

Kawannya yang sudah jadi katolik berkomentar: bagaimana seperti itu pengikut Kristus? Orang itu menjawab: saya tidak tahu banyak tentang Kristus, namun dulu keluargaku semrawut, mabuk, judi, banyak utang, namun sekarang utang-utangku sudah lunas, berhenti judi dan pemabuk, keluarga jadi bahagia, setiap sore istrinya tidak sabar menanti saya pulang kerja. Itu semua berkat Kristus. Sebanyak itulah saya tahu tentang Kristus. Pesan pencerita adalah : “Mengetahui sesuatu, berarti berani berubah”

Saudara/I dalam Kristus
Bacaan Injil yang kita dengar berbicara tentang pusat iman kita yaitu Yesus Kristus yang diutus Allah. Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Ia lebih besar dari Yohanes Pembaptis. KedatanganNya sendiri dipersiapkan Yohanes Pembaptis agar semua orang bertobat. Namun banyak orang tidak percaya dan tidak mendengarkan Yesus Kristus. Dalam Injil Matius kita mendengar tentang pekerjaan Yesus Kristus yang luar biasa: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.

Untuk kita: apakah kita mengenal Yesus? Ingatlah bahwa mengenal Yesus berarti harus berani berubah menjadi serupa dengan Yesus Kristus. Paling tidak kita mempunyai iman akan Yesus, Sang Penyelamat dan Sang Penyembuh jiwa manusia. Yesus pernah berkata kepada Bartimeus: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkanmu!” Yesus mengatakan itu setelah Bartimeus sembuh karena mempunyai iman.
Saudara/I dalam Kristus,Bagi kehidupan dan permasalahan kita: pengetahuan kita tidaklah cukup. Imanlah yang menyelamatkan kita. Barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar. AMIN

Senin, 07 September 2009

Bekerja dan Berbuah dalam “Pokok Anggur Yang Benar”

Saya mengutip pernyataan Ir. Ciputra, seorang pengusaha dan wirausahawan, demikian, “Seorang wirausahawan adalah seorang yang mampu mengubah sampah menjadi emas”. Artinya membuat sesuatu yang tidak berarti lagi bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang berharga dan bernilai tambah untuk dijual.

Pernyataan Pak Ciputra tadi berangkat dari keprihatinan mendalam atas bangsa Indonesia yang belum memiliki banyak pengusaha dan wirausahawan. Masyarakat Indonesia banyak menjadi pengangguran karena mentalitas dan jiwa usaha masih rendah.

Pada tahun 2008 lalu, ada lowongan CPNS 950 orang untuk direbut oleh pencari kerja sebanyak 39.622 orang pencari kerja. Sungguh tragis. Kebanyakan orang Indonesia masih lebih memilih menjadi PNS dibandingkan menjadi pekerja lain di luar PNS. Bahkan ladang dan sawah rela dijual demi menjadi PNS.

Mentalitas harus diubah
Bisa dimaklumi keadaan demikian, selama penjajahan 350 tahun, 12-14 generasi bangsa Indonesia hidup tanpa ada pendidikan wirausaha. Jiwa berwirausaha itu masih rendah hingga pada jaman sekarang ini, dan di tempat ini.

Sudah saatnya kita harus mengubah mental dan paradigma berpikir orang Indonesia yang cenderung mencari pekerjaan dengan menjadi PNS. Pekerjaan menjadi PNS bukanlah satu-satunya pekerjaan yang menjanjikan, masih banyak lagi pekerjaan yang menjanjikan seperti menjadi pedagang, petani dan yang tidak kalah menantangnya adalah menjadi pengusaha atau wirausahawan.

Barangkali ada yang bertanya, apakah dengan berlatar belakang bukan pendidikan usaha atau wirausaha, seseorang bisa menjadi pengusaha atau pekerja di luar PNS? Saya menjawab, BISA! Hal ini sudah terbukti dari pengalaman sejarah. Orang yang berasal dari desa terpencil dan seorang yang miskin, banyak berhasil di daerah perantauaan. Mereka bisa sukses menjadi pengusaha hanya dengan modal daya juang, kerja keras, mau kerja apa saja, daya inovasi dan daya saing yang tinggi.

Berjuang dan Tinggal Dalam Pokok Anggur
Sekali lagi saya katakan, alumnus Sekolah apapaun yang tidak terkait dengan bidang ekonomi dan bidang usaha bisa menjadi pengusaha atau wirausahawan. Kita semua adalah orang beriman. Kita semua adalah murid Yesus Kristus. Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan kita Yesus Kristus. Yesus meneguhkan kita, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh 15:4)

Bagi kita pengikut Kristus, Yesus adalah Pokok Anggur yang benar dan Bapa di surga adalah Pengusahanya (bdk. Yoh 15:1). Kita semua adalah ranting-ranting dari pokok anggur, dan Bapa di surga adalah manajer atau pengelolanya.

Berangkat dari penderitaan
Ir. Ciputra adalah seorang pengikut Kristus. Titik balik ia menjadi pengusaha dan wirausaha adalah waktu ayahnya meninggal ketika ia berusia 14 tahun yang menyebabkan ia mengambil alih kehidupan dan tanggung jawab ekonomi atas keluarganya. Berbagai pekerjaan dilakoninya demi menjadi tulang punggung keluarga. Sampai dewasa ia tidak pernah mengecap pendidikan wirausaha, ia hanya pernah menimba ilmu arsitektur di ITB Bandung. Berkat kerja keras dan perjuangannya, ia menjadi pengusaha properti dan konsultan dimana-mana.

Saya yakin, Ir. Ciputra dapat menjalani perjuangan dan penderitaan hidup dengan sabar dan disiplin, karena ia tinggal di dalam Pokok Anggur, di dalam Yesus Kristus sehingga ia berbuah banyak.

Berbuah Banyak
Sekarang Ir.Ciputra hendak membagikan buah-buah yang ia hasilkan kepada bangsa Indonesia. Ia bercita-cita hendak mewujudkan Indonesia Makmur dalam 25 tahun mendatang dengan menciptakan insan-insan pengusaha sebanyak mungkin di Indonesia lewat Citra Foundation yang didirikannya. Di sanalah orang-orang diajarkan bagaimana mengubah kotoran menjadi emas.

Peluang menjadi insan wirausaha atau pengusaha dewasa ini semakin luas seiring dengan berkembangnya alat teknologi informasi dan era industri kreatif sekarang. Yang dibutuhkan adalah kemauan, daya juang, kerja keras, inovasi, dan daya juang tinggi.

Ada satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa mengubah mentalitas dan paradigma berpikir kita menuju manusia unggul, dibutuhkan adanya kemauan, keberanian, usaha dan disiplin yang tinggi yang disertai dengan kesetiaan untuk tinggal di dalam Pokok Anggur yang benar. Jika demikian, kita akan bisa mengubah sampah menjadi emas!

Selasa, 19 Mei 2009

MENGENAL GEREJA KATOLIK

Semoga artikel ini bermanfaat bagi publik. Salam

Pengertian Gereja Katolik

Istilah “gereja” dalam Kitab Suci adalah “ekklesia” (dari kata kerja Yunani, ekkalein, memanggil keluar, bahasa Perancisnya “église” yang berarti “pertemuan rakyat”, terutama yang bersifat religius.

Dewasa ini pengertian “gereja” dalam masyarakat Katolik (Katolik = umum, lintas suku dan bangsa) bisa mengacu pada dua pemahaman. Pemahaman pertama gereja dimana “g” huruf kecil mengacu pada rumah ibadah. Pemahaman ke-dua dengan Gereja dimana “G” huruf besar mengacu pada umat yang Allah himpun dari seluruh dunia. Gereja adalah seluruh anggota umat Allah yang sudah dibabtis dalam nama Bapa Putera dan Roh Kudus.

Dalam tulisan ini, Gereja yang dimaksudkan adalah umat yang dikumpulkan Allah dari segala ujung bumi. Kerapkali juga Ge-reja digambarkan sebagai bangunan Allah (1Kor 3:9). Lebih eksplisit lagi, Gereja digambarkan sebagai kandang domba, dan satu-satunya pintu yang harus dilalui ialah Kristus (Yoh 10:1-10). Gereja juga merupakan kawanan, yang seperti dulu telah difirmankan (Yes 40:11), akan digembalakan oleh Allah sendiri. Gereja itu tiada hentinya dibimbing dan dipelihara oleh Kristus sendiri. Itulah sebabnya Gereja disebut juga perhimpunan para pengikut Kristus.

Asal, Pembentukan dan Perutusan Gereja


Gereja dapat dipahami secara lebih mendalam dengan mencoba merenungkan asalnya dalam keputusan Tritunggal Mahakudus dan pelaksana-annya secara bertahap dalam sejarah keselamatan umat manusia.

Gereja ada sebagai hasil keputusan kebijasanaan serta kebaikan hati Bapa. Bapa menetapkan untuk menghimpun mereka yang beriman kepada Kris-tus dalam Gereja kudus. Himpunan umat Allah tersebut dibentuk dan direalisasikan sesuai dengan pertimbangan Bapa langkah demi langkah dalam peredaran sejarah umat manusia. Gereja didirikan pada jaman terakhir, ditampilkan berkat pencurahan Roh dan akan disempurnakan pada akhir jaman (Bdk. LG 2).

Persiapan pembentukan Gereja dimulai dari pemilihan umat Israel sebagai umat Allah (Bdk. Kel 19:5-6; Ul 7:6). Selanjutnya, Allah Bapa mengutus PuteraNya Yesus Kris-tus untuk melaksanakan rencana keselamatan Bapa dalam kepenuhan waktu (Bdk. LG 3; AG 3). Untuk memenuhi kehendak Bapa, Kristus mendirikan Kerajaan surga di dunia. Gereja adalah “Kerajaan Kristus yang sudah hadir dalam misteri” (LG 3). Pembentukan Gereja oleh Kristus muncul terutama karena penyerahan diri Kristus secara menyeluruh untuk keselamatan kita, yang didahului dalam penciptaan Ekaristi dan direalisasikan pada kayu salib. “Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib” (LG 3). Seperti Hawa dibentuk rusuk Adam yang sedang tidur, demikian Gereja dilahirkan dari hati tertembus Kristus yang mati di salib (Bdk. Santo Ambrosius, Luc.II, 85-89).

Akhirnya, “sesuai tugas, yang diberikan Bapa kepada Putera untuk ditunaikan di dunia, diutuslah Roh Kudus pada hari Pentekosta, agar ia senantiasa menyucikan Gereja” (LG 4). Ketika itu “Gereja ditampilkan secara terbuka di depan khalayak ramai dan dimulailah penyebaran Injil di antara bangsa-bangsa melalui pewartaan” (AG 4).

Melihat asalnya, Gereja dipersiapkan oleh Allah Bapa, didirikan oleh Yesus Kristus, dinyatakan oleh Roh Kudus, maka Gereja membawa misi yaitu menghadirkan dan mewartakan Kerajaan Allah, Kerajaan Cinta Kasih di tengah semua bangsa.

Gereja Semesta (Universal)


“Gereja semesta” terdiri dari dua kata. Kata “Gereja” adalah himpunan umat Allah. “Semesta” berasal dari bahasa Sansekerta, artinya “seluruh”. Dalam bahasa Latin, universun, Bahasa Inggeris, universal keduanya berarti semesta atau atau keseluruhan. Jadi “Gereja semesta” adalah himpunanumat Allah secara keseluruhan yang ada di penjuru dunia.

Secara nyata, pengertian Gereja semesta/ universal adalah seluruh Gereja Katolik yang mengakui Sri Paus, Uskup Gereja Roma dan pengganti Petrus, Wakil Kristus, sebagai Gembala Universal di dunia. Sri Paus bersama Dewannya diakui sebagai pemegang kuasa jabatan, tertinggi, penuh, langsung dan universal (Bdk Kan. 331). Maka dari itu, karena selaku gembala semua orang beriman ia diutus, untuk mengusahakan kesejahteraan bersama Gereja semesta/ universal maupun kesejahteraan Gereja ma-sing-masing, ia memperoleh primat kuasa atas semua Gereja.

Gereja Partikular


“Gereja partikular” maksudnya ialah Gereja-gereja keuskupan yang tersebar di seluruh dunia. Keuskupan merupakan bagian dari umat Allah, yang dipercayakan kepada seorang Uskup untuk digembalakan dalam kerja sama dengan para imam (pastor) (Bdk. Kan 126).

Gereja-gereja partikular/keuskupan hanya bisa berdiri secara legitim, menurut hukum sendiri mempunyai badan hukum dan atas kuasa pemegang otoritas tertinggi Gereja yaitu Sri Paus di Roma.

Gereja partikular/ keuskupan masih memiliki bagian-bagian yang ter-pisah yaitu paroki-paroki. Semuanya tetap berada dalam kesatuan Gereja Kristus yang satu, kudus, katolik dan aportolikSuatu Gereja keuskupan dikepalai oleh seorang uskup, yang berdasarkan penetapan ilahi adalah pengganti-pengganti para Rasul lewat Roh Kudus yang dianuge-rahkan kepadanya. Para uskup di setiap keuskupan diangkat menjadi gembala-gembala dalam Gereja agar mereka sendiri menjadi gembala-gembala dalam Gereja agar mereka sendiri menjadi guru dalam ajaran, imam dalam Ibadat suci dan pelayan dalam kepemimpinan (Bdk Kan. 375).


Susunan Hirarkis Gereja


Secara harafiah “su-sunan” berasal dari kata kerja “menyusun” berarti meletakkan satu di atas yang lain. Sebagai kata benda yaitu “susunan” berarti satu terletak di atas yang lain. “Hirarkis” pada kata bendanya hirarki berasal dari bahasa Yunani yaitu hieros = su-ci ; arche = peraturan, kuasa, jabatan. Hirarki berarti orang yang mempunyai kuasa/ jabatan suci untuk mengatur atau memimpin, dalam hal ini, jabatan pemimpin/ dalam Gereja Katolik.

Secara konkrit dii lapangan, susunan hirarkis Gereja adalah struktur kepemimpinan, kuasa, jabat an Gereja mulai dari tingkat paling tinggi hingga pada tingkat paling redah di seantero dunia.

Susunan hirarkis Gere-ja Katolik tertata secara kokoh dan rapi mulai dari otoritas tertinggi hingga paling rendah yaitu Sri Paus, Uskup Roma – Dewan Para Uskup, Kardinal – Kuria Romawi – Duta Paus – Uskup (Gereja Partikular) – I-mam/ Pastor (Gereja Pa-roki).

Peranan Gereja dalam Dunia Jaman Sekarang


Gereja berasal dari cinta kasih Bapa yang kekal, didirikan oleh Kristus Penebus dalam kurun waktu, dan dihimpun dalam Roh Kudus. Gereja mempunyai tujuan penyelamatan dan eskatologis, yang hanya dapat ter-capai sepenuhnya di jaman yang akan datang. Adapun Gereja sudah hadir di dunia ini, para anggotanya adalah orang-orang yang termasuk warga masyarakat dunia. Semua anggotanya di-panggil supaya sejak sejarah manusia sudah membentuk keluarga putera-puteri Allah, yang terus menerus harus berkembang hingga kedatangan Tuhan (Bdk. GS. 40).

Dengan tujuan penyel-matan umat manusia, Gereja sangat menghargai martabat pribadi manusia, masyarakat manusia dan makna kegiatan manusia sendiri. Sikap tersebut menjadi dasar hubungan Gereja dengan dunia dan landasan bagi dialog timbal-balik antara keduanya.

Pada era globalisasi sekarang, manusia sedang berusaha mengembangkan kepribadiannya secara lebih penuh dan semakin mengenal serta menegakkan hak-haknya demi kebahagiaannya. Pada era yang sama pula, berbagai kemajuan hasil karya manusia, misalnya ilmu dan tekhnologi, tekhnologi informasi khususnya membantu manu-sia dalam menggapai kebahagiaannya. Meskipun demikian, tidak sedikit manusia menjadi korban marjinalisasi, penindasan dan eksploitasi karena ulah manu-sia mengakibatkan kebahagiaan sejati semakin sulit dicapai. Belum lagi bencana gempa dan Tsunami terdahsyat pada 26 Desember 2004, berbagai bencana banjir, bahaya bom terorisme, aneka penyakit berbahaya, dan merajalelanya obat-obat terlarang di tengah masya-rakat dunia, ikut membawa manusia ke dalam ruang hampa, ketakutan, kegetiran, penderitaan dan trauma hidup yang mendalam.

Adapun Gereja, yang hadir di dunia, turut serta merasakan dan mengalami sukacita dan duka cita dunia. Gereja hadir untuk menyiarkan misteri Allah. Gereja hadir untuk menyingkapkan kepada manusia makna keberadaannya sendiri yaitu kebenaran yang paling mendalam tentang jati diri manusia. Sesungguhnya Gereja menyadari, bahwa hanya Allah yang diabdinyalah yang dapat memenuhi keinginan-keinginan ha-ti manusia yang mendalam, dan tidak pernah akan mencapai kebahagiaan se-penuhnya dengan apa saja yang disajikan oleh dunia.


Hubungan Gereja Katolik dengan Gereja Terpisah


Sejak awal mula Gereja Allah itu adalah satu kesatuan utuh. Namun dalam perjalanan sejarah, dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu telah timbul perpecahan (1Kor 11:18-19), yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang telah dihukum (1Kor 1:11; 11:22). Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkandari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, kadang-kadang bukannya tanpa kesalahan kedua belah pihak (Bdk. UR 3).

Tetapi mereka yang memisahkan diri dan dibesarkan dalam iman akan Kristus tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena membentuk jemaat sendiri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap penuh hormat dan cinta kasih (Bdk UR. 3).

Memang karena bermacam-macam perbedaan antara mereka dengan Gereja Katolik misalnya, perihal ajaran, tata tertib dan tata-susunan hirarkis Gereja. Gerekan ekumenis (gerakan melakukan kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha untuk mendukung kesatuan Kristen) dibentuk untuk mengatasi hambatan-hambatan yang ada. Meskipun banyak perbedaan, namun ada satu hal yang mempersatukan yaitu keduanya menyandang gelar nama pengikut Kristus.

Hubungan Gereja Katolik dengan Agama-agama Bukan Kristen


Dalam tugasnya mengembangkan kesatuan dan cinta kasih antar manusia, bahkan antar bangsa, Gereja mendorong semua untuk bekerja bersama-sama menghadapi aneka tantangan kehidupan manusia.


Sebab semua bangsa dan umat manusia terdiri dari aneka agama dan keyakinan seperti agama Hindu, Budha, Yahudi, Islam Konghucu, Sinto dan aneka aliran kepercayaan merupakan satu sebagai masyarakat dunia. Yang mengejar kesempurnaan dan kebahagiaan sejati pada Satu Ada tertinggi. Menurut keyakinan Gereja Katolik, Allah meng-hendaki segenap umat manusia selamat dan bahagia. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir takni Allah, Ada tertinggi, yang penyelenggaraanNya, bukti-bukti kebaikanNya dan rencanaNya meliputi semua orang (Keb 8:1; Kis 14:17; Rom 2:6-7); (Bdk pula NA. 1).


Jadi hubungan Gereja Katolik dengan agama-agama bukan Kristiani adalah hubungan dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama untuk mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai sosio-budaya yang terdapat pada masing-masing agama (Bdk NA. 2).


Penutup


Gereja merupakan himpunan umat Allah di dunia untuk menghadirkan Kerajaan Cinta Kasih. Gereja dengan penuh hormat dan cinta kasih mengajak semua orang, bangsa, agama yang berkehendak baik untuk mengejar kebahagiaan sejati manusia dan bekerja bersama-sama memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi manusia pula.

Buku acuan:
1. Kitab Suci , Lembaga Aikitab Indonesia, Jakarta 2002
2. Kitab Hukum Kanonik, Sekretariat KWI, Obor : Jakarta, 1991
3. Dokumen Konsili Vatikan II, Dokpen KWI, Obor : Jakarta, 1993
4. Katekismus Gereja Katolik, Arnoldus, Ende: 1995
5. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Badudu-Jain, Sinar Harapan: Jakarta 2001

Selasa, 12 Mei 2009

10 Program “HARI INI” untuk Mencapai Kebahagiaan Hidup

Sepuluh Program “HARI INI” saya kutip dari buku Dale Carnegie yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Petunjuk Hidup Tenteram dan Bahagia”, Gramedia: Jakarta, 1995. Dale Carnegie sendiri mengutip dari tulisan Sibyl F. Partridge.

1. Hari ini saya bertekad bahagia. Ini membuktikan, bahwa apa yang dikatakan Abraham Lincoln, benar. Ia berkata, “Kebanyakan orang berbahagia bila ia menghendaki bahagia dalam pikirannya”. Kebahagiaan berasal dari dalam, dari manusia sendiri, bukan dari luar.

2. Hari ini saya mau menyesuaikan diri dengan kenyataan yang ada, dan tidak menuruti kemauan saya seenaknya sendiri. Saya akan menyesuaikan diri saya dengan keluarga saya saya, pekerjaan dan nasib saya.

3. Hari ini saya mau memelihara badan saya sebaik-baiknya. Saya akan merawatnya, menjaganya, mengembangkannya dan tidak menyalahgunakan atau melalaikannya, sehingga badan menjadi “mesin” yang sempurna untuk membahagiakan hidup saya.

4. Hari ini saya mau memperkuat pikiran saya. Saya akan mempelajari sesuatu yang berguna. Saya tidak akan jadi orang berjiwa lemah. Saya akan membaca sesuatu yang menuntut usaha, pikiran dan konsenterasi.

5. Hari ini saya mau melatih jiwa saya dengan tiga cara. Saya akan berbuat baik terhadap orang lain dan tidak akan berprasangka buruk serta mencari kekurangan-kekurangan mereka. Saya akan berlatih melakukan paling sedikit dua hal seperti yang disarankan oleh William James: “ Banyak hal yang kita sebut sebagai kejahatan dan kemalangan … seringkali dapat diubah menjadi kebaikan dan kebruntungan, hanya dengan jalan mengubah sedikit saja sikap batin si penderita dari rasa takut menjadi semangat berjuang”.

6. Hari ini saya mau bersikap wajar. Saya akan bertingkah wajar, apa adanya. Saya akan berdandan sepantas mungkin dan serapi-rapinya. Saya akan berbicara pelan, bertindak sopan dan bersikap rendah hati. Saya tidak akan mengkritik atau mencari-cari kesalahan orang lain dan tidak akan mengatur atau memperbaiki orang lain.

7. Hari ini saya mau berusaha hidup untuk hari ini saja. Saya tidak akan menangani dan menyelesaikan semua persoalan hidup sekaligus. Hal-hal yang dapat saya selesaikan selama waktu 12 jam ini akan saya bereskan semua, sebab kalau saya biarkan terus, akibatnya akan mengerikan sekali.

8. Hari ini saya mau membuat rencana. Apa-apa yang akan saya kerjakan tiap jamnya saya tulis di atas kertas. Saya tidak akan mengikuti rencana tersebut persis seperti yang telah tertulis, tapi pokoknya saya memiliki rencana tersebut. Dengan rencana ini, ada dua hal yang dapat saya hindarkan, yakni terburu-buru dan kebimbingan.

9. Hari ini saya mau meluangkan waktu barang waktu setengah jam untuk beristirahat dan santai. Dalam waktu setengah jam tersebut saya antara lain akan memikirkan tentang Tuhan, untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai makna hidup saya.

10. Hari ini saya tidak mau merasa takut, terutama tidak mau takut untuk berbahagia, untuk menikmati yang indah, untuk mencintai, dan meyakini bahwa yang saya cintai juga akan mencintai saya.

--000-